Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Pagi yang cerah menyelimuti sebuah mansion megah di kawasan elit kota.
“Selamat pagi, Ale,” sapa seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan senyum hangatnya.
Ale—nama panggilan sayang yang hanya digunakan sang papah untuk memanggil putri semata wayangnya, Alice.
“Pagi, Pah,” balas Alice sambil tersenyum tipis.
Pria itu duduk di seberang meja makan, bergabung menikmati sarapan pagi bersama anaknya. Di rumah besar itu, hanya mereka berdua—papah dan anak—sejak kepergian mama Alice saat ia masih kecil. Ia pun tak memiliki saudara, membuat ikatan antara dirinya dan sang papah terasa begitu erat.
“Ale...” panggil papahnya lembut di sela-sela menyuap sarapan.
“Iya, Pah?”
“Bagaimana kegiatan sekolahmu, Nak?”
Alice menatap papahnya sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Masih sama seperti biasanya, Pah.”
Papahnya tersenyum, tampak lega mendengar jawaban itu.
Setiap pagi, pria itu selalu menyempatkan waktu untuk bertanya tentang keseharian Alice. Bukan karena sekadar basa-basi, tetapi karena ia benar-benar ingin tahu dan peduli. Baginya, Alice adalah segalanya—putri yang baik, rajin, penurut, dan sangat berharga. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik demi kebahagiaan anaknya.
Setelah selesai dengan sarapan, papah Alice bersiap untuk berangkat kerja.
“Papah berangkat dulu, ya,” ucapnya sambil berdiri dan merapikan jas.
“Iya, Pah. Hati-hati di jalan,” balas Alice sambil berdiri dan meraih tangan papahnya, menciumnya dengan penuh hormat.
“Oh ya, barang yang kamu minta kemarin sudah papah siapkan. Pak supir yang akan mengurus semuanya.”
“Baik, terima kasih, Pah.”
“Sama-sama, Sayang,” ujar papahnya, lalu mengecup lembut kening Alice sebelum bergegas pergi meninggalkan rumah.
Sekolah Menengah Atas Harapan Bangsa
Di dalam kelas—pagi hari
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Guru saat memasuki kelas.
"Pagi, Bu..." sahut para siswa serempak. Beberapa menjawab dengan antusias, namun tak sedikit pula yang terdengar malas dan jenuh.
"Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, Ibu ingin kalian mengeluarkan tugas yang kemarin Ibu berikan."
Sontak, semua siswa mulai membuka tas dan mengeluarkan buku tugas mereka, lalu meletakkannya di atas meja. Bu Guru pun mulai berjalan dari bangku ke bangku, memeriksa satu per satu.
Saat tiba di bangku Rey dan Mike, Bu Guru menghentikan langkahnya.
"Rey, mana tugasmu?" tanyanya tajam.
"U-umm... ada, Bu," jawab Rey gugup dan ragu.
"Keluarkan. Ibu ingin melihatnya," ucap Bu Guru, kini dengan sorot mata tajam penuh tekanan.
"Y-ya, baiklah..." Dengan enggan dan wajah panik, Rey mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Tatapannya tertuju pada Bu Guru yang terus mengawasinya.
"Cepat serahkan ke Ibu!" cecar Bu Guru, mulai kehilangan kesabaran.
Akhirnya, Rey menyerahkan buku tugasnya dengan tangan gemetar. Begitu melihat isinya, Bu Guru langsung mencubit telinga Rey dengan keras.
"Aakhhh!" pekik Rey kesakitan.
"Buku tugasmu kosong! Kamu tidak mengerjakannya sama sekali!" bentak Bu Guru.
"Iya, Bu! Ampun..." mohon Rey sambil meringis kesakitan.
Gelak tawa langsung meledak di seluruh kelas, seolah kejadian itu adalah hiburan pagi mereka. Termasuk Mike, sahabat sebangku Rey, yang tampak tertawa paling puas.
Namun tawa Mike langsung terhenti saat Bu Guru menatapnya tajam.
"Mike, kamu jangan ikut tertawa! Keluarkan tugasmu sekarang. Biasanya kamu juga sama saja seperti Rey!"
Glek.
Mike langsung diam, mulutnya membisu. Tapi kemudian, ia memasang senyum percaya diri.
"Tenang saja, Bu. Kali ini saya tidak sama seperti Rey. Saya sudah menyelesaikan tugasnya!" ujarnya penuh kebanggaan.
Rey hanya bisa menatap Mike dengan pandangan tak percaya, masih memegangi telinganya yang memerah.
"Oh, ya? Mana buktinya? Serahkan ke Ibu sekarang!" tantang Bu Guru.
Dengan gaya penuh percaya diri, Mike mengulurkan buku tugasnya. Bu Guru pun mulai memeriksanya dengan teliti.
"Bagaimana, Bu? Saya rajin, kan? Pasti Ibu bangga," ucap Mike sambil menyeringai sombong.
Awalnya, Bu Guru hanya tersenyum. Tapi detik berikutnya, senyum itu menghilang digantikan ekspresi jengkel.
TANPA PERINGATAN, ia menjewer telinga Mike.
"Aaakhh! Aduh, aduh, Bu! Sakit!" teriak Mike.
"ya memang kamu sudah mengerjakan tugas. Tapi ini tugas untuk mata pelajaran lain! Bukan tugas dari Ibu!"
Mike mengerjap bingung. "Oh... jadi saya salah bawa buku," ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal dan memasang wajah polos
"Pfftt... AHAHAHAHA!" Rey, yang tadi sempat menderita, kini gantian tertawa terbahak-bahak melihat temannya kena batunya.
"Hah... kalian ini ternyata sama saja," desah Bu Guru lelah.
"Sudah, sekarang berdiri di depan. Kalian berdua akan Ibu hukum!"
Tanpa banyak protes, Mike dan Rey berdiri dan berjalan ke depan kelas dengan wajah pasrah. Sementara itu, seisi kelas masih tertawa, menikmati tontonan pagi yang menghibur.
"Stella dan Megan, kalian berdua juga berdiri di depan," perintah Bu Guru dengan nada tegas.
"Tapi Bu—"
"Tak perlu mengelak," potong Bu Guru cepat. "Ibu sudah tahu, kalian juga pasti belum mengerjakan tugas yang Ibu berikan."
Stella dan Megan saling pandang dengan pasrah, lalu berdiri menyusul Rey dan Mike di depan kelas. Kini, keempat siswa itu berdiri berjajar seperti barisan pelanggar peraturan.
"Ibu tidak habis pikir. Kalian ini tidak pernah berubah—tetap saja bandel dan malas," omel Bu Guru sambil menghela napas berat.
Keempatnya hanya membalas dengan serempak menguap lebar, seolah tak peduli dengan teguran itu.
"Harusnya kalian mecontoh Danzel. Dulu dia sama seperti kalian—suka membangkang, suka menunda tugas. Tapi sejak berteman dengan Alice, dia jadi anak yang rajin dan juga pintar."
Bu Guru menatap mereka dengan ekspresi penuh harap.
"Mulai sekarang, cobalah berteman dan belajar bersama Alice, agar kalian bisa sepertinya." tambahnya.
Danzel yang duduk di bangkunya hanya tersenyum tipis, menoleh ke arah Alice dengan sorot bangga. Sementara itu, Rey, Mike, Megan, dan Stella langsung memutar bola mata mereka, kompak menunjukkan rasa malas.
"Huh... " gumam Megan pelan.
"Alice lagi, Alice lagi," bisik Stella sambil mendengus.
Namun Bu Guru seolah tak mendengar