"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alang
Di tengah malam yang gelap, hujan deras turun seperti akan menembus atap. Angin bertiup kencang menciptakan suasana mencekam.
Tak ada penerangan di rumah kayu itu. Petir menyambar bukannya membuat takut, malah membuat seorang laki-laki semakin gila, memacu kencang bidak wanita yang mengerang, melayang di bawah kungkungannya.
"Enak tidak?" tanya laki-laki muda itu, membelai wajah lelah wanita berparas ayu.
Gadis itu mengangguk malu.
"Besok, Mas akan pergi ke kota. Katanya, aku akan di beri pekerjaan yang bagus." kata lelaki itu, memainkan anak rambut gadis cantik itu, basah oleh keringat.
Masih terhanyut dalam nikmat yang belakangan menjadi penghantar tidur, ia memeluk laki-laki itu erat, enggan di tinggalkan.
"Jaga diri baik-baik. Kalau sudah waktunya, aku akan menjemputmu." Begitulah janji Alang.
Niken, gadis belia masih belasan tahun itu tidak memiliki siapa-siapa. Tinggal di rumah hanya berdua dengan Alang, saudara angkat yang mencintainya.
Dua tahun yang lalu....
Kebakaran hebat terjadi di tengah kampung, rumah besar dua lantai milik haji Ibrahim itu tak bisa di selamatkan lagi.
Teriakan tetangga begitu histeris, asap bergumpal, api membubung tinggi. Semua orang berbondong-bondong datang membantu memadamkan api, namun api yang sudah melahap sebagian rumah mana mungkin berhasil di padamkan dengan mudah.
Teriakan dan tangis bersahut-sahutan ketika mengetahui sepasang suami istri itu terjebak tak bisa keluar.
Hanya Niken yang bisa di keluarkan melalui jendela, Alang si anak laki-laki pulang terlambat, sehingga tak bisa menyelamatkan semua orang.
Niken menangis histeris mengetahui orang tuanya telah mati terbakar, di tambah lagi setelah warga mengorek puing reruntuhan, mereka menemukan mangkuk dari tanah liat yang di yakini berisi sesaji.
"Tidak mungkin! Bapak ku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" Niken menggila, berteriak membantah tuduhan mereka.
"Ini buktinya, kalau bukan melakukan ritual sesat, mana mungkin ada barang seperti ini!"
"Ya, benar!"
"Lebih baik, usir mereka!"
"Usir saja!"
"Bunuh!"
"Jangan!" Alang, memeluk Niken, melindunginya.
Niken terkekeh dalam tangisnya, tak berdaya. sudahlah rumah habis terbakar, semua uang dan emas juga tak bersisa. Hanya beberapa hektar kebun dan sawah yang ada, itupun warga tak mengizinkan mereka untuk mengelolanya. Dia di usir tanpa membawa apa-apa, di paksa keluar dari desa hanya memakai baju di badan.
"Mas Alang, kita mau kemana?" Niken menangis tergugu, waktu itu Niken masih SMA kelas dua.
"Kita ke perbatasan desa, bapak pernah membeli perkebunan terbengkalai, dan ada gubuknya. Mas rasa, masih layak di huni." kata Alang.
Sampailah mereka di gubuk kayu itu di sore hari. Alang membersihkan gubuk tersebut, mencuci pakaian bekas sisa orang yang di tinggalkan, menyalakan api di pedapuran dan membentang tikar yang telah robek di lantai kayu yang kasar.
"Istirahatlah, Mas Alang mau mencari makanan, barangkali di pinggir kali ada yang bisa di masak." kata Alang. Ada pun tetangga jauh sekali, minta makanan tentu ia merasa malu.
Niken mengangguk, dari tadi ia hanya duduk termenung meratapi nasibnya, kini lelah dan membuka mata yang sembab. Hari sudah semakin sore, hampir gelap dan dia seorang diri, di tinggal Alang mencari makanan.
Suara binatang dan burung hutan terdengar menakutkan bagi gadis belia yang manja, dia memeluk lututnya erat-erat kala hari semakin gelap. Tinggal di gubuk di kelilingi semak dan ada hutan, Niken ketakutan.
"Mas Alang." dia bergumam, air matanya kembali jatuh berderai bersandar di balik pintu.
