Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tembok Besar Versi Bantal
"Tunggu! Jangan GR dulu! Siapa yang butuh penghangat dari kamu?"
Kiana mundur selangkah, menyilangkan tangan di depan dada untuk menutupi belahan gaun tidurnya yang terekspos. Wajahnya merah padam, tapi dia berusaha memasang ekspresi galak ala CEO yang sedang memecat karyawan tidak disiplin.
Gavin masih bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, kacamata bacanya sudah diletakkan di nakas. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai geli yang menyebalkan.
"Saya cuma menawarkan solusi logis, Kiana. AC ini dingin. Kamu pakai baju dinas malam yang bahannya lebih tipis dari tisu. Hukum termodinamika bilang kamu butuh transfer panas," jawab Gavin santai, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang salah tingkah.
"Simpan hukum fisika kamu buat rapat direksi," sembur Kiana. Dia menatap ranjang besar itu dengan panik, lalu matanya beralih ke pintu geser ruang tengah.
Sebuah ide brilian—atau mungkin ide putus asa—muncul di benaknya.
Kiana berbalik badan dan berjalan cepat menuju ruang tengah.
"Mau kemana? Kabur?" tanya Gavin.
"Cari bantuan militer!" seru Kiana.
Detik berikutnya, Kiana sudah berdiri di samping daybed. Dia menggoyangkan bahu Alea pelan.
"Alea... Sayang... bangun sebentar, Nak."
Alea menggeliat, matanya terbuka separuh. "Hmm? Kenapa, Tante? Ada gempa?"
"Bukan gempa. Di sini banyak nyamuk. Nyamuknya gede banget, botak, dan suka gigit Tante," bisik Kiana sambil melirik tajam ke arah kamar tidur. "Pindah ke kasur Papa yuk? Alea tidur di tengah ya."
Mata Alea langsung terbuka lebar. "Bobo bareng Papa sama Tante? Kayak di film keluarga cemara?"
"Iya, persis. Ayo, cepetan."
Kiana menuntun Alea yang berjalan sempoyongan sambil memeluk boneka beruangnya masuk ke kamar utama.
Gavin yang melihat rombongan itu masuk hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. Dia menatap Kiana dengan tatapan 'kamu-serius?'.
"Kamu bawa anak kecil buat jadi tameng?" tanya Gavin saat Alea dengan lincah memanjat naik ke atas kasur King Size itu.
"Ini namanya manajemen risiko," jawab Kiana tak mau kalah. Dia ikut naik ke kasur dari sisi yang berlawanan dengan Gavin. "Alea, kamu tidur di tengah ya. Jangan geser-geser."
"Oke!" Alea langsung merebahkan diri, merentangkan tangan dan kakinya lebar-lebar, menguasai teritori tengah kasur dengan sukses.
Tapi Kiana belum merasa aman. Keberadaan Alea saja belum cukup menjamin keamanan asetnya dari "serangan" Gavin yang malam ini terlihat lebih berbahaya dari biasanya.
Kiana mengambil dua guling besar dan tiga bantal kepala. Dengan gerakan cepat dan efisien, dia menyusun bantal-bantal itu memanjang di antara dirinya dan Alea, lalu menambahkan lapisan guling di atasnya.
Dia membangun tembok.
"Apa-apan ini?" Gavin menaikkan alis melihat konstruksi dadakan itu.
"Tembok Besar versi Nusa Dua," Kiana menepuk tumpukan guling itu dengan bangga. "Ini batas teritorial kedaulatan Kiana Elvaretta. Dengar baik-baik, Bapak Gavin Ardiman..."
Kiana menunjuk hidung Gavin dari balik benteng bantal.
"Kalau ada satu jari pun dari anggota tubuh kamu, entah itu tangan, kaki, atau sikut, yang melewati garis demarkasi ini..." Kiana menyipitkan mata. "...Denda sepuluh juta rupiah. Tunai. Di tempat."
Gavin tertawa lepas. Suara tawanya berat dan renyah, memenuhi kamar yang sunyi itu.
"Sepuluh juta?" ulang Gavin, seolah nominal itu adalah uang receh buat beli permen. Dia memajukan wajahnya sedikit, menantang Kiana lewat celah di atas kepala Alea. "Murah sekali harga sentuhan kamu. Saya bisa bayar di muka buat sewa semalaman kalau kamu mau. Saya transfer sekarang?"
"Gavin!" pekik Kiana, melempar bantal kecil ke wajah suaminya. "Mesum! Tidur!"
Gavin menangkap bantal itu dengan satu tangan, masih tertawa. "Oke, oke. Galak banget sih. Awas, nanti kualat. Biasanya yang bikin batas paling tinggi, dia yang paling pengen manjat."
"Nggak akan!" Kiana menarik selimut sampai dagu, memunggunginya. "Matikan lampunya!"
Gavin menurut. Dia mematikan lampu tidur di nakasnya.
Klik.
Kamar menjadi gelap gulita. Hanya cahaya bulan samar-samar yang masuk dari celah tirai, dan lampu indikator AC yang menyala biru.
Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara deburan ombak di kejauhan dan dengkuran halus Alea yang sudah kembali ke alam mimpi.
Kiana berbaring kaku menghadap jendela. Jantungnya masih berdegup kencang. Dia bisa merasakan hawa keberadaan Gavin di sisi lain kasur, meskipun terhalang Alea dan tumpukan bantal.
Pikiran Kiana melayang kemana-mana. Dia membayangkan otot perut Gavin yang tadi dilihatnya. Wangi musk dan sabun mandi pria itu yang menguar di udara, bercampur dengan dinginnya AC.
"Sialan," rutuk Kiana dalam hati. "Kenapa dia harus wangi banget sih?"
"Kamu belum tidur?" suara Gavin tiba-tiba terdengar rendah di kegelapan, memecah lamunan Kiana.
"Lagi usaha," jawab Kiana ketus tanpa berbalik.
"Jangan mikirin saya terus. Nanti naksir," goda Gavin.
"Pede gila," dengus Kiana. "Udah ah, diem. Besok kita harus akting bahagia buat foto."
"Kita nggak perlu akting, Ki," gumam Gavin pelan, nyaris seperti bisikan. "Hari ini saya beneran bahagia."
Kiana terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi efeknya seperti sengatan listrik kecil di dadanya. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang memaksa ingin keluar.
"Tidur, Gavin," bisik Kiana lembut.
"Good night, Kiana. Good night, Alea."
Tak lama kemudian, napas Gavin terdengar teratur. Pria itu sudah tidur.
Kiana menghela napas lega. Pertahanannya aman. Tembok bantal kokoh berdiri. Alea ada di tengah. Malam ini dia selamat.
Setidaknya, itu yang dia pikirkan.
Waktu bergulir tanpa suara. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 02.15 dini hari.
Suhu kamar turun drastis. Termostat AC menunjukkan angka 18 derajat Celcius, sesuai settingan Gavin yang suka udara kutub.
Alea, yang di awal tidur dengan pose bintang laut yang manis, mulai menunjukkan sifat aslinya. Dia adalah tipe active sleeper. Sangat aktif.
Dalam tidurnya, Alea bermimpi sedang ikut turnamen karate melawan Dino.
"Hiaaat!" igau Alea tanpa suara.
Kaki kecilnya menendang ke samping dengan kekuatan penuh.
BUKK!
Tendangan maut itu menghantam guling pembatas yang disusun Kiana dengan susah payah. Guling itu terlempar, menggelinding jatuh ke lantai marmer dengan bunyi gedebuk pelan.
Tidak berhenti di situ, Alea merasa kepanasan di tengah. Insting bawah sadarnya mencari tempat yang lebih luas dan dingin.
Alea berguling. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Sampai akhirnya posisi Alea berubah total. Dia kini tidur melintang di kaki kasur, kepalanya menggantung sedikit di tepi, meninggalkan area tengah kasur—zona demiliterisasi yang sakral itu—kosong melompong.
Tembok besar runtuh. Pasukan perdamaian desersi.
Kini, tidak ada lagi yang memisahkan Kiana dan Gavin.
Kiana, yang sedang tidur meringkuk kedinginan dalam balutan gaun sutra tipisnya, menggigil. Selimutnya tadi terbawa oleh pergerakan Alea. Kulitnya merinding diterpa angin AC.
Insting manusia saat tidur adalah mencari sumber kehangatan.
Tubuh Kiana bergerak sendiri. Dia bergeser mundur, mencari panas.
Di sisi lain, Gavin juga tidur gelisah. Dia terbiasa memeluk guling. Tapi gulingnya tidak ada. Tangannya meraba-raba ruang kosong di sebelahnya.
Perlahan tapi pasti, hukum gravitasi kasur bekerja. Mereka berdua bergeser ke tengah.
Punggung Kiana menyentuh sesuatu yang keras dan hangat.
"Mmm..." lenguh Kiana dalam tidur, merasa nyaman.
Dia membalikkan badan. Tangannya meraba "benda" hangat di depannya. Rasanya kokoh, padat, dan memancarkan radiasi panas yang pas untuk melawan dinginnya AC.
Tanpa sadar, Kiana memeluk "benda" itu. Dia menyusupkan wajahnya ke sana, mencari posisi paling enak. Kakinya yang dingin tanpa selimut, secara otomatis membelit "guling" di depannya untuk mentransfer panas.
"Guling" itu merespon. Sebuah lengan berat melingkar di pinggang Kiana, menariknya lebih rapat.
Dunia terasa sempurna. Hangat. Wangi. Dan aman.
Kiana mendesah puas dalam tidurnya, mengeratkan pelukannya. Dia bahkan menggesekkan hidungnya di permukaan "bantal" yang bidang itu, menghirup aroma maskulin yang menenangkan.
Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk lewat celah-celah tirai villa yang tidak tertutup rapat. Burung-burung berkicau riang di luar sana, bersahutan dengan suara ombak yang menghantam tebing.
Kiana perlahan tersadar dari tidur lelapnya.
Rasanya nikmat sekali. Dia tidak pernah tidur senyenyak ini selama berbulan-bulan. Biasanya dia bangun dengan leher kaku atau punggung pegal karena stres pekerjaan. Tapi pagi ini, badannya terasa rileks.
Dan hangat. Sangat hangat.
Kiana merasakan tekstur halus di bawah pipinya. Bukan sarung bantal katun. Tapi... kulit? Kulit yang halus tapi keras di bawahnya. Dan ada irama ritmis yang terdengar di telinganya.
Dug...dug...dug...
Itu suara detak jantung.
Kiana mengerutkan kening dengan mata masih terpejam. Sejak kapan bantalnya punya detak jantung? Dan kenapa bantalnya wangi Cool Water Davidoff?
Kesadaran Kiana mulai kembali satu per satu.
Dia menyadari tangannya sedang memeluk erat sebuah pinggang yang lebar. Dia menyadari satu kakinya tersangkut di antara dua kaki yang berotot dan berbulu halus. Dan, dia menyadari ada hembusan napas hangat yang menggelitik ubun-ubunnya.
Tunggu.
Kiana membuka matanya perlahan.
Hal pertama yang dia lihat adalah kulit. Kulit kecokelatan yang bidang. Dia mendongak sedikit. Dia melihat lekukan tulang selangka yang seksi. Dia melihat jakun yang menonjol.
Dan dia melihat wajah.
Wajah Gavin.
Jarak wajah mereka tidak sampai sepuluh senti.
Gavin sudah bangun. Dia bertumpu pada satu sikunya, menatap Kiana yang sedang menempel padanya seperti koala menempel di pohon eukaliptus.
Tidak ada tembok bantal. Tidak ada Alea (yang ternyata tidur ngences di ujung kaki mereka).
Posisi mereka sangat... 1ntim. Kaki Kiana membelit kaki Gavin. Tangan Kiana di pinggang Gavin. Dan wajah Kiana menempel di dada Gavin yang t3lanjang.
Gavin tidak terlihat keberatan. Malah, tangan kanannya sedang memainkan ujung rambut Kiana dengan santai.
Melihat Kiana sudah membuka mata dan melongo kaget, senyum miring Gavin makin lebar. Matanya berkilat jahil, menikmati kepanikan yang mulai menjalar di wajah istrinya.
"Pagi," sapa Gavin dengan suara serak khas bangun tidur yang—sialnya—terdengar sangat seksi.
Kiana membeku. Otaknya loading.
"Nyenyak tidurnya, Nyonya