罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Taiketsu part IV
...**...
...夜を拒む瞳...
...-Yoru o Kobamu Hitomi-...
...'Mata yang menolak malam'...
...⛩️🏮⛩️...
...'Di bawah langit yang menolak kehadiranmu, tak ada pilihan lain selain menjadi badai....
...Atau dikubur dalam senyap.'...
...⛩️🏮⛩️...
Sementara itu, Noa duduk sendirian di serambi belakang rumah utama. Sinar matahari pagi belum begitu kuat, tapi cukup untuk memantulkan cahaya di teko teh yang sudah dingin. Tidak ada yang menemaninya. Tidak ada yang mengakui keberhasilannya.
Di lorong-lorong sempit, para pelayan menatapnya seperti menatap noda yang belum dibersihkan. Dua perempuan muda membalikkan badan saat Noa melewati mereka di taman kecil. Seorang anak kecil yang biasa menyapa—putra salah satu pengawal senior—kini menunduk dan menempel pada ibunya.
Noa mengerti isyarat itu. Ia memang tidak berasal dari sini. Dan misi semalam hanya membuatnya lebih tidak disukai dan lebih berbahaya dimata mereka.
...⛩️🏮⛩️...
Malam itu, Kaede menemuinya.
Bukan di ruang umum, bukan di tempat latih, tapi di halaman bambu yang tersembunyi di sisi timur kediaman. Tempat itu sunyi. Hanya suara gesekan daun dan dengung serangga.
Noa berdiri ketika Kaede datang. Ia mengira Kaede akan menyerangnya. Tapi Kaede hanya berdiri diam tapi auranya menekan.
"Saat misi itu... Kenapa kau bertindak tanpa izin?" tanyanya pelan, nyaris tak terdengar.
"Hanya reflek. Aku merasa ada yang tidak beres," Noa menjawab tanpa menunduk.
"Bukan itu maksudku." Suara Kaede berat, namun terkendali. "Saat aku sedang membidik pria itu, kau langsung bertindak melempar pengait itu. Jika saat itu kau gagal mengenainya atau kalah saat bergulat dengannya... "
"Bukankah yang penting misinya berhasil dan tidak ada yang terluka?" Noa menyela cepat.
"Luka adalah bagian dari misi. Dan kau adalah tanggung jawabku sebagai pemimpin misi... " Kini Kaede menatap Noa dengan tajam. Suaranya menekan di akhir kalimat.
"... Kenapa tidak diam saja? Tugasmu hanya mengamati."
Noa menatap mata Kaede. "Kalau terjadi sesuatu di depan mataku, hanya karena kurang cepat bertindak, maka kita semua tidak akan ada disini sekarang. Dan kalian akan menganggapku hanya sebagai beban."
Tatapan Kaede berubah tipis, ada kilatan yang sulit diartikan. "Apa kau perlu pengakuan?!
"Perlu atau tidak, nyatanya sama saja. Tidak ada yang berubah."
"Apakah itu nalurimu atau bisikan naga yang membantumu?" Tanya Kaede dengan nada sinis, nyaris seperti ejekan.
"Tidak perlu bisikan naga," jawab Noa. "Aku tahu apa yang kulihat. Dan aku tahu kapan harus mempercayai itu."
Kaede tertawa kecil. Tapi tidak hangat.
"Kau kira karena satu langkah benar, semua orang akan menerima keberadaanmu?"
"Aku tidak peduli," jawab Noa. "Aku tidak datang ke sini untuk diterima. Aku datang karena kalian yang membawaku."
Sejenak hening, Noa menghela napas, menahan diri agar tidak terlihat menantang. Ia tahu sebelum bisa melawan, ia merasa harus menjaga sikap. Terlalu tajam sedikit saja ia bisa dianggap ancaman.
Lalu dengan suara menurun setengah nada, "Dan... aku tidak punya tempat lain."
Jawaban itu membuat sesuatu bergeser di wajah Kaede. Tapi ia segera menutupinya dengan cepat. Ia melangkah lebih dekat, hanya satu meter dari Noa.
Kaede menatapnya lama.
"Jika kau ingin tetap hidup di sini, jangan pikir itu karena Oyabun melindungimu. Ini rumah serigala. Dan kau baru saja membuat seluruh sarang sadar bahwa kau bisa menggigit."
Lalu ia pergi.
Noa menghela napas dalam-dalam.
...⛩️🏮⛩️...
Asap tipis memenuhi ruang meditasi, Jin duduk bersila di hadapan Oyabun. Aroma tembakau halus bercampur dengan bau kayu tua dan dupa yang belum sepenuhnya padam. Jemari Oyabun menggenggam kiseru—pipa rokok logam panjang khas jepang. Ia menghembuskan asap perlahan.
Keduanya sama-sama tahu bahwa Kaede tidak sepenuhnya menerima keberhasilan Noa—meski tak pernah mengatakannya secara langsung.
"Sakaki, Kau melihat sikapnya, bukan?" Suara Raizen tenang, tapi ada tekanan halus tiap suku katanya.
"Benar Oyabun. Ia tidak menyukai hasil misi itu." Jawab Jin pendek tanpa intonasi.
"Tidak menyukai... atau merasa terancam?" Raizen menghisap kiseru pelan.
Jin terdiam sejenak. "Keduanya mungkin benar."
