Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan selalu membutuhkanmu
Tok… tok… tok
“Ra… Ra, buka pintunya. Ini aku Elang.”
Suara itu menyusup pelan di tengah sunyinya malam, menarik Nura dari tidur lelapnya.
Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, ia mengerjap dan menatap jam dinding, jarum pendeknya nyaris menyentuh angka dua.
Saat pintu terbuka, Elang berdiri di sana dengan bahu merosot. Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi ada genangan air mata yang ia tahan sekuat tenaga.
“Ra… Pak Hendra… Ini semua salahku,” ucap Elang terbata, suaranya parau dan pecah. “Seharusnya aku tidak… surat itu, Ra. Aku yang mengirimnya ke sana.”
Nura terpaku di ambang pintu, bingung. Ia tidak mengenal siapa Pak Hendra, namun melihat kondisi Elang yang sehancur ini, ia tahu sesuatu yang mengerikan telah terjadi. “Pak… tenang dulu. Ada apa sebenarnya?” tanya Nura pelan, mencoba meraih lengan Elang untuk menenangkannya.
Namun, Elang tidak menjawab. Ia menatap Nura dengan tatapan kosong yang kemudian berubah menjadi sorot penuh luka. Rasa bersalah karena telah menjadi alat bagi ‘iblis’ di kantornya untuk menghancurkan Pak Hendra membuat dadanya terasa sesak, hampir meledak. Ia butuh sesuatu untuk membuktikan bahwa ia tidak sendirian. Ia butuh pengalihan dari rasa sakit yang mencekik lehernya.
Tanpa peringatan, Elang meringsek maju. Ia mencengkram tengkuk Nura dan membungkam bibir wanita itu dengan ciuman kasar dan menuntut, bukan ciuman manis melainkan sebuah pelarian penuh keputusasaan. Elang seolah sedang menyalurkan kegelisahan, amarah dan rasa bersalahnya melalui tautan itu.
Nura tersentak, tangannya sempat mendorong dada Elang karena terkejut. Namun, saat ia merasakan tubuh Elang yang bergetar hebat dan mendengar isakan tertahan di sela ciuman mereka, dinding pertahanan Nura runtuh. Ia berhenti melawan. Rasa kasihan yang mendalam mengalahkan logika dan batasan yang selama ini ia bangun. Nura membiarkan dirinya ditarik ke dalam emosi Elang, menyerah pada tuntutan bibir pria yang sedang hancur itu.
Elang seolah kehilangan kendali. Ia meraup bibir Nura, menghisap dan melumatnya dengan intensitas yang dalam. Sesekali ia menarik dan menyesap bibir atas dan bawah Nura bergantian, menciptakan sensasi gigitan kecil yang membuat desis napas mereka beradu di antara keheningan malam.
Tangan kirinya tetap kokoh mencengkram tengkuk Nura, menahan agar ia bisa memperdalam ciumannya. Sementara itu, lidah Elang mulai bermain lincah, menjelajahi setiap sudut rongga mulut Nura.
Tidak cukup sampai di situ, tangan kanan Elang melingkar posesif di pinggang Nura. Ia menarik tubuh mungil itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, membuat Nura bisa merasakan detak jantung Elang yang berdegup kencang, sama tidak beraturannya dengan degup jantungnya sendiri.
Setelah beberapa saat yang menyesakkan, tautan itu terlepas. Elang tidak menjauh, ia justru menjatuhkan kepalanya di bahu Nura, menyembunyikan wajahnya di sana. Napasnya yang tadi memburu perlahan mulai teratur, meski tubuhnya masih sesekali tersedak Isak yang tertahan.
Nura tetap mematung, tangannya menggantung ragu di udara sebelum akhirnya memberanikan diri mengusap punggung Elang dengan gerakan kaku.
Untuk sejenak Nura membiarkan Elang menumpahkan emosinya, setelah sedikit tenang ia menuntun Elang untuk duduk di pinggir ranjang. Elang menumpu kedua siku di atas lutut dan menenggelamkan wajah di telapak tangan. Ruangan itu hanya diterangi lampu tidur yang temaram, menciptakan bayangan panjang yang sunyi.
“Pak Hendra meninggal tadi pagi, Ra,” suara Elang terdengar pelan hampir berupa bisikan. “Dia bunuh diri di dalam tahanan karena diancam. Cucunya… mereka mengancam nyawa cucunya kalau dia tidak mau mengaku bersalah.”
Nura menarik napas dalam. Ia duduk di kursi kayu kecil di depan Elang, menjaga jarak yang dianggapnya aman, meski hatinya berdenyut sakit melihat pria di depannya begitu hancur.
“Aku yang menjebloskannya ke sana. Aku pikir aku sedang menegakkan keadilan, tapi ternyata aku cuma jadi pion untuk membunuh orang baik,” lanjut Elang dengan tawa getir yang menyakitkan. “Dia meninggalkan surat. Dia bilang iblis itu sangat dekat denganku, Ra. Aku tidak tahu siapa lagi yang bisa kupercaya.”
Elang mendongkak, menatap Nura dengan mata yang basah. Keangkuhan pria pengusaha itu telah luruh sepenuhnya.
“Saat Rian memberitahuku, aku takut sekali. Seakan apa yang terjadi pada Tari terulang kembali…,” ujar Elang dengan air mata yang jatuh di pipinya. “Tapi anehnya, di tengah semua kekacauan itu, yang ingin aku temui cuma kamu. Aku hanya ingin pulang ke kamu.”
Nura terdiam, tenggorokannya tercekat. Kalimat ‘pulang ke kamu' itu menghantam semua tembok pertahanan yang sudah dibangunnya bertahun-tahun. Suara-suara tentang tahu diri dan jaga batasan mendadak samar, kalah oleh getaran jujur dari suara Elang.
“Saya bukan tempat yang aman, Pak,” sahut Nura parau, jarinya meremas ujung pakaiannya sendiri. “Saya cuma sementara… kalau Kanara sudah–”
“Jangan pergi, Ra. Bukan untuk Kanara, tapi untukku.” Elang bangkit dari duduknya, berlutut di depan Nura sehingga posisi mata mereka sejajar. Ia mengambil tangan Nura, menggenggamnya. “Suatu saat, aku yakin, Kanara tidak lagi membutuhkan terapis, tapi aku… aku akan selalu membutuhkanmu untuk waktu yang lama.”
Nura menatap mata Elang, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanya luka yang berteriak untuk disembuhkan.
Nura tertegun. Genggaman tangan Elang terasa panas, kontras dengan hatinya yang masih dibayangi rasa takut. Namun, melihat pria yang biasanya tangguh kini berlutut di depannya dengan sisa air mata, pertahanannya habis.
Tangan Elang melepas genggamannya, membingkai wajah Nura. “Tolong jangan tolak aku, Ra,’’ bisik Elang nyaris seperti rintihan.
Nura mendongkak, menatap mata Elang. Di sana, ia melihat cerminan luka yang sama, rasa sepi karena sendirian. Untuk pertama kalinya, Nura memilih mengabaikan suara-suara di kepalanya yang meneriakkan kata ‘tahu diri’. Ia membiarkan hatinya mengambil alih.
Nura perlahan mengangkat tangannya, menyentuh pergelangan tangan Elang yang berada di wajahnya. “Saya di sini, Pak.”
Mendengar itu, Elang seolah mendapat izin yang selama ini ia cari. Ia kembali meraup bibir Nura, namun kali ini ciumannya tidak lagi kasar atau penuh tuntutan seperti sebelumnya. Ciuman itu terasa lambat dan lembut. Ada getaran rindu yang mendalam di sana.
Elang terus membuai Nura dengan permainan bibir dan lidahnya yang semakin intens. Tanpa sadar, sebuah desahan lolos dari sela bibir Nura, suara yang justru membuat Elang semakin dalam memburu dan mengunci tautan mereka.
Nura mulai merasa kewalahan. Ia kesulitan mengimbangi ritme Elang yang seolah tanpa lelah meraup napasnya. Tangannya yang gemetar hanya bisa meremas kuat bahu Elang, mencoba mencari pegangan di tengah sensasi yang membuatnya pusing.
Sadar Nura mulai kehabisan napas, Elang perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Nura terengah-engah, dadanya naik-turun dengan cepat meraup oksigen. Wajahnya merah padam, sementara matanya terlihat sayu karena efek ciuman yang begitu dalam.
Elang menatap wajah Nura yang tampak rapuh namun cantik di bawah cahaya lampu. Ia menarik napas panjang, menstabilkan emosinya sendiri. Kemudian, dengan sangat lembut, ia mengecup kening Nura cukup lama, menyalurkan rasa hormat dan kasih sayang yang tulus.
“Terima kasih, Ra,” bisik Elang pelan tepat di keningnya. “Terima kasih karena mau meneimaku.”
Nura tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata, merasakan kehangatan Elang yang perlahan meredakan gemuruh di dadanya, meskipun Nura tidak tahu apa yang akan terjadi esok.
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