NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pengantin Yang Membisu

Hari itu akhirnya tiba. Matahari pagi merangkak naik, menyinari tenda-tenda bernuansa putih dan emas yang telah berdiri megah di halaman rumah Kyai Hasyim. Aroma bunga melati dan sedap malam menguar kuat, bercampur dengan wangi masakan yang mengepul dari dapur umum di belakang rumah. Suara sholawat yang dilantunkan tim hadrah samar-samar terdengar, menjadi latar suara bagi sebuah peristiwa sakral yang akan mengubah hidup Hannah selamanya.

Di dalam kamar pengantin yang disulap menjadi ruang rias, Hannah duduk terpaku di depan cermin besar berbingkai ukiran kayu jati. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, namun nyaris tak mengenali sosok yang balik menatapnya itu.

Gadis di dalam cermin itu tampak begitu sempurna. Wajahnya yang biasanya polos tanpa riasan, kini dipoles halus oleh tangan terampil perias pengantin. Bedak tipis menyamarkan lelah di bawah matanya, perona pipi memberikan rona segar, dan lipstik berwarna peach lembut menghiasi bibirnya.

Tubuhnya dibalut gaun pernikahan berwarna putih bersih berbahan satin premium yang dilapisi lace prancis yang rumit. Gaun itu tidak ketat, namun potongannya yang elegan membuat tubuh mungil Hannah terlihat jenjang dan anggun. Jilbabnya ditata sederhana namun mewah, dengan untaian melati segar yang menjuntai di bahu kanan, menyebarkan wangi yang menenangkan sekaligus memusingkan bagi Hannah. Di atas kepalanya, sebuah mahkota kecil berkilauan tertimpa cahaya lampu rias, menjadi simbol status barunya nanti: seorang ratu sehari, dan seorang istri seumur hidup.

"Masya Allah, cantiknya putri Umi..."

Suara Umi terdengar bergetar dari ambang pintu. Hannah menoleh perlahan. Umi berdiri di sana, mengenakan gamis seragam keluarga berwarna champagne, matanya berkaca-kaca menahan haru.

Umi berjalan mendekat, lalu memeluk bahu Hannah dari belakang, menatap wajah putrinya lewat pantulan cermin.

"Kamu cantik sekali, Nduk. Seperti bidadari," bisik Umi, satu tetes air mata lolos membasahi pipinya.

Hannah mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. "Terima kasih, Mi."

Hanya itu. Hanya dua kata itu yang mampu keluar. Sejak bangun tidur tadi pagi, Hannah seolah kehilangan kosa katanya. Ada batu besar yang mengganjal di tenggorokannya—campuran antara rasa gugup, takut, sedih meninggalkan orang tua, dan kecemasan menghadapi malam-malam mendatang.

"Jangan tegang begitu, Sayang. Senyum sedikit, ya? Hari ini hari bahagiamu," bujuk sang perias yang sedang membetulkan letak jarum pentul di jilbab Hannah.

Hannah memaksakan sudut bibirnya naik, membentuk senyum simpul yang sopan namun kosong. Di dalam hatinya, ia berteriak. Ia ingin lari ke pelukan Umi, menangis seperti anak kecil, dan berkata bahwa ia belum siap. Tapi ia tahu itu tidak mungkin. Keputusan telah dibuat. Janji telah terucap.

"Mempelai pria sudah datang," suara panitia pernikahan terdengar dari luar, diiringi suara tabuhan rebana yang makin kencang. "Ijab qabul akan segera dimulai."

Jantung Hannah seakan berhenti berdetak sedetik, lalu berpacu dua kali lebih cepat.

Prosesi akad nikah dilangsungkan di masjid pesantren yang letaknya tak jauh dari rumah. Hannah tidak duduk bersanding dengan Akbar saat akad. Ia menunggu di ruangan khusus yang dibatasi tirai, ditemani Umi dan saudara-saudara perempuannya.

Dari balik tirai tipis itu, Hannah bisa mendengar suara mikrofon berdengung. Ia mendengar suara Abah yang bergetar namun tegas, membacakan khutbah nikah dan syarat-syaratnya. Lalu, suara itu terdengar.

Suara Muhammad Akbar.

"Saya terima nikah dan kawinnya Hannah Humaira binti Hasyim Asy'ari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Satu tarikan napas. Lantang. Tegas. Tanpa keraguan sedikit pun.

"Sah?" tanya penghulu.

"Sah!" jawab para saksi serempak.

"Alhamdulillah..."

Doa penutup dilantunkan, dan saat itulah air mata Hannah jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan air mata penyesalan, melainkan air mata pelepasan. Statusnya telah berubah. Tanggung jawab Abah atas dirinya kini telah berpindah sepenuhnya ke pundak laki-laki yang baru saja mengucap janji suci itu.

Setelah doa selesai, Hannah dituntun keluar untuk menemui suaminya.

Saat Hannah melangkah memasuki area utama masjid, semua mata tertuju padanya. Gumaman kagum terdengar riuh rendah. Tapi Hannah hanya menunduk, menatap ujung sepatu selop putihnya yang berhias payet.

Ia merasakan seseorang berdiri di hadapannya. Aroma parfum maskulin yang lembut campuran musk dan kayu cendana menyapa indra penciumannya, berbeda dengan wangi melati yang ia kenakan.

"Assalamualaikum, Istriku," sapa suara berat itu.

Hannah mendongak perlahan. Di hadapannya, Muhammad Akbar berdiri gagah dengan beskap putih senada dan peci putih. Wajahnya bersinar, senyum lega terukir jelas di sana.

Dengan tangan gemetar, Hannah meraih tangan besar Akbar, lalu mencium punggung tangan itu sebagai tanda bakti pertamanya. Kulit tangan Akbar terasa hangat dan kasar tangan seorang pekerja keras. Sebagai balasan, Akbar meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun Hannah, membacakan doa keberkahan untuk istri barunya.

Sentuhan itu terasa asing, namun anehnya, meneduhkan.

Resepsi berjalan meriah. Ratusan tamu silih berganti naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Teman-teman pondok Hannah datang bergerombol, menggoda Hannah yang kini sudah menjadi "Ibu Nyai Muda".

"Ciee, yang sudah nikah!" goda salah satu sahabatnya. "Jangan lupa cerita-cerita ya!"

Hannah hanya tersenyum tipis, mengangguk sekilas. Ia terlihat cantik luar biasa di bawah sorot lampu pelaminan, bagaikan boneka porselen yang hidup. Namun, orang-orang yang jeli bisa melihat bahwa binar di mata Hannah meredup. Ia banyak diam. Ia menjawab pertanyaan tamu dengan seadanya. Tubuhnya ada di sana, menyalami tamu, tapi pikirannya melayang entah ke mana.

Rasa lelah fisik mulai mendera. Kakinya pegal karena berdiri terlalu lama dengan sepatu hak tinggi, dan kepalanya mulai pening karena beratnya hiasan di kepala serta riuhnya suara sound system.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba Hannah merasakan sebuah tangan menyentuh sikunya pelan.

Hannah menoleh. Akbar menatapnya dengan pandangan khawatir.

"Kamu capek?" tanya Akbar setengah berbisik, agar tak terdengar tamu yang sedang antre foto.

Hannah mengangguk kecil, tak berani mengeluh. "Sedikit, Mas."

Akbar tidak menjawab dengan kata-kata manis. Sebaliknya, ia memberikan kode pada panitia untuk menahan antrean tamu sebentar. Lalu, dengan sigap ia mengambil botol air mineral yang sudah disediakan di bawah kursi pelaminan, menusukkan sedotannya, dan menyodorkannya pada Hannah.

"Minum dulu. Jangan dipaksakan senyum kalau bibirmu kering," ujar Akbar pelan.

Hannah menerima botol itu dengan ragu. "Terima kasih."

Saat Hannah minum, Akbar menggeser tubuhnya sedikit ke depan, seolah menjadi tameng agar Hannah tidak terlihat oleh tamu saat sedang minum. Gestur kecil itu perlindungan sederhana itu membuat hati Hannah berdesir.

"Tahan sebentar lagi ya," bisik Akbar lagi setelah Hannah selesai minum. "Setelah sesi ini selesai, kita bisa istirahat. Kalau kamu pusing, pegang saja lenganku. Jangan ditahan sendiri."

Hannah menatap profil samping wajah suaminya. Akbar tidak menuntutnya untuk tampil sempurna melayani tamu. Akbar justru peka terhadap ketidaknyamanannya.

Kebisuan Hannah perlahan mencair, bukan menjadi kata-kata, melainkan menjadi rasa hormat. Di tengah ketakutannya akan dunia pernikahan, Hannah menyadari bahwa ia tidak sendirian di atas panggung sandiwara ini. Ada Akbar di sampingnya. Sosok asing yang kini halal baginya, yang ternyata memiliki bahu cukup kokoh untuk ia jadikan sandaran saat kakinya mulai goyah.

Meski mulutnya masih terkunci rapat karena gugup, tangan Hannah tanpa sadar bergerak, mencengkeram ujung jas Akbar sedikit lebih erat. Dan Akbar, yang merasakan pergerakan kecil itu, menyambutnya dengan menyelipkan jari-jarinya di sela jari Hannah, menggenggamnya erat di bawah buket bunga, memberikan sinyal bisu Aku di sini. Kita hadapi ini sama-sama.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!