Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22.
Aurely berhenti. Sosok itu melangkah lebih cepat mendekat ke arah Aurely.. Langkahnya tegap dan bibir tersenyum lebar..
“Aurel, kamu sudah selesai juga.” Ucap sosok itu yang tidak lain adalah Pak Baskoro. Di tangan Pak Baskoro membawa sebuah buku besar dan tebal. Sampul motif batik berwarna biru.
Aurley menjawab dengan senyuman, “Iya Ayah.” Jawab Aurely.
Ayahnya mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari.. “Kamu kelihatan sangat bahagia hari ini.” Ucap Ayahnya setelah berada di dekat Aurely.
Senyum Aurely semakin lebar, “Iya Ayah aku punya kabar baik.” Ucap Aurely, “Ayah juga terlihat lebih bahagia dan bersemangat.” Lanjutnya lalu membalikkan tubuhnya.
Ayahnya memeluk tubuh Aurely dari samping dan mereka melangkah berdampingan.
“Kabar apa? Bu Retno tidak marah ke kamu?” tanya Ayahnya sambil terus melangkah, “Ayah juga punya kabar baik. Teman teman Ayah di Ibu kota sudah pesan beras organik dan beberapa produk anggota koperasi.”
“Bu Retno tidak marah Yah. Dan aku diterima kerja, tapi tidak di kios di pasar ini.” Ucap Aurely. “Kita tidak bisa bersama sama lagi Yah.” Lanjutnya.
“Di mana?”
“Di dekat kampus, tapi masih di daerah kecamatan sini Yah.”
Ayahnya berhenti melangkah.
Aurely ikut berhenti. Lorong pasar terasa semakin sempit, suara orang-orang mulai menjauh, hanya tersisa dengung kipas tua dari kios yang masih buka dan langkah kaki beberapa pedagang yang juga pulang.
“Dekat kampus?” ulang Pak Baskoro pelan. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena marah, tapi khawatir.
“Iya, Yah,” jawab Aurely hati-hati. “Usaha Bu Wiwid membuka cabang baru… . Aku ditugaskan di sana. Sama Mas Rizky.”
Pak Baskoro menoleh, menatap wajah putrinya lebih lama dari biasanya. Ia melihat sesuatu yang jarang ia lihat akhir-akhir ini: mata yang hidup, bahu yang tidak lagi terlalu menunduk.
“Mas Rizky? Keponakan Bu Wiwid?” tanyanya akhirnya.
Aurely mengangguk. “Iya Yah, dia anak Bu Retno.”
Pak Baskoro menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Berarti tanggung jawab kamu juga besar, karena bertugas di cabang baru.”
“Iya,” sahut Aurely jujur. “Aku juga sempat takut. Tapi… aku ingin coba, Yah.”
Mereka kembali melangkah. Kali ini lebih cepat. Lorong pasar semakin gelap, hanya beberapa lampu kecil yang masih menyala. Sebagian kios sudah tertutup rolling door, menyisakan bau karung beras, kayu lembap, dan sisa aktivitas seharian.
“Ayah tidak keberatan kamu tidak satu lokasi lagi,” ucap Pak Baskoro akhirnya. “Ayah cuma tidak mau kamu tertekan. Kamu itu sering menyimpan beban sendiri.”
Aurely menunduk, menatap lantai lorong yang mulai sulit ia lihat jelas. “Aku tahu, Yah. Tapi kali ini beda. Aku merasa… dipercaya.”
Pak Baskoro berhenti sejenak, lalu menepuk bahu Aurely lembut. “Kalau begitu, Ayah dukung.”
Aurely mendongak cepat. “Benar?”
“Iya,” jawab Pak Baskoro mantap. “Selama kamu jujur, kerja baik, dan jaga diri. Jangan sungkan cerita ke Ayah kalau ada apa-apa.”
Hidung Aurely terasa perih. Ia mengangguk dan menekan hidungnya cepat cepat , cepat-cepat agar air matanya tidak jatuh.
Mereka keluar menuju area parkir pasar. Udara senja terasa lebih lega dibandingkan lorong sempit tadi. Langit sudah berubah keunguan, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Namun sesaat mata Aurely tertuju pada pos Polisi di depan pasar.
