"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tetangga Tak Diundang
Achell tidak menginap di hotel. Ia terlalu mengenal London untuk tahu bahwa hotel mewah sekalipun tidak bisa memberikan privasi yang ia butuhkan dari kejaran media atau lebih tepatnya dari kejaran Victor. Atas bantuan Jake, Achell, Sophie, dan Julian menempati sebuah unit apartemen penthouse eksklusif di kawasan Canary Wharf. Apartemen itu memiliki sistem keamanan tingkat tinggi yang hanya bisa diakses dengan kartu khusus.
Namun, Achell lupa satu hal: Victor Louis Edward adalah pria yang memiliki kunci untuk hampir setiap pintu di kota ini.
Malam itu, setelah ketegangan di parkiran rumah sakit, Achell mencoba menenangkan diri dengan mandi air hangat. Ia berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit London. Rambut panjang curly-nya yang basah tersampir di bahu, memberikan aroma sabun lili yang segar. Ia mengenakan jubah mandi sutra berwarna putih, tampak begitu tenang namun pikirannya masih tertuju pada tatapan mata abu-abu Victor yang penuh penyesalan tadi.
"Kenapa dia harus muncul lagi dengan wajah seperti itu?" gumam Achell pada angin malam.
Tiba-tiba, pendengarannya menangkap suara pintu unit sebelah terbuka. Itu adalah unit yang seharusnya kosong menurut informasi dari pihak pengelola. Achell menoleh, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di balkon sebelah, yang hanya dibatasi oleh sekat kaca artistik, berdirilah seorang pria setinggi 190 cm. Victor Louis Edward sedang berdiri di sana, hanya mengenakan kaos hitam polos yang ketat, menonjolkan otot dada dan lengannya yang semakin bidang. Ia memegang segelas wiski di tangan kanannya, sementara tangan kirinya bertumpu pada pagar balkon.
Berewok tipisnya tampak berkilau di bawah lampu balkon. Ia menoleh ke arah Achell dengan tatapan yang tidak terkejut sama sekali—tatapan yang justru menunjukkan bahwa ia memang merencanakan ini.
"Pemandangannya indah, bukan? Terutama dari lantai ini," ucap Victor dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar, mengirimkan getaran aneh ke tulang belakang Achell.
Achell mencengkeram jubah mandinya erat. "Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Edward? Jangan katakan ini kebetulan lagi."
Victor menyesap wiskinya perlahan, matanya tidak lepas dari wajah Achell. "Kebetulan adalah kata untuk orang yang tidak punya rencana, Achell. Aku baru saja membeli unit ini sepuluh menit yang lalu. Aku pikir, daripada aku terus mencarimu di seluruh penjuru London, lebih baik aku menjadi tetanggamu."
"Anda gila! Anda benar-benar penguntit!" bentak Achell, suaranya naik satu oktav karena emosi yang meluap.
"Sebut saja aku pria yang sedang menebus dosa," balas Victor tenang. Ia melangkah mendekati sekat kaca, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Achell jika saja tidak ada penghalang kaca di antara mereka. "Kau bilang kau bukan gadis kecil itu lagi. Kau benar. Gadis kecil itu tidak akan menatapku dengan mata penuh kebencian seperti ini. Tapi tahukah kau? Kebencianmu membuktikan bahwa aku masih memiliki ruang di kepalamu."
Achell tertawa sinis, meskipun tangannya sedikit bergetar. "Ruang itu hanya berisi sampah, Tuan Edward. Dan sampah seharusnya dibuang, bukan disimpan."
"Lalu buanglah aku," tantang Victor. Ia meletakkan gelasnya dan menatap Achell dengan intensitas yang mematikan. "Berusahalah mengabaikanku saat aku ada di depan matamu setiap hari. Berusahalah tetap dingin saat aku membawakanmu sarapan setiap pagi. Karena aku tidak akan pergi, Achell. Kau bisa lari ke Zurich, kau bisa lari ke ujung dunia, tapi aku akan selalu ada di unit sebelahmu."
Achell terdiam. Ia merasa sesak. Aura Victor yang begitu dominan dan maskulin seolah mengepungnya, bahkan tanpa pria itu menyentuhnya. Victor yang sekarang bukan lagi pria yang hanya diam di kantor; ia adalah pemburu yang sudah menemukan mangsanya kembali.
"Sophie dan Julian akan membunuhmu jika mereka tahu kau di sini," ancam Achell.
