NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

noted: terbagi dua season

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Pagi yang cerah menyelimuti sebuah mansion megah di kawasan elit kota. 

“Selamat pagi, Ale,” sapa seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan senyum hangatnya.

Ale—nama panggilan sayang yang hanya digunakan sang papah untuk memanggil putri semata wayangnya, Alice.

“Pagi, Pah,” balas Alice sambil tersenyum tipis.

Pria itu duduk di seberang meja makan, bergabung menikmati sarapan pagi bersama anaknya. Di rumah besar itu, hanya mereka berdua—papah dan anak—sejak kepergian mama Alice saat ia masih kecil. Ia pun tak memiliki saudara, membuat ikatan antara dirinya dan sang papah terasa begitu erat.

“Ale...” panggil papahnya lembut di sela-sela menyuap sarapan.

“Iya, Pah?”

“Bagaimana kegiatan sekolahmu, Nak?”

Alice menatap papahnya sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Masih sama seperti biasanya, Pah.”

Papahnya tersenyum, tampak lega mendengar jawaban itu.

Setiap pagi, pria itu selalu menyempatkan waktu untuk bertanya tentang keseharian Alice. Bukan karena sekadar basa-basi, tetapi karena ia benar-benar ingin tahu dan peduli. Baginya, Alice adalah segalanya—putri yang baik, rajin, penurut, dan sangat berharga. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik demi kebahagiaan anaknya.

Setelah selesai dengan sarapan, papah Alice bersiap untuk berangkat kerja.

“Papah berangkat dulu, ya,” ucapnya sambil berdiri dan merapikan jas.

“Iya, Pah. Hati-hati di jalan,” balas Alice sambil berdiri dan meraih tangan papahnya, menciumnya dengan penuh hormat.

“Oh ya, barang yang kamu minta kemarin sudah papah siapkan. Pak supir yang akan mengurus semuanya.”

“Baik, terima kasih, Pah.”

“Sama-sama, Sayang,” ujar papahnya, lalu mengecup lembut kening Alice sebelum bergegas pergi meninggalkan rumah.

Sekolah Menengah Atas Harapan Bangsa

Di dalam kelas—pagi hari

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Guru saat memasuki kelas.

"Pagi, Bu..." sahut para siswa serempak. Beberapa menjawab dengan antusias, namun tak sedikit pula yang terdengar malas dan jenuh.

"Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, Ibu ingin kalian mengeluarkan tugas yang kemarin Ibu berikan."

Sontak, semua siswa mulai membuka tas dan mengeluarkan buku tugas mereka, lalu meletakkannya di atas meja. Bu Guru pun mulai berjalan dari bangku ke bangku, memeriksa satu per satu.

Saat tiba di bangku Rey dan Mike, Bu Guru menghentikan langkahnya.

"Rey, mana tugasmu?" tanyanya tajam.

"U-umm... ada, Bu," jawab Rey gugup dan ragu.

"Keluarkan. Ibu ingin melihatnya," ucap Bu Guru, kini dengan sorot mata tajam penuh tekanan.

"Y-ya, baiklah..." Dengan enggan dan wajah panik, Rey mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Tatapannya tertuju pada Bu Guru yang terus mengawasinya.

"Cepat serahkan ke Ibu!" cecar Bu Guru, mulai kehilangan kesabaran.

Akhirnya, Rey menyerahkan buku tugasnya dengan tangan gemetar. Begitu melihat isinya, Bu Guru langsung mencubit telinga Rey dengan keras.

"Aakhhh!" pekik Rey kesakitan.

"Buku tugasmu kosong! Kamu tidak mengerjakannya sama sekali!" bentak Bu Guru.

"Iya, Bu! Ampun..." mohon Rey sambil meringis kesakitan.

Gelak tawa langsung meledak di seluruh kelas, seolah kejadian itu adalah hiburan pagi mereka. Termasuk Mike, sahabat sebangku Rey, yang tampak tertawa paling puas.

Namun tawa Mike langsung terhenti saat Bu Guru menatapnya tajam.

"Mike, kamu jangan ikut tertawa! Keluarkan tugasmu sekarang. Biasanya kamu juga sama saja seperti Rey!"

Glek.

Mike langsung diam, mulutnya membisu. Tapi kemudian, ia memasang senyum percaya diri.

"Tenang saja, Bu. Kali ini saya tidak sama seperti Rey. Saya sudah menyelesaikan tugasnya!" ujarnya penuh kebanggaan.

Rey hanya bisa menatap Mike dengan pandangan tak percaya, masih memegangi telinganya yang memerah.

"Oh, ya? Mana buktinya? Serahkan ke Ibu sekarang!" tantang Bu Guru.

Dengan gaya penuh percaya diri, Mike mengulurkan buku tugasnya. Bu Guru pun mulai memeriksanya dengan teliti.

"Bagaimana, Bu? Saya rajin, kan? Pasti Ibu bangga," ucap Mike sambil menyeringai sombong.

Awalnya, Bu Guru hanya tersenyum. Tapi detik berikutnya, senyum itu menghilang digantikan ekspresi jengkel.

TANPA PERINGATAN, ia menjewer telinga Mike.

"Aaakhh! Aduh, aduh, Bu! Sakit!" teriak Mike.

"ya memang kamu sudah mengerjakan tugas. Tapi ini tugas untuk mata pelajaran lain! Bukan tugas dari Ibu!"

