NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Rahasia Di Tengah Badai

Gubuk itu bergetar dihantam angin badai. Di luar, suara gemuruh air bah menenggelamkan sisa-sisa desa, memutuskan satu-satunya akses jalan menuju bukit. Mereka terjebak.

River meletakkan Every di atas dipan kayu yang reyot. Tubuh gadis itu menggigil hebat, giginya gemeletuk, dan wajahnya merah padam karena demam tinggi. River menyentuh dahi Every—panasnya seperti membakar telapak tangannya.

"Eve, buka mata lo!" River menepuk pipi Every kasar, mencoba mengembalikan kesadarannya. "Jangan mati di sini, sialan. Gue nggak mau dituduh membunuh Ketua BEM."

Every hanya merintih kecil, matanya terpejam rapat. River sadar, jika ia tidak segera melepaskan pakaian Every yang basah kuyup dan penuh lumpur, Every akan mati karena hipotermia sebelum fajar.

Dengan tangan gemetar karena emosi—bukan nafsu, melainkan rasa benci yang bercampur tanggung jawab yang mencekik—River mulai merobek kemeja putih Every yang sudah hancur.

Ia memejamkan mata sesaat, mencoba tetap profesional meski egonya memberontak. Saat kemeja itu tersingkap, ia melihat memar biru besar di bahu dan perut Every akibat terjangan Aluna tadi.

"Cewek gila," desis River. "Sakit begini tapi masih sempat-sempatnya otoriter!"

River membungkus tubuh Every dengan selimut wol tua yang ia temukan di pojok gubuk dan jaket kering miliknya. Ia kemudian menyalakan api kecil di sudut ruangan menggunakan sisa kayu kering.

Tiba-tiba, pintu gubuk yang sudah rapuh itu terbuka sedikit. Aluna berdiri di sana, basah kuyup, dengan tatapan yang sangat mengerikan. Ia melihat River sedang duduk di samping Every yang tak berdaya.

"Jadi ini alasan lo lari ke sini, Riv?" suara Aluna melengking di sela suara badai. "Buat berduaan sama bidadari sampah ini?"

River berdiri, matanya menatap Aluna dengan dingin. "Lo nggak lihat dia sekarat, Lun? Pergi dari sini. Cari tempat aman buat lo sendiri."

"Sekarat? Bagus kalau dia mati!" Aluna maju, mencoba mendekati dipan Every. "Kalau dia nggak ada, lo bakal balik jadi River yang dulu! Nggak ada lagi aturan BEM, nggak ada lagi urusan sama cewek manja ini!"

"JANGAN DEKETIN DIA!" bentak River. Ia berdiri di depan dipan, menghalangi Aluna sepenuhnya. "Gue bilang jangan sentuh dia!"

"Kenapa, Riv?! Lo mulai suka sama dia?!"

"GUE BENCI DIA!" River berteriak tepat di depan wajah Aluna. "Tapi gue lebih benci sama pengecut yang mau nyerang orang yang lagi pingsan. Sekarang pergi, atau gue sendiri yang bakal lempar lo keluar ke tengah banjir!"

Aluna mundur, ketakutan melihat kilatan monster di mata River. Ia berlari keluar menembus hujan, meninggalkan River dalam keheningan yang menyesakkan.

......................

Tengah malam, Every perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya api dan bau maskulin yang sangat kuat dari jaket yang menyelimutinya. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya terasa remuk.

Ia melihat River duduk di lantai, bersandar pada dipan, sedang mengasah belatinya dengan pandangan kosong ke arah api.

"Gue... di mana?" suara Every hanya berupa bisikan pecah.

River menoleh. Seringai sinisnya langsung kembali begitu melihat Every sadar. "Selamat datang kembali ke dunia nyata, Tuan Putri. Lo baru saja pingsan kayak drama korea, bikin semua orang repot."

Every teringat apa yang terjadi. Ia meraba tubuhnya dan menyadari pakaiannya sudah diganti dengan selimut dan jaket River. Matanya membelalak, amarahnya langsung menyambar.

"Lo... lo berani sentuh gue?!" Every mencoba mendorong River dengan tangannya yang lemas. "Lo ganti baju gue?! Lo kurang ajar, River Armani! Gue bakal pastiin lo masuk penjara karena ini!"

River menangkap kedua pergelangan tangan Every, menahannya di atas dipan hingga Every terperangkap. "Dengar ya, Eve. Kalau bukan karena gue, lo sekarang sudah jadi mayat hanyut yang membiru. Gue nggak tertarik sama tubuh kerempeng lo yang penuh luka memar itu. Gue lakuin itu supaya lo nggak mati dan gue nggak perlu repot-repot ngurusin pemakaman lo."

"Gue lebih baik mati daripada harus disentuh sama tangan kotor lo!" Every meludah ke arah River, meski hanya mengenai kerah jaketnya.

River tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. "Lo benar-benar monster yang nggak tahu terima kasih, ya? Lo pikir dengan sikap otoriter lo itu, lo bisa kontrol semuanya? Lihat sekarang. Lo terjebak di gubuk rongsokan sama orang yang paling lo benci. Nggak ada pengawal, nggak ada Axel, nggak ada stempel BEM lo."

Every menatap mata River dengan kebencian yang murni. "Gue tetap Ketua BEM lo, River. Dan saat kita keluar dari sini, hal pertama yang gue lakuin adalah menghancurkan hidup lo."

"Coba saja," bisik River, suaranya parau. "Tapi buat malam ini... lo tetap di bawah kendali gue. Tidur, atau gue bakal ikat lo supaya lo nggak berisik."

Every membuang muka, dadanya naik turun karena amarah dan demam yang belum sepenuhnya hilang.

Ia benci betapa hangat jaket River menyelimutinya, dan ia lebih benci lagi pada fakta bahwa River—musuh terbesarnya—adalah satu-satunya orang yang tidak membiarkannya mati di tengah lumpur.

Keadaan menjadi semakin genting. Gubuk itu tidak punya penghangat selain api kecil yang hampir mati tertiup angin dari celah dinding kayu.

Every kembali menggigil hebat; demam tingginya membuat tubuhnya tidak bisa mengatur suhu, dan dinginnya badai di luar mulai menembus kulitnya.

"Eve, berhenti gemetar. Lo bikin tempat tidur ini getar semua," gerutu River, mencoba tetap terdengar ketus meski ia bisa melihat Every mulai kehilangan kesadaran lagi.

"D-dingin... River... b-brengsek... dingin..." Every meracau. Bibirnya yang biasanya merah tegas kini membiru. Ia meringkuk sekecil mungkin di bawah selimut wol, namun itu tidak cukup. Hipotermia mulai menyerang setelah demamnya mencapai puncak.

River mengumpat pelan. Ia tahu hanya ada satu cara untuk menstabilkan suhu tubuh Every agar gadis itu tidak lewat sebelum fajar: Skin-to-skin contact. "Gue bakal benci diri gue sendiri setelah ini, dan lo pasti bakal coba bunuh gue besok pagi," gumam River.

Tanpa banyak bicara, River melepas kaus hitamnya yang sudah mulai kering karena hawa api, lalu ia masuk ke bawah selimut wol yang sama dengan Every. Ia menarik tubuh Every masuk ke dalam dekapannya.

Seketika, Every tersentak. Sensasi kulit River yang panas dan keras bersentuhan dengan tubuhnya yang dingin membuatnya ingin berontak, tapi otot-ototnya terlalu lemah.

"L-lepas... jangan... berani..." Every mencoba mendorong dada River, tapi suaranya hanya berupa bisikan parau yang hilang ditelan suara hujan.

"Diam, Eve. Gue nggak lagi pengen mesum sama lo. Gue cuma nggak mau lo mati kedinginan dan bikin gue masuk penjara karena kelalaian," River mengeratkan pelukannya, membiarkan tubuhnya yang hangat menjadi tameng bagi Every. "Anggap saja gue ini radiator cadangan lo."

Every terpaksa diam. Panas tubuh River mulai mengalir ke kulitnya yang beku. Kepalanya yang berdenyut hebat ia sandarkan di ceruk leher River—satu-satunya tempat yang terasa paling hangat. Ia benci betapa nyaman dekapan ini, ia benci bau bensin dan keringat River yang mendadak terasa menenangkan di tengah badai.

"Gue... tetap... benci lo..." bisik Every, matanya mulai terpejam karena pengaruh demam.

"Gue juga, Tuan Putri. Gue juga benci gimana lo selalu ngerasa paling hebat padahal sekarang lo cuma butuh bantuan 'tukang angkut' kayak gue buat tetap hidup," balas River. Tangannya secara tidak sadar mengelus rambut Every yang masih lembap, sebuah gerakan lembut yang sangat kontras dengan kata-katanya yang tajam.

Mereka terdiam dalam pelukan yang penuh ketegangan dan kebencian itu. River bisa merasakan detak jantung Every yang cepat melawan dadanya, sementara Every bisa merasakan napas berat River di puncak kepalanya.

......................

Saat cahaya kelabu fajar mulai menembus lubang atap, hujan telah reda. River terbangun dengan Every yang masih mendekapnya erat, seolah-olah Every takut jika ia dilepaskan, ia akan jatuh kembali ke kegelapan.

Suara deru helikopter mendekat.

River segera melepaskan diri, memakai kembali pakaiannya dengan cepat sebelum pintu gubuk didobrak dari luar.

BRAKK!

Axel Ammerson masuk dengan wajah panik, diikuti dua orang paramedis. "EVERY!"

Axel mematung melihat Every yang terbaring lemah di atas dipan, terbungkus jaket kulit River, dengan River yang berdiri di sampingnya sambil merapikan pakaian.

"River... apa yang lo lakuin sama dia?!" Axel menerjang maju, mencengkeram kerah baju River. "Lo apain Every?!"

River menepis tangan Axel dengan kasar, matanya kembali dingin dan penuh kebencian. "Tanya sama bidadari lo itu kalau dia sudah sadar sepenuhnya. Gue cuma mastiin dia nggak jadi bangkai di gubuk ini."

Every perlahan duduk, dibantu oleh paramedis. Ia tampak sangat rapuh, tapi begitu matanya bertemu dengan Axel dan kemudian River, "Takhta Es"-nya kembali terpasang. Ia melepas jaket River dan melemparnya ke lantai seolah itu adalah kain pel yang menjijikkan.

"Jangan tanya apa-apa, Axel. Bawa gue keluar dari sini," perintah Every, suaranya kembali otoriter meski masih sangat lemah.

Ia menatap River dengan tatapan yang bisa membekukan api. "Dan buat lo, River... semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang karena sudah bikin gue pingsan. Lo tetap bukan siapa-siapa di mata gue."

River hanya menyeringai, ia mengambil jaketnya dari lantai dan menyampirkannya di bahu. "Tentu saja, Eve. Lo tetap si Ketua BEM yang sombong, dan gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Wajah Every memerah karena malu dan marah. Ia segera dipapah keluar oleh Axel menuju helikopter, meninggalkan River yang berdiri di depan gubuk, menatap keberangkatan helikopter itu dengan mata yang sulit diartikan.

Kebencian di antara mereka kini memiliki lapisan baru: sebuah rahasia di tengah badai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!