NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

PILIHAN ANTARA KARIR DAN KEHAMILAN

Sinar matahari pagi menerobos melalui tirai kaca kamar tidur, menyinari wajah Alya yang baru saja bangun dari tidur yang nyenyak. Perutnya yang kini sudah terlihat jelas memberikan rasa nyaman yang luar biasa setiap kali dia menyentuhnya dengan lembut – sebuah pengingat akan keberadaan buah hati yang sedang tumbuh sehat di dalam kandungannya. Dia berdiri dengan hati-hati dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas paginya, merasakan bagaimana tubuhnya semakin berubah seiring dengan perkembangan kehamilannya yang kini memasuki bulan kelima.

Di dapur, Sultan sudah sedang memasak sarapan pagi – bubur ayam yang lembut dengan telur balado dan acar mentimun segar, salah satu hidangan kesukaan Alya yang selalu membuatnya merasa lebih baik ketika mengalami mual pagi yang kerap datang. Saat Alya masuk ke dapur dengan baju tidur yang longgar, Sultan segera berbalik dan memberikan senyum yang penuh cinta.

“Selamat pagi, cintaku,” ujar Sultan dengan suara yang hangat, menyeka tangannya dengan serbet sebelum mendekati Alya dan mencium dahinya dengan lembut. “Bagaimana perasaanmu hari ini? Apakah mual paginya sudah tidak terlalu parah?”

Alya tersenyum dan mengangguk dengan rasa terima kasih yang dalam. “Lebih baik dari biasanya, Sayang,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Bau bubur ayamnya yang harum sudah membuat aku merasa lapar.”

Sultan membawanya ke meja makan yang telah disiapkan dengan rapi, menarik kursi untuknya dengan penuh kesopanan sebelum kembali ke kompor untuk mengambil mangkuk bubur yang hangat. Mereka makan sarapan dengan santai, berbincang tentang rencana hari itu – Alya akan pergi ke galeri seni untuk mempersiapkan perjalanan pameran fotografinya ke Surabaya minggu depan, sementara Sultan akan menghadiri rapat dengan pemerintah daerah tentang program pendukung pelaku usaha kreatif yang akan diluncurkan bulan depan.

Namun ketika Alya menyebutkan tentang perjalanan ke Surabaya, ekspresi wajah Sultan menjadi sedikit serius. Dia menurunkan sendoknya dan melihat ke arah Alya dengan mata yang penuh perhatian. “Sayang,” ujarnya dengan suara yang lembut namun tegas. “Aku ingin kita berbincang tentang sesuatu yang penting.”

Alya merasa sedikit heran melihat ekspresi suaminya yang tidak biasa. Dia menurunkan sendoknya juga dan memberikan perhatian penuh pada Sultan. “Apa yang terjadi, Sayang?” tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran. “Apakah ada masalah?”

Sultan mengambil tangan Alya dengan lembut dan memegangnya erat di atas meja. “Tidak ada masalah yang serius, cintaku,” jawabnya dengan suara yang penuh kasih sayang. “Namun aku merasa sudah saatnya kita membicarakan tentang pekerjaanmu dan kehamilannya. Aku ingin kamu berhenti bekerja dan fokus sepenuhnya dengan kehamilannya.”

Alya terkejut mendengar kata-kata tersebut. Matanya membesar sedikit dan dia merasa hati sedikit berdebar kencang. “Berhenti bekerja?” ujarnya dengan suara yang penuh kebingungan. “Tapi Sayang, pameran ke Surabaya sudah direncanakan sejak lama. Banyak orang yang telah menunggu dan mendukungnya. Selain itu, fotografi adalah bagian penting dari diriku.”

Sultan mengangguk dengan penuh pengertian, namun tetap memegang tangan Alya dengan erat. “Aku tahu itu sangat penting bagimu, cintaku,” ujarnya dengan suara yang penuh penghargaan. “Dan aku sangat bangga dengan semua pencapaianmu sebagai fotografer. Namun kehamilanmu saat ini membutuhkan perhatian ekstra. Perjalanan jauh ke Surabaya, aktivitas yang padat di galeri, serta stres yang mungkin kamu alami tidak baik untukmu dan untuk buah hati kita.”

Alya menarik napas dalam-dalam, merasakan bagaimana perasaan bercampur aduk di dalam hatinya. Dia sangat mencintai pekerjaannya sebagai fotografer – setiap foto yang dia hasilkan adalah bagian dari dirinya, sebuah bentuk ekspresi kreatif yang telah dia kembangkan selama bertahun-tahun. Namun di sisi lain, dia juga sangat mencintai buah hati yang sedang tumbuh di dalam dirinya dan ingin memberikan yang terbaik untuknya.

“Sayang, aku mengerti kekhawatiranmu,” ujar Alya dengan suara yang lembut, melihat langsung ke mata Sultan. “Tapi aku merasa aku bisa mengatur waktu dengan baik. Aku akan berhati-hati dan tidak akan memaksakan diri. Selain itu, kakak perempuan saya akan menemani saya ke Surabaya untuk membantu saya dalam segala hal.”

Namun Sultan tetap tidak tergoyahkan. Dia menggelengkan kepalanya dengan lembut dan memberikan tatapan yang penuh keseriusan. “Cintaku, ini bukan hanya tentang kemampuanmu untuk mengatur waktu,” ujarnya dengan suara yang semakin tegas. “Kesehatanmu dan kesehatan buah hati kita adalah yang paling penting bagiku. Aku tidak bisa melihatmu bekerja dengan keras dan mungkin membahayakan diri kamu sendiri serta anak kita. Aku sudah berbicara dengan tim kerja kamu di galeri – mereka siap untuk menangani semua urusan pameran tanpa kehadiranmu secara langsung. Kamu masih bisa memberikan arahan dari rumah dan memeriksa perkembangannya melalui telepon atau video call.”

Alya merasa hati sedikit sakit mendengar kata-kata suaminya. Dia tahu bahwa Sultan hanya ingin yang terbaik untuknya dan untuk anak mereka, namun rasanya sangat sulit untuk melepaskan pekerjaan yang telah menjadi bagian besar dari hidupnya. Dia mengingat kembali bagaimana dia harus bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pengakuan sebagai fotografer, bagaimana dia harus menghadapi berbagai rintangan dan tantangan untuk menunjukkan bahwa karyanya memiliki nilai dan makna yang mendalam.

“Sayang, fotografi bukan hanya pekerjaan bagiku,” ujar Alya dengan suara yang sedikit bergetar, mata mulai berkaca-kaca. “Ini adalah bagian dari diriku. Tanpanya, aku merasa seperti kehilangan sebagian dari diriku sendiri. Bagaimana aku bisa hanya duduk di rumah dan melakukan tidak ada apa-apa selama beberapa bulan ke depan?”

Sultan berdiri dan mendekati Alya, membungkusnya dengan pelukan yang erat dan penuh kasih sayang. Dia mencium bagian atas kepalanya dengan lembut sebelum berbicara lagi dengan suara yang lebih lembut. “Aku tahu betapa pentingnya fotografi bagimu, cintaku,” ujarnya dengan suara yang penuh penghargaan. “Tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya dalam hatimu. Namun saat ini, ada hal yang lebih penting yang membutuhkan perhatian penuhmu – yaitu kesehatanmu dan kelahiran yang sehat dari anak kita. Setelah anak kita lahir dan kamu merasa siap kembali bekerja, aku akan menjadi orang pertama yang mendukungmu dengan sepenuh hati. Bahkan aku akan membantu kamu merencanakan pameran fotografi yang lebih besar dan lebih baik dari sebelumnya.”

Alya menangis pelan di pelukan suaminya, merasakan bagaimana kata-katanya menghangatkan hati yang sedang bingung dan tertekan. Dia tahu bahwa Sultan benar – kehamilan dan kesehatan anak mereka adalah yang paling penting. Namun rasanya sangat sulit untuk melepaskan pekerjaan yang telah dia cintai selama ini.

Setelah beberapa saat berdiam dalam pelukan yang hangat, Alya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Sultan dengan mata yang sudah lebih tenang. “Baiklah, Sayang,” ujarnya dengan suara yang penuh kepastian. “Aku akan mengikuti saranmu. Aku akan berhenti bekerja dan fokus sepenuhnya dengan kehamilanku. Namun aku ingin tetap terlibat dalam persiapan pameran ke Surabaya secara tidak langsung. Aku ingin memastikan bahwa semua foto yang dipajang adalah yang terbaik dan bahwa cerita yang ingin aku sampaikan bisa sampai pada penonton dengan baik.”

Sultan tersenyum dengan senang hati dan mencium bibir Alya dengan lembut. “Itu adalah keputusan yang bijak, cintaku,” ujarnya dengan suara yang penuh kebahagiaan. “Aku akan membantu kamu dalam segala hal yang kamu butuhkan. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa lagi. Segala sesuatu akan kita atasi bersama-sama.”

Mereka melanjutkan sarapan dengan suasana yang sudah lebih ringan dan damai. Setelah selesai makan, Sultan membantu Alya membersihkan meja makan sebelum pergi ke kamar untuk mengambil laptopnya. Dia ingin membantu Alya menghubungi tim kerja di galeri untuk memberitahu mereka tentang keputusan ini dan merencanakan bagaimana Alya bisa tetap terlibat dalam persiapan pameran secara virtual.

Sementara itu, Alya pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa empuk, menyentuh perutnya dengan lembut sambil memikirkan segala hal yang telah terjadi. Meskipun dia masih merasa sedikit sedih harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara waktu, dia juga merasa tenang mengetahui bahwa dia telah membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan untuk anaknya. Dia memikirkan tentang bagaimana dia akan mengisi waktu luangnya selama kehamilan – mungkin dia akan menulis buku tentang pengalaman fotografinya, atau mengajarkan teknik fotografi kepada anak-anak muda di komunitas kreatif lokal, atau hanya menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman yang dia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!