Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Kak Hana, bagaimana bisa papa tau ukuran baju ku? Sepatu ku dan juga kamar ini? Bagaimana papa menyiapkan nya?" tanya Aruna dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau akan ada seorang papa sambung yang begitu baik seperti papa Firman.
Hana tersenyum dan kemudian menghampiri Aruna. "nona muda, jangan menangis, aku juga tidak tau, tapi mungkin saja tuan Firman mengetahui semua ini dari nyonya," jelas Hana sambil memegang pundak Aruna, berusaha membuat nya tetap tenang.
"Ini terlalu berlebihan kak Hana," lirih Aruna terharu.
"Nanti nona muda akan terbiasa, oh ya kalau begitu istirahat lah, aku masih akan mengurus dapur rumah untuk menu makan malam hari ini," ucap Hana hendak pamit.
"Memang nya akan ada acara apa?" tanya Aruna kebingungan.
"Nona muda, tidak ada apa-apa, sudah jadi kebiasaan untuk menyiapkan makan malam di jam segini karena kami tidak hanya menyiapkan satu menu makanan apalagi sekarang sudah ada nyonya dan nona muda, kami pasti akan memasak menu makanan terbaik untuk menyambut kedatangan kalian, ini perintah tuan besar Firman," jelas Hana.
"Sebegitu exsaited nya papa menyiapkan semua ini," gumam Aruna.
Hana hanya tersenyum mendengar ucapan Aruna barusan.
"Kak Hana, apakah butuh bantuan?" tanya Aruna lagi.
"Tidak nona, maid di sini cukup banyak, jadi nona muda tidak perlu melakukan pekerjaan apapun, oh ya ada satu lagi yang sepertinya harus saya sampaikan kepada nona muda, di sebelah kamar ini adalah kamar tuan muda Erlan, putra tunggal tuan besar Firman, berhati-hati dengan nya dia sedikit ..." Hana menghentikan kalimat nya.
"Sedikit apa?" Ujar Aruna penasaran.
"Ah lupakan saja, aku tinggal dulu nona, permisi," Hana kemudian bergegas meninggalkan kamar Aruna tanpa menyelesaikan ucapan nya tadi.
"Tapi apa kak Hana? Kak Hana!" teriak Aruna, namun Hana sudah menghilang dari pandangan nya.
Aruna pun memutuskan untuk kembali ke kamar nya, namun dia melihat kamar yang terletak di samping kamar nya, itu sangat dekat dan seperti yang tadi di katakan oleh Hana, itu adalah kamar kakak tirinya Aruna.
"Kok rasanya takut banget ya? Gimana kalau dia galak, jelek dan jahat? Ah gue mikirin apa sih? Gak mungkin dong dia jelek, papa Firman aja ganteng banget, tapi kalau galak mungkin ya, au ah mendingan masuk kamar aja gak sih, capek banget," ucap Aruna yang sejenak melupakan rasa penasaran nya dan kemudian berjalan kembali ke kamar.
Aruna pun mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size tersebut, rasanya sangat empuk dan juga nyaman, berbeda dengan kasur nya yang ada di rumah, yang kasar juga keras. Hal ini membuat Aruna yang kelelahan langsung tertidur lelap.
Tak terasa beberapa jam pun berlalu, ruangan dingin ber AC membuat Aruna tidur dengan lelap sampai tidak tau kalau saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam itu artinya pukul 06.30. Sampai di mana terdengar suara ketukan di luar pintu kamar nya.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Nona muda, sudah waktunya makan malam," Hana saat ini berdiri di depan pintu kamar Aruna.
Aruna membuka mata nya, dan melihat jam yang menempel di tembok kamar, tak menyangka sudah hampir jam tujuh malam, dirinya masih saja belum berbuat apa-apa dan malah baru bangun tidur.
"Astaga, kak Hana aku akan turun bentar lagi, jangan menunggu ku," ucap Aruna yang segera membuka koper nya, mengambil handuk dan juga pakaian ganti lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Baik nona muda," jawab kepala pelayan Hana yang kemudian berjalan meninggalkan kamar Aruna.
Tiga puluh menit pun berlalu, kini Aruna sudah tiba di ruang makan dan lagi-lagi ia di buat takjub akan ruang makan minimalis yang cukup cantik itu, tak hanya itu ia pun ikut terpesona akan hidangan yang sangat menggugah selera, jiwa tukang makan nya segera kambuh.
"Tunggu apa lagi? Ayo makan," kata papa Firman sambil tersenyum.
"A-itu, mas, di mana anak mu? Kenapa dia tidak kembali ke rumah? Aku belum bertemu sejak datang ke sini," ucap mama Dinda sambil menyajikan makanan ke piring sang suami.
"Hmm, itulah dia, dia tidak akan kembali setelah pulang sekolah, dia akan melakukan apapun yang dia inginkan, setelah lelah dan muak, baru akan pulang ke rumah, jangan khawatir, besok pagi juga pasti kau akan bertemu dengan nya," ucap papa Firman yang tau betul tabiat sang putra.
Mendengar itu, Aruna merasa sangat senang karena mengetahui kakak tirinya tidak suka berada di rumah, dengan begitu dia berfikir kalau ia tak perlu bertemu dengan nya.
Setelah makan malam berlalu, mama Dinda dan papa Firman pun memutuskan untuk kembali ke kamar mereka untuk istirahat lebih awal, paham-paham saja, namanya juga sepasang suami istri yang baru menikah.
Sementara Aruna juga kembali ke kamar nya, ia memilih untuk merapikan pakaian bawaan nya dan juga mengerjakan tugas sekolah karena besoknya dia akan kembali bersekolah.
"Huh, akhirnya selesai juga," ujar Aruna menutup buku tugas nya dan kembali menoleh ke arah jam dinding di kamar tersebut, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Aruna merasa kalau di dalam rumah itu, jam bergitu cepat berlalu, padahal kalau di rumah lama nya jam sebelas rasanya sudah seperti jam dua subuh.
"Apa karena rumah ini terlalu besar dan nyaman ya? Gue jadi gak ngerasa kalau udah mau tengah malam, tapi gue haus banget," lirih Aruna sambil memegang tenggorokan nya.
Ia yang haus dan lupa membawa minuman ke kamar pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
"Aduh, mana dapur nya jauh banget lagi, kenapa sih papa Firman harus bikin rumah segede ini, jadi takut kan cuman mau ke dapur doang," ujar Aruna sambil menuruni satu-persatu anak tangga menuju lantai bawah.
Beberapa menit kemudian, ia pun berhasil melawan rasa takut nya dan segera tiba di dapur rumah tersebut.
"Kok minim banget sih penerangan nya, perasaan tadi pas makan terang banget, di mana kontak lampu nya sih ini?" tanya Aruna sambil berusaha menepis rasa takut yang kembali menyelimuti hati nya.
Karena tak menemukan kontak lampu akhirnya Aruna pun memutuskan untuk gelap-gelapan, ia membuka kulkas yang ada di sana dan kemudian mengambil sebotol air mineral.
"Ahhhhh, rasanya lega banget," ucap nya setelah meneguk hampir separuh dari isi botol itu.
Ia pun menutup pintu kulkas tersebut dan berniat untuk segera kembali ke kamar.
Dukh ...
"Ahhhh," ... Aruna menabrak sesuatu sehingga kepala nya terasa sedikit sakit, ia memegang jidat nya sambil menggosok-gosok dengan mata yang masih terpejam.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah