Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 14: Terbangunnya Eksekutor
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang tumpah ruah.
Di luar, Distrik Timur sedang gempar mencari sosok Eksekutor yang hilang, namun di dalam Flower’s Patisserie, waktu seolah berhenti mengalir.
Elena adalah yang pertama terbangun. Ia membuka matanya dengan perasaan yang sangat asing yaitu paru-parunya terasa ringan, tidak ada rasa sesak yang mencekik, dan setiap tarikan napasnya terasa sejuk seperti embun pagi. Ia menemukan dirinya berbaring di sofa beludru di ruang tengah toko, tertutup selimut rajutan hijau yang wangi.
Namun, kegembiraannya terhenti saat ia melihat ke arah sudut ruangan. Di atas ranjang akar yang sama tempat ia diselamatkan, kakaknya, Reggiano, terbaring kaku.
"Kakak?" bisik Elena pelan.
Reggiano tidak bergerak. Wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat sangat pucat, hampir seperti porselen. Tubuhnya dibungkus oleh perban dari daun-daun lebar yang mengeluarkan cahaya hijau redup. Seraphine sedang duduk di samping ranjang itu, sedang mengoleskan cairan keperakan pada luka di bahu Reggiano.
"Dia hanya sedang bermimpi panjang, Elena," ucap Seraphine tanpa menoleh, suaranya lembut namun menyimpan kelelahan.
"Sudah berapa lama, Nona?" Elena mendekat, memegang tangan kakaknya yang terasa sangat berat dan dingin.
"Tiga matahari sudah terbit dan tenggelam," jawab Seraphine.
"Luka di tubuhnya mudah bagi tanah untuk menutupnya, tapi luka di jiwanya... itu butuh waktu lebih lama. Dia berjuang keras sekali untuk bisa bermain bersama adiknya, Elena Herbert. "
Elena duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi ranjang. Ia melihat tangan kakaknya yang biasanya selalu memegang senjata, kini tampak bersih dari noda darah.
"Apakah dia akan bangun sebagai orang yang sama?"
Seraphine berhenti sejenak, menatap Reggiano dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak ada yang kembali sama setelah menyentuh akar kehidupan, Kecil. Dia akan bangun sebagai pria yang berbeda. Pria yang tidak lagi memiliki tempat di dunia lamanya."
Tiba-tiba, jemari Reggiano bergerak sedikit. Sebuah erangan rendah keluar dari tenggorokannya. Matanya yang perak terbuka perlahan, tampak bingung dan liar untuk sesaat, sebelum akhirnya fokus pada wajah Elena yang sedang menangis bahagia di depannya.
"Elena..." suara Reggiano terdengar sangat dalam dan serak, seolah-olah ia sudah tidak bicara selama bertahun-tahun.
"Aku di sini, Kak! Aku bisa bernapas! Lihat, aku bisa berdiri! Aku bahkan bisa bergerak kesana kemari dan kita bisa piknik di taman!" Elena memeluk lengan kakaknya dengan erat.
Reggiano mencoba menggerakkan tubuhnya, namun ia merasa seolah-olah berat tubuhnya menyatu dengan bumi di bawahnya. Ia menoleh dan melihat Seraphine yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.
"Selamat datang kembali, Tuan Herbert," ucap Seraphine.
"Kau tidur cukup lama untuk membuat roti-rotimu di dapur berjamur."
Reggiano menarik napas panjang. Ia merasakan oksigen yang masuk ke tubuhnya tidak lagi terasa seperti udara kota yang kotor, melainkan sesuatu yang murni dan menghidupkan. Ia menyadari satu hal: ia masih hidup, adiknya sehat, namun harga yang ia bayar adalah identitasnya sebagai manusia biasa.
Reggiano menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa lebih berat dari biasanya karena pengaruh obat-obatan herbal yang mengalir di darahnya. Ia menatap langit-langit toko yang dipenuhi tanaman merambat, mencoba mengumpulkan sisa martabatnya sebagai seorang pria yang terbiasa memegang kendali.