Derit anak tangga terdengar di naiki, gubuk panggung itu sedikit bergoyang. Niken semakin ketakutan, menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara saat terkejut. Barangkali yang datang adalah hantu, bisa jadi binatang hutan yang menyeramkan, atau juga orang jahat!
"Niken." tok tok tok!
Niken meremat jarinya kuat-kuat, memasang telinganya lebih lebar.
"Niken, ini Mas Alang."
Buru-buru Niken beranjak, kemudian membuka pintu yang hanya di ganjal kayu itu.
"Mas Alang." Niken menghambur ke dalam pelukan Alang. Tangisnya pecah di dada Alang yang penuh keringat.
"Jangan takut, Mas akan melindungi kamu." kata Alang, memeluk Niken.
Hari-hari berjalan lambat, lama-lama Niken terbiasa hidup di ujung desa, dekat dengan hutan. Perkebunan yang terbengkalai kini perlahan di bersihkan. Gubuk panggung yang sunyi itu kini sudah menjadi tempat nyaman bagi mereka berdua.
Alang yang sudah cukup dewasa, mencoba mencari uang ke luar desa. Sesekali ia menawarkan tanah mendiang orang tuanya, meskipun di tawar murah. Akhirnya sebidang tanah yang ada di lereng bukit dapat terjual. Kalau yang di dalam kampung, dekat jalan raya, atau harta mencolok lainnya, orang-orang belum berani membelinya. Takut mendapat masalah dengan warga di sekitar mereka.
Alang kembali menyekolahkan Niken, di sekolah kecamatan. Dimana tempat itu jauh dari warga yang telah mengusir mereka. Lagipula, jalan kaki menuruni jalan setapak tak begitu jauh dibandingkan melewati jalan raya.
Tapi.... Tinggal berdua di tempat sepi, tak ada orang yang menggangu membuat keduanya terlibat rasa cinta yang akhirnya menjadi nafsu.
Alang yang bekerja keras, Niken yang perhatian dan melayani sang kakak akhirnya berubah menjadi sepasang kekasih yang di mabuk cinta.
"Mas, bagaimana kalau orang tahu bahwa kita saling mencintai." kata Niken, sore itu mereka duduk berdua di depan tungku yang menyala.
"Siapa yang tahu?" kata Alang, menoleh wajah Niken yang ayu, Dulu Niken memakai kerudung tertutup, melihat rambutnya saja begitu sulit. Tapi semenjak di usir ia tak memiliki pakaian yang layak, jangan kan kerudung, baju saja cuma beberapa.
"Lagipula, kita tidak memiliki hubungan darah, kamu itu cuma anak angkat bapak." kata Alang.
Entahlah, kata warga desa Alang lah yang merupakan anak angkat Haji Ibrahim. Tapi, kata Alang Niken lah yang merupakan anak angkat ayahnya. Niken tidak tahu, mana yang benar mana yang salah. Yang pasti, Alang adalah satu-satunya manusia yang melindunginya ketika ia seorang diri.
"Apakah kamu tidak mencintai Mas Alang?" tanya Alang, membelai wajah ayu Niken.
Niken tersipu malu, seumur hidup tak ada yang merayu, di kurung ayahnya tak boleh banyak bergaul. Mendengar Alang memuji, rasanya dunia ini jadi begitu indah.
Alang merengkuhnya dalam pelukan, mengusap kepalanya lembut. Dan malam hari, keduanya mulai memadu kasih dalam suasana syahdu yang menghanyutkan.
"Sudah lama sekali aku jatuh cinta kepadamu. Aku sungguh mengagumi mu, wajahmu, bibirmu, matamu, hidungmu, bahkan ujung jarimu." Alang mengecupnya.
"Hidupku ini milik mu Mas Alang, hanya kamu yang peduli pada ku." jawab Niken. Memasrahkan seluruh dirinya untuk Alang.
Malam yang gelap kini terasa nikmat, makan tak makan yang penting di sayang. Niken semakin tergila-gila di buat Alang, belaian dan kehangatannya tak bisa di lupakan.
Dua tahun telah berlalu, Niken sudah lulus. Alang juga bekerja di rumah kepala desa tetangga sebagai supir. Hari itu, Niken membawa ijazahnya dengan bahagia.
"Mas, Alang, aku sudah tamat. Ku rasa, kita sudah bisa menikah."
"Menikah?" Alang sedikit terkejut mendengarnya.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis