NovelToon NovelToon
Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia
Popularitas:308.2k
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ada yang Berubah

Pintu kaca Montgomery Corp terbuka otomatis seperti sudah terlatih menyambut orang-orang penting. Lorong marmer yang mengilap memantulkan cahaya pagi, dibingkai pot anthurium putih yang mewah.

Celine Attea melangkah tanpa tergesa di antara karyawan yang lalu-lalang. Tumit stiletto-nya mengetuk marmer dengan ritmis, ritme seseorang yang sudah terbiasa menjadi pusat gravitasi ruangan. Rambut hitam kecoklatan jatuh lembut di bahu blazer kremnya. Wajahnya tersenyum, senyum tipis yang elegan. Sebuah gestur yang ia berikan ketika orang-orang melihatnya.

“Pagi, Bu Celine.”

“Selamat datang kembali, Bu.”

“Senang melihat Anda di sini.”

Setiap sapaan disambutnya dengan senyum yang persis sama. Ia tidak memperlambat langkah, tidak berhenti. Celine tahu tempatnya, dan Montgomery Group tahu siapa Celine Attea bagi keluarga pemilik gedung ini.

Lift eksekutif membawanya naik ke lantai President Director. Begitu pintu terbuka, aroma citrus dan cedarwood langsung menyergap, langkah khas ruangan Sean Montgomery yang berusaha menyeimbangkan formalitas dan kenyamanan.

Tanpa mengetuk, Celine melangkah masuk. Sean Montgomery, dengan setelan abu-abu produksi terbatas tahun ini menegakkan tubuhnya saat melihat siapa yang datang. Senyum pria itu muncul lebih dulu,

“Celine, kau datang…”

Celine berjalan mendekat seperti seorang putri yang pulang ke istananya sendiri.

“Om Sean…” suaranya sedikit manja.

Ia memeluk Sean ringan, elegan dan spontan, tanpa sedikit pun kecanggungan. Sean tentu tidak keberatan dengan itu.

“Kau mencari Ethan?” tanyanya sambil melepaskan pelukan.

“Ya.” Celine tersenyum, matanya berkilat kecil, “aku ingin mengajaknya makan siang.”

Kerutan di pelipis Sean jelas terlihat saat mencoba menahan senyum. “Semoga dia tidak mengunci diri dengan laporan lagi.”

“Kalau Ethan melakukan itu,” Celine menjawab sambil memiringkan kepala, “maka tugasku adalah menariknya keluar, Om.” Nada itu bercanda tapi sorot matanya tidak.

Sean mengangguk ke arah ruangan di sebelah.

“Dia ada di dalam. Mood-nya… yah, standar Ethan.”

Celine melangkah ke pintu kaca buram itu, mengetuk dua kali meski ia tahu Ethan tidak pernah benar-benar menganggap mengetuk sebagai syarat.

Ethan Solomon Montgomery berdiri di depan jendela besar yang langsung menghadap seluruh kota. Jas hitam yang rapi, membalut kemeja putihnya tanpa satu kerutan pun. Siluetnya tegas dengan bahu lebar, postur tegap, dengan aura seseorang yang memimpin dunia sejak usia yang terlalu muda.

Tanpa menoleh, ia tahu siapa yang datang.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Celine tersenyum, ia sudah mendengar kalimat itu ribuan kali. “Mengajakmu makan siang,” jawabnya ringan. Ia mendekat dan berdiri di sisinya. “Aku butuh Ethan Montgomery dari dunia kerja untuk istirahat satu jam saja.”

Ethan mengusap pelipisnya sebentar, sebuah tanda bahwa ia sedang menimbang sesuatu.

“Celine aku…”

“Ethan…” potong Celine sambil menatap matanya, bibirnya sedikit mengerucut manja, mata bulatnya berkedip dua kali seperti kebiasaan lamanya.

Ethan mendesah kecil. “Kau selalu seperti ini.”

“Aku tahu,” jawab Celine penuh kepuasan. “Dan kau tidak pernah bisa menolak aku.”

Ethan tidak menyangkal kebenaran itu.

Celine menggandeng lengannya tanpa bertanya. Gerakan itu natural, dan terlalu sering terjadi untuk dipertanyakan. Ethan tidak melepaskannya, ia hanya menyesuaikan langkah gadis itu berjalan menuju pintu keluar.

“Hi, Celine.”

Tepat di lorong, mereka berpapasan dengan si kembar. Raga mengenakan kemeja hitam dengan rambut gelap tersisir rapi, sementara Rega tampil lebih santai; kemeja biru muda dengan lengan tergulung.

“Hi, Twins. Makan siang bersama?”

Raga menghela napas kecil namun tetap tersenyum. Pertanyaan nona muda ini bukan penawaran melainkan perintah.

“Baiklah, sepertinya tidak ada ruang untuk menolak.”

Mereka berjalan bersama menuju lift. Celine tetap menggandeng Ethan dan dua pria lain berjalan di sisi lain, formasi yang tidak pernah berubah selama dua puluh satu tahun.

Saat pintu lift tertutup, Celine memiringkan kepala memandang mereka bertiga.

"Aku baru ingat sesuatu," katanya tiba-tiba.

"Apa?" Rega bertanya sambil menekan tombol lift.

"Formasi seperti ini…" Celine tersenyum kecil, “mengingatkanku kembali ke hari dimana kita ingin melihat hasil USG Serena."

Raga tertawa pendek. “Astaga, itu hari yang kacau.”

Rega mengangguk sambil mengingat kenangan masa kecilnya, “Kita bertiga berebut posisi di depan monitor, seperti anak ayam berebut induk.”

“Dan aku tidak menyangka bayi di layar USG itu, kini sudah melanglang buana ke berbagai negara.” Celine menimpali.

Mereka semua tersenyum kecuali Ethan yang tetap diam tanpa ekspresi. Tak ada yang berubah dari mereka selain umur dan kekuasaan yang semakin bertambah.

Lift eksekutif bergerak turun dengan keheningan mahal, memantulkan refleksi empat orang yang berdiri rapat namun tetap menjaga jarak sesuai hierarki tak tertulis mereka: Ethan, Celine, Raga, dan Rega.

Saat lift mencapai lantai dua puluh delapan, lampu indikator berkedip. Seseorang dari luar menekan tombol turun.

Pintu bergeser membuka. Seorang gadis muncul dengan langkah kaki yang pelan dan ragu. Rambut hitamnya diikat rapi, riasannya nyaris tidak terlihat. Ia hanya mengenakan bedak tipis dan sedikit pewarna di bibir, namun cukup untuk membuatnya tampak terawat dalam kesederhanaan. Ia menunduk kecil sebelum melangkah masuk.

Rega hampir mengangkat tangan untuk menegur sebab lift ini khusus petinggi dan tamu dalam daftar terbatas, tetapi suara lain lebih dulu mendahuluinya.

“Kau anak baru?” suara Celine terdengar mengintimidasi.

Gadis itu tersentak kecil, lalu tersenyum gugup. “Benar, Bu.” jawabnya menunduk lebih dalam.

Celine meliriknya dari ujung kepala hingga ujung sepatu. “Angkat dagumu dan tatap lawan bicaramu saat sedang berbicara, Nona.”

Gadis itu buru-buru mengangkat wajahnya. Mata cokelatnya bergetar, ada binar ketakutan yang terlihat menyedihkan.

“Siapa namamu?” tanya Celine.

“C-Cantika, Bu.”

Celine mengangguk kecil, seakan menilai dan menyimpan nama itu.

“Halo, Cantika. Lift ini khusus untuk lantai tiga puluh enam. Tapi karena kau masih baru, kami akan memakluminya. Dan jangan meminta maaf, ok.” Nada Celine santai namun tegas.

Cantika mencoba tersenyum gugup. Tatapannya bertemu dengan Ethan tanpa sengaja. Pandangan lelaki itu begitu datar dan menekan.

“S-saya…” Ia mencoba berbicara, tetapi suaranya terputus oleh kegugupannya sendiri.

Celine mencondongkan sedikit tubuhnya, bibirnya tersenyum tipis.

“Hei… jangan takut. Kami tidak menggigit.”

Rega tertawa kecil, Raga mengikutinya dengan tawa singkat yang sekilas melonggarkan ketegangan.

Lift berbunyi lembut saat mencapai lantai lobby. Begitu pintu terbuka, Celine kembali menggenggam lengan Ethan dengan elegan, menariknya keluar dengan langkah ringan dan percaya diri. Namun sebelum benar-benar melangkah pergi ia berhenti, lalu berbalik.

“Cantika.”

Cantika menegang, telapak tangannya terasa gemetar. Ia menatap Celine seperti seseorang yang menunggu penilaian akhir.

Celine melepaskan genggamannya dari lengan Ethan.

“Percaya dirilah! Kau ada di sini untuk bekerja. Jangan terlalu memikirkan banyak hal yang akan membuatmu terbebani.”

Kata-kata itu tidak sepenuhnya lembut, tapi bak angin segar di kepala Cantika. Ia mengangguk kuat, lalu melangkah cepat ke lorong menuju kantin perusahaan.

Raga dan Rega tersenyum bangga seperti kakak melihat adik yang mengambil langkah dewasa. Mereka merangkul Celine dari kanan dan kiri, lalu berbalik pergi.

Ethan tertinggal beberapa langkah di belakang, pria itu masih berdiri di depan lift yang perlahan menutup kembali. Matanya tetap tertuju pada Cantika dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Ketika gadis itu menghilang di lorong, ia baru bergerak menyusul tiga orang yang sudah lebih dulu melangkah.

1
olyv
astogee raga, batal kan adegan romantis nya 🤣🤣
astr.id_est 🌻
/Facepalm//Facepalm/ habis lah kau raga
Fbian Danish
ragaaaaa😡😡😡😡😡😡😡😡😡 gak tau mau kisseu kisseu apa😡😡😡😡😡😡😡
Nia nurhayati
hati aku sakit melihatmu dalam keadaan seperti ini celinn
Waode Daniati
aku pun marah sama raga🤣🤣ughhhh
Hope
doa mu kok maksa gitu Ethan 🤭
Fazira Aisyah
Raga sih ngeganggu orang aja, tuh kan Ethan jadi uring" ngan, Siap" di eksekusi kamu ya Raga 🤣🤣🤣 Ethan sedang marah besar tuh
JR Rhna
Raga..kamu cari mati🤣🤣
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
btw..emang si Ethan Celine Uda resmi cerai Thor?? kan pembatalan pernikahan blm JD diajukan?
Felycia R. Fernandez
wayolho Raga 🤣🤣🤣🤣🤣
kamu bakalan di eksekusi Ethan
🤣🤣🤣🤣🤣
ganggu aja kamu yaaa ,Ethan mau kiss kiss Celine malah gak jadi...
Felycia R. Fernandez
apa ini cincin pernikahan mereka kemaren???
Felycia R. Fernandez
ayo....ayo... babang tampan Ethan...
buktikan sampai darah penghabisan bahwa kamu tulus mencintai Celine..
kalau perlu belah lah dada mu untuk Celine 🤣🤣🤣🤣
Felycia R. Fernandez
masih donk...
bahkan sampai urat nadi...
cuma yaaa masih kecewa ma kamu aja...
Mak Mak Reader juga masih kesel ma kamu...
pengen timpuk otakmu dulu waktu sama Cantika...
Felycia R. Fernandez
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
dimaafkan atau gak Celine???
udah ngemis ngemis gtu lho Ethan nyaaa...
maafkan ya,ntar klo Ethan buat ulah lagi,kebiri aja.buang aja ke Antartika,atau tembak bahu dan kakinya...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia R. Fernandez
duuuuh so sweet 😍😍😍😍😍
aku senyam senyum lho Ethan
SL
sabar Ethan....sebentar lagi....semangatttttt💪💪💪
dika edsel
ooh aku sangka kau menyuruh celine mencekikmu..eladalaaaaah ternyata disuruh peluk balek?? he..he...aku tau apa yg ada diotakmu ethan..,entar klo celine memeluk lehermu..lgsung kamu sosor kan... hayo ngaku lo...😅😅😅
Felycia R. Fernandez: hampir kk 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Heti Supriyati Laela
cerita keren tata bahasa keren
olyv
aww sweet bgt rega 😅
Zafir Nadin
Awas aja rega nyakiti alya,celine paati langsung turun tangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!