Mike mengerjap bingung. "Oh... jadi saya salah bawa buku," ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal dan memasang wajah polos

"Pfftt... AHAHAHAHA!" Rey, yang tadi sempat menderita, kini gantian tertawa terbahak-bahak melihat temannya kena batunya.

"Hah... kalian ini ternyata sama saja," desah Bu Guru lelah.

"Sudah, sekarang berdiri di depan. Kalian berdua akan Ibu hukum!"

Tanpa banyak protes, Mike dan Rey berdiri dan berjalan ke depan kelas dengan wajah pasrah. Sementara itu, seisi kelas masih tertawa, menikmati tontonan pagi yang menghibur.

"Stella dan Megan, kalian berdua juga berdiri di depan," perintah Bu Guru dengan nada tegas.

"Tapi Bu—"

"Tak perlu mengelak," potong Bu Guru cepat. "Ibu sudah tahu, kalian juga pasti belum mengerjakan tugas yang Ibu berikan."

Stella dan Megan saling pandang dengan pasrah, lalu berdiri menyusul Rey dan Mike di depan kelas. Kini, keempat siswa itu berdiri berjajar seperti barisan pelanggar peraturan.

"Ibu tidak habis pikir. Kalian ini tidak pernah berubah—tetap saja bandel dan malas," omel Bu Guru sambil menghela napas berat.

Keempatnya hanya membalas dengan serempak menguap lebar, seolah tak peduli dengan teguran itu.

"Harusnya kalian mecontoh Danzel. Dulu dia sama seperti kalian—suka membangkang, suka menunda tugas. Tapi sejak berteman dengan Alice, dia jadi anak yang rajin dan juga pintar."

Bu Guru menatap mereka dengan ekspresi penuh harap.

"Mulai sekarang, cobalah berteman dan belajar bersama Alice, agar kalian bisa sepertinya." tambahnya.

Danzel yang duduk di bangkunya hanya tersenyum tipis, menoleh ke arah Alice dengan sorot bangga. Sementara itu, Rey, Mike, Megan, dan Stella langsung memutar bola mata mereka, kompak menunjukkan rasa malas.

"Huh... " gumam Megan pelan.

"Alice lagi, Alice lagi," bisik Stella sambil mendengus.

Namun Bu Guru seolah tak mendengar

1
Ophy60
Danzel....jangan datang membawa masalah untuk Alice.Selesaikan dulu hubunganmu sama Rachel...
Mundri Astuti
preeet lah danzel, kesalahan terberat kamu mengabaikan Alice saat Alice butuh bantuan kamu tuk bawa papanya ke RS, hingga papanya Alice meninggal dunia
Ophy60
Susah y Alice melupakan masa lalu..
Ophy60
Danzel jangan menemui Alice lagi. Yg ada nanti Rachel salah paham dan mengganggu Alice.
Nurhayati
ngapain jg dy dket2 sm kamu danzel, dy udh berdamai dgn diri sendiri. klo bs jgn ganggu dia deh ntar pcar mu tau rachel mlah ganggu alice. kan bahaya
Sari Nilam
up nya lama
Mundri Astuti
nih ya danzel klo kamu beneran nikah sama Rachel, kamu akan kehilangan harga dirimu, Krn kamu dibawah kuasa Rachel dan keluarganya, suatu saat kamu bermasalah sama Rachel, bisa abis harga dirimu diinjak" , secara kamu kerja di perusahaan keluarga rachel
Ophy60
Bingung kan Danzel.Ninggalin Rachel kerjaan dr keluarga Rachel,sama Rachel tapi ga benar² cinta sama Rachel.
partini
sekarang dulu masa bodoh,, mending balik deh yg dulu masih cinta biar ga terlalu banyak drama nanti kamu kerja aja lagi
Ophy60
Semangat pak Dokter...
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
Ophy60
Maunya Alice sama orla thor.Enak saja udah ninggalin Alice,bahkan saat Alice dalam kondisi sangat terpuruk juga ga ada masa mau sama Alice lagi.
partini
si dokter tamvan mau bertempur dengan masa lalu ,cape loh dok harus siap kan mental dan kesabaran seluas samudra dan patah hati
Nurhayati
sperti komen ku yang eps kmrn ato yg eps sblumnya, aq gak rela klo Alice berjodoh sm danzel. klopun berjdoh aq berharap alice sm orang lain dlu bru ktemu danzel lg. klo bisa danzel lah yg berjuang u mndapatkan hati alice kmbli. bru impas pnderitaannya
partini
ye elah zel kamu jadi kacung keluarga pacar mu ,, penyesalan datang di Ahir kalau awal itu pendaftaran nama nya
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu
Sari Nilam: aku sih timbya alice dengan doker ..lupakan danzel yang dengan mudah melupakanmu .
jadi pelayan kel pacar sendiri biarpun punya jabatan ...miris .tp itu pulihanmu zel..nikmatilah.
total 1 replies
Ophy60
Alice jangan sama Danzel y thor....buat Danzel menyesal.
Ophy60
Danzel cowo jd cowo ga tegas.
Mundri Astuti
yg berikutnya buat Alice bahagia dng dunia barunya thor, lebih sukses dan mandiri Thor, buat danzel tau Rachel yg aslinya
partini
S2 apa kaya gini juga Thor mengseddih terus
Nurhayati
aku kcewa smga alice tdak bejdoh sm danzel. wlo ibu danzel yg mnolong pun aq tak rela klo alice berjdoh sm danzel
partini
kamu akan menyesal seumur hidup mu zel.,semoga yg di katakan ayahmu betul nanti ada seseorang yg begitu sayang dan cinta padamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!