"Nona Florence," panggil Reggiano dengan nada bicara yang masih kaku dan formal, meskipun ia sedang terbaring lemah. "Saya menghargai semua yang telah Anda lakukan. Namun, saya memiliki kewajiban yang harus diselesaikan di luar sana. Barang-barang saya di apartemen... itu adalah garis hidup terakhir saya."
Seraphine yang sedang membersihkan meja kayu di sudut ruangan berhenti sejenak. Ia merapikan gaunnya, lalu berjalan mendekati ranjang Reggiano dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.
"Tuan Herbert," sahut Seraphine, suaranya terdengar seperti lonceng perak yang jernih namun tegas.
"Saya rasa saya sudah cukup jelas sebelumnya, anda saat ini berada di bawah perlindungan saya, dan dalam kondisi anda yang sekarang, anda bahkan tidak akan sanggup berjalan hingga ujung jalan tanpa jatuh pingsan."
Reggiano mencoba bangkit lagi, namun tekanan halus namun mutlak dari energi di sekitar ranjang itu membuatnya tetap terpatri di bantal. "Anda tidak bisa menahan saya di sini selamanya, Nona Florence."
"Saya tidak menahan anda, Tuan Herbert. Saya sedang menyelamatkan anda dari kebodohan anda sendiri," balas Seraphine sambil menatap langsung ke mata perak Reggiano.
"Dunia di luar sana menganggap anda sudah mati. Jika anda muncul sekarang dengan luka-luka yang belum sepenuhnya pulih, anda hanya akan mengantar nyawa kembali ke tangan musuh yang lebih kuat. Apakah itu yang anda inginkan setelah semua pengorbanan yang kita lakukan untuk Elena?"
Reggiano terdiam.
Nama adiknya selalu menjadi satu-satunya argumen yang bisa melumpuhkan logikanya. Ia melirik ke arah Elena yang masih terlelap, lalu kembali menatap Seraphine.
"Lalu sampai kapan saya harus menjadi tamu yang tak berdaya di toko anda ini, Nona?" tanya Reggiano, suaranya sedikit merendah.
"Sampai tanah ini memutuskan bahwa anda sudah cukup kuat untuk memikul beban masa lalu anda kembali," jawab Seraphine lugas.
"Untuk saat ini, Tuan Herbert, tugas anda hanyalah bernapas dan tetap hidup. Biarkan saya yang mengurus sisa duniamu yang berantakan itu."
Reggiano membuang muka, mendengus pelan sebagai tanda menyerah yang enggan. Ia menyadari bahwa di hadapan Nona Florence, otoritasnya sebagai Eksekutor Organisasi tidak lebih berarti daripada sepotong roti yang belum dipanggang.
Reggiano memejamkan matanya, mencoba meredam denyut di kepalanya. Namun, alih-alih keheningan, dunianya mendadak dibanjiri oleh kebisingan yang mustahil. Ia bisa mendengar suara jam kuno besar di lantai atas, gesekan sayap serangga di sudut ruangan, hingga percakapan yang seharusnya berada jauh di luar jangkauan telinga manusia.
"Unit tiga, sapu area radius lima ratus meter dari titik ledakan. Target tidak mungkin menguap begitu saja,"
Sebuah suara yang tidak dikenal dari radio komunikasi terdengar sangat jelas di telinga Reggiano, seolah operator itu berdiri tepat di samping ranjangnya.
"Nona Florence," desis Reggiano, suaranya tercekat. "Apa yang anda lakukan pada saya? Saya bisa mendengar mereka... intelijen yang tidak diketahui. Mereka berada di persimpangan dua blok dari sini, saya bisa mendengar napas mereka."
Seraphine tidak langsung menjawab. Ia hanya terus menumbuk herbal dengan tenang, namun tatapannya tertuju pada tangan kanan Reggiano yang mulai gemetar hebat.
"Tuan Herbert, kendalikan diri anda. Suara-suara itu adalah perbincangan dikota yang selama ini anda abaikan," ucap Seraphine tanpa menghentikan kegiatannya.
