SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. PENGEJARAN
Mesin mobil Theo meraung keras, memecah malam Los Angeles yang penuh cahaya dan kebisingan. Lampu-lampu jalan membentuk garis-garis panjang yang berkelebat di kaca depan, sementara deretan kendaraan lain berlalu-lalang tanpa peduli pada kepanikan yang kini menguasai dua orang di dalam mobil itu.
Theo menggenggam setir dengan kuat.
Terlalu kuat.
Rahangnya mengeras, napasnya berat, matanya menyapu jalanan dengan fokus nyaris berbahaya. Mobil-mobil hitam, putih, abu-abu, semuanya terlihat sama di malam seperti ini. Lalu lintas padat. Klakson bersahut-sahutan. Lampu merah dan hijau bergantian menyala seolah mengejek waktu yang terus berjalan.
"Brengsek!" gerutu Theo, suaranya tertahan amarah. "Terlalu banyak mobil. Bagaimana aku bisa menemukannya di tengah kekacauan seperti ini?"
Celina duduk tegang di kursi penumpang, ponsel masih menempel di telinganya. Panggilan belum terputus. Detik demi detik terasa lebih panjang dari biasanya.
Awalnya hanya suara Elina, Mama Theo yang terdengar panik di seberang sana. Lalu, suara lain masuk ke sambungan.
Suara berat, tenang, dan tegas.
"Celina? Theo?"
Celina menelan ludah. "Uncle? Syukurlah kau ada di rumah."
Hans Morelli, Papa Theo kimi mengambil alih panggilan setelah Elina, dengan suara bergetar, mengatakan bahwa Celina melihat Leo dan Lucy berada dalam situasi janggal di sebuah mobil asing.
"Katakan padaku dengan pelan dan jelas," ucap Hans. "Apa yang kau lihat."
Celina menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tetap fokus meski jantungnya berdetak liar.
"Aku melihat Leo dan Lucy di sebuah mobil hitam," katan Celina cepat namun terstruktur. "Lucy memukul kaca, seperti meminta tolong. Mobilnya bergerak ke arah timur ... sekarang kami berada di East Alameda Street, mendekati persimpangan dengan Santa Fe Avenue."
Theo langsung membelokkan setir mengikuti arahan itu.
Hans tidak langsung menjawab.
Namun ketika suaranya terdengar kembali, ketenangannya justru membuat Celina sedikit lebih stabil.
"Aku akan mengirimkan bantuan secepat mungkin. Tim keamanan keluarga sudah bergerak. Celina, tetap aktifkan ponselmu. Jangan matikan GPS dan jangan matikan panggilan," perintah Hans.
"Baik," jawab Celina tanpa bantahan.
"Dengarkan aku baik-baik," lanjut Hans. "Kalian jangan bergerak sembarangan."
Theo mendengus kesal, jelas mendengar perkataan itu lewat speaker.
Hans melanjutkan dengan nada lebih dalam. "Jika kalian bertindak gegabah, nyawa Lucy dan Leo bisa dijadikan sandera. Ini bukan tindakan spontan, sudah jelas."
Celina menutup mata sejenak.
"Ini penculikan yang direncanakan," ujar Hans lagi. "Atau setidaknya, penculikan yang menunggu waktu yang tepat. Fakta bahwa kita tahu posisi mereka sekarang adalah keuntungan. Jangan hancurkan itu."
Celina mengangguk meski Hans tidak bisa melihatnya. "Kami mengerti," katanya lirih.
Theo mengepalkan satu tangan, memukul setir dengan keras.
"Tenang, Theo," suara Hans terdengar tegas namun penuh kendali. "Kemarahanmu tidak akan membantu mereka sekarang. Mau harus tenang."
Theo menarik napas kasar. Tahu bahwa ayahnya itu benar.
Mobil terus melaju, menyusuri jalanan yang mulai semakin sepi. Gedung-gedung tinggi perlahan tergantikan oleh bangunan rendah, lampu-lampu kota meredup, dan suasana berubah menjadi dingin dan asing.
Lalu ...
"Itu!" seru Celina tiba-tiba.
Tangannya terangkat, menunjuk ke depan. Dan Theo langsung melihat ke arah yang Celina tunjuk.
"MOBIL ITU!" seru Celina lagi.
Theo mendongak tajam.
Di kejauhan, sebuah Chevrolet Malibu hitam melaju cepat, membelok ke jalur yang lebih sempit.
Tanpa ragu, Theo menginjak gas dalam-dalam.
Mesin meraung keras, mobil mereka melesat, jarak menyempit sedikit demi sedikit.
"Uncle?" Celina berbicara cepat ke ponsel. "Kami melihat mobilnya. Kami mengejar."
"Jaga jarak" perintah Hans. "Jangan terlalu dekat. Jangan sampai mereka tahu kalian mengikuti."
Theo menggertakkan gigi, tapi menuruti.
Mobil hitam itu berbelok tajam ke sebuah jalan yang nyaris tidak diterangi lampu. Jalanan rusak. Aspal retak. Sekitar mereka, hanya gudang-gudang tua yang berdiri bisu seperti kerangka raksasa yang ditinggalkan.
Area pergudangan.
Terbengkalai.
Sunyi.
Mobil hitam itu akhirnya melambat ... lalu berhenti.
