Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Intaian dari Balik Kabut Abu-abu
Latihan terus berlanjut hingga senja yang pucat mulai menyelimuti wilayah tandus tersebut. Jian An dan Jian Han kini sedang duduk bersila di atas pilar batu yang berbeda, dipisahkan oleh jarak sekitar sepuluh meter.
Sesuai instruksi Jian Wuyou, mereka harus melakukan meditasi pernapasan untuk mencapai ranah Manifestasi Roh, di mana mereka dituntut untuk membedakan aliran energi kehidupan dari energi busuk yang memenuhi Jurang Ketiadaan.
Jian Wuyou berdiri di tengah-tengah mereka, namun matanya tidak lagi tertuju pada anak-anaknya.
Indera keenamnya yang sudah mencapai Domain Kehendak Tahap Akhir menangkap distorsi kecil pada kabut yang berjarak seratus meter di arah utara.
Ada pergerakan yang terlalu sistematis untuk sekadar angin atau binatang buas.
"Jiwu, tetaplah di dalam jiwa mereka jika terjadi sesuatu. Lindungi inti Qi mereka agar tidak terguncang." perintah Wuyou dalam batinnya.
"Aku mengerti, Kak. Tapi kau harus tahu, yang mengintai ini bukan hanya satu atau dua orang. Aku merasakan aura busuk dari setidaknya sepuluh orang di ranah Jiwa Sejati." sahut Jiwu dengan nada waspada.
Tiba-tiba, udara di sekitar pilar batu tempat Jian An duduk bergetar. Dari balik bayang-bayang kabut, melesat lima rantai hitam yang ujungnya dilengkapi dengan kait bergerigi.
Rantai-rantai itu terbuat dari besi meteorit yang telah direndam dalam darah iblis, dirancang khusus untuk mengikat dan melumpuhkan sirkulasi Qi musuh.
Jian An yang masih dalam kondisi meditasi terkejut. Matanya terbuka lebar, namun refleksnya belum cukup cepat untuk menghindar dari serangan mendadak itu.
"Jian An, jangan bergerak!" raung Jian Wuyou.
Dalam satu gerakan yang nyaris tak kasat mata, Jian Wuyou sudah berada di udara. Ia tidak mencabut pedangnya, melainkan hanya mengibaskan lengan bajunya.
Sebuah gelombang tekanan udara yang sangat padat terpancar keluar, menghantam kelima rantai tersebut hingga hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuh kulit Jian An.
"Keluar kalian, tikus-tikus selokan!" suara Wuyou menggelegar, meruntuhkan beberapa bongkahan batu di sekitarnya.
Dari balik kabut, muncullah sekelompok pria dengan pakaian compang-camping namun membawa senjata yang memancarkan aura kematian.
Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh kurus kering dengan mata yang bersinar hijau neon. Dia adalah salah satu algojo dari faksi pemulung di Kota Tanpa Nama.
"Jian Wuyou... kau sangat waspada," ucap pria bermata hijau itu sambil menjilat bibirnya yang pecah-pecah. "Kami tidak menginginkanmu. Serahkan anak yang memiliki darah ungu itu. Tuanku menginginkan jantungnya untuk ramuan keabadian. Jika kau memberikannya, kami akan membiarkan istrimu yang cantik itu tetap hidup sebagai budak kami."
Mendengar kata-kata itu, suhu di sekitar tempat tersebut turun secara drastis hingga embun di udara berubah menjadi butiran es hitam.
Jian Wuyou perlahan menaruh tangannya pada hulu pedangnya. Auranya yang tadinya ditekan kini meluap tanpa sisa, menciptakan retakan-retakan besar di tanah yang ia pijak.
"Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh kelompokmu." desis Wuyou.
Li Hua yang berada di kejauhan segera menarik Jian Han turun dari pilar batu dan mendekapnya bersama Jian An di belakang sebuah bongkahan batu besar. Wajahnya pucat, namun matanya menunjukkan kepercayaan penuh pada suaminya.
Para algojo itu tidak menunggu lagi. Sepuluh orang sekaligus melompat maju, melepaskan teknik-teknik terlarang dari ranah Jiwa Sejati. Mereka menciptakan badai pasir beracun dan memanggil roh-roh penasaran untuk mengganggu konsentrasi Wuyou.
Namun, Jian Wuyou tetap berdiri diam. Saat musuh pertama tinggal berjarak satu langkah, ia mencabut pedangnya sedikit saja dari sarungnya.
"Domain Kehendak: Tebasan Kehampaan Seribu Mil."
Hanya dalam satu kedipan mata, sebuah garis ungu tipis membelah kabut secara horizontal. Tidak ada suara ledakan, hanya kesunyian yang mencekam.
Detik berikutnya, sepuluh algojo tersebut berhenti di tempat. Tubuh mereka perlahan terpisah menjadi dua di bagian pinggang, seolah-olah ruang yang mereka tempati telah dipotong secara fisik.
Pemimpin bermata hijau itu adalah satu-satunya yang selamat karena ia berdiri paling jauh, namun lengan kanannya telah hilang, terpotong rapi oleh tekanan angin pedang tadi. Ia gemetar hebat, melihat anak buahnya yang berada di ranah Jiwa Sejati tewas dalam satu serangan sederhana.
"Kau... kau bukan sekadar Domain Kehendak..." rintihnya sambil memegangi lukanya yang tidak mengeluarkan darah karena telah hangus terbakar energi ungu.
"Pulanglah dan katakan pada tuanmu," Jian Wuyou mendekat, menatap pria itu dengan mata perak yang tidak memiliki emosi. "Jika ada satu lagi orang yang mendekati keluargaku, aku tidak akan hanya membunuh kalian. Aku akan menghapus seluruh keberadaan klan kalian dari sejarah semesta ini."
Pria itu melarikan diri ke dalam kabut dengan ketakutan yang luar biasa. Jian Wuyou tidak mengejarnya. Ia segera menyarungkan pedangnya dan berbalik ke arah anak-anaknya.
Jian An menatap ayahnya dengan mulut terbuka. Rasa takut yang tadi ia rasakan kini berganti dengan ambisi yang membara. "Ayah... ajari aku teknik itu. Aku ingin bisa memotong ruang seperti Ayah!"
Jian Wuyou menghela napas panjang, auranya kembali tenang namun sedikit lelah. Ia mengusap kepala Jian An dan Jian Han bergantian. "Kalian lihat? Di dunia ini, kebaikan tidak akan melindungimu. Hanya kekuatan yang bisa menjamin keselamatan orang yang kau cintai. Latihan hari ini belum selesai. Kembali ke posisi kalian."
Meskipun baru saja menyaksikan pembantaian, Jian An dan Jian Han tidak menangis. Mereka justru kembali ke pilar batu dengan tekad yang lebih keras. Mereka menyadari bahwa di Jurang Ketiadaan ini, pilihan mereka hanya dua: menjadi predator atau menjadi mangsa.