Tiba-tiba, rasa sakit yang membakar menghujam pergelangan tangan kanan Reggiano. Ia mengerang, mencengkeram lengannya sendiri seolah-olah ada besi panas yang ditekankan ke kulitnya.
Di bawah permukaan kulit yang pucat, muncul semburat warna merah darah yang bergerak melingkar. Perlahan tapi pasti, sebuah tanda permanen terbentuk tato sabit mawar merah yang melilit pergelangan tangannya seperti borgol yang elegan namun mematikan.
"Sial... apa ini?" Reggiano menatap tanda itu dengan ngeri.
"Nona Florence, jelaskan pada saya. Tanda apa ini? Apakah ini bagian kutukan atau semacam biaya atas nyawa saya?"
Seraphine meletakkan lesungnya, lalu berjalan mendekat. Ia meraih tangan Reggiano dan mengamati tanda sabit mawar itu dengan ekspresi biasa saja.
"Itu adalah kontrak yang sudah tersegel, Tuan Herbert," sahut Seraphine rendah.
"Sabit untuk kematian yang anda bawa, dan mawar untuk kehidupan yang saya pinjamkan. Tuan tidak lagi hanya seorang manusia, Tuan adalah penjaga taman ini. Tanda itu memang dikhususkan bagi mereka yang terpilih, sekaligus pengingat bahwa nyawa anda kini terikat pada tanah ini."
Reggiano menarik tangannya dengan kasar, wajahnya dipenuhi kemarahan yang bercampur dengan terkejut.
"Nona Florence... Apa Nona mengubah saya menjadi monster? Menjadi sesuatu yang bukan manusia hanya agar saya bisa hidup?"
"Saya mengubah anda menjadi sesuatu yang bisa bertahan hidup dari apa yang akan datang, Tuan Herbert," balas Seraphine dengan nada formal yang tak tergoyahkan.
"Sekarang, berhentilah mengeluh tentang pendengaran anda. Gunakan itu. Beritahu saya, apa lagi yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana tentang kita?"
Reggiano mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada suara-suara di kejauhan, meskipun rasa perih di pergelangan tangannya masih berdenyut.
Reggiano masih menatap tanda sabit mawar di pergelangan tangannya dengan napas memburu. Rasa sakitnya kini berganti menjadi denyutan ritmis yang sinkron dengan detak jantungnya sendiri. Suara-suara dari luar, langkah sepatu bot, gesekan radio, hingga desis peluru yang dimasukkan ke dalam pistol terasa seolah terjadi tepat di dalam kepalanya.
"Nona Florence," Reggiano menggeram, matanya menatap tajam ke arah Seraphine.
"Indra ini... ini terlalu berisik. Saya merasa seperti kehilangan akal sehat."
Seraphine mendekat, lalu dengan tenang ia menuangkan minyak esensial beraroma cendana ke atas meja kayu.
"Itu karena anda mencoba melawannya dengan logika lama anda, Tuan Herbert. Sebagai yang terpilih menjadi 'Penjaga Taman', anda tidak lagi melihat atau mendengar dengan mata dan telinga manusia. Tuan, mendengar melalui alam, dan melihat melalui getaran kehidupan."
Intinya nih semacam frekuensi gitu.
"Apa maksud anda dengan 'Penjaga Taman'?" tanya Reggiano, mencoba meredam kebisingan di kepalanya.
"Setiap taman membutuhkan dinding, dan setiap dinding membutuhkan penjaga," sahut Seraphine sambil memberikan isyarat agar Reggiano mencoba memusatkan fokus pada tanda di tangannya.
"Tuan Herbert, mari kita mulai pelajaran pertama anda. Fokuskan seluruh kebisingan itu ke dalam tanda sabit di pergelangan tangan anda. Jangan ditolak, tapi biarkan ia mengalir seperti air."
Reggiano memejamkan mata, mengikuti instruksi Seraphine. Perlahan, kekacauan suara di kepalanya mulai menyusut, memadat menjadi satu titik fokus.
