Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Surabaya menyambut Nabila dengan hawa panas yang menyengat, kontras dengan dinginnya sel tahanan yang mengurung Arga di Jakarta. Langkah Nabila terburu-buru menyusuri selasar Bandara Juanda.
Ia hanya membawa satu tas ransel berisi berkas-berkas penting dan laptop. Di kepalanya, nama 'Hendri' berputar seperti kompas yang menuntunnya ke tengah badai.
Pesan anonim itu memberikan alamat sebuah panti rehabilitasi di pinggiran kota. Nabila tahu, jika Siska benar-benar menghancurkan pria ini seperti dia menghancurkan Arga, maka luka yang akan ia temukan bukan sekadar luka fisik, melainkan luka jiwa yang mungkin sudah membusuk.
Setelah menempuh perjalanan dua jam dengan taksi, Nabila sampai di sebuah bangunan tua dengan pagar tinggi yang tertutup tanaman merambat. Tempat itu bernama 'Griya Pulih'. Suasananya sangat sunyi, hanya terdengar suara burung gereja di dahan pohon mangga.
Nabila menemui kepala perawat, seorang wanita paruh baya bernama Suster Maria.
"Saya ingin bertemu dengan Hendri Setiawan. Saya temannya dari Jakarta," bohong Nabila, suaranya sedikit bergetar.
Suster Maria menatap Nabila dengan tatapan menyelidik. "Hendri tidak pernah punya tamu selama tiga tahun terakhir. Dan dia tidak suka disebut sebagai 'teman dari Jakarta'. Jakarta adalah neraka baginya."
Nabila menghela napas panjang, memutuskan untuk jujur. "Suster, suami saya sedang mengalami apa yang dialami Hendri. Seorang wanita bernama Siska Roy sedang mencoba membunuhnya secara perlahan lewat fitnah. Saya butuh bantuan Hendri untuk menghentikannya."
Mendengar nama 'Siska Roy', raut wajah Suster Maria berubah. Ada ketakutan sekaligus kemarahan di matanya. Tanpa sepatah kata pun, ia memberi isyarat agar Nabila mengikutinya menuju sebuah paviliun di bagian belakang.
Di sebuah bangku kayu di bawah pohon beringin, seorang pria duduk dengan pandangan kosong menatap kolam ikan. Wajahnya sebenarnya masih muda, mungkin seumuran Arga, namun rambutnya yang memutih prematur dan bahunya yang bungkuk membuatnya tampak seperti kakek-kakek.
Itulah Hendri. Mantan manajer keuangan jenius yang lima tahun lalu dituduh memerkosa direkturnya sendiri, sebelum Siska pindah ke Jakarta dan menikahi Pak Roy.
"Hendri?" panggil Nabila lembut.
Pria itu tersentak. Bahunya menegang. Ia tidak menoleh, namun tangannya mulai gemetar hebat. "Pergi... Jangan bawa aku kembali ke sana. Aku tidak melakukannya... Sumpah, aku tidak menyentuhnya!"
Nabila segera berlutut di sampingnya, menjaga jarak agar tidak memicu trauma lebih dalam. "Hendri, namaku Nabila. Aku bukan orang suruhan Siska. Aku adalah istri dari Arga Mandala. Siska melakukan hal yang sama pada suamiku sekarang. Arga ada di penjara, dituduh korupsi dan pelecehan... persis seperti kau dulu."
Mendengar nama Arga, Hendri perlahan menoleh. Matanya yang cekung menatap Nabila. "Dia... dia menemukan korban baru?"
"Iya, Hendri. Dan aku butuh kau untuk bicara. Hanya kau yang tahu bagaimana pola permainannya," pinta Nabila dengan sangat.
Hendri tertawa, suara tawa yang kering dan menyakitkan. "Bicara? Untuk apa? Dia punya segalanya. Dia punya uang untuk membeli polisi, dia punya kecantikan untuk menipu hakim. Lihat aku! Aku kehilangan pekerjaan, orang tuaku meninggal karena malu, dan aku berakhir di sini sebagai 'predator' yang tidak pernah memangsa siapa pun!"
Hendri menunjukkan pergelangan tangannya yang penuh bekas luka sayatan lama. "Dia tidak hanya memenjarakanku, Nabila. Dia mengambil jiwaku. Dia membuatku merasa bahwa aku memang monster, meskipun aku hanya menolak untuk tidur dengannya saat dia mabuk kekuasaan."
Nabila memegang tangan Hendri yang dingin. "Arga masih punya kesempatan, Hendri. Dan jika kita menang, namamu juga akan dibersihkan. Aku menemukan informasi bahwa kau menyimpan sesuatu sebelum kau ditangkap. Sesuatu yang membuat Siska takut."
Hendri terdiam cukup lama. Ingatannya seolah ditarik paksa ke masa lalu yang kelam. "Brankas... Aku punya brankas di bank kecil dekat pelabuhan. Tapi kuncinya... kuncinya ada di rumah lamaku yang sudah disita bank. Siska mencari kunci itu berbulan-bulan, tapi dia tidak tahu aku menyembunyikannya di tempat yang paling hina."
"Di mana, Hendri?"
"Di dalam nisan ibuku. Di pemakaman umum dekat sini. Sebuah kotak kecil di balik keramik nisan yang longgar," bisik Hendri. "Di sana ada rekaman suara saat dia mengancam akan menghancurkanku jika aku tidak mau menjadi 'peliharaannya'. Aku tidak berani mengeluarkannya dulu karena aku takut dia akan membunuhku di dalam sel."
Nabila merasa jantungnya berdegup kencang. Itu dia. Bukti kunci yang ia butuhkan.
~~
Nabila bergegas menuju pemakaman umum yang disebutkan Hendri. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di antara nisan-nisan tua. Ia menemukan makam ibu Hendri. Dengan tangan gemetar, ia meraba keramik nisan yang mulai retak.
Klik.
Sebuah bagian keramik terlepas. Di dalamnya terdapat sebuah kotak logam kecil yang sudah berkarat. Nabila membukanya dan menemukan sebuah digital voice recorder tua dan sebuah kartu memori.
"Dapat," gumam Nabila lega.
Namun, kegembiraannya hanya bertahan sedetik. Suara langkah kaki di atas rumput kering membuatnya membeku.
"Kau sangat gigih, Nabila. Aku harus mengakui, kau pengacara yang lebih baik daripada yang aku duga," sebuah suara berat terdengar dari balik pohon kamboja.
Nabila berbalik. Itu adalah Dante. Pengacara licik Siska itu berdiri di sana bersama dua pria bertubuh besar yang mengenakan pakaian serba hitam. Dante tersenyum tipis, menyesap rokoknya dengan santai.
"Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Nabila, mencoba menyembunyikan kotak logam itu di balik punggungnya.
"Aku punya akses ke seluruh manifest penerbangan dan GPS ponselmu, Nyonya Mandala. Siska tidak suka rahasia lamanya digali kembali. Itu sangat... tidak sopan," Dante melangkah maju. "Berikan kotak itu padaku, dan kau bisa pulang ke Jakarta dengan selamat."
"Tidak akan!" Nabila mencoba lari, namun kedua pria besar itu dengan cepat mengepungnya.
"Jangan mempersulit keadaan, Nabila. Kau sendirian di kota orang. Jika kau menghilang di pemakaman ini, butuh waktu berminggu-minggu bagi orang-orang untuk menemukanmu," ancam Dante, nadanya tidak lagi bersahabat.
Nabila melihat sekeliling. Tidak ada orang. Ia harus berpikir cepat. Saat salah satu pria mencoba meraih tasnya, Nabila menggunakan tas ranselnya yang berat untuk menghantam wajah pria tersebut. Ia kemudian berlari menuju gerbang pemakaman sambil berteriak minta tolong sekuat tenaga.
"TOLONG! PERAMPOK!"
Suaranya memecah kesunyian sore. Beberapa warga yang sedang membersihkan makam di kejauhan mulai menoleh. Dante mendengus kesal. "Tangkap dia! Jangan sampai dia keluar dari gerbang!"
Kejar-kejaran terjadi di antara barisan nisan. Nabila terjatuh, lututnya berdarah menabrak pinggiran semen, namun ia segera bangkit. Ia melihat sebuah mobil online yang sedang menurunkan penumpang di depan gerbang.
Dengan sisa tenaganya, Nabila melompat ke arah mobil tersebut. "JALAN, PAK! CEPAT!"
Sopir mobil yang kaget melihat wajah Nabila yang pucat dan orang-orang yang mengejarnya segera menginjak gas. Mobil itu melesat tepat saat tangan salah satu pengejar nyaris menyentuh pintu mobil.
Dante berdiri di pinggir jalan, menatap mobil yang menjauh dengan tatapan tajam. Ia mengeluarkan ponselnya. "Dia mendapatkan rekamannya. Laksanakan rencana cadangan. Jangan biarkan dia sampai ke bandara hidup-hidup."
Di dalam mobil, Nabila terengah-engah. Ia menggenggam kotak logam itu seolah itu adalah nyawanya sendiri. Ia mencoba menghidupkan perekam suara itu. Suaranya agak berderit, namun masih terdengar jelas.
"...Kau pikir kau siapa, Hendri? Kau hanya bawahan. Jika kau tidak mau menemaniku malam ini, besok seluruh Surabaya akan tahu bahwa kau adalah pencuri uang perusahaan. Aku akan memastikan kau membusuk di sel yang paling gelap !"
Suara Siska. Jelas dan tak terbantahkan. Polanya sama persis dengan apa yang dia lakukan pada Arga.
Ponsel Nabila berdering. Panggilan dari Arga dari telepon umum penjara.
"Halo, Mas Arga?"
"Nabila! Kau di mana? Kau baik-baik saja?" suara Arga terdengar sangat cemas. "Baru saja ada orang yang mendatangiku di sel. Dia bilang jika kau tidak berhenti mencampuri urusan Siska, dia tidak bisa menjamin keselamatanku di dalam sini."
"Mas, dengarkan aku," Nabila menangis haru. "Aku sudah mendapatkan buktinya. Aku punya rekaman suara Siska saat dia memeras korbannya yang dulu. Ini akan menghancurkan kredibilitasnya sebagai korban. Bertahanlah sebentar lagi, Mas. Aku sedang menuju bandara."
"Nabila, hati-hati! Siska akan melakukan apa pun..."
Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar. Mobil yang ditumpangi Nabila dihantam dari samping oleh sebuah truk hitam besar di sebuah perempatan sepi menuju bandara. Mobil itu terseret beberapa meter dan terguling.
Ponsel Nabila terlempar. Dunia berputar. Gelap.
...----------------...
Next Episode....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