Theo ikut memerlambat laju, memarkirkan mobilnya di balik bayangan sebuah truk tua yang berkarat.
Celina langsung menunduk sedikit, jantungnya nyaris meloncat keluar dari dada.
"Uncle?" bisiknya cepat ke ponsel. "Kami sampai. Area pergudangan. Mobil itu berhenti."
"Baik," suara Hans tetap tenang. "Jangan turun. Jangan mendekat. Tetap di posisi aman. Bantuan sedang menuju ke sana."
Celina mengangguk, meski tenggorokannya terasa kering.
Theo mengintip dari balik kaca depan.
Dan saat itulah ...
Pintu mobil hitam itu terbuka.
Satu per satu, dua sosok kembar ditarik keluar.
Leo.
Lucy.
Dengan jelas terlihat, meski dalam cahaya temaram, kedua adik Theo itu dibawa paksa. Lucy meronta, tangannya dipegang kuat oleh seorang pria bertubuh besar. Leo berusaha menahan, tapi segera ditarik lebih kasar.
Theo membeku.
Detik berikutnya, ia membuka pintu mobil dengan gerakan refleks.
"Aku akan-"
Namun sebelum suara itu sempat keluar dari tenggorokannya, tangan Celina bergerak cepat.
gadis itu menarik Theo kembali ke dalam mobil, membekap mulutnya dengan satu tangan, menahan tubuhnya dengan seluruh kekuatannya.
"Jangan!" ujar Celina panik. "Theo, jangan berisik! Ingat kata Papamu!"
Theo berontak, napasnya memburu, matanya merah oleh amarah dan ketakutan.
Celina menatapnya lurus, matanya bergetar namun tegas.
"Kalau kau keluar sekarang," bisik Celinalagi, "mereka bisa langsung menyakiti Lucy dan Leo. Tolong ... dengarkan aku."
Theo menegang.
Tangannya mengepal keras, urat-urat di lehernya menonjol. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Celina takut ia tidak akan bisa menahannya.
Lalu perlahan ...
Perlawanan itu mereda.
Theo mengendur. Ia menutup mata, menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil.
Celina segera melepaskan tangannya dari mulut Theo.
"Maaf," ucap Theo dengan suara rendah, nyaris pecah. "Aku tidak berpikir."
Celina menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku tahu kau khawatir."
Mereka duduk diam di dalam mobil, bersembunyi dalam bayangan, menyaksikan dari kejauhan ketika Leo dan Lucy digiring masuk ke salah satu gudang tua.
Pintu besi gudang itu tertutup perlahan.
Bunyi dentingnya menggema panjang di udara malam.
Celina menelan ludah. "Kita harus bagaimana sekarang?" bisiknya.
Theo mengusap wajahnya dengan kasar. "Kita menunggu. Seperti kata Papa."
Namun nada suara Theo sarat frustrasi.
"Kau yakin bantuan akan cepat sampai?" tanya Celina lirih.
Theo mengangguk, meski sorot matanya gelap. "Papa tidak pernah main-main soal keluarga."
Mereka terdiam lagi.
Keheningan kali ini terasa mencekik.
Gudang-gudang tua itu berdiri seperti saksi bisu, angin malam berembus membawa bau karat dan debu. Jauh di dalam dada Celina, rasa takut dan adrenalin bercampur menjadi satu, membuat tubuhnya gemetar halus.
Ia tidak sadar sejak kapan napasnya menjadi pendek-pendek.
Dan mungkin karena itu ...
Atau karena ketegangan yang terlalu lama tertahan.
Atau karena emosi yang saling berbenturan ...
Tiba-tiba, Theo menarik Celina mendekat.
Gerakannya cepat. Mendadak.
Sebelum Celina sempat bereaksi, tangan Theo sudah berada di belakang kepalanya.
Dan bibir Theo menyentuh bibir Celina.
Hangat.
Dalam.
Tak terduga.
Celina membeku.
Matanya membelalak.
Seluruh pikirannya kosong, lalu penuh secara bersamaan.
Apa?! batin Celina.
Detak jantungnya meledak di telinga.
Tubuhnya kaku, pikirannya berteriak.
Apa Theo sudah gila?! teriak Celina dalam hati.
Di tengah gudang terbengkalai.
Di tengah penculikan.
Di tengah bahaya.
Dan Theo mencium Celina?! Kenapa?!
keren 👍👍
" owh ini toh kisah black mantis "
kan kadang ada rider baru yg belum nemu buku lama, nemunya langsung buku sekuel buku sebelum nya, mau baca buku lama dulu nanti pasti ketinggalan cerita yg sekarang, jujur aku rider yang begitu, selesai kan cerita baru setelah tamat untuk lebih paham baru cari buku pertama nya, kadang ada penulis yang pembaca baru penasaran kan
" kalo penasaran sama cerita masa lalu baca aja yg judul nya bla bla "
haisss jujur kadang sebel aku 😁😁
HAHAHAHA 🤣🤣🤣
ketawa dulu sebelum di ajak perang 🥴🥴
makasih author untuk karya novelnya
Thor eiden belum ketemu jodohnya
apalagi Cedric
piye toh🤣🤣
but anyway
terimakasih atas cerita indah nya 😍