Victor tersenyum tipis—senyum yang terlihat sangat tampan namun menyebalkan. "Julian si pengacara muda itu? Aku sudah mengirimkan beberapa dokumen kasus menarik ke email-nya agar dia sibuk malam ini. Dan Sophie? Aku sudah memborong seluruh koleksi terbarunya untuk dipamerkan di galeri pribadiku. Mereka akan sangat sibuk, Achell. Hanya ada aku... dan kau."
Achell berbalik dengan cepat, berniat masuk ke dalam apartemennya. Namun suara Victor kembali menghentikannya.
"Rambutmu..." panggil Victor lembut, suaranya kini terdengar tulus tanpa nada manipulatif. "Rambutmu jauh lebih indah saat panjang dan ikal seperti ini. Kau tampak seperti malaikat yang baru turun ke bumi yang penuh dosa ini."
Achell tidak menoleh. Ia masuk ke dalam dan membanting pintu balkonnya keras-keras. Ia bersandar di balik pintu dengan napas memburu. Ia marah, sangat marah, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa kehadiran Victor yang begitu dekat membuatnya merasa kacau.
Sementara di balkon sebelah, Victor kembali menyesap wiskinya. Matanya menatap pintu kaca Achell yang kini tertutup rapat. Ia menyentuh kaca itu dengan ujung jarinya.
"Sepuluh tahun aku memilikimu dan aku menyia-nyiakannya. Kali ini, meski aku harus menghabiskan sepuluh tahun lagi untuk menjadi pengemis di depan pintumu, aku akan melakukannya," bisik Victor pada kegelapan.
Pria tua itu benar-benar sudah kehilangan kewarasannya. Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai CEO Edward Group. Baginya, mendapatkan satu lirikan lembut dari Dokter Gabriella Rachel jauh lebih berharga daripada memenangkan tender triliunan poundsterling.
Keesokan Paginya.
Pukul enam pagi, pintu apartemen Achell diketuk dengan sopan. Achell yang sudah siap dengan pakaian olahraganya (legging ketat dan jaket lari yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang ideal setinggi 170 cm) membuka pintu dengan perasaan curiga.
Benar saja. Di depan pintunya, berdiri Victor Louis Edward. Pria itu tampak sangat segar dengan kaos polo putih dan celana pendek olahraga. Di tangannya, ia memegang nampan perak berisi kopi latte favorit Achell dari kafe ternama di London dan sepiring croissant hangat.
"Selamat pagi, Dokter. Aku pikir kau butuh kafein sebelum memulai tugas medis hari ini," ucap Victor dengan senyum sopan, seolah-olah ia adalah pelayan paling tampan di dunia.
Achell menatap nampan itu, lalu menatap wajah Victor yang tampak begitu bersemangat. "Aku tidak menerima makanan dari orang asing."
"Aku bukan orang asing, Achell. Aku tetangga barumu," sahut Victor santai. Ia melangkah maju, memaksa Achell mundur selangkah. "Dan sebagai tetangga yang baik, aku hanya ingin memastikan kau tidak kelaparan. Lagipula, kopi ini tidak beracun. Aku sudah meminumnya setengah."
"Pergi, Victor!" desis Achell.
Tepat saat itu, pintu unit seberang terbuka. Sophie keluar dengan mata mengantuk, namun langsung melotot saat melihat sosok raksasa di depan pintu Achell.
"YA TUHAN! MONSTER GAGAH APA INI?!" teriak Sophie histeris.
Julian menyusul di belakangnya, wajahnya langsung mengeras saat melihat Victor. "Tuan Edward? Apa yang Anda lakukan di apartemen pribadi kami?!"
Victor berbalik, menatap Julian dengan tenang. "Hanya menyapa tetangga, Pengacara Julian. Oh, kudengar kau sedang menangani kasus pencemaran nama baik di Manchester? Semoga berhasil."
Julian dan Sophie saling pandang. Mereka baru sadar bahwa Victor benar-benar sudah menyusup ke dalam lingkaran hidup mereka kembali.
Sanksi bagi Victor mungkin belum berakhir, tapi kini ia memutuskan untuk menjalani sanksi itu dengan cara yang paling berani dengan berada di sedekat mungkin dengan luka yang ia ciptakan sendiri, berharap suatu saat luka itu akan menutup dan membiarkannya masuk kembali.