Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkap Kebenaran
Namun, tak seorang pun di ruang gawat darurat itu menyangka bahwa setelah jarum perak ketiga menusuk titik Energi Vital di tubuh pemuda tersebut, bencana justru meledak tanpa peringatan.
Tubuh pemuda itu mendadak bergetar hebat. Buih putih menyembur dari sudut bibirnya, matanya mendelik kosong, dan seluruh tubuhnya kejang tak terkendali seperti daun kering diterpa badai. Wajahnya memucat seketika, pucat kelabu seperti seseorang yang nyawanya telah direnggut malaikat maut.
Bersamaan dengan itu, alat pemantau di sisi ranjang memekik nyaring, bunyinya menusuk telinga dan menghantam jantung siapa pun yang mendengarnya. Tekanan darah merosot tajam, detak jantung melambat dengan kecepatan mengerikan, garis-garis di layar monitor bergetar liar, menandakan bahwa pemuda itu tengah berdiri di ambang kematian.
Pemandangan itu membuat Syarif Sudrajat membeku di tempat. Tangannya gemetar hebat, jarum perak keempat yang tadi begitu yakin hendak ia tancapkan kini terasa seberat besi berton-ton. Keberanian yang sebelumnya ia banggakan menguap seketika, lenyap ditelan rasa takut yang menjalar dingin hingga ke tulang.
“Ini sebenarnya apa yang terjadi?” teriak Tianda Baskara dengan amarah yang meledak-ledak. Suaranya bergema di ruang ICU yang sempit. “Apa kau benar-benar tahu cara mengobati orang sakit, atau hanya berpura-pura jadi dokter? Bagaimana mungkin kau memperlakukan anakku hingga jadi seperti ini!”
Nada suaranya bukan sekadar marah, melainkan sarat ancaman, seperti singa terluka yang siap menerkam siapa pun di hadapannya.
Rahmat Hendarto pun tak kalah gelisah. Wajah pejabat kesehatan itu menegang, keringat dingin menetes di pelipisnya. “Dokter Syarif,” katanya dengan suara ditekan, “apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah tadi kau mengatakan metode ini telah berhasil pada kasus sebelumnya? Apakah saat itu juga terjadi hal seperti ini?”
“Aku… aku…”
Syarif Sudrajat terdiam. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Lidahnya kelu, pikirannya kacau balau. Ia ingin menjelaskan, tetapi tak satu pun kata mampu keluar dengan utuh. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban.
Ia sangat yakin bahwa metode ini adalah apa yang ia lihat dilakukan Fauzan Arfariza sebelumnya. Gerakan tangan, urutan jarum, bahkan titik tusukan—semuanya ia tiru dengan saksama. Namun mengapa di tangannya, bukan kesembuhan yang datang, melainkan kematian yang mengintai?
Melihat kondisi putranya yang kian kritis, Tianda Baskara mengaum keras. “Hentikan ocehan tak bergunamu! Cepat selamatkan anakku!”
“Benar!” sambung Syafrudin Ahda dengan wajah pucat pasi. Direktur rumah sakit itu hampir kehilangan kendali. “Apa lagi yang kau tunggu? Cepat cari cara! Kalau sampai terjadi sesuatu, habislah kita semua!”
Syafrudin Ahda tahu betul, jika putra Tianda Baskara tewas di rumah sakit ini, maka kursi empuk yang ia duduki selama ini akan runtuh seketika, hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Dalam keputusasaan, Syarif Sudrajat mencabut ketiga jarum perak yang telah tertancap. Tangannya gemetar saat melakukannya, seolah ia tengah mencabut harapan terakhir. Namun, kondisi pemuda itu sama sekali tidak membaik. Monitor masih berteriak nyaring, dan tubuh pemuda itu tetap kejang tanpa ampun.
Tianda Baskara mondar-mandir dengan langkah kasar. “Sudrajat!” bentaknya sambil menunjuk wajah sang dokter. “Aku hanya punya satu anak. Jika ia mati hari ini, aku bersumpah kau akan mati bersamanya!”
Rahmat Hendarto tak lagi bisa menahan amarahnya. “Syarif Sudrajat! Bukankah tadi kau begitu percaya diri? Katanya kau baru saja menyembuhkan seorang pasien. Lalu mengapa sekarang kau tak mampu berbuat apa-apa?”
“Aku… aku…”
Syarif Sudrajat terhuyung. Keringat mengalir deras dari dahinya. Ia tergagap lama, namun tetap tak sanggup menyusun satu kalimat pun dengan sempurna.
Syafrudin Ahda akhirnya menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Ia menoleh ke arah Indah Purnama yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan wajah gelisah. “Indah,” katanya tajam, “katakan yang sebenarnya. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Indah Purnama menggigit bibirnya. Ia ragu sejenak, namun akhirnya menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang menindih dadanya. “Pasien yang sembuh sebelumnya… bukan Dokter Syarif yang menyembuhkannya,” ucapnya pelan namun jelas. “Yang menyelamatkan anak itu adalah seorang anggota keluarga pasien di luar sana. Namanya Fauzan Arfariza.”
Kata-kata itu bagai petir yang menyambar ruang ICU.
Kebenaran yang selama ini tersembunyi akhirnya terkuak tanpa ampun.
Syarif Sudrajat merasa kedua kakinya kehilangan kekuatan. Dunia seolah runtuh di sekelilingnya. Ia terjatuh ke lantai dingin, terduduk lunglai dengan mata kosong, seluruh harga diri dan kesombongannya hancur dalam sekejap.
Begitu mengetahui kebenaran, Tianda Baskara tak membuang sedetik pun. Ia berlari keluar dari ruang gawat darurat dengan langkah tergesa. Baginya, kini tak lagi penting siapa yang benar atau salah. Yang ia pedulikan hanya satu: putranya harus hidup.
Ia menemukan Fauzan Arfariza di luar ruangan. Tanpa peduli pada status atau gengsi, Tianda Baskara langsung menundukkan kepala. “Anak muda,” katanya dengan suara bergetar penuh harap, “tolong selamatkan anakku. Sebutkan berapa pun Rupiah yang kau inginkan.”
“Baik,” jawab Fauzan singkat.
Tak ada keterkejutan di wajahnya. Seolah semua ini telah ia duga sejak awal. Kondisi pemuda itu terlalu genting untuk ditunda dengan perdebatan. Ia meminta Masni Mulyadi untuk pulang dan beristirahat, lalu segera mengikuti Tianda Baskara masuk ke ruang gawat darurat.
Begitu masuk, pandangannya sekilas menyapu Syarif Sudrajat yang masih terduduk lunglai di lantai, lalu beralih fokus ke ranjang pasien. Dengan gerakan tenang namun mantap, Fauzan mengeluarkan jarum-jarum peraknya.
Satu per satu, jarum itu menembus titik Energi Vital dengan presisi sempurna, seakan tangan Fauzan menyatu dengan Tehnik pengobatan kuno yang terdalam yang tersembunyi.
Keajaiban pun terjadi.
Bunyi alarm yang sebelumnya memekakkan telinga perlahan mereda, lalu menghilang sepenuhnya. Kejang pada tubuh pemuda itu berhenti, buih di mulutnya lenyap, dan warna wajahnya berangsur kembali normal. Napasnya menjadi stabil, teratur, seolah badai maut telah berlalu.
Dengan cekatan, Fauzan menusuk ujung jari pasien dan memeras dua tetes darah hitam pekat—racun yang selama ini bersarang di tubuh pemuda itu. Setelah jarum-jarum perak ditarik keluar, seluruh data di monitor kembali normal.
Beberapa detik kemudian, pemuda itu membuka mata dan duduk perlahan di ranjang.
“Dokter Ilahi… benar-benar Dokter Ilahi!” Tianda Baskara menggenggam tangan Fauzan dengan erat, matanya berkaca-kaca. “Keluarga Baskara hanya memiliki satu garis keturunan selama tiga generasi. Kau menyelamatkan anakku, berarti kau menyelamatkan seluruh keluarga kami.”
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara mantap. “Keluarga Baskara tak kekurangan usaha. Aku baru saja membangun sebuah rumah makan besar. Aku serahkan itu padamu sebagai biaya pengobatan. Semua urusan balik nama akan kuurus sendiri.”
Fauzan menerimanya dengan ekspresi tenang. Sejak mewarisi ajaran sekte pengobatan kuno, ia tahu betul bahwa nyawa manusia tak bisa dibandingkan dengan harta. Dalam sejarah sekte tersebut, pernah ada seseorang yang menyerahkan seluruh kota sebagai imbalan pengobatan.
Rahmat Hendarto dan Syafrudin Ahda saling pandang dengan mata penuh iri. Namun Tianda Baskara sama sekali tidak bertindak gegabah. Ia tahu, menjalin hubungan dengan seorang dokter sejati berarti memiliki satu nyawa cadangan di saat genting.
Ia menyerahkan kartu namanya kepada Fauzan. “Jika suatu hari kau membutuhkan apa pun di Jakarta, datanglah padaku.”
Setelah mengucapkan terima kasih berulang kali, Tianda Baskara pergi membawa putranya. Tak lama kemudian, pasien-pasien lain berdatangan, dan semuanya disembuhkan oleh Fauzan tanpa kecuali.
Saat pasien terakhir akhirnya pulang dengan selamat, Rahmat Hendarto menghela napas lega. Peristiwa ini telah mengguncang seluruh Kota Jakarta, bahkan menarik perhatian para pejabat tinggi. Namun kini, rumah sakit berhasil menyelamatkan semuanya.
“Fauzan,” kata Rahmat Hendarto, “kau telah banyak membantuku hari ini. Jika ada yang bisa kubantu, katakan saja.”
Fauzan menyimpan jarum peraknya, lalu melirik Syarif Sudrajat. “Direktur Rahmat,” katanya tenang, “aku memang punya satu permintaan.”
Ia mengeluarkan rincian tagihan dan menyerahkannya. “Ibuku dirawat kurang dari dua puluh empat jam, namun biayanya hampir empat puluh juta Rupiah. Diagnosisnya pendarahan otak berat, tetapi obatnya justru Analgesik, obat jantung, bahkan yang tak ada kaitannya sama sekali. Cairan infusnya saja jika ditimbang mungkin dua puluh lima kilogram. Bahkan seekor sapi pun tak akan kuat menerimanya. Hingga kini, aku masih berutang lebih dari tiga puluh juta Rupiah. Menurut kalian, apa yang seharusnya dilakukan?”
Wajah Syafrudin Ahda dan Rahmat Hendarto mengeras.
Syafrudin Ahda menghantamkan kertas itu ke wajah Syarif Sudrajat. “Kau tidak pantas menyandang gelar dokter. Mulai hari ini, kau dipecat!”
Fauzan menambahkan dengan dingin, “Kasus ini sudah melanggar hukum. Sebaiknya diserahkan kepada pihak berwenang dan diusut hingga tuntas.”
Rahmat Hendarto mengangguk tegas. “Benar. Orang seperti ini adalah parasit dalam dunia medis. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Dan di sanalah, di tengah ruang gawat darurat yang sunyi, kebenaran berdiri tegak, tak lagi bisa disangkal, menandai runtuhnya kepalsuan dan bangkitnya keadilan.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT