Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberhasilan dibalik rembulan
Sebulan berlalu, Georgio dan Cassandra mengumumkan peluncuran proyek Skyline International secara global, menjadikannya sorotan media bisnis internasional. Cassano Corp kembali berjaya, dan sahamnya melambung tinggi.
Di tengah hiruk pikuk kesuksesan, Annabella tiba di Jakarta.
Seperti yang Cassandra perkirakan, kedatangannya tidak terpublikasikan. Annabella dijemput langsung oleh orang tuanya dan dibawa ke sebuah rumah peristirahatan milik keluarga, jauh dari keramaian kota. Sengaja menghindari keramaian demi kesehatan Annabella.
Sore itu, Cassandra menerima pesan singkat dari mata-mata nya. Dia sudah di rumah. Dia bertanya tentangmu.
Georgio sedang sibuk di kantor, Cassandra mengambil kunci mobilnya. Ia tahu ia harus menghadapi Annabella secara langsung. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai kenyataan baru dalam hidup Georgio. Bahwa saat ini yang ada bersama Georgio hanya Cassandra.
Ia tiba di rumah peristirahatan itu saat matahari terbenam. Sebuah rumah klasik dengan taman yang luas. Di teras, ia melihat seorang wanita duduk di kursi rotan, memandangi senja. Wajahnya cantik, dengan kelembutan yang tak terbantahkan, persis seperti deskripsi sang protagonis.
"Annabella?" panggil Cassandra.
Annabella menoleh. Matanya yang indah memancarkan kesedihan, Ia tersenyum, senyum yang lembut.
Cassandra berjalan mendekati Annabella.
"Cassandra? Astaga, aku senang kamu datang. Aku dengar semua yang terjadi."
Cassandra duduk di hadapannya, langsung ke inti permasalahan. "Annabella. Aku datang untuk membicarakan Georgio."
Annabella menunduk, sedikit malu. "Aku tahu, aku sudah membuat kekacauan besar. Aku terlalu takut saat itu. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi Jordan. Jadi terpaksa meninggalkan Georgio."
"Ya, kamu meninggalkannya," ulang Cassandra. "Dan setelah semua yang terjadi, aku ada di sini, bersamanya. Aku adalah wanitanya sekarang."
Annabella mengangkat kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi dia berusaha tersenyum. "Aku tahu. Tapi, bukankah kamu kenal Georgio? Dia keras kepala. Aku yakin di dalam lubuk hatinya, dia masih menungguku untuk kembali. Lagipula, aku adalah alasannya untuk dendam. Itu berarti aku penting baginya."
Cassandra menyeringai tipis, penuh kemenangan, meskipun hatinya terasa sedikit perih mendengar ucapan Annabella. "Tentu, kamu penting. Tapi bukan sebagai kekasih, Annabella. Kamu adalah kenangan pahit yang ia lupakan di masa lalu."
"Aku adalah wanita yang ia cintai!"mendengar itu Cassandra menatap Annabella datar.
"Kamu adalah kelemahan yang ia gunakan untuk menjadi lebih kuat," koreksi Cassandra, suaranya menusuk. "Kamu adalah pengorbanan yang dia butuhkan untuk menjadi pria seperti sekarang ini. Dendamnya bukan hanya untuk Jordan, tapi juga untuk mu, Annabella." Tegas Cassandra
Cassandra mencondongkan tubuh ke depan. "Dia telah berhenti mendanai fasilitasmu sejak aku ada di pihaknya. Dia tidak lagi mengawasimu. Dia tidak lagi peduli padamu."
Annabella terdiam, air mata mengalir di pipinya. "Tapi kami adalah takdir. Dia adalah pahlawanku."
"Tidak, Annabella," kata Cassandra dengan nada final. "Kamulah yang memberinya izin untuk mencintai wanita lain. Kamu menyerahkan posisimu untuk orang lain. Dan aku, aku mengambilnya. Sekarang, kamu hanyalah masalalunya. Pergilah dan mulailah hidup barumu. Jangan melihat ke belakang, karena tidak ada lagi yang menunggumu di sana."
Cassandra bangkit. Ia tidak menunggu jawaban. Ia telah memberikan pukulan telak kepada Annabella. Perang batin yang selama ini ia rasakan, melawan seorang protagonis, telah berakhir. Ia akan memastikan bahwa tidak ada jalan kembali bagi Annabella.
Annabella memandang punggung Cassandra dengan tatapan yang sulit di artikan, tidak ada lagi tatapan polos, lugu. Justru yang ada hanya tatapan kebencian. Annabella kembali menatap senja.
"Cassandra."gumam Annabella dengan seringainya. "Kamu jauh-jauh kesini hanya untuk mengatakan itu?"Annabella berdecih.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Georgio dariku. Dari awal dia hanya milikku."
★★★
Rembulan telah memancarkan cahaya indahnya. Cassandra baru saja sampai dirumah setelah menemui Annabella, dia berharap Annabella mendengarkan ucapannya. Dia tidak boleh mengganggu Georgio. Suaminya, hanya miliknya.
Cassandra melangkah masuk kedalam rumahnya, menyesal rasanya nyetir mobil sendiri, punggungnya rasanya keram karena terlalu lama duduk. Menaiki tangga saja sedikit kesusahan.
Cassandra masuk kedalam kamarnya, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia tidak melihat kehadiran Georgio, sepertinya dia belum pulang. Baguslah, itu artinya Georgio tidak perlu tau Cassandra diam-diam menemui Annabella.
Setelah selesai dengan rutinitas mandinya, Cassandra mengeringkan rambutnya dengan handuk, matanya terpaku pada sosok tinggi dan tegap di balkon. Georgio, berdiri tegak menghadap hamparan cahaya kota, kemeja putihnya yang tidak lagi rapi memantulkan cahaya rembulan. Ada pesona yang tidak terbantahkan. Kehadirannya membuat hati Cassandra menghangat.
Cassandra mengenakan jubah tidur sutra, ia melangkah perlahan ke pintu kaca balkon. Ia membukanya, membiarkan udara malam yang sejuk menyambutnya, membawa aroma bunga melati dari taman di bawah. Ia mendekati Georgio, melingkarkan lengannya di pinggang pria itu dari belakang, dan menyandarkan pipinya di punggungnya yang hangat.
"Kamu sudah pulang" bisik Cassandra, suaranya lembut.
Georgio terdiam sejenak, lalu perlahan membalikkan badan, menyambut pelukan Cassandra. Ia menangkup wajah Cassandra dengan kedua tangannya, ibu jarinya membelai lembut pipi istrinya. Matanya, yang tadi terlihat berat, kini melembut saat menatap Cassandra.
"Kamu menggoda ku lagi, hm?" Ujar Georgio.
Ia menarik Cassandra lebih dekat, pelukan yang intim, merasakan kehangatan yang merambat di tubuh mereka. "Kamu baru selesai mandi, kenapa rambutnya tidak dikeringkan dulu? Nanti masuk angin." Ucapnya, mencium lembut sisi kening Cassandra.
Cassandra mendongak,"Kamu perhatian sekali, kamu mencintai ku?"
Mendengar itu Georgio tersenyum, senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain selain dirinya. Ia mengambil tangan Cassandra dan menciumnya lama.
"Minggu depan, Alexander Valmont, mengadakan pesta untuk merayakan kerjasama baru. Acara yang besar dan mewah," kata Georgio, tanpa berniat menjawab ucapan Cassandra.
Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih romantis dan personal. "Aku tidak hanya ingin memperlihatkan keberhasilan Cassano Corp. Aku ingin seluruh dunia, seluruh kolega, dan siapapun yang pernah meragukan kita, melihat betapa bahagia nya kita."
Georgio merangkul pinggang Cassandra, menariknya hingga dada mereka bersentuhan.
"Aku ingin kamu berada di sisiku. Bukan sebagai mitra bisnis semata, tapi sebagai pasanganku, orang yang selalu ada dibalik jatuh dan bangkit ku," ucapnya dengan penekanan tulus di setiap kata. "Aku ingin semua orang melihat betapa cantiknya, betapa cerdasnya, dan betapa berharganya wanitaku. Kamu tidak akan pernah aku lepaskan, selamanya akan ada di sisiku."
Ia menunduk, bibirnya hampir menyentuh dahi Cassandra. "Biarkan mereka tahu bahwa setelah semua badai, kita berdiri di sana, bersama-sama. Aku ingin membawamu, boleh?"
Jantung Cassandra berdebar kencang. Semua kepedihan, rasa bersalah, dan kecemasan tentang Annabella lenyap. Perkataan ini, janji ini, jauh lebih meyakinkan daripada kemenangan bisnis.
"Tentu." bisik Cassandra, membalas pelukan itu dengan erat.
Georgio tersenyum puas, kali ini senyum itu mencapai matanya, dan ia menyatukan bibir mereka dalam ciuman lembut yang penuh janji. Rembulan menjadi saksi atas ikrar yang tak terucapkan, mengakhiri malam yang penuh ketegangan dengan kehangatan cinta yang mendalam.