NovelToon NovelToon
Retired Hero

Retired Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wanto Trisno 2

Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.

Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.

Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sihir Penghabisan

Peristiwa mengerikan itu berlangsung selama berjam-jam. Rapphael hanya bisa melihat para Hunter dimangsa oleh Redrat. Terlebih lagi, mereka telah mengalami berbagai macam penyiksaan tiada henti.

Jerit tangis tak bisa dipendam. Elena, merupakan seorang putri bangsawan. Ia juga salah satu orang yang memiliki sifat buruk dan pernah menjebak Rapphael pada kehidupan sebelumnya. Maka dari itu, itu dianggap sebagai hukuman yang pantas.

"Wanita murahan sepertimu, memang selayaknya mendapatkan balasannya. Entah berapa pria yang telah kamu permainkan. Setiap mengingatmu, aku merasa jijik," ungkap Rapphael.

Wanita itu mengerang kesakitan. Kedua tangannya tersisa tulang dan darah. Namun warna darahnya telah menghitam karena racun dari Zombtree. Setelah tangan, kaki dan sekujur tubuh digerogoti hingga organ dalamnya tak lepas dari hidangan para Gomon.

Setelah semua Hunter tak tersisa lagi, kini hanya tinggal Rapphael seorang. Tubuhnya telah diperkuat dan daya sihirnya meningkat. Level kekuatannya melebihi manusia normal lainnya. Bahkan saat ini, ia bisa yakin, dapat mengalahkan Petualang Rank B.

Rapphael berdiri di depan Zombtree, monster pohon yang telah menjadi zombie. Zombtree memiliki ranting-ranting yang tajam dan kulit kayu yang keras, membuatnya menjadi lawan yang tangguh.

"Terima kasih telah bekerja sama denganku. Sebagai balasannya, matilah!" seru Rapphael, mengangkat pedang yang dialiri api.

Zombtree mengeluarkan suara gemuruh, dan ranting-rantingnya mulai bergerak menuju Rapphael. Pemuda itu melancarkan serangan dengan pedangnya, tapi Zombtree terlalu kuat dan berhasil memblokirnya.

Ia tidak menyerah, melancarkan serangan sihir api. Api itu membakar kulit kayu Zombtree, membuatnya mengeluarkan suara lengkingan yang keras.

Zombtree tidak kalah karena jumlahnya, dan mereka melancarkan serangan dengan ranting-rantingnya. Rapphael menghindarinya dengan lincah, dan dia kembali melancarkan serangan balik dengan pedangnya.

"Ini baru tantangan yang mengasyikan." Setelan mengalami peningkatan pada level kekuatannya, ia yakin bisa menghadapi para Gomon.

Pertarungan berlangsung sengit, tapi Rapphael tidak menunjukkan tanda-tanda lelah. Dia terus melancarkan serangan, dan para Zombtree mulai melemah. Satu persatu ditebasnya sampai berubah menjadi batu Perl.

Akhirnya, Rapphael melancarkan serangan terakhir dengan pedangnya, dan Zombtree jatuh ke tanah dan asap hitam mengubahnya menjadi batu Perl.

"Aku tidak terlalu menggunakan sihir. Pedang hitam ini hanya menghemat penggunaan sihirku."

Terdengar suara gemuruh yang kuat dari dalam tanah, Rapphael berdiri di tengah-tengah rombongan Zombtree, matanya memindai sekitarnya. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat, karena Zombtree-Zombtree itu semakin dekat.

"Rupanya ini baru makanan pembuka. Kalian para Gomon memang cerdik. Redrat yang sudah kenyang pun belum bertindak padaku. Apakah kalian takut padaku?"

Jelas terlihat gerombolan Redrat yang mengintai. Mereka tidak langsung menyerang karena sudah makan banyak dari para petualang.

Meski demikian, Rapphael melancarkan sihir petir, dan kilat-kilat menyambar ke arah Zombtree-Zombtree itu. Mereka mengeluarkan suara teriakan yang keras, tapi tidak berhenti bergerak.

Dungeon yang dipenuhi para Gomon, membuat jiwa pemberontak Rapphael semakin besar. Hemat energi adalah hal yang ia lakukan sebelumnya. Namun ia masih harus mengosongkan lantai empat untuk membuka pintu.

Entah itu jalan menuju lantai lima atau kembali ke lantai tiga. Ia harus mengalahkan semua Gomon terlebih dahulu. Karena tidak kemungkinan untuk tetap mengandalkan pedang, maka penggunaan sihir akan menguras energinya.

Rapphael tidak menyerah, dan dia melancarkan sihir api. Api itu membakar kulit kayu Zombtree-Zombtree itu, membuatnya mengeluarkan suara teriakan yang lebih keras.

Tapi, Zombtree-Zombtree itu tidak berhenti. Mereka terus bergerak maju, dan pemuda itu tahu bahwa dia harus menggunakan sihir yang lebih kuat.

"Sial!" seru Rapphael, melancarkan sihir tanah. Tanah di sekitarnya mulai bergerak, dan Zombtree-Zombtree itu terjebak dalam lumpur yang dalam.

Rapphael melancarkan sihir angin, dan angin kencang itu menghantam Zombtree-Zombtree itu, membuatnya terjatuh ke tanah. Dia melancarkan sihir api lagi, dan api itu membakar mereka, membuatnya berhenti bergerak.

Mereka berubah menjadi batu Perl. Yang dimana batu itu berwarna biru. Dengan ukuran yang lebih besar. Harga batu-batu Perl biru jauh lebih tinggi dari batu Perl berwarna merah.

Namun lantai empat masih belum sepenuhnya dia taklukan. Ia kembali menenggak ramuan untuk memulihkan kekuatannya.

"Ramuan ini sudah hampir habis. Aku terlalu ceroboh barusan." Menyesal tidak ada artinya. Ia pun kembali menggeluarkan sihir perlindungan untuk melindungi diri dari racun.

Para Zombtree mengeluarkan suara gemuruh yang keras, dan ranting-rantingnya mulai bergerak menuju Rapphael. Rapphael melancarkan sihir petir, tapi Zombtree Raja itu tidak terpengaruh.

"Sial! Kekuatanku masih belum kembali. Aku menyesal karena memasuki lantai empat ini."

Karena sendirian, maka tidak ada bantuan. Dia sendiri yang bersikeras untuk menaklukan Dungeon. Namun semuanya tidak bisa terburu-buru. Dikehiduan sebelumnya pun, ia harus masuk Dungeon puluhan kali hanya untuk mencapai lantai empat. Namun kali ini, pertama kali masuk, sudah sampai lantai empat.

Mengingat levelnya yang belum memadai, membuatnya harus lebih waspada. Ada banyak Zombtree yang sudah dia kalahkan. Namun tidak serta merta bisa mengalahkan semuanya sekaligus.

Masih harus menggunakan rencana. Ia mengeluarkan banyak jebakan untuk menghadang mereka untuk sementara waktu. Setelah itu, ia mundur beberapa meter dari sana untuk memulihkan kekuatannya.

Kayu dan batu-batu besar hanya bisa menghalangi sementara. Karena itu adalah Zombtree, mereka tidak mudah dihalau. Setelah terhantam oleh batu besar, mereka masih bisa bergerak dengan bagian tubuh seadanya.

Kecuali jika dibakar dengan api, akan sulit dihadapi. Apalagi ketika tubuh mereka hancur, bisa menyambung kembali bagian tubuhnya. Sehingga serangan fisik dari jebakan-jebakan tersebut, hanya mengalami sementara.

"Sial! Masih berapa lama lagi?" Rapphael masih belum bisa menggunakan sihir maksimalnya. Ia terlalu banyak mengkonsumsi ramuan untuk mengembalikan energinya. Sehingga efek dari ramuan itu semakin rendah.

Berapa banyaknya ramuan yang dikonsumsi, tidak berefek banyak untuk saat ini. Karena itu, keputusan untuk memasuki lantai empat, benar-benar hal yang perlu ditinjau ulang.

Ia telah meremehkan Zombtree sebelumnya. Karena berpikir, tidak akan mengalami hal seperti ini. Meski berhasil membuat pergerakan besar, tetap tidak bisa bertarung dengan maksimal.

"Ini seharusnya kelompok terakhir, bukan? Aku akan mempertaruhkan semuanya di sini."

Dengan pertaruhan hidup dan mati ini, Rapphael hanya bisa menggunakan rencana terakhir. Ia merasakan energi sihirnya sudah mulai pulih. Namun ia harus menyisakan energi untuk kembali menaklukan lantai tiga dan seterusnya.

Ia memfokuskan pada sihir terkuatnya. Menggunakan tujuh puluh persen energi sihirnya untuk satu serangan pertaruhan. Ramuan yang ia miliki pun sudah tak tersisa. Hanya berharap masih bisa keluar dalam keadaan hidup.

Rapphael melebarkan telapak tangannya dan membayangkan sihir apa yang dikeluarkan. Tujuh puluh persen kekuatan sihirnya telah terkuras dan menyalakan sihir terkuatnya, Inferno.

Api yang sangat besar muncul dari tanah, dan para Zombtree terjebak dalam api itu. Mereka mengeluarkan suara teriakan yang keras, tapi tidak bisa melawan api terbesar yang menghancurkan mereka.

"Semoga dengan ini, bisa membuka lantai tiga," lirih Rapphael. Tubuhnya lemas dan tangannya berpegangan pada tembok untuk berdiri.

***

1
anggita
mampir lewat ng👍like aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!