Jemari Raizen mengetuk-ngetuk abu kiseru dengan ringan di wadah abu kayu. "Nakamura terlalu cepat menunjukkan taringnya. Tindakannya itu menimbulkan kegelisahan."
Raizen memejamkan mata sejenak, lalu berkata,
"Beri dia satu ujian lagi. Tapi kali ini... tanpa tim. Jika ia bertahan, tidak ada alasan untuk menolak keberadaannya."
Jin mengangguk sekali dan dalam.
Dan di tempat lain, di bawah lentera yang redup, Kuroda duduk sambil minum sake, menatap bintang-bintang yang buram oleh kabut malam. Ia tersenyum kecil dan berbisik pada dirinya sendiri,
"Yah... kadang, yang paling tidak diinginkan justru yang membawa perubahan. Dan itu... akan sangat menyebalkan."
Tidak semua yang dilempar ke jurang dimaksudkan untuk jatuh.
Sebagian di antaranya... diharapkan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya saat memanjat naik.
...⛩️🏮⛩️...
Udara pagi di halaman utama kediaman Klan Yamaguchi dipenuhi kabut tipis dan aroma pinus yang jatuh dari atap-atap genteng tua. Burung-burung belum berani berkicau. Hanya terdengar langkah kaki para prajurit yang sedang berlatih di kejauhan—irama senyap dari tubuh-tubuh yang digerakkan dengan disiplin.
Di tengah aula utama, berdiri Kaede, Noa, dan Akiro. Kuroda menyandar di salah satu tiang kayu dengan ekspresi malas, tapi matanya tajam, seolah menyaksikan pertunjukan yang telah ia hafal akhir ceritanya.
Oyabun Raizen duduk bersila di tempat tertinggi. Matanya tenang, namun suaranya tajam seperti logam yang digoreskan ke kaca.
"Nakamura."
Gadis itu melangkah ke depan, posturnya tegak, wajahnya netral. Tapi Jin, yang berdiri di dekat pintu masuk, bisa melihat ketegangan halus di bahunya. Ia tahu betul bahasa tubuh orang-orang yang belajar diam karena keharusan, bukan karena keinginan.
Raizen menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang lebih dari sekadar tubuh dan keberanian.
"Kau akan menjalani misi berikutnya," katanya. "Tanpa pelindung. Tanpa tim. Tanpa tangan yang mengarahkan."
Kaede menahan napas sesaat. Akiro mengangkat kepala, tatapannya langsung ke arah Raizen. Tapi pria tua itu tidak bergeming.
"Apa misinya, Otou-sama?" tanya Akiro menyela, dingin.
Raizen tidak langsung menjawab.
Jin, bukan untuk pertama kalinya, melangkah ke depan dan meletakkan sebuah map kecil di hadapan Noa. Isinya: laporan aktivitas geng kecil di distrik Takatori—geng liar yang dikenal brutal, yang selama ini dibiarkan karena tidak menyentuh urusan klan besar.
"Kau akan mengintervensi jalur mereka. Hentikan transaksi yang akan berlangsung malam ini."
"Sendirian?" tanya Noa.
"Benar... Apa kau takut?" jawab Jin. "Tanpa pengawal. Tanpa tim. Siapa yang kau temui di sana, apa yang akan terjadi, bagaimana hasilnya itu sepenuhnya bergantung padamu."
Di sisi ruangan, Kaede melirik Noa sekilas. Tatapan itu bukan sekadar netral. Ada sorot pahit yang tak bisa disembunyikan. Ada sejarah di balik pandangan itu.
Kuroda bersiul pelan. "Misi tanpa tim? Wah, sepertinya kita mulai mempercayai anak baru dengan nyawanya sendiri."
Oyabun tidak tersenyum. "Bukan tentang kepercayaan. Ini tentang kebenaran. Ujian yang tidak dibantu... hanya bisa diungkap oleh hasilnya."
Noa menunduk sedikit, bukan karena tunduk, tapi karena membaca isi map.
Sementara itu, Kaede mengepalkan tangan. Kilas masa lalu menyentak. Dan kini, anak perempuan dari wanita itu berdiri di tengah-tengah aula mereka, mencoba menjadi bagian dari klan yang pernah dihancurkan oleh ibunya.
"Jika dia bertahan, setidaknya kita tahu kemampuannya," gumam Kaede pada dirinya sendiri, "Jika sebaliknya, setidaknya kita tahu batasnya."
Jin memandangi Kaede dengan tenang. Ia tahu. Ia menilai. Tapi ia tidak bicara.
Akiro mendekati Jin saat semua orang bubar. "Ini bisa jadi jebakan... dan mungkin saja Nakamura memiliki celah untuk kabur," katanya dingin. "Dan kau tahu itu, aniki."
Jin tidak mengelak. "Terkadang, orang tidak berubah karena dilindungi. Mereka berubah karena dilukai. Dan jika ia kabur, ada Torao-san dan... kau Akiro-san yang akan membuatnya kembali."
Akiro berpikir sejenak, "Kau pikir gadis itu akan bertahan?"
Jin menoleh ke arah Noa yang kini berdiri di beranda, memandangi halaman dojo.
"Aku pikir... entah dia bisa bertahan, atau sesuatu yang lain akan bangkit."
...—つづく—...
Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.
prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.