Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Dia di sini, kan?" Desis Hendry dengan napas memburu, wajahnya hanya terpaut beberapa inci dari wajah Lisa yang penuh dengan ketakutan dan kemarahan. "Alat ini tidak mungkin berteriak dengan keras seperti ini jika hanya ada kita berdua di ruangan ini, Lisa! Aku tahu ada sesuatu yang lain di sini—sesuatu yang kau sembunyikan dariku dan dari semua orang!"
"Senior, hentikan saja ini! Kau sudah gila!" Teriak Lisa sambil menerjang maju dengan penuh kekuatan, mencoba merebut alat persegi kecil itu dari tangan Hendry yang memegangnya erat. Telapak tangannya terasa panas ketika hampir menyentuh permukaan plastik alat itu, namun Hendry cukup cepat untuk menghindarinya. "Itu cuma mainan rusak yang kau beli dari toko online sembarangan! Kau terlalu banyak menonton film horor yang tidak masuk akal, Senior. Kembalikan alat itu padaku sebelum ada yang salah!"
Hendry mengangkat alat detektornya dengan cepat ke atas kepalanya, menjauhkannya dari jangkauan tangan Lisa yang terus terulur ke depan. "Jangan berbohong padaku lagi! Aku bukan anak kecil yang bisa dengan mudah diperdayakan! Aku merasakan hawa dinginnya yang menusuk tulang setiap kali kita berada di ruangan yang sama! Aku merasakan bagaimana barang-barang bergerak dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuhnya! Aku tahu kau bekerja sama dengan sesuatu yang... yang tidak seharusnya ada di dunia ini yang kita huni!"
Sam, yang berdiri tepat di antara mereka berdua dengan tubuh yang masih sebagian transparan, tampak bergetar hebat akibat emosi yang meluap-luap dari dalam dirinya. Rasa panik yang muncul ketika menyadari bahwa keberadaannya bisa terdeteksi oleh alat buatan manusia itu memicu gejolak energi metafisika yang tak terkendali, membuat aura yang mengelilinginya menjadi semakin tidak stabil dan berwarna lebih gelap dari biasanya.
Ia menatap Hendry dengan mata yang mulai terbakar oleh rasa kemarahan yang baru saja membuncah—kemarahan karena dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berbahaya, karena diperlakukan seperti peliharaan atau anomali yang pantas diburu dengan alat murahan seperti yang sedang dipegang oleh Hendry itu.
𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶. Gumam Sam dalam hati, rasa tidak senang yang besar membuat tubuhnya semakin jelas dan terlihat lebih nyata dari biasanya. Ia bisa merasakan bagaimana energi listrik di sekitarnya mulai terganggu oleh emosinya yang tidak terkendali, membuat getaran menjadi semakin cepat dan kuat.
"Lisa, pria ini benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan jika itu berarti merusak segalanya yang telah kita bangun bersama."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Lisa untuk merespons, Sam memejamkan mata erat-erat, kedua tangannya terangkat perlahan ke arah atas seolah sedang memegang sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia. Ia mulai memusatkan seluruh sisa energi yang dimilikinya pada rangkaian kabel tembaga yang menggantung di langit-langit beton. Ia membayangkan aliran listrik yang mengalir melalui kabel-kabel itu sebagai perpanjangan dari tangannya sendiri, sebagai sarana untuk menunjukkan bahwa keberadaannya tidak bisa dianggap remeh begitu saja.
𝘊𝘵𝘦𝘬. 𝘊𝘵𝘦𝘬. 𝘊𝘵𝘦𝘬.
Sebuah suara klik yang jelas terdengar dari arah langit-langit, diikuti oleh lampu-lampu neon yang menggantung di sepanjang jalur parkiran yang mulai berkedip serempak tanpa ada yang menyentuh sakelarnya. Cahaya putih dan menyilaukan itu mati dan menyala kembali dalam ritme yang tidak beraturan dan semakin cepat, menciptakan efek stroboskopik yang membuat mata menjadi memusingkan dan sulit untuk fokus pada satu objek tertentu. Bayangan mereka yang jatuh di lantai beton kasar pun bergoyang-goyang dengan liar seolah sedang menari dalam kegelapan yang mendalam.
"Apa... apa yang terjadi di sini?" Bisik Hendry dengan suara yang sudah tidak lagi sekuat sebelumnya, tubuhnya mulai berputar di tempat secara tidak sadar sambil mencoba mengikuti setiap kedipan lampu dengan mata yang sudah mulai terlihat lelah dan bingung.
Ia masih memegang detektor EMF-nya dengan erat, namun alat itu kini mengeluarkan suara denging panjang dan kontinu yang sangat memekakkan telinga sebelum akhirnya layarnya menjadi hitam total dan padam tanpa bisa dinyalakan kembali. "Alat ini... alat ini tidak berfungsi lagi. Apa yang kau lakukan, Lisa?"
𝘚𝘢𝘮, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪!
Teriak Lisa dalam hati dengan penuh kekhawatiran, namun dia tahu bahwa sudah terlambat untuk menghentikannya. Dia bisa merasakan bagaimana energi metafisika di sekitarnya semakin kuat dan tidak terkendali, membuat seluruh area parkiran bawah tanah terasa seperti berada di dalam badai listrik yang sedang terjadi. Dia ingin meneriakkan nama Sam untuk memberitahunya agar berhenti, namun dia tidak bisa melakukannya karena takut akan membuat Hendry semakin mengetahui kebenaran tentang keberadaan teman setimnya itu.
Sam mulai memanfaatkan kegelapan dan kedipan lampu untuk bermain "petak umpet" dengan persepsi Hendry. Setiap kali lampu di atas kepala Hendry menyala dengan terang, Sam dengan cepat memanifestasikan dirinya sebagai bayangan hitam yang panjang dan lebar yang lewat dengan sangat cepat di belakang pria itu—seolah ada sosok besar yang sedang mengikuti setiap gerakannya dengan cermat. Saat lampu kembali mati dan suasana menjadi gelap gulita yang hanya bisa dilihat dengan sedikit cahaya rembulan yang masuk dari celah kecil di atas, tidak ada yang bisa dilihat selain bentuk tubuh Hendry yang sedang gemetar di tengah kegelapan.
"Siapa di sana?! Siapa yang ada di belakangku?!" Teriak Hendry dengan suara yang sudah mulai pecah akibat ketakutan yang melanda dirinya secara tiba-tiba.
Ia mengeluarkan senter dari bagian dalam saku celananya dan menyalakannya dengan tergesa-gesa, mengayunkannya secara acak ke segala arah dalam upaya untuk menemukan sumber bayangan yang dilihatnya tadi. Namun yang ia temukan hanya dinding beton dan pilar-pilar besar yang seolah-olah sedang bergerak perlahan di bawah cahaya senter yang berkelap-kelip itu.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa rendah yang tidak bisa dikenali sumbernya terdengar jelas, bergema dari segala penjuru parkiran bawah tanah yang sepi itu. Suara itu adalah suara Sam yang telah dimodulasi oleh energi elektromagnetik yang terkumpul di sekitar mereka, membuatnya terdengar seperti berasal dari jauh namun juga sangat dekat di telinga Hendry.
"𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪... 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪... 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘦𝘬𝘶𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯."
Itu adalah batas terakhir bagi ketahanan mental Hendry yang sudah berada di ambang batasnya. Detektor EMF yang sudah padam itu terjatuh dari tangan yang sudah mulai gemetar ke lantai, pecah berkeping-keping dengan bunyi dentum yang jelas terdengar di antara kesunyian yang menyelimuti area itu.
Tanpa menoleh lagi untuk melihat ke arah Lisa atau apa pun yang ada di sekitarnya, detektif senior yang biasanya dikenal sangat garang dan tidak pernah takut menghadapi bahaya itu memutar tubuhnya dengan cepat dan berlari tunggang langgang menuju arah pintu lift yang jauh di kejauhan. Langkah sepatunya yang terburu-buru bergema dengan sangat keras, mencerminkan ketakutan yang akhirnya mengalahkan egonya yang tinggi dan keinginannya untuk mengetahui kebenaran.
Lisa berdiri mematung di tengah kegelapan yang kini kembali tenang setelah lampu-lampu neon berhenti berkedip dan hanya menyisakan satu lampu yang masih menyala dengan cahaya remang-remang tepat di atas kepalanya. Cahaya yang redup itu menerangi wajahnya yang penuh dengan kesedihan dan kekhawatiran, serta tubuhnya yang masih sedikit gemetar akibat kejadian yang baru saja terjadi.
Sam muncul kembali di sisinya dengan bentuk yang lebih jelas namun terlihat sedikit kelelahan, wajahnya menunjukkan ekspresi antara puas karena berhasil mengusir Hendry dan sedikit bersalah karena telah membuat Lisa harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya.
"Dia tidak akan mengganggumu soal detektor itu lagi untuk waktu yang lama." Ujar Sam dengan suara lembut, sambil merapikan ujung rambut kemerahannya yang sempat berantakan akibat gejolak energi yang terjadi tadi.
Ia menatap Lisa dengan mata yang penuh dengan rasa sayang yang tulus. "Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku tidak melakukan sesuatu, dia akan terus mengikuti kita dan mungkin saja akan memberitahu semua orang tentang keberadaanku. Dan kau tahu bahwa dunia ini belum siap untuk menerima keberadaan makhluk seperti aku."
Lisa menghela napas panjang, tubuhnya akhirnya merosot duduk di sisi pilar beton yang dingin dan basah. Ia menyandarkan punggungnya pada permukaan beton yang kasar, mata nya menatap ke arah langit-langit yang tinggi dengan ekspresi yang penuh dengan keprihatinan yang mendalam.
"Kau hampir membuatnya terkena serangan jantung, Sam. Aku tahu kau hanya mencoba melindungi diri dan juga aku, tapi cara yang kau lakukan itu terlalu berbahaya. Jika ada orang lain yang melihat apa yang terjadi di sini, kita akan memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar kecurigaan Hendry."
Namun kemudian ia menoleh ke arah Sam dengan tatapan yang penuh dengan terima kasih yang tulus, tangannya tanpa sadar terulur ke depan seolah ingin menyentuh teman setimnya yang sudah banyak membantu dirinya dalam berbagai kasus sulit.
"Tapi... terima kasih. Tanpa tindakanmu tadi, aku tidak tahu bagaimana cara untuk membuatnya berhenti dan pergi dari sini. Sekarang kita harus bergerak cepat sebelum dia kembali dengan bantuan yang lebih besar atau memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih ekstrem terhadap kita."
Di bawah cahaya lampu parkiran yang remang-remang itu, Lisa menyadari dengan sangat jelas bahwa waktu mereka di kantor polisi sudah habis. Setiap detik yang mereka habiskan di sana adalah risiko yang semakin besar bagi keamanan Sam dan juga bagi mereka berdua untuk bisa terus bekerja sama dalam mencari kebenaran tentang masa lalunya.
Mereka tidak punya pilihan lain selain segera bergerak dan menemui Jack Bahng—ayah kandung Samuel Bahng yang kini telah menemukan identitasnya kembali—sebelum rahasia tentang kematiannya terkubur selamanya oleh rasa takut manusia yang tidak bisa menerima kebenaran yang ada di luar pemahaman mereka.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
apakah si SAM korban pembunuhan ?