NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

Sore hari saat Bradley pergi, Megan tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia berdiri, matanya menatap tajam menerobos ke luar jendela. "Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan pria yang bahkan tidak kukenal?

Megan melihat pagar tinggi itu terbuka otomatis saat mobil Bradley melintas. Dua penjaga berbadan tegap berdiri di sana, membungkuk hormat. "Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa semua orang tunduk padanya?"

Megan lalu memutuskan melangkah keluar, menyusuri tembok mansion yang rapat tanpa celah. Begitu sampai di teras, langkahnya terhenti.

"Anda tidak diizinkan keluar, Nona," cegat Jonas, salah satu bodyguard.

"Aku hanya ingin udara segar, jangan menghalangiku," desis Megan dingin.

"Tuan Brown memerintahkan Anda untuk tetap di dalam."

Megan tidak membalas dengan kata-kata. Dengan gerakan secepat kilat, ia menghantamkan lututnya ke perut Jonas, lalu melakukan high kick yang membuat Jonas terhuyung. Megan berlari menuju gerbang utama. Sial, gerbang itu terkunci otomatis.

Jonas kembali bangkit dan mengejar. "Nona, jangan paksa saya melakukan kekerasan!"

Megan berbalik, menatap Jonas dengan senyum sinis. "Kau tidak akan berani menyentuhku, Jonas. Karena jika aku terluka, kau akan berhadapan dengan Bradley. Kau lupa? Di dalam rahimku ada separuh dari darah bosmu. Berani melangkah maju, dan kau yang akan mati!"

Jonas membeku. Megan memanfaatkan momen itu untuk menyambar remot kontrol yang tergantung di pinggang Jonas saat mereka bergulat tadi.

KLIK!

Gerbang terbuka. Megan berlari keluar menuju jalanan Surrey yang mulai berwarna abu kelam yang sepi dan berkabut. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dari belakang. Itu Sam, bodyguard kedua.

"Lepaskan aku, sialan!" Megan memberikan perlawanan sengit, menendang tepat di antara kedua kaki Sam hingga pria itu jatuh mengerang.

Megan terus berlari, napasnya memburu di tengah udara dingin. Ia merasa bebas untuk sesaat. Namun, ia tidak menyadari bahwa di gelang yang Brad pasangkan saat ia tiba di Surrey memancarkan sinyal merah kecil yang berdenyut.

***

The Obsidian Club pukul 18.00.

Asap cerutu mahal memenuhi ruangan VVIP yang remang. Di depan Bradley, seorang kolega bisnis dari Rusia, Mike Evans, sedang tertawa lebar sambil menuangkan vodka.

Bzzzt... Bzzzt…

Ponsel Bradley bergetar di atas meja marmer. Matanya melirik sekilas ke layar.

[Jonas: Agen Ford melarikan diri.]

Rahang Bradley mengeras, namun ia tidak beranjak. Ia tetap menyesap wiskinya dengan tenang, seolah pesan itu hanyalah laporan cuaca harian.

"Ada masalah, Tuan Brown?" tanya Mike, menyadari perubahan atmosfer di ruangan yang mendadak mencekam.

Bradley meletakkan gelasnya perlahan. Bunyi kaca yang beradu dengan meja terdengar nyaring di tengah keheningan. "Hanya masalah kecil. Seekor kelinci piaraanku mencoba melompati pagar rumahnya."

Mike tertawa, menganggap itu lelucon. "Ah, kalau kelinci nakal, biasanya harus dipatahkan kakinya agar tidak lari lagi, bukan?"

Bradley tidak ikut tertawa. Matanya yang sedingin es menatap Mike, membuat tawa pria Rusia itu terhenti seketika.

"Aku punya cara sendiri untuk menjinakkan milikku, Evans," ucap Bradley dengan nada yang mengancam. Ia kemudian berdiri, merapikan jas mahalnya tanpa terburu-buru.

"Kurasa pertemuan kita cukup sampai di sini. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan sebelum 'milikku' itu tersesat terlalu jauh."

