Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Hangat di Tengah Badai Kristal
Pagi itu, cahaya matahari yang menembus jendela paviliun tidak lagi terasa dingin. Di atas ranjang giok, Jian Wuyou duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra.
Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, rona wajahnya telah kembali. Di pelukannya, Jian An tertidur pulas setelah kelelahan bermain, sementara Jian Han duduk di tepi ranjang sambil membantu ayahnya memegang mangkuk obat.
Li Hua masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi bubur gandum dan bunga mawar segar. Langkah kakinya kini ringan, tidak ada lagi keraguan atau tatapan kosong yang menghantui. Setiap kali matanya bertemu dengan mata Jian Wuyou, ada percikan cinta yang begitu dalam, seolah-olah mereka sedang merayakan kepulangan dari kematian.
"Minumlah selagi hangat, suamiku," ucap Li Hua lembut. Ia duduk di sisi ranjang, mengambil alih mangkuk obat dari tangan Jian Han.
Jian Wuyou menatap istrinya tanpa berkedip. "Melihatmu mengingatku saja sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan semua lukaku,Li Hua."
Li Hua tersenyum manis, meski matanya sedikit berkaca-kaca mengingat betapa dinginnya ia memperlakukan suaminya beberapa hari yang lalu.
Ia menyuapkan bubur itu dengan penuh kasih. "Jangan bicara gombal dulu. Kau hampir hancur karena melawan para jenderal itu. Jika bukan karena Tuan Muda Jiwu..."
Mendengar nama Jiwu, Jian Wuyou terdiam sejenak. Ia memejamkan mata dan masuk ke dalam ruang kesadarannya.
Di sana, di tengah lautan energi ungu yang tenang, sosok Jiwu duduk bersila. Tubuhnya kini tampak transparan, lebih seperti proyeksi cahaya daripada fisik.
"Jangan pasang wajah sedih itu, Kak," suara Jiwu bergema di pikiran Wuyou. "Aku tidak mati. Aku hanya kembali ke asalku, menyatu dengan jiwamu untuk memperkuat Domain-mu. Selama kau hidup, aku akan selalu ada di sini sebagai bayanganmu."
"Terima kasih, Jiwu. Tanpamu, aku tidak akan bisa melindungi mereka," jawab Wuyou dalam hati.
"Nikmatilah waktu ini, Kak. Tapi ingat, kau sekarang berada di Tahap Menengah Domain Kehendak. Energi yang kau lepaskan saat membunuh para Jenderal itu telah mengirimkan riak ke seluruh semesta. Langit tidak akan diam melihat 'pencuri waktu' sepertimu hidup bahagia."
Jian Wuyou membuka matanya kembali. Ia melihat Mei Lian sedang mengajari Jian Han cara menulis kaligrafi di meja seberang, sementara Li Hua sedang mengusap kepala Jian An yang tertidur.
"Li Hua," panggil Wuyou pelan.
"Ya?"
"Setelah aku benar-benar pulih, kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. Puncak gunung ini sudah tercium oleh otoritas langit.
Aku ingin membawa kalian ke sebuah tempat tersembunyi, sebuah dimensi saku yang kubangun dengan kekuatan Domain-ku. Di sana, waktu berjalan lebih lambat, dan tidak ada dewa maupun iblis yang bisa melacak kita."
Li Hua meletakkan mangkuknya dan menggenggam tangan Jian Wuyou. "Ke mana pun kau pergi, aku akan ikut. Aku sudah pernah kehilanganmu sekali karena takdir, dan aku lebih baik mati daripada harus melupakanmu lagi."
Jian Wuyou menarik Li Hua ke dalam pelukannya, mencium kening istrinya dengan syahdu.
Di luar, salju mulai turun dengan lembut, namun di dalam paviliun itu, api cinta dan kehangatan keluarga terasa begitu kokoh, membentengi mereka dari segala ancaman yang mengintai di balik awan.
Namun, jauh di atas lapisan langit ketujuh, di sebuah aula emas yang melayang di antara bintang-bintang, seorang pria dengan jubah putih bersih dan mahkota duri cahaya sedang menatap sebuah cermin air. Di dalam cermin itu, tampak bayangan Jian Wuyou yang sedang memeluk keluarganya.
"Seorang manusia mencapai Tahap Menengah Domain Kehendak..." gumam pria itu. Suaranya mengandung otoritas yang bisa meruntuhkan sebuah dunia. "Dan dia berani menyentuh para Jenderal Penghakiman. Kirimkan perintah ke Sekte Dewa Abadi. Katakan pada mereka, ada iblis yang menyamar sebagai manusia di Pegunungan Kristal. Musnahkan dia, atau aku akan memusnahkan sekte mereka."
Badai yang lebih besar sedang berkumpul, namun untuk malam ini, Jian Wuyou hanya ingin menjadi seorang ayah dan suami yang bahagia.