"Bagus," panggil Seraphine. "Sekarang, coba gerakkan jari anda dan rasakan 'urat' di dalam lantai ini."
Reggiano menyentuh lantai kayu toko.
Seketika, ia tidak hanya merasakan tekstur kayu, melainkan sebuah peta visual yang luas. Ia bisa merasakan keberadaan setiap agen Organisasi di luar sana bukan sebagai suara, melainkan sebagai titik-titik hitam yang mengotori peta hijau di benaknya.
"Itu adalah Echo of the Soil," jelas Seraphine formal.
"Sebagai Penjaga Taman, anda memiliki otoritas untuk memerintah elemen dasar di sekitar anda guna melindungi tempat ini. Anda bisa merasakan niat membunuh bahkan sebelum musuh menarik pelatuknya."
"Saya merasa... sangat kuat, tapi juga sangat asing terhadap diri saya sendiri," bisik Reggiano.
"Kekuatan ini tidak diberikan cuma-cuma, Tuan Herbert," Seraphine mengingatkan dengan nada yang dingin namun jujur. "Setiap kali anda menggunakan kekuatan Penjaga, mawar di tangan anda akan mekar sedikit lebih banyak. Jika mawar itu sampai melilit hingga ke jantung anda sebelum tugas anda selesai, maka tanah akan menagih seluruh keberadaan anda."
Reggiano menatap tanda merah di tangannya dengan pemahaman baru. Ini bukan sekadar sihir, ini adalah sebuah tanggung jawab yang mengikat jiwanya.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Nona Florence? Mereka sudah semakin dekat," ucap Reggiano sambil berdiri tegak, kali ini tanpa rasa sakit, tubuhnya terasa ringan dan berbahaya.
"Gelar anda yang sebenarnya adalah Eksekutor Mawar Merah. Dunia luar mungkin melihat ini sebagai toko roti, namun bagi anda dan saya, ini adalah perjalanan yang akan penuh ambisi manusia."
Reggiano mengepalkan tangannya yang kini memiliki tanda sabit mawar. Rasa perihnya kini berganti menjadi aliran energi yang dingin dan terkendali.
"Tugas pertama anda, Tuan Herbert," ucap Seraphine sambil berjalan ke arah jendela yang tertutup tirai tipis,
"Mudah kok, cukup belajar menyelaraskan frekuensi perlindungan saja. Sebagai Penjaga Taman, anda tidak lagi menyerang dengan amarah, melainkan dengan ritme alam."
Seraphine mengisyaratkan Reggiano untuk berdiri di tengah ruangan, tepat di atas sebuah pola melingkar pada lantai kayu yang tampak seperti urat-urat pohon yang menyatu.
"Tutup mata anda. Jangan mendengar dengan telinga, tapi dengarlah dengan tanda di pergelangan tangan anda," perintah Seraphine.
"Organisasi sedang mengirimkan 'pesan' di luar sana. Katakan pada saya, apa yang sedang mereka siapkan untuk merusak taman ini?"
Reggiano memejamkan mata. Seketika, kegelapan di pandangannya berubah menjadi peta termal hijau yang berdenyut. Ia bisa merasakan getaran mesin mobil yang berhenti di ujung blok, detak jantung para agen yang tidak stabil karena cemas, dan yang paling mencolok: aroma bahan kimia yang menyengat.
"Nona Florence," bisik Reggiano, suaranya terdengar lebih dalam.
"Mereka tidak menyiapkan peluru. Mereka membawa tangki-tangki berisi herbisida dosis tinggi dan bahan pembakar. Mereka ingin mematikan setiap kehidupan di tanah ini sebelum merangsek masuk."
Seraphine tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak tajam di bawah cahaya lampu toko. "Rencana yang primitif. Tuan Herbert, tunjukkan pada mereka bahwa 'taman' ini memiliki sistem pertahanannya sendiri. Saya ingin anda menarik energi dari akar toko ini dan mengalirkannya ke tangan anda."
Reggiano merasakan kakinya seolah menghisap kekuatan dari lantai. Tanda sabit mawar di tangannya berpendar terang.