“Yah, kita coba tanya ke Pak Polisi yuk.. apa boleh melihat rekaman CCTV. “ ucap Aurely sambil memegang lengan Ayahnya, “Aku masih penasaran Yah, siapa yang sudah mengambil foto foto Ayah tanpa izin. Mau lihat rekaman CCTV kios Bu Wiwid, takut sama Bu Retno.” Lanjutnya.
Pak Baskoro menoleh ke arah Aurely. Melihat wajah Aurely yang kembali tampak sedih. Hati Pak Baskoro tidak tega untuk menolak ajakan puterinya.
“Baiklah, dari pada kamu terus gelisah dan tidak konsentrasi besok kalau kerja.” Ucap Pak Baskoro menggandeng tangan Aurely menuju ke pos Polisi dekat pasar.
Langkah mereka terhenti di depan pos polisi yang tak terlalu besar. Lampu neon putih di dalamnya menyala terang, kontras dengan langit senja yang kian gelap. Seorang polisi berseragam cokelat tampak duduk sambil menulis sesuatu di meja kayu.
“Permisi, Pak,” sapa Pak Baskoro sopan.
Polisi itu mendongak, lalu berdiri. “Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Aurely maju setengah langkah, tangannya masih menggenggam erat lengan ayahnya. “Pak… saya mau tanya soal rekaman CCTV di area pasar. Ada kemungkinan kami bisa melihatnya?”
Polisi itu mengernyit pelan. “CCTV yang mana, Mbak?”
“Di sekitar lokasi truk parkir untuk bongkar muat barang, Pak,” jawab Aurely cepat, suaranya bergetar. “Ada seseorang yang mengambil foto ayah saya tanpa izin. Dan foto fotonya disalahgunakan.”
Pak Baskoro mengangguk menguatkan. “Kami tidak ingin memperpanjang masalah, Pak. Hanya ingin tahu siapa orangnya, supaya anak saya tenang.”
Polisi itu terdiam sejenak, lalu menarik kursi dan mempersilakan mereka duduk. “Begini ya, Pak, Mbak. Rekaman CCTV memang bisa dilihat, tapi ada prosedurnya. Apalagi kalau menyangkut privasi orang lain.”
Wajah Aurely langsung meredup. “Jadi… tidak bisa ya, Pak?”
“Bukan begitu,” jawab polisi itu dengan nada lebih lembut. “Kalau memang ada dugaan pengambilan gambar tanpa izin, Mbak bisa buat laporan singkat dulu. Setelah itu, kami bantu cek rekamannya.”
Aurely menoleh ke ayahnya. Tatapannya penuh harap sekaligus cemas. Pak Baskoro menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis.
“Kalau itu bisa membuat kamu lebih tenang, Ayah setuju, Ayah yang akan membuat laporan.” katanya pelan.
Aurely mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa Ayahnya selalu siap menemani menghadapi rasa takutnya.
Pak Baskoro dibantu oleh Pak Polisi membuat laporan sederhana sesuai prosedur.
Monitor CCTV di sudut pos polisi menyala setelah polisi itu menekan beberapa tombol di komputer. Gambar hitam putih muncul, sedikit buram, memperlihatkan deretan kios pasar dari sudut atas.
“Ini rekaman sore tadi,” ucap polisi itu sambil memajukan waktu.
“Pak, apa bisa diubah ke beberapa hari lalu.” Ucap Aurely
“Ooo Bisa Mbak, saya putar mundur ya..” ucap Pak Polisi.
Polisi itu menekan beberapa tombol lagi, dan gambar di monitor perlahan mundur, detik demi detik, hingga jam yang ditunjukkan sesuai dengan hari yang dimaksud Aurely.
Bayangan pasar tampak sibuk, pedagang dan pembeli berlalu-lalang, gerakan mereka cepat seperti potongan film lama...
Sesaat kemudian
“Pak… berhenti sebentar!” kata Aurely, menunjuk layar dengan tangan gemetar. Matanya melekat pada sebuah mobil yang parkir agak lama di dekat truk dan tampak juga di layar Ayahnya sedang memikul karung. “Itu… itu mobil itu!”
Pak Baskoro mendekat, menatap layar. Di situ terlihat sebuah mobil sedan berwarna gelap dengan plat nomor kota Jakarta berhenti di dekat area bongkar muat. Mobil itu tidak bergerak selama beberapa menit, lalu pelan-pelan meninggalkan lokasi.
Aurely menelan ludah. Telapak tangannya menutup mulutnya “Ayah… aku… aku seperti sudah pernah melihat mobil itu.”
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting