Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Bastian
Sementara itu, di kediaman keluarga Bastian, Clarissa yang baru saja memutus telepon dari adik laki-lakinya kembali menatap laptop di pangkuannya. Jemarinya bergerak lincah di atas tuts, membaca laporan-laporan yang masuk dan menyelesaikan dokumen yang dikirim oleh asistennya. Sesekali kerutan kecil muncul di dahinya saat menghadapi data yang rumit. Meski menghadapi beberapa kendala, Clarissa selalu berhasil menyelesaikan pekerjaan yang dihadapinya—ia bukan sosok yang mudah menyerah.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar memasuki ruang kerja, memecah fokusnya.
Seorang pria paruh baya masuk. Tubuhnya mungkin sudah menua, tapi otot-ototnya masih terlihat kuat. Tatapannya tegas, wibawanya terasa, namun sorot matanya memancarkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Kehadirannya membuat Clarissa tersadar—dan tentu saja, ia tak pernah marah, karena ia tahu ayahnya tak akan mengganggu saat bekerja, hanya ingin menegur dengan hangat.
“Wah, lihat siapa yang sudah ada di rumah,” ucap Armand Bastian, ayah Clarissa, dengan senyum hangat.
Clarissa yang awalnya sibuk menatap layar laptop langsung menutupnya, berdiri, dan berlari memeluk ayahnya yang membuka kedua tangan.
“Ayah… aku merindukanmu sekali,” bisiknya, tenggelam dalam pelukan hangat sang ayah.
Namun, suara wanita paruh baya yang baru saja masuk terdengar cemberut.
“Oh, jadi hanya ayah yang dirindukan, sementara ibumu diabaikan? Baiklah, anakku pasti sudah tak sayang ibunya lagi,” ujar Elisabet sambil memasang wajah dramatik, setengah sedih, setengah mengeluh.
Ayah dan anak yang masih berpelukan itu tak bisa menahan tawa melihat tingkah dramatis Elisabet. Bahkan, kejadian itu justru menambah kehangatan keluarga mereka.
Clarissa melepas pelukan ayahnya, kemudian memeluk ibu tersayang.
“Oh, astaga… siapa wanita cantik ini? Aku sangat merindukanmu, Bu, lebih dari siapa pun,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
“Dasar, pandai sekali merayu,” goda Elisabet sambil menepuk pipi putri sulungnya. Ia lalu memperhatikan Clarissa dari ujung kepala sampai kaki dengan penuh perhatian.
“Oh, astaga… lihat dirimu sekarang. Begitu berbeda, dan… kenapa matamu jadi gelap begini?” tanya Elisabet, separuh cemas, separuh penasaran.
“Ah, jelas berbeda, Bu. Aku sudah lama tak pulang. Untuk mata… banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku harus menyelesaikannya secepat mungkin,” jawab Clarissa sambil memasang wajah polos dan sedikit tak berdaya.
Armand menatap putrinya dengan penuh perhatian.
“Apakah ada masalah, nak? Dengan bisnismu? Ayah bisa membantu kalau perlu.”
Clarissa tersenyum lembut.
“Tidak, Ayah. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tenang saja, jangan khawatir.”
Armand tersenyum bangga.
“Baiklah, baiklah… ayah percaya padamu. Siapa yang tak kenal Clarissa Bastian, pebisnis muda wanita yang cerdas dan tangguh?”
Clarissa menoleh ke arah ibunya, tersenyum jahil.
“Ibu, lihat tuh… Ayah mengejek ku sambil bercanda. Dasar, mereka ini selalu bikin aku jadi bahan ejekan,” ujarnya sambil menepuk bahu ayahnya.
“Sayang, jangan ganggu putriku,” cibir Elisabet sambil menepuk lembut bahu Armand.
“Baiklah, baiklah…” gumam Armand sambil tersenyum.
Setelah sesi melepas kerinduan dan canda tawa keluarga yang hampir dua tahun tak bertemu itu, mereka pun duduk di meja makan. Aroma hidangan yang baru dimasak oleh Elisabet memenuhi ruangan. Clarissa menelan ludah, tahu bahwa makanan itu pasti sangat lezat karena dibuat langsung oleh ibunya.
“Wah, semuanya tampak sangat lezat,” ujar Clarissa.
“Itu pasti hasil masakan istriku,” kata Armand dengan bangga, menepuk bahu Elisabet.
Clarissa tersenyum kecil, mengetahui betapa ayahnya mencintai ibunya.
“Astagah, kalian berdua jangan banyak bicara. Duduk, kita makan,” ujar Elisabet sambil tersenyum lebar. Mereka bertiga pun berdoa, berterima kasih kepada Tuhan atas berkat dan kebahagiaan keluarga mereka.
Saat makan, Clarissa biasanya hanya makan sedikit, tapi kali ini ia memutuskan untuk menyantap semua yang ada di piringnya. Armand dan Elisabet tersenyum bahagia melihat putri sulung mereka menikmati masakan rumah. Namun, tiba-tiba, mata Clarissa menangkap kesedihan yang terpancar dari wajah ibunya.
“Ada apa, Bu? Kenapa ibu tampak sedih? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Clarissa, menghentikan sendoknya di tengah jalan.
Armand menatap istrinya dengan penuh perhatian.
“Ada apa, sayang?”
“Ah, tidak apa-apa, nak. Ibu hanya senang akhirnya putri sulungku pulang setelah sekian lama, dan kembali menikmati masakanku. Tapi aku juga merindukan kedua adik mu,Safira dan Adrian. Akan lebih bahagia jika kita semua bisa berkumpul di meja makan seperti saat kalian masih kecil dulu,” ujar Elisabet, air mata mulai menetes di pipinya tanpa sadar.
“Tenanglah, sayang. Safira dan Adrian hanya pergi untuk menyelesaikan studi mereka, bukan meninggalkan kita selamanya,” ujar Armand sambil mengusap air mata istrinya.
Clarissa merasa sedikit tersentuh. Ia pun menggenggam tangan kedua orang tuanya.
“Jangan bersedih lagi, Ayah, Ibu. Safira dan Adrian liburan ini akan segera pulang. Kita semua akan berkumpul kembali.”
“Benarkah?” tanya Elisabet dengan senang, matanya berbinar.
“Ibu, apa aku pernah berbohong padamu tentang kedua adikku?” Clarissa menambahkan, membuat Elisabet tersenyum lega, hatinya lebih tenang.
Armand tak ingin suasana kembali larut, lalu memecah kesedihan dengan candaan.
“Sudah, sudah. Mari lanjutkan makan, atau ayah yang akan menghabiskan semuanya sebelum kalian sadar,” ucapnya sambil tertawa.
Mereka pun kembali menyantap hidangan dengan canda tawa, sambil saling bertukar cerita.
Setelah selesai, para pelayan membersihkan meja. Armand dan Elisabet kembali ke kamar untuk bersiap, sementara Clarissa melanjutkan pekerjaan yang tertunda di halaman belakang kediaman keluarga Bastian.