NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sisa Wangi Fajar di Ambang Badai

Matahari pagi mulai menyusup di sela gorden, namun Dimas sudah terjaga lebih dulu. Ia membiarkan Zora tetap terlelap; wanita itu baru bisa memejamkan mata pukul tiga pagi tadi. Senyum Dimas mengembang saat tatapannya jatuh pada noda kemurnian di atas sprei putih itu,sebuah bukti bisu yang tak pernah ia sangka akan ia miliki.

Gadis yang lima tahun lalu selalu bersembunyi di sudut kelas di balik kacamata besarnya, kini telah menjadi miliknya. Sepenuhnya. Sah secara semesta dan raga.

"Istirahatlah, Sayang," bisik Dimas parau. Ia mendaratkan kecupan lembut di pundak Zora yang terekspos, sebelum beranjak ke kamar mandi. Harinya harus dimulai lebih awal karena jadwal kuliah pagi sudah menanti.

Di dapur, Bu Lastri tengah sibuk menata sayuran. Ia mendongak saat mendengar langkah kaki putra tunggalnya.

"Lho, Zora mana?" tanya Bu Lastri heran.

"Masih tidur, Bu. Dia... kelelahan," jawab Dimas singkat sembari menarik kursi. Ia menyesap teh hangat yang tersaji di meja dengan tenang.

Bu Lastri menghentikan kegiatannya. Dahinya berkerut. "Capek? Kalian sampai dari Garut jam tujuh malam kemarin, dan Zora sudah tidur sepanjang jalan. Sekarang sudah jam delapan pagi, Mas."

Pandangan Bu Lastri kemudian tertuju pada wajah Dimas. Ada binar yang berbeda di mata putranya,lebih segar, lebih hidup, seolah baru saja memenangkan dunia. Insting seorang ibu mulai bekerja.

"Semalam... tidak terjadi apa-apa, kan?" tanya Bu Lastri penuh selidik.

Uhuk!

Dimas tersedak hebat. Teh hangat itu hampir saja menyembur keluar.

"Ya ampun! Kamu ini kenapa? Hati-hati, Mas!" seru Bu Lastri panik sambil menepuk-nepuk punggung putranya.

"Ibu ini... bicara apa, sih?" gumam Dimas dengan wajah yang mendadak memanas, berusaha menghindari tatapan tajam ibunya.

Dimas masih terbatuk-batuk kecil, wajahnya sudah semerah kepiting rebus yang baru saja matang. Bu Lastri bukannya berhenti, malah meletakkan pisau dapur dan mendekat dengan seringai penuh kemenangan.

"Wajahmu itu tidak bisa bohong, Mas. Segar sekali, seperti bunga yang baru disiram air fajar," goda Bu Lastri sambil menyenggol lengan Dimas dengan sikutnya.

"Ibu... jangan mulai, deh," gumam Dimas, pura-pura sibuk mengaduk teh yang sebenarnya sudah larut sempurna.

Bu Lastri tertawa renyah, suara khas ibu-ibu yang baru saja memenangkan lotre. "Ibu ini sudah makan asam garam, Mas. Melihat kamu tersedak sampai mau keluar paru-paru begitu, Ibu sudah tahu jawabannya. Akhirnya... anak Ibu yang kaku seperti kanebo kering ini resmi jadi pria dewasa juga."

"Bu!" Dimas protes, suaranya naik satu oktav karena malu yang luar biasa. "Zora bisa dengar kalau dia bangun!"

"Biar saja dengar! Supaya dia tahu suaminya ini ternyata bisa jadi 'singa' juga, bukan cuma dosen teladan yang kerjanya ngajar." ledek Bu Lastri sambil tertawa kecil. Namun, perlahan tawa itu mereda, digantikan binar haru yang tulus.

Ia mengusap bahu putranya, memberikan tepukan bangga. "Tapi jujur, Ibu lega sekali. Ibu sempat takut kamu bakal menjomblo sampai tua karena terlalu kaku sama perempuan."

Bu Lastri menarik napas panjang, menatap langit-langit dapur seolah sedang memanjatkan syukur. "Ibu doakan kalian jadi pasangan yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Zora itu wanita baik, Mas. Jaga dia, muliakan dia. Jangan sampai kamu bikin dia nangis, atau Ibu sendiri yang akan seret kamu keluar rumah."

Dimas tertegun, lalu tersenyum tipis. "Iya, Bu. Dimas janji."

Bu Lastri kembali ke meja sayurannya, namun sebelum Dimas sempat beranjak, ia berbalik lagi dengan tatapan penuh arti. "Tapi kalau bisa, jangan lama-lama kasih Ibu cucu, ya? Biar rumah ini tidak sepi-sepi amat. Satu atau dua yang mirip Zora pasti lucu, jangan mirip kamu... nanti kaku."

"Ibu!" Dimas langsung bergegas pergi sebelum telinganya makin panas.

*

Zora perlahan membuka matanya. Sinar matahari yang menerobos celah gorden terasa menyilaukan, namun tidak sesakit rasa nyut-nyutan yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya. Saat mencoba beringsut untuk duduk, ia meringis kecil. Tubuhnya terasa asing, seolah setiap sarafnya baru saja dipetakan ulang oleh kejadian semalam.

Ia mencoba turun dari tempat tidur, namun kakinya terasa lemas dan bergetar. Tepat saat ia hampir kehilangan keseimbangan, pintu kamar terbuka.

Dimas muncul dari balik pintu,masih dengan sisa senyum tipis di bibirnya setelah menghadapi godaan ibunya di ruang makan tadi. Begitu melihat Zora yang kepayahan di tepi tempat tidur, raut wajahnya langsung berubah cemas. Ia bergegas menghampiri.

Tanpa banyak bicara, Dimas langsung menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Zora, lalu mengangkatnya dengan gaya bridal style.

"Pak! Turunkan, aku bisa jalan sendiri," cicit Zora, wajahnya seketika merona hebat.

"Diamlah. Kalau jatuh, nanti makin sakit," jawab Dimas singkat namun tegas. Ia membawa Zora ke dalam kamar mandi dengan langkah mantap.

Di dalam kamar mandi, suasana mendadak canggung. Hanya ada suara kucuran air hangat yang disiapkan Dimas di bathtub. Ia membantu Zora duduk dengan hati-hati, lalu berlutut di depannya, menggenggam jemari Zora yang dingin.

"Zora," panggilnya lembut. Dimas menatap istrinya dengan ketulusan yang menenangkan, jauh lebih dalam dari tatapannya semalam.

"Terima kasih karena sudah percaya padaku. Terima kasih karena sudah memberikan... segalanya," Dimas mengecup punggung tangan Zora dengan khidmat. "Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu. Bismillah, ya, Sayang. Kita mulai rumah tangga ini. Semoga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."

Zora hanya mampu mengangguk lirih. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh luapan emosi yang membuncah. Dimas mengusap puncak kepala Zora sejenak sebelum bangkit.

"Aku harus ke kampus dulu. Ibu ada di depan kalau kamu butuh bantuan," ucapnya sebelum beranjak pergi.

Zora menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang dari ambang pintu. Matanya berkaca-kaca, ada butiran bening yang tak lagi sanggup ia bendung.

"Semoga kamu benar-benar jadi imam yang baik untukku, Mas," bisiknya pelan, mengamini doa yang baru saja melangit.

*

Matahari siang terasa menyengat, namun suasana di dalam ruang tengah mendadak membeku. Zora tengah fokus memeriksa data penjualan yang dikirim Nurul via surel, ketika pintu depan terbuka tanpa ketukan.

Seorang wanita melangkah masuk dengan dagu terangkat dan langkah kaki yang angkuh. Mira. Wanita yang mengaku sebagai sepupu jauh Dimas itu menatap Zora dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat kotoran di sepatu mahalnya. Kebetulan sekali Bu Lastri sedang tidak ada di rumah, memberi Mira panggung sempurna untuk melancarkan aksinya.

"Aku tidak suka basa-basi," ucap Mira, suaranya tajam menusuk indra pendengaran Zora. "Aku minta kau pergi dari sini. Enyah dari hidup Dimas. Dia tidak pantas untuk wanita sepertimu."

Zora menutup laptopnya perlahan, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Kamu tidak berhak mengusirku, Mira."

Mira terkekeh sinis.

BRAK!

Mira melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja, tepat di hadapan Zora. Suaranya berdentum pelan namun sanggup menggetarkan jantung Zora.

"Bukalah. Dan aku yakin setelah ini, aku tidak perlu membuang energi untuk memerintahmu pergi," Mira mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata yang terasa seperti racun. "Karena setelah melihat isinya, kau sendiri yang akan berlari keluar dari rumah ini tanpa menoleh lagi."

Tangan Zora bergetar hebat saat menyentuh pinggiran amplop itu. Di dalam sana, seolah ada rahasia besar yang siap meledakkan kebahagiaan yang baru saja ia cicipi tadi pagi.

Mira menyunggingkan senyum kemenangan, lalu berbalik pergi meninggalkan keheningan yang mencekam. Zora menarik napas panjang, menarik isi amplop itu perlahan, dan sedetik kemudian,matanya membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat apa yang ada di dalamnya.

Bersambung...

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!