NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

donat manis untuk sang mafia

Matahari pagi sudah mengintip dari celah gorden. Rea terbangun dan meraba sisi kasur, tapi kosong.

"Uwaaaa... udah pagi banget!" pekik Rea panik sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. "Ke mana Mas Galen? Apa sudah pergi ke kebun?"

Rea celingukan, matanya mencari-cari ke seluruh penjuru kamar luas itu. Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka dengan suara cklek yang pelan.

Keluarlah Galen dari sana. Pria itu tampak sangat segar, rambutnya yang basah berantakan jatuh ke dahi dengan handuk melilit di pinggang nya . Rea mematung. Matanya berkedip-kedip berkali-kali tanpa berkedip, mulutnya sedikit menganga.

"Kenapa, Bunny? Masih mengantuk?" tanya Galen dengan suara serak khas bangun tidur, ia menyeringai tipis melihat ekspresi cengo Rea.

Rea yang baru tersadar langsung menjerit dalam hati. Wajahnya seketika berubah merah padam sampai ke telinga. Ingatannya tentang semalam dan pemandangan di depannya sekarang membuat otaknya seolah-olah berasap.

"A-astaga! Mas Galen... kenapa sudah mandi!" pekik Rea panik, ia langsung menutup matanya dengan kedua tangan tapi jari-jarinya sedikit terbuka untuk mengintip.

Tanpa berpikir panjang, Rea langsung melompat dari kasur dan berlari sekuat tenaga keluar dari kamar Galen menuju kamarnya sendiri.

Bruk!

"Aduhhhh!" ringis Rea lagi. Untuk kesekian kalinya, karena terlalu panik dan tidak fokus, dahi mungilnya kembali menabrak pintu kamarnya sendiri dengan keras.

Galen yang melihat itu dari ambang pintu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa rendah. Suara tawanya yang seksi menggema di koridor. "Bunny, pelan-pelan! Pintu itu tidak salah apa-apa!" serunya menggoda.

Rea yang sudah berhasil masuk ke kamar langsung mengunci pintu dengan cepat. Ia menyandarkan punggungnya di pintu sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. "Duh, jantung... jangan copot sekarang ya!" gumamnya malu-malu di balik pintu.

Rea melangkah keluar dari kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih segar, meski sisa-sisa rasa malu tadi pagi masih membekas di pipinya. Ia mengenakan dress kuning bermotif bunga-bunga kecil yang dibelikan Galen tempo hari. Dress itu jatuh dengan pas di tubuh mungilnya, memberikan kesan cerah dan manis.

Rambut hitamnya dibiarkan tergerai alami, membingkai wajahnya yang bersih. Tanpa sedikit pun polesan make-up, kecantikan Rea justru terpancar sangat murni, khas gadis desa yang kini menjadi nyonya di sebuah mansion megah.

Rea berjalan menuju ruang makan. Di sana, Galen sudah duduk dengan gagah sambil membaca koran digital di tabletnya, sementara Leon berdiri dengan sigap di samping meja. Keduanya tampak sudah rapi dengan setelan kerja mereka.

"Pagi, Mas Galen... Pak Leon," sapa Rea dengan suara lembut yang sedikit malu-malu.

Leon langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Nyonya Muda. Anda terlihat sangat... segar hari ini," ucap Leon, berusaha menjaga profesionalitasnya meskipun ia tahu ada suasana berbeda di antara majikannya pagi ini.

Galen meletakkan tabletnya. Tatapannya tertuju sepenuhnya pada Rea. Ia terpaku sesaat melihat betapa cantiknya Rea dalam balutan dress kuning itu. Warna kuningnya seolah membawa cahaya ke dalam ruang makan yang biasanya terasa dingin dan kaku.

"Pagi, Bunny," sahut Galen dengan suara rendah. Ia menepuk kursi di sebelahnya, memberi kode agar Rea duduk di sana. "Kemari. Duduk di samping saya."

Rea mendekat dan duduk dengan kikuk. "Mas... Mas Galen jangan lihatin Rea terus. Memangnya dress-nya aneh ya?"

"Tidak," jawab Galen singkat sambil meraih tangan Rea dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Sangat cantik. Dress itu terlihat jauh lebih bagus saat kamu yang memakainya."

Wajah Rea kembali merona merah. Ia segera meraih sendok dan menunduk menatap piringnya. "Makasih, Mas."

Leon yang menyaksikan keromantisan itu hanya bisa berdeham pelan. "Tuan, mobil sudah siap. Kita ada pertemuan penting mengenai... perluasan wilayah kebun di sektor selatan."

"Iya, saya tahu," jawab Galen tanpa melepaskan pandangannya dari Rea. "Rea, hari ini saya harus pergi agak lama. Kamu di rumah saja dengan penjagaan. Kalau bosan, panggil Bi Sumi untuk menemanimu membuat kue, oke?"

Rea mengangguk patuh. "Iya, Mas Galen. Hati-hati di kebun ya, jangan lupa makan siang!"

Galen tersenyum tipis, mengusap puncak kepala Rea sebelum akhirnya bangkit berdiri. Di dalam kepalanya, Galen sudah merencanakan sesuatu: siapa pun yang berani mengganggu ketenangan "kebunnya" hari ini, akan merasakan akibatnya, karena ia ingin segera pulang untuk melihat senyum gadis kuningnya ini lagi.

Galen dan Leon berangkat menuju sebuah gedung perkantoran eksklusif yang menjadi salah satu markas bisnisnya. Aura "Tukang Kebun Senior" langsung menghilang, digantikan oleh tatapan predator yang sangat disegani di dunia bawah.

Mereka memasuki ruangan rapat VVIP yang kedap suara. Di sana, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu sudah menunggu dengan raut wajah penuh hormat sekaligus segan.

"Selamat pagi, Tuan Galen," sapa pria itu sambil berdiri dan sedikit membungkuk.

"Ya, silakan duduk, Tuan Soka," jawab Galen dingin. Ia duduk di kursi kebesaran, menyilangkan kakinya dengan gestur yang sangat dominan.

Tuan Soka, salah satu kolega bisnis Galen yang cukup berpengaruh, menatap Galen dengan saksama. "Bagaimana kabar Anda? Wah, Anda tampak sangat segar hari ini, Tuan Galen. Berbeda dari biasanya," puji Soka, menyadari ada binar yang sedikit lebih cerah di mata Galen—efek dari perlakuan manis Rea pagi tadi.

Galen hanya menanggapi dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Cukup baik," jawabnya singkat.

"Saya dengar Anda baru saja melakukan 'pembersihan' besar-besaran di sektor pelabuhan?" tanya Soka mulai masuk ke topik serius.

Galen melirik Leon yang berdiri di belakangnya, lalu kembali menatap Soka. "Hanya membasmi beberapa hama yang mencoba merusak taman saya, Tuan Soka. Anda tahu saya tidak suka ada yang mengganggu ketenangan wilayah saya."

Soka tertawa kecil, meski sedikit gemetar. "Tentu, tentu. Saya mengerti. Mari kita bahas mengenai perjanjian baru untuk pengamanan jalur ekspor kita Tahuan ini."

Sementara pembicaraan bisnis yang mempertaruhkan jutaan dolar itu berlangsung, pikiran Galen sesekali melayang pada Rea yang mungkin sedang sibuk membuat kue di mansion. Kontras antara dunia berdarah di depannya dan kepolosan istrinya membuat Galen semakin bersumpah untuk menyelesaikan urusan ini dengan cepat agar bisa segera pulang.

"Bik Sumi sudah lama ya bekerja di sini?" tanya Rea sambil membantu mengocok adonan kue di dapur mansion yang luas itu.

"Sudah, Nona. Sudah bertahun-tahun," jawab Bi Sumi ramah, meskipun ia harus ekstra hati-hati dalam berbicara agar tidak membocorkan rahasia majikannya.

Rea menghentikan gerakannya sejenak, wajahnya tampak berpikir. "Eee... bosnya ke mana sih, Bik? Katanya Mas Galen bosnya pergi lama, tapi kenapa nggak pulang-pulang? Malah Mas Galen terus yang di sini, pakai jas keren lagi."

Bi Sumi sempat tertegun, otaknya berputar cepat mengingat pesan Leon. "Emmm... iya Nona. Soalnya Tuan Galen sudah dianggap seperti anaknya sendiri oleh bos besar. Jadi, Bos menyuruh Tuan Galen tinggal di sini untuk mengurus semuanya."

"Ohhh, gitu ya Bik," Rea manggut-manggut polos. "Tapi kelihatannya Mas Galen sibuk banget ya? Sampai rapat-rapat terus. Apa tanaman di sini sebanyak itu sampai urusannya nggak selesai-selesai?"

Bi Sumi tersenyum canggung. "Iya Nona, namanya juga Senior. Tanggung jawabnya besar."

Rea menghela napas, menatap keluar jendela ke arah halaman yang sangat luas. "Kasihan Mas Galen, pasti capek. Rea mau buatin donat yang paling enak buat Mas Galen nanti pas pulang!"

Sambil melanjutkan mengaduk adonan, hati Rea merasa kagum sekaligus kasihan pada suaminya. Di matanya, Galen adalah pekerja keras yang sangat loyal pada bosnya. Rea tidak tahu bahwa saat ini, suaminya yang ia sebut "tukang kebun" itu sedang menekan kontrak bisnis bernilai triliunan di gedung pencakar langit.

Saran Kelanjutan:

Sore harinya, Rea mencoba mengantar donat itu ke depan gerbang karena ia pikir Galen akan pulang lewat sana, tapi ia justru melihat iring-iringan mobil hitam mewah yang sangat banyak masuk ke mansion. Apakah Rea akan mulai curiga?

Setelah selesai membuat donat yang empuk dengan taburan gula halus, Rea segera membersihkan diri. Ia memakai piyama panjang bermotif beruang yang lucu, lalu duduk di sofa ruang tengah yang empuk sambil menyalakan televisi.

"Lama banget Mas Galen..." gumamnya sambil memeluk bantal sofa. Mata bulatnya menatap layar televisi yang menayangkan drama romantis, namun pikirannya melayang pada sosok suaminya.

Detik demi detik berlalu, hingga tanpa sadar kelopak mata Rea terasa sangat berat. Suasana mansion yang sunyi di sore hari ini membuatnya terbuai. Akhirnya, Rea pun ketiduran dengan posisi meringkuk di sofa, meninggalkan piring berisi donat buatannya di atas meja.

Sementara itu di luar, iring-iringan mobil hitam mewah masuk ke halaman mansion dengan kecepatan tinggi. Galen turun dengan wajah yang tampak lelah dan dingin setelah pertemuan panjang dengan kliennya.

"Leon, pastikan semua laporan hari ini segera masuk ke meja saya," perintah Galen sambil melangkah masuk.

"Baik, Tuan."

Namun, begitu pintu utama terbuka, langkah Galen terhenti. Auranya yang tadi mencekam mendadak melunak saat matanya menangkap sosok mungil yang sedang terlelap di sofa. Ia mendekat dengan langkah sangat pelan, hampir tak bersuara agar tidak membangunkan istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!