Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Setuju
Aluna memasuki kamarnya dengan cepat dan menutup pintu kamar tersebut dan bersandar pada pintu kamar. Nafasnya sejak tadi naik turun dengan jantungnya berdebar kencang.
"Ya Allah bagaimana mungkin ternyata laki-laki itu adalah calon suami hamba yang hamba tinggalkan waktu itu," gumam Aluna.
"Bagaimana ini ya Allah? Bagaimana caranya hamba menjalankan perjodohan kepadanya, lalu bagaimana jika pak Ravindra marah dan memecatku dari perusahaan, apa yang akan aku lakukan," Aluna benar-benar tidak bisa bertindak apapun lagi.
"Bagaimana ini ya Allah? Apa yang harus hamba lakukan," Aluna saat ini dipenuhi dengan ketakutan.
Ravindra berada di taman rumah Aluna yang baru saja berpamitan untuk mengangkat telepon dan setelah panggilan itu selesai membuat Ravindra memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ravindra," Ravindra membalikan tubuh ketika namanya dipanggil dan ternyata orang yang telah menyebut namanya tak lain adalah Jiya.
"Ada apa?" tanya Ravindra.
Jiya menarik nafas panjang dan kemudian membuang perlahan ke depan lalu melangkah menghadapi Ravindra dan sekarang mereka berdua sudah saling berhadapan.
"Saya sekali lagi meminta maaf atas sikap adik saya kepada kamu 3 tahun lalu dan atas kesalahan yang telah dia lakukan membuat keluarga kita benar-benar malu," ucap Jiya.
"Kenapa kamu harus meminta maaf dan bukan dia sendiri?" tanya Ravindra.
"Adikku yang satu itu memang terlihat aneh, sedikit keras kepala dan tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Mungkin karena usianya masih terlalu muda, jadi dia menganggap bahwa tindakan yang dia lakukan 3 tahun lalu adalah hal yang biasa,"
"Aluna harus meninggalkan pernikahan kalian, karena ingin menikah dengan suamiku," ucap Jiya membuat Ravindra mengerutkan dahi.
"Apa maksud kamu?" tanya Ravindra.
"Aluna dan Firman berpacaran. Mereka memiliki hubungan yang sangat intens. Aluna menolak keras dijodohkan dengan kamu. Aluna meminta Firman untuk membawanya lari di hari pernikahannya, tetapi ternyata Firman menyadari apa yang dia lakukan salah. Akhirnya Firman menikah denganku," jelas Jiya seakan-akan telah membuka aib adiknya sendiri alasan membatalkan pernikahan tersebut.
"Ini memang sangat memalukan, tapi aku tidak ingin kamu salah paham pada adikku dan aku benar-benar meminta maaf atas nama adikku," ucap Jiya.
"Seharusnya bukan kamu yang mengambil alih untuk menjelaskan semua ini apa alasannya meninggalkan pernikahan itu," sahut Ravindra merasa tidak nyaman dengan Jiya.
"Aku menjelaskan sendiri karena aku tahu Aluna tidak akan berani membicarakan hal ini. Aku juga ingin mengatakan kepada kamu bahwa Aluna juga sebentar lagi akan menikah dengan Firman," ucap Jiya membuat Ravindra semakin kaget.
"Apa maksud kamu dan tadi kamu mengatakan bahwa Firman adalah suamimu dan bagaimana mungkin dia akan menikah dengan suamimu?" tanya Ravindra.
"Aluna sangat mencintai Firman dan mungkin takdir telah membuat aku dan Firman menikah, tetapi aku tidak ingin adikku menderita dengan hubungan pernikahan yang tidak diinginkan. Jadi aku ingin Aluna mendapatkan cintanya dan bisa menikah dengan Firman," jawab Jiya.
"Dan kamu tetap sebagai istrinya?" tanya Ravindra.
"Mungkin terdengar sangat bodoh, tetapi aku tidak apa-apa harus mengalah demi kebahagiaan adikku dan biarlah orang-orang beranggapan bahwa aku Kakak yang bodoh yang merelakan suami yang menikah dengan adiknya, aku ikhlas asalkan dia bisa bahagia," jawab Jiya.
"Lalu mengapa kamu harus mengatakan semua ini kepadaku?" tanya Ravindra.
"Abi menghukum Aluna atas semua kesalahan yang telah dia lakukan dan dengan itu Abi kembali ingin menjodohkan kalian berdua, tetapi aku sangat yakin bahwa Aluna akan menderita dengan hal ini dan tidak akan bisa menghemat lagi. Untuk itu aku minta kamu untuk tidak melanjutkan perjodohan itu. Aku ingin adikku hidup bersama orang yang dia cintai," jawab Jiya akhirnya menyampaikan tujuan utamanya untuk mengajak Ravindra berbicara.
Ravindra tidak berkomentar apapun karena dia sendiri juga tidak mengerti tentang semua perkataan Jiya. Tetapi siapa sangka ternyata Aluna dari kejauhan beberapa meter mendengar sama-sama pembicaraan kakaknya dengan Ravindra.
"Apa-apaan sih kak Jiya," batin Aluna terlihat begitu kesal saat kakaknya sangat lancang berbicara seolah-olah mewakilkan dirinya.
Ravindra ternyata menyadari keberadaan Aluna membuat Aluna kaget, Aluna kesulitan menelan ludah dan langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Aku mohon Ravindra untuk tidak melanjutkan perjodohan itu demi kebahagiaan adikku. Aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih dari Aluna dan sebagai seorang kakak hanya ini yang bisa aku katakan," ucap Jiya dengan wajahnya penuh permohonan membuat Ravindra sejak tadi tidak memberi komentar ataupun.
*****
Ravindra berdiri di depan jendela kamarnya dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Adik Kakak itu benar-benar sangat aneh dan bagaimana mungkin dia merelakan suaminya menikah dengan adiknya sendiri,"
"Lalu Aluna, dia diam tidak berkutik sama sekali dan bahkan tidak berusaha untuk berbicara denganku, menjelaskan apa yang terjadi dan justru menyuruh orang lain mewakili semua penjelasannya,"
"Aku tidak menyangka jika ada wanita segila ini, kenapa juga aku harus peduli dan seharusnya dengan pelajaran saat berada di kantor karena sudah berani mempermainkanku, tadi juga tidak berani menatapku sama sekali dan seolah-olah tidak bersalah," kesal Ravindra.
Tok-tok-tok.
Pintu kamarnya diketuk membuat ravindra melihat ke arah pintu kamar tersebut dan ternyata Risma yang membuka pintu kamar itu.
"Ada apa. Ma?" tanya Ravindra.
"Mama masih menunggu jawaban kamu, kamu sudah bertemu dengan Aluna secara langsung dan Mama ingin tahu bagaimana tanggapan kamu," ucap Risma.
"Ravindra kamu jangan melihat apa yang terjadi 3 tahun lalu, Aluna merupakan gadis yang baik, Mama tidak akan seperti ini jika tidak mengenalinya dengan baik," ucap Risma benar-benar bucin pada Aluna sampai tidak melihat kesalahan Aluna.
"Baiklah, aku akan menyetujui untuk menikah dengannya," jawab Ravindra tanpa basa-basi membuat Risma kaget dengan mata melotot.
"Kamu bilang apa?" tanya Risma.
"Bukankah itu yang Mama inginkan?" tanya Ravindra.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Risma.
"Lalu apa aku harus memikirkannya lagi dan mengubah keputusanku?" tanya Ravindra.
"Tidak perlu!" Risma menjawab dengan cepat tidak ingin putranya itu berubah pikiran.
"Kamu jangan mempermainkan Mama seperti itu. Mama hanya kaget saja tiba-tiba kamu menjawab tanpa berpikir dan pikir kamu sedang bercanda," ucap Risma.
"Aku tidak bercanda dan beritahu kepada calon menantu Mama jika aku akan menikahinya dan awas saja jika dia berani mempermainkanku sekali lagi!" tegas Ravindra.
"Astaga Ravindra kamu kenapa jadi galak seperti itu membuat mama takut saja. Kamu benar-benar serius ingin menikah dengannya atau jangan-jangan kamu punya rencana lain, atau jangan-jangan kamu ingin membalasnya?" tanya Risma tiba-tiba saja menata putranya itu penuh dengan curiga.
"Maksud Mama aku akan melakukan hal yang sama seperti dia lakukan, di saat pernikahan sudah tiba dan aku kan lari membiarkan dia di pelaminan sendirian dan malu?" tanya Ravindra.
"Ya, siapa tahu saja kamu pernah melakukan hal itu. Mama tidak menuduh dan hanya berharap jika kamu tidak akan berbuat seperti itu. Ravindra pernikahan itu bukan main-main," ucap Risma.
"Mama tidak perlu menasehatiku yang perlu Mama beritahu tentang pernikahan yaitu calon menantu kesayangan Mama. Sebelum dia mengambil keputusan untuk setuju dan sebaiknya suruh dia berpikir terlebih dahulu!" tegas Ravindra.
Sejak tadi nggak ada suaranya tampak ditekan benar-benar marah dengan Aluna dan itu yang membuat Risma khawatir jika Ravindra menyetujui pernikahan itu karena ada sesuatu.
Bersambung.......