Bradley berbalik dan melangkah keluar. Begitu pintu VVIP tertutup, auranya berubah. Ia menyambar kerah baju Peter yang sudah menunggu di depan pintu.

"Katakan padaku," desis Bradley dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kenapa kalian begitu bodoh sampai membiarkan seorang wanita hamil mempermainkan kalian?"

"Maaf, Tuan. Sinyal dari gelangnya menunjukkan dia menuju hutan Surrey," jawab Peter cepat, tubuhnya menegang.

Bradley melepaskan cengkeramannya kasar. Senyum miring yang mengerikan muncul di wajahnya. "Biarkan dia berlari sampai kakinya lemas. Aku ingin dia tahu, bahwa sejauh apa pun dia melangkah, ujung jalannya adalah aku."

***

Mobil mewah itu meluncur membelah jalanan Surrey yang kian tertutup salju. Bradley duduk di kursi belakang, tatapannya terpaku pada titik merah yang berkedip di layar tablet di pangkuannya.

"Berhenti di sini, Peter," perintah Bradley saat mereka sampai di pinggiran hutan. "Biarkan aku yang menjemputnya sendiri."

Bradley turun dari mobil. Sepatunya menginjak salju dengan bunyi krak yang ketas. Ia berjalan pelan, tanpa rasa takut pada kegelapan di sekelilingnya. Matanya akhirnya menangkap sosok yang duduk memeluk lututnya sendiri di sebuah bangku taman tua di kejauhan.

Langkah Bradley melambat. Dari jarak sepuluh meter, ia bisa melihat Megan yang menggigil hebat. Bahu wanita itu gemetar oleh isak tangis.

Di saat itulah ada rasa nyeri yang asing menghantam dadanya, rasa tak tega yang tidak seharusnya dirasakan oleh seorang monster seperti dirinya. Melihat Megan yang tampak begitu rapuh dan tak berdaya di tengah badai, egonya sedikit retak. Amarah yang tadinya membakar, mendadak padam oleh rasa sesak melihat wanita itu menderita.

Sialan, batin Bradley mengumpat. Kenapa kau terlihat begitu menyedihkan, Meg?

Ia ingin marah, ingin berteriak dan menghukum Megan karena keberaniannya melarikan diri. Namun, melihat bibir Megan yang membiru dan matanya yang terpejam menahan dingin, Bradley justru merasa dunianya ikut membeku.

Bradley mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang goyah.

Bradley tersentak, rasa protektif yang liar seketika bangkit dalam dirinya. Amarahnya kembali muncul, tapi kali ini bukan pada Megan, melainkan pada dirinya sendiri saat ia mendengar rintihan Megan.

"Tuhan, tolong aku," lirihnya, "agar aku bisa lepas dari dia."

Udara malam semakin dingin saat salju turun semakin deras. "Aku tidak sudi kembali ke rumah itu, sekalipun aku akan mati membeku di sini," gumamnya, bibirnya sudah membiru karena dingin.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah kehangatan menempel di punggungnya. Ia mendongak, dan Bradley sudah berdiri di belakangnya, memakaikan overcoat wol tebal yang ia bawa dari mobil ke tubuh Megan .

Kau?" desis Megan, suaranya terbata dan bibir pucatnya bergetar.

"Sudah selesai main-mainnya?" suara Brad terdengar dingin, tapi matanya memancarkan kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.

"Pergi, Brad! Aku tidak akan kembali padamu, atau ke rumahmu! Aku tidak akan menikah denganmu! Pergi!" Megan mundur selangkah, mencari celah untuk lari. Namun, baru saja ia melangkah, Brad sudah menahannya.

"Kau akan sakit, Meg. Berhenti melakukan tindakan bodoh yang akan membahayakan bayi kita."

"Ambil saja untukmu, Brad! Jangan suruh aku membesarkannya! Aku membencimu, Brad! Satu-satunya hal yang kusesali dalam hidupku adalah bertemu denganmu dan mengandung benihmu!" Megan tidak berteriak, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya bagai tembakan tepat di ulu hati Bradley.

Wajah Brad mengeras. Ia sigap menopang tubuh Megan saat melihat wanita itu sudah tak berdaya sebelum akhirnya pingsan karena hipotermia dan kelelahan. Brad mengangkat tubuh Megan dan membawanya masuk ke dalam mobil.

"Cepat, Peter!" tegas Bradley, suaranya dipenuhi amarah saat merasakan tubuh Megan yang sedingin es. Ia membuka overcoat-nya lagi, lalu menyelimuti Megan dengan mantel mahalnya itu. "Kau terlalu keras kepala, Meg," gumam Bradley, menatap wajah pucat Megan.

Peter sesekali melirik dari spion tengah, melihat bosnya yang biasanya kejam kini dipenuhi kekhawatiran pada seseorang yang seharusnya ia habisi karena berani melanggar aturannya.

Tak lama mobil memasuki gerbang rumah megah itu. "Peter, panggil dokter sekarang!" perintahnya datar. Lalu, Brad turun dari mobil, menggendong Megan menuju kamar mereka.

***

Bradley mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu dengan langkah yang berat. Matanya tak lepas dari sosok Megan yang terbaring pucat di atas ranjang.

Berkali-kali ia melirik jam tangannya, menggeram karena dokter yang ia panggil belum juga menampakkan batang hidungnya.

Ia kembali duduk di tepi ranjang, merapikan selimut Megan dengan gerakan kasar yang terkesan protektif. "Kalau bukan karena bayiku, aku pun tak akan sudi peduli padamu, Meg!" gumamnya, meskipun sorot matanya berkata lain.

Tak lama kemudian, Peter datang membawa seorang dokter yang tampak terengah-engah.

"Kau terlambat dari waktu yang kuharapkan!" gertak Brad, suaranya menggelegar membuat nyali dokter itu menciut.

"Maaf, Tuan, tapi salju di luar menghambat…"

"Aku tidak butuh penjelasan darimu! Sekarang, periksa istriku!" perintahnya tegas, matanya berkilat penuh intimidasi.

Dokter itu segera bergerak dengan tangan gemetar. Selama pemeriksaan, Bradley hanya berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap. Ia terus mengetuk-ngetukkan jarinya pada lengan sendiri sebuah gestur misterius yang menandakan pikirannya sedang bergejola antara keinginan untuk menghancurkan Megan atau menjaganya.

"Kondisi Nyonya sangat lemah, Tuan," ucap sang dokter setelah selesai memeriksa. "Hipotermia ringan dan kelelahan fisik yang ekstrem. Tapi yang paling mengkhawatirkan adalah tekanan mentalnya. Janin di trimester pertama sangat rentan terhadap stres. Jika Nyonya terus tertekan atau merasa terancam, risiko keguguran akan sangat tinggi."

Bradley hanya diam, ekspresinya sulit dibaca. Ketukan jarinya berhenti seketika. "Berikan apa pun yang dia butuhkan," ucapnya dingin.

Setelah memberikan resep vitamin dan nasehat panjang agar Megan tidak dibiarkan dalam kondisi stres, dokter itu pun pamit undur diri dengan terburu-buru, takut akan amarah Bradley yang bisa meledak kapan saja.

Kini hanya ada mereka berdua. Bradley perlahan naik ke atas ranjang. Ia duduk bersandar di samping tubuh Megan yang masih tak sadarkan diri. Brad mengulurkan tangan, jemarinya membelai pipi Megan yang mulai menghangat.

"Kau pikir kau bisa lari dariku, Meg?" bisik Bradley, suaranya parau. "Bahkan jika kau lari ke ujung dunia, kau tetap akan berakhir di bawah ketiakku."

Ada dorongan posesif yang luar biasa kuat di dadanya. Bradley kemudian mematikan lampu kamar, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur. Ia berbaring di samping Megan, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.

Ia memeluk Megan dari belakang, mengunci tubuh itu dengan lengan kekarnya. Hidungnya terkubur di ceruk leher Megan, menghirup aroma vanila yang memabukkan, aroma yang perlahan menjadi candu baginya.

"Kau membenciku, tapi kau adalah milikku," gumamnya tepat di telinga Megan yang masih terpejam. "Membeku di hutan demi lari dariku? Bodoh. Kau hanya boleh mati jika aku yang mengizinkannya."

Bradley mengeratkan pelukannya, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka. Di balik amarah yang tadi meluap, ada ketakutan yang tak ia akui, ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa "hidup".

Megan sedikit melenguh dalam tidurnya, tanpa sadar mencari kehangatan di tubuh Bradley yang kokoh. Bradley tersenyum miring, sebuah senyuman predator yang telah mendapatkan mangsanya kembali. Ia tidak akan pergi. Ia akan tetap di sini, menjadi oksigen sekaligus racun bagi Megan.

***

Cahaya matahari pagi yang pucat merayap masuk, menyinari kamar yang terasa pengap oleh ketegangan. Megan membuka mata dan seketika tubuhnya menegang. Ia merasakan beban berat melingkar di pinggangnya, sebuah tangan kekar yang memeluknya erat dari belakang.

Megan menoleh perlahan dan mendapati Bradley tertidur di sana, sangat dekat hingga embusan napas pria itu terasa di tengkuknya. Ada dorongan kuat untuk menghancurkan pria ini saat itu juga, namun Megan sadar fisiknya masih terlalu lemah. Dengan sisa tenaga, ia menghempaskan tangan Brad dan mendorong tubuh pria itu menjauh.

Bradley membuka mata, mengerjap saat merasakan Megan mengusiknya. "Apa kau sudah merasa lebih baik, Meg?" suara serak khas bangun tidur itu justru terdengar memuakkan di telinga Megan.

"Kenapa kau membawaku kembali, Brad?"

"Karena kita akan menikah. Tidak ada bantahan," suaranya kembali dingin.

Megan tidak langsung meledak. Ia terdiam cukup lama, matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, seolah sedang menyusun rencana di kepalanya. "Aku punya permintaan," ucapnya tiba-tiba dengan nada ketus.

Bradley spontan bangun dan duduk menghadap Megan, menatapnya intens. "Katakan."

"Kau tidak mungkin mengizinkanku menemui Ayahku, aku tahu itu. Tapi aku ingin kau mengizinkanku menemui seseorang."

Bradley mengangkat satu alisnya, tatapannya berubah waspada. "Jangan bermimpi untuk kabur lagi, Meg."

"Aku ingin menemui Bibi Sarah, Brad. Aku ingin mengunjungi makamnya," lirih Megan, suaranya sedikit bergetar saat menyebut nama itu.

“Beri aku satu alasan yang kuat untuk mengabulkan permintaanmu," tuntut Brad, berusaha menekan emosi yang tiba-tiba berkecamuk di dadanya karena permintaan Megan..

"Aku tidak perlu memberikan alasan padamu, Brad. Itu urusan pribadiku."

"Kalau begitu, jawabanku adalah tidak, Meg.”

Megan menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan tangis yang hampir pecah karena frustrasi. "Dulu... Bibi Sarah sangat berharap aku menikah dengan putranya. Tapi aku tidak bisa mengabulkan itu, karena sekarang aku harus menikah dengan pria sialan sepertimu! Entah dosa apa yang sudah ku perbuat hingga aku mendapatkan kutukan ini"

Bradley tertegun. Ia menatap Megan dengan tatapan yang sulit diartikan hingga kalimat Megan terdengar seperti gema yang berulang ulang memenuhi kepalanya.

“Dulu... Bibi Sarah sangat berharap aku menikah dengan putranya. Tapi aku tidak bisa mengabulkan itu, karena sekarang aku harus menikah dengan pria sialan sepertimu! Entah dosa apa yang sudah ku perbuat hingga aku mendapatkan kutukan ini"

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!