Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Keputusan dan Keberangkatan
Pagi menyingsing di Whiskey Peak. Kota yang semalam penuh dengan kekacauan kini mulai tenang. Para bounty hunter Baroque Works yang masih sadar memilih mundur setelah melihat kekuatan Kru Topi Jerami—terutama setelah aku menahan ledakan raksasa Mr. 5.
Kami semua berkumpul di pelabuhan, di dek Going Merry. Luffy sudah mendengar seluruh cerita dari Vivi dan Igaram—tentang Alabasta, Crocodile, dan rencana jahat Baroque Works.
Dan reaksi Luffy, seperti yang kuduga, sangat Luffy.
"YOSH! KALAU BEGITU KITA KE ALABASTA DAN HAJAR BUAYA ITU!" teriak Luffy dengan semangat membara.
"LUFFY, INI BUKAN MASALAH YANG BISA DISELESAIKAN DENGAN SEKEDAR 'HAJAR'!" Nami berteriak sambil menggebrak kepala Luffy. "Crocodile itu Shichibukai! Salah satu dari tujuh bajak laut terkuat yang bekerja sama dengan World Government! Bounty-nya 81 juta Berry sebelum dia jadi Shichibukai—sekarang pasti jauh lebih kuat!"
"Aku tidak peduli seberapa kuat dia," kata Luffy dengan serius—ekspresi langka yang menunjukkan dia benar-benar marah. "Dia membuat Vivi menangis. Dia menyiksa rakyat Alabasta. Jadi aku akan hajar dia."
Vivi menatap Luffy dengan mata berkaca-kaca. "Luffy-san..."
"Tapi Luffy," Usopp yang sudah bangun—meskipun masih pusing—angkat bicara dengan suara gemetar. "Kita baru saja masuk Grand Line! Kita belum cukup kuat untuk melawan Shichibukai!"
"Usopp benar," kata Sanji sambil menyalakan rokok baru. "Aku setuju untuk membantu Vivi-chan—tentu saja, aku akan melakukan apapun untuk wanita cantik—tapi kita harus realistis. Crocodile bukan musuh biasa."
Zoro yang bersandar di tiang dengan mata tertutup tiba-tiba berbicara. "Kalau kita takut pada setiap musuh kuat, kita tidak akan pernah sampai ke Grand Line. Ini adalah laut di mana monster berkumpul. Cepat atau lambat, kita harus menghadapi orang-orang seperti Crocodile."
"Zoro benar," aku menambahkan sambil berdiri di samping Luffy. "Dan lagipula, kita tidak sendirian. Vivi dan Igaram tahu detail tentang Baroque Works. Kita punya informasi. Dengan strategi yang tepat, kita bisa menang."
Robin yang duduk di sudut dengan buku di tangannya tersenyum tipis. "Ara ara, sepertinya sudah diputuskan. Kru ini memang menarik."
Nami menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah. Kalau Luffy sudah memutuskan, tidak ada gunanya berdebat." Dia menatap Vivi. "Tapi Vivi-san, kau harus tahu—ini akan berbahaya. Sangat berbahaya. Kita mungkin tidak semua selamat."
"Aku tahu," kata Vivi dengan tekad di matanya. "Dan aku tidak bisa meminta kalian mempertaruhkan nyawa kalian untuk kerajaanku. Tapi... kalian adalah satu-satunya harapan ku. Jadi kumohon..." Dia membungkuk dalam. "Tolong selamatkan Alabasta!"
Luffy berjalan ke depan Vivi dan menaruh tangannya di kepalanya—seperti kakak yang menenangkan adiknya. "Angkat kepalamu, Vivi. Kau sekarang adalah nakama kami. Dan nakama tidak perlu membungkuk."
Vivi mengangkat kepalanya, air mata mengalir tapi dia tersenyum.
"YOSH!" Luffy mengangkat tinjunya tinggi-tinggi. "TUJUAN KITA SEKARANG ADALAH ALABASTA! KITA AKAN HAJAR CROCODILE DAN SELAMATKAN NEGARA VIVI!"
"OOOHHHH!!!" seluruh kru berteriak bersamaan—bahkan Usopp yang tadinya takut ikut bersemangat.
Aku tersenyum lebar. Ini adalah Kru Topi Jerami yang kukenal dan kucintai—kacau, ceroboh, tapi punya hati yang paling mulia.
Igaram mendekati kami dengan ekspresi serius. "Ada satu masalah. Baroque Works sekarang tahu identitas Princess Vivi. Mereka akan mengejar kami. Dan lebih dari itu—mereka tahu kalian yang Kru Topi Jerami melindunginya. Kalian semua sekarang menjadi target Baroque Works."
"Biarkan saja!" kata Luffy dengan santai. "Kalau mereka datang, kami hajar!"
"Luffy, dengarkan dulu," Igaram mengangkat tangannya. "Baroque Works punya ratusan—bahkan ribuan—agent tersebar di seluruh Grand Line. Mereka punya sistem hierarki yang ketat. Yang kalian hadapi semalam—Mr. 5 dan Miss Valentine—mereka hanya officer agent tingkat menengah. Masih ada yang lebih kuat di atas mereka."
"Seperti siapa?" tanya Zoro dengan nada tertarik.
"Mr. 3 dan Miss Goldenweek, Mr. 2 Bon Clay, Mr. 1 dan Miss Doublefinger," jelas Igaram. "Dan di puncak hierarki, ada empat agent terkuat—Mr. 0, yang adalah Crocodile sendiri, dan tiga officer agents elit lainnya."
Aku tahu siapa yang dimaksud Igaram—meskipun dia tidak menyebutkan nama. Mr. 1 dengan kekuatan Dice-Dice Fruit yang bisa mengubah tubuhnya jadi pisau. Mr. 2 Bon Clay dengan Clone-Clone Fruit yang bisa mengubah wajah. Dan tentu saja, Robin yang duduk di sana sambil tersenyum—dia adalah Miss All Sunday, partner langsung Crocodile.
Tapi aku tidak bisa mengatakan itu tanpa membuat diriku terlihat mencurigakan.
"Jadi rencananya apa?" tanya Nami dengan serius.
Igaram menarik napas dalam. "Princess Vivi harus segera kembali ke Alabasta untuk memperingatkan Raja dan mencegah perang sipil. Tapi kalau dia pergi sekarang, Baroque Works akan langsung mengejarnya. Jadi..." Dia menatap kami. "Kalian harus pergi ke Alabasta lebih dulu. Ciptakan pengalihan. Buat Baroque Works fokus pada kalian, sementara aku akan membawa Vivi pulang lewat rute lain yang lebih aman."
"TIDAK!" Vivi berteriak. "Aku tidak akan membiarkan Igaram pergi sendirian! Itu terlalu berbahaya!"
"Princess..." Igaram menatap Vivi dengan lembut tapi tegas. "Ini adalah tugas ku sebagai pengawalmu. Biarkan aku melindungimu dengan cara ini."
"Tapi—"
"Vivi-chan," Sanji menyela dengan lembut. "Igaram-san benar. Kalau kalian berdua pergi bersama, kalian akan jadi target yang lebih mudah. Tapi kalau terpisah, setidaknya salah satu dari kalian akan selamat sampai Alabasta."
Vivi menggigit bibirnya, air mata mengalir.
Igaram tersenyum. "Jangan khawatir, Princess. Aku akan baik-baik saja. Dan kalian juga." Dia menatap Luffy. "Monkey D. Luffy. Aku mempercayakan Princess Vivi padamu. Tolong jaga dia."
Luffy mengangguk dengan serius. "Aku janji. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Vivi."
Spider Sense ku tiba-tiba berdering pelan. Sesuatu tidak beres. Aku merasakan... bahaya yang akan datang.
"Igaram-san," kataku dengan serius. "Hati-hati. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres."
Igaram menatapku dengan tatapan menghargai. "Terima kasih atas peringatannya, Kenji-kun. Aku akan berhati-hati."
Satu jam kemudian, Igaram bersiap untuk berangkat. Dia sudah menyamar—memakai wig Vivi dan pakaian yang menyerupai Vivi, mencoba menarik perhatian Baroque Works.
"Princess," Igaram memanggil Vivi satu kali terakhir. "Sampai jumpa di Alabasta."
"Igaram..." Vivi menangis sambil memeluk pengawalnya. "Tolong... tolong selamat."
"Aku akan selamat," Igaram tersenyum. "Karena aku harus melihatmu jadi ratu yang hebat suatu hari nanti."
Dia naik ke kapalnya—kapal kecil yang sudah disiapkan—dan mulai berlayar meninggalkan Whiskey Peak.
Kami semua berdiri di dek Going Merry, menatap kapal Igaram menjauh perlahan.
Spider Sense ku berdering semakin keras.
"Ada yang tidak beres," gumamku sambil menatap kapal Igaram dengan was-was.
"Kenji?" Zoro menatapku. "Kau merasakan sesuatu?"
"Ya. Bahaya. Bahaya besar—"
BOOOOOMMM!!!
Ledakan dahsyat menghancurkan kapal Igaram di tengah laut!
Api membesar, asap mengepul, reruntuhan kapal beterbangan!
"IGARAAAAAMMM!!!" Vivi berteriak histeris.
"SIAL!" aku langsung menembakkan jaring dan berayun menuju lokasi ledakan. "BERTAHAN, IGARAM!"
Aku meluncur di atas laut dengan kecepatan tinggi, menggunakan jaring untuk membuat platform di atas air. Dalam hitungan detik, aku sampai di lokasi ledakan.
Tapi... tidak ada yang tersisa.
Hanya reruntuhan kayu yang terbakar dan asap tebal.
"Igaram..." gumamku sambil mencari dengan putus asa. "Igaram di mana?!"
Aku menyelam ke dalam air—meskipun aku pengguna Buah Iblis dan melemah di air, aku masih bisa berenang sebentar. Aku mencari di bawah permukaan, mencari tanda-tanda Igaram.
Tapi tidak ada.
Spider Sense ku tidak merasakan kehadiran apapun.
Igaram... mungkin sudah—
"KENJI! KEMBALI! CEPAT!" suara Zoro berteriak dari kapal.
Aku berenang kembali ke Going Merry dengan hati berat. Saat sampai di kapal, aku melihat Vivi sudah jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu.
"Igaram... Igaram..." dia terus mengulangi nama pengawalnya sambil menangis.
Nami memeluk Vivi, mencoba menghibur.
Aku mengepalkan tinjuku dengan marah. "Sialan... aku merasakan bahayanya tapi tidak cukup cepat untuk memperingatkan..."
"Ini bukan salahmu, Kenji," kata Zoro sambil menaruh tangannya di bahuku. "Ledakan itu datang dari dalam kapal. Kemungkinan besar ada bom yang dipasang sebelumnya. Tidak ada yang bisa kita lakukan."
"Baroque Works," gumam Robin dengan ekspresi serius. "Mereka lebih cepat dari yang kukira. Mereka sudah tahu rencana Igaram dan memasang bom di kapalnya."
Luffy terdiam. Ekspresinya sangat serius—ekspresi yang sangat jarang terlihat. Lalu dia berjalan ke depan Vivi dan berlutut.
"Vivi," katanya dengan suara rendah tapi tegas. "Aku janji. Aku akan hajar Crocodile. Untuk Igaram. Untuk rakyat Alabasta. Untuk mu."
Vivi menatap Luffy dengan mata merah karena menangis. Lalu dia mengangguk pelan.
"Terima kasih... Luffy-san..."
Nami berdiri dan mengambil Log Pose. "Kalau begitu kita harus bergerak sekarang. Log Pose menunjuk ke pulau berikutnya dalam rute ke Alabasta. Kita tidak punya waktu untuk berduka—semakin cepat kita sampai di Alabasta, semakin banyak nyawa yang bisa kita selamatkan."
"Nami benar," kata Sanji. "Kita harus fokus sekarang."
"Semua ke posisi!" perintah Luffy. "Kita berangkat ke Alabasta!"
"YOSH!" seluruh kru menjawab bersamaan.
Going Merry mulai berlayar, meninggalkan Whiskey Peak—dan reruntuhan kapal Igaram—di belakang kami.
Aku berdiri di dek belakang, menatap asap yang masih mengepul di kejauhan. Tanganku mengepal erat.
"Igaram-san," gumamku pelan. "Aku janji akan melindungi Vivi. Aku tidak akan membiarkan pengorbananmu sia-sia."
Spider Sense ku masih berdering pelan—seperti warning bahwa bahaya masih ada di sekitar kami.
Aku menoleh dan melihat Robin duduk di sudut dek, membaca buku. Dia melirik ke arahku sekilas, lalu kembali ke bukunya.
"Robin..." pikirku. "Aku tahu siapa kau sebenarnya. Tapi kenapa kau ada di sini? Kenapa kau belum mengkhianati kami?"
Dalam cerita asli, Robin adalah Miss All Sunday—partner langsung Crocodile. Tapi dia juga yang akhirnya membantu Luffy dan bahkan bergabung dengan Kru Topi Jerami setelah arc Alabasta.
Aku harus mengawasinya. Aku tidak bisa membiarkan dia membahayakan kru.
Tapi di saat yang sama... aku ingat ceritanya. Aku ingat penderitaannya. Aku ingat betapa sendirian dan putus asanya dia selama ini.
"Robin," gumamku pelan. "Aku akan mengawasimu. Tapi aku juga akan menunggu. Menunggu saat kau memutuskan untuk benar-benar mempercayai kami."
Malam turun. Laut tenang, bintang-bintang bersinar di langit.
Tapi kami semua tahu—ini adalah ketenangan sebelum badai.
Perjalanan ke Alabasta akan penuh dengan bahaya.
Tapi kami siap.
Kami adalah Kru Topi Jerami.
Dan kami tidak akan pernah mundur.