Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan 3
*
*
*
Qistina Aulia, meski penampilannya bukan dari barang-barang branded tapi tak pernah sekalipun membuatnya gagal terlihat menarik. Memakai kemeja bermotif kotak dengan kaus hitam fit di badan, celana jeans hitam pekat degan totebag terselempang sudah menjadi kombinasi yang sempurna untuk membungkus badannya. Rambutnya yang sedikit bergelombang ia biarkan terurai dengan topi baseball putih sebagai penutup puncak kepala, sangat serasi dengan sepatu kets yang juga berwarna putih. Namun justru topi itu yang membuatnya semakin terlihat berbeda dengan Mahasiswi lainnya. Qistina yang berpenampilan sederhana tanpa make up berarti justru semakin tampil memikat.
Berjalan menelusuri tangga demi tangga menuju gazebo yang tadi ia tentukan untuk bertemu Calvin.
Dalam perjalanannya Ia melewati beberapa Mahasiswi yang memang sejak dulu iri padanya, karna dengan mudah mendapat perhatian dari si raja lapangan yaitu Calvin Rahardian. Cowok paling populer di kampus itu nyatanya memang terpikat oleh pesona seorang Qistina.
Bisik-bisik dari Mahasiswi itu terdengar, tapi bukan bisik-bisik sepertinya. Karna suaranya sengaja di keraskan.
"Dia itu sengaja deketin cowok kaya."
"Makanya sekarang di buang sama Calvin, karna dia tahu cuma mau di porotin."
"Dengar-dengar dia juga main sama cowok-cowok."
"Apa jangan-jangan di juga simpenan Om-om?"
"Kayanya sih begitu, kalau nggak mana sanggup dia kuliah di sini."
"Yang aku denger sih gitu, di grup senior juga lagi rame bahas dia. Kelakuannya nggak cocok sebagai penerima Beasiswa."
Qistina tetap berjalan, wajah datar nyaris tanpa ekspresi. Di tengah desas desus itu ia justru nampak tenang, dan itu yang membuatnya semakin terlihat berbeda.
Tatapan Calvin mengikuti gadis itu ketika sudah berada semakin dekat dengan ia berdiri. 'dia nggak gugup sama sekali ya, masih sama dengan Qistina yang aku kenal dulu . Karna kamu yang begini, justru semakin bikin aku nggak bisa lupain kamu. Apapun caranya aku akan milikin kamu lagi!'
Langkah Qistina semakin mendekat, Senyum smirk tercipta begitu saja di wajah Calvin.
"Udah nggak sabar ngobrol lagi berdua sama kamu." katanya sambil menyilangkan tangan di dada menyender di tiang Gazebo. Gaya santai yang dulu membuat Qistina terpukau, tapi sekarang kenapa malah membuatnya muak.
"Kenapa kamu masih aja gangguin hidup aku?!" Sentak Qistina dengan sorot mata tajam, wajahnya merah padam menahan amarah.
Calvin diam, tatapannya tak lagi seperti tadi. Berubah tak kalah tajam dari tatapan Qistina.
"Sebenarnya kamu itu siapa Qistina, di depan aku dingin kaya batu. Selalu nolak aku. Tapi kamu senyum cerah, mendadak hot sama cowok-cowok itu. Apa yang kamu cari? Uang? Aku bisa kasih kamu uang, bahkan apapun yang kamu mau. Kenapa kamu lebih memilih cowok-cowok itu?"
"Sinting! Cowok mana yang kamu maksud Ha?"
Calvin tidak langsung menjawab, tangannya menggapai lengan Qistina dengan erat. Jarak di antara mereka semakin lenyap. Tatapan Calvin tidak berpindah sedikitpun, tepat pada manik hitam milik Qistina.
"Aku nggak punya waktu buat drama sama kamu ya, lepasin tangan aku."
Usaha Qistina untuk melepaskan tangannya sia-sia. Pegangan Calvin sudah mengunci tubuh rampingnya. Tidak bisa bergeser sedikitpun.
Dan gazebo sebelah sekret BEM yang sengaja Qistina pilih karna merasa akan aman, ternyata bukan berarti apa-apa. Karna kenyataannya justru tempat itu adalah tempat kekuasaan Calvin sebagai anggota BEM. Bahkan ketua BEM tunduk dengan perintahnya.
"Calvin, lepas! Kalau nggak aku akan teriak kamu sudah pelecehan" nadanya datar tapi menusuk, penuh amarah.
"Ngeri juga ancamannya" Calvin menyeringai.
"Lepas!" Bentak Qistina.
"Kamu main sama cowok-cowok mau, kenapa sama aku sok nolak. Ha?"
"Cowok mana? Jangan asal bicara kamu!"
"Aku lihat Qistina, aku lihat kamu bergelanyut manja. Masuk ke mobil sama dua cowok. Simpenan Om-om kamu, Ha?"
Qistina paham sekarang, pastilah yang di lihat Calvin adalah saat dia mabuk dan berakhir tidur sekamar di rumah Albie.
"Itu bukan urusan kamu, Lepas!" Qistina terus memberontak melepaskan diri.
"Aku juga lihat, kemarin kamu di jemput cowok itu kan?"
Naufal? Pasti Naufal yang Calvin maksud.
"Aku nggak peduli, kamu lihat apa tentang aku. Dan aku nggak peduli kamu berfikir apa tentang aku. Harusnya kamu juga nggak usah peduli." jawab Qistina dingin. Balas menatap manik mata Calvin tak kalah tajam dan menusuk.
"Aku bisa bayar kamu lebih banyak dari cowok itu."
"Kamu berani bayar berapa Ha?"
"Oh... akhirnya keluar juga sifat asli seorang Qistina. Bener apa yang kamu bilang kemarin ya, satu tahun hubungan kita nggak akan bikin aku kenal kamu. Ini yang kamu maksudkan? Kamu mau bayaran mahal buat tubuh kamu ini. Oke, aku akan bayar sesuai yang kamu minta. Asal kamu jangan layani cowok manapun selain aku. Tetaplah jadi jalang seorang Calvin."
Qistina tersenyum miring, "Justru aku yang sekarang tahu siapa kamu sebenarnya Calvin. Otak mesum, yang ngukur apa saja pakai uang. Sebelum kamu nilai orang lain, harusnya kamu introspeksi diri." sindirnya tajam.
"Lepasin Aku, jangan pernah ganggu hidup aku la– hmph."
Suara Qistina di bungkam, jarak wajah Calvin dengannya tak ada. Bibirnya mendarat di bibir kecil Qistina. Membuatnya terbelalak,
Bastard!
Qistina tak tinggal diam, kekuatannya berpusat pada lutut. Menendang tepat di selangkangan Calvin.
"Argh!!"
Calvin mengaduh, memegangi bagian sensitifnya yang barusan di tendang oleh lutut Qistina.
"Jangan pernah kamu ulangi lagi!" Bentaknya sambil melangkah pergi.
Kedua tangannya menghapus bibir yang tadi sudah di renggut paksa oleh Calvin secara bergantian. Kemarahan menyelimuti dirinya. Ingin segera ia laporkan sebagai pelecehan, tapi ia tidak mau berurusan panjang. Ia hanya ingin belajar, dan secepatnya lulus dari kampus itu.
Jadi pilihannya hanya satu, sebisa mungkin menjauhi Calvin Rahardian. Cowok yang dulunya membuat ia mabuk kepayang sekarang menjadi cowok paling menyebalkan.
***
Disisi tempat yang tidak di ketahui Qistina dan Calvin, bayangan perempuan itu menatap semakin tajam.
Bibirnya mengucapkan satu kalimat.
"Qistina dan Calvin, dua orang itu harusnya di beri pelajaran."
Suaranya datar, dingin menusuk. Tidak ada ekspresi berlebih di wajahnya. Seperti menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa dengan situasi yang menguras emosi namun ia kelola sebaik mungkin.
*
*
*
~Siapa sih Mbak-mbak itu?
~Salam hangat dari Penulis🤍
mereka cuma sama2 gak mau ngelepasin apa yang mereka cita2kan.
lagian kamu nyarinya model, dunia mereka terlalu luas.
mungkin kamu bukan prioritasnya 🙃
di jalanin cape, GK di jalanin GK dapet duit. namanya juga hidup
TAPI PAS Albie selesai ngurusin pasien dan Naufal ketemu Qistina yang lagi gendong balita mereka malah salah sangka aja! 😂 Naufal bilang mungkin Qistina punya anak atau janda muda, tapi Albie bilang hasil tes kemarin nggak ada tanda dia baru melahirkan. Akhirnya Albie malah bilang mau ke toilet dan pergi aja bikin aku ketawa deh! Apakah dia beneran kebelet atau cuma mau menghindari ya? Penasaran banget kapan mereka bakal ketemu dan jelasin semuanya authorrr! ❤️✨