Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah?
THE ETERNALLY; our home
Happy reading...
...Melawan ataupun tidak, sama saja!....
.......
........
.........
...♡...
Plakkk!
Satu tamparan langsung mendarat di wajah tampan pemuda itu. Netra hitam legam miliknya menatap datar orang di depannya ini.
"Apa lagi salah gue kali ini?"
Pria paruh baya itu mengeratkan rahangnya, "Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat Lintang masuk ke rumah sakit?"
"Gue nggak ngelakuin apa-apa." balasnya singkat.
"Astra! Saya ini papa kamu, dan seperti ini caramu berbicara dengan orang yang lebih tua?" ungkapnya tak percaya.
Astra kembali menatap mata sang ayah dengan berani, "Gue nggak pernah di ajari sopan santun oleh mereka yang bergelar ayah dan ibu."
Dava Altarich, ayah dari Astra terdiam sejenak, "Saya tidak peduli! Apa yang sudah kamu lakukan pada putra saya sialan!" serunya lagi menarik kerah seragam Astra.
"Gue udah bilang kalo gue nggak ngapa-ngapain anak kesayangan anda itu! "
"Lalu, jika bukan karena kamu, siapa lagi hahhh?! " serunya semakin kuat mencengkeram kerah baju Astra.
Astra menahan cengkraman ayahnya, "Mungkin, anak kesayangan anda itu mau mati." ujarnya dengan enteng.
"Tutup mulut kamu, Astra!" murka Dava, dia tak terima dengan perkataan putranya barusan.
Astra menarik sedikit sudut bibirnya, "Kenapa? Perkataan gue salah? Kayaknya nggak."
Dava menghempaskan cengkraman nya, membuat tubuh Astra terjembab ke lantai, "Itu semua karena kamuu!" serunya lagi.
"Karena gue?!" Astra menunjuk dirinya sendiri, setelah bangun dari jatuhnya.
"Iya, karena kamu! Jika saja kamu tidak ada di dunia ini, Lintang pasti tidak akan seperti ini."
Astra menepuk sedikit bajunya seolah membersihkan debu, lalu maju satu langkah tepat di hadapan ayahnya, "Anda gila? Andai gue bisa milih, gue juga nggak sudi lahir di keluarga biadab ini!"
"Turunkan nada bicara kamu dasar anak pembangkang!"
Plakk!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Astra, sensasi kebas dan perih yang dia rasakan membuat pipinya mati rasa.
Dia menyeka sudut bibirnya yang robek akibat tamparan tadi, "Ayo! Pukul! Anda belum puas kan nyiksa gue selama ini! " tantangnya dengan mata memerah menahan amarah serta sesak di dadanya.
Plakkk!
Bughh!
Dava tak segan menampar, menendang, serta mencambuk Astra menggunakan gesper miliknya. "Saya membenci kamu Astra, sangat membenci kamu!" ujar Dava setelah menyiksa putra keduanya dengan sangat brutal.
Astra yang sudah terkulai lemah di lantai dengan darah yang berceceran dimana-mana, hanya bisa mendesis, "B-bunuh Astra pa, Astra udah nggak kuat lagi," lirihnya dengan nada yang terdengar seperti keputus asaan.
Dava berjongkok di depan tubuh Astra yang sudah tak berdaya itu, "Belum saatnya boy! " desisnya dengan mencengkeram kuat wajah pemuda tampan itu.
Dava melenggang pergi begitu saja dari sana tanpa memperdulikan kondisi Astra, 'Tuhan Astra lelah...'
Bik Tati perlahan mendekat ke arah tuan mudanya yang sedang dengan susah payah mencoba berdiri, "Ya Allah, nak Aksa kenapa bisa sampai se parah ini, tuan benar benar tega." ungkapnya sembari membantu Astra berdiri, air matanya tak berhenti mengalir di pipinya.
Astra sudah berhasil berdiri dengan benar, dia lantas mengusap air mata bik Tati, "Bibi jangan nangis, Astra nggak papa ko."
Bik Tati menggelengkan kepalanya, "Ini air mata bibi yang keluar sendiri den," balasnya sembari mengusap air matanya.
Astra ingin tertawa, tapi sudut bibirnya terasa sangat perih, "Astra mau pulang bi."
Lengan Astra di cekal oleh bik Tati, "Tunggu, biar Bibi obatin dulu lukanya," dia langsung bergegas ke dapur untuk mencari kotak p3k.
Astra mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu, netranya tertuju pada foto keluarga yang terpasang cukup besar di sana, terlihat dua pasang anak kembar berusia 7 tahun. Dengan dua orang dewasa di belakang nya. Terlihat, sangat bahagia.
Astra memalingkan wajahnya saat bik Tati kembali membawa air hangat serta kotak p3k. "Maaf nak, bibi agak lama, soalnya rebus air dulu," jelas bik Tati.
"Nggak papa bi,"
Setelahnya bik Tati dengan telaten membersihkan luka di wajah tampan Astra, dia sangat berhati-hati agar tidak lebih menyakiti tuan mudanya.
...★★★★...
"Nin, lo ada hubungan sama bangsat?" celtuk Calya tiba-tiba, membuat Nindi menghentikan kegiatannya.
Nindi tak menjawab, dia menatap Kirana yang berada di samping Calya, "G-gue nggak ada apa-apa sama dia," ungkapnya.
Calya menaruh keripik kentang yang sedang dia makan, lalu menatap Nindi penuh selidik guna mencari kebohongan di mata gadis itu.
Plukk!
Kirana meraup wajah sahabatnya ini, "Kepo amat lo jadi manusia," semprot Kirana.
Calya mencebikan bibirnya kesal, dia kembali ke posisinya semula lalu merampas camilan yang sedang di makan kirana, "Ck, gue kan cuma penasaran. Apalagi tadi, tingkah kalian itu kaya ada sesuatu." gerutunya.
Nindi menghembuskan nafasnya lelah, dia lantas membuka ponselnya lalu menyerahkannya kepada Calya, "Baca, lo bakal tau alasanya," ujarnya lalu memalingkan wajah nya ke arah televisi yang sedang ditonton oleh Ailya.
Calya menerima ponsel Nindi dengan ragu, "Bener, ni gue boleh baca?" tanyanya basa-basi. "Hmm," balas Nindi.
Calya membaca apa yang ada di ponsel itu, "Ini beneran?" ujar Calya setelah membaca apa yang ada di ponsel Nindi.
Nindi mengangguk, "Ini keputusan yang bener kan?" tanyanya lirih dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.
Kirana memeluk sahabatnya, "Maafin abang gue Nin," ujar kirana.
Nindi menggelengkan kepalanya, "Ngga, ini bukan salah abang lo, ini keputusan kita." balas nindi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Calya ikut masuk dalam pelukan itu, "Ailya ikutt!" seru Ailya berhambur ke pekukan mereka.
...★★★...
Kelima inti Arderos berjalan dengan penuh karisma di koridor SMAAB.
Banyak pasang mata yang menatap mereka berlima dengan tatapan memuja.
"Anjir! Kak Astra makin cakep aja."
"Kak Bumi nggak kalah cakep."
"Apalagi Jaya, aduhh jadi pusing euyy."
"Satya jadiin aku yang ke dua juga nggak papa."
"Arka, kamu mau permen nggak? Kaka punya loh, tapi tuker yah sama kaka kamu itu."
Arka membulatkan matanya, dia menatap garang siswi yang tadi menawarinya permen, "Abang gue limited edition! masa di tuker pake permen."
"Aaaa... Gemes banget mukanyaa!!"
"Arka ayo masuk ke tas kaka!"
Bukanya takut dengan tatapan garang Arka, mereka justru semakin menjadi menggodanya, "Astra, kok mereka nggak takut sama gue?" bisik Arka pada Astra yang berjalan di sampingnya.
"Itu karena lo nggak cocok marah-marah," balasnya.
Arka mengetuk-ngetuk dagunya, "Terus biar pada takut sama gue, gue harus apa?" tanyanya.
"Nggak ada, lo nggak cocok jadi bad boy. Lo cocok nya jadi bayi nya Arderos aja udah, kaga usah aneh-aneh." bukan Astra yang menjawab melainkan Satya.
"Ck, bang Sat! Gue kan mau di takutin."
Jaya yang sedari tadi diam menepuk kepala Arka, "Biar apa cill?"
"Biar mereka nggak bisa nindas gue lah! " ceplosnya.
Bumi menghentikan langkahnya, menatap Arka, "Bully? Lo di Bully? Siapa yang bully lo? " Bumi berkata tanpa jeda, begitu juga dengan mereka semua yang menatap Arka horor.
Arka dengan susah payah meneguk ludahnya yang tercekat di tenggorokan, "E-eh, bukan gitu maksud gue, gue kan dulu pernah di bully pas SD hehe."
Mereka bernafas lega, mereka kira ada yang berani membully bungsunya Arderos. Jika iya mereka tak akan tinggal diam.
"Tenang aja Ar, selagi masih ada kita lo nggak perlu jadi orang lain," kata Bumi.
Mereka menganggukan kepalanya, "Ck, iya, ya, gue mah apa atuh," dumal Arka berjalan mendahului mereka berempat.
Satya berlari merangkul Arka dari belakang, begitu juga di susul yang lainnya. Saling merangkul satu sama lain si koridor, tentunya apa yang mereka lakukan menarik perhatian banyak siswa dan siswi.
...💫TBC💫...
...Jangan lupa bahagia kalian★...
...Ada yang mau di sampaikan buat,...
...Dava?...
...Sama Arderos juga?...
...Jangan lupa komen dan vote nya yah:)...
...Oke, segini dulu ya guys....
...Lope dari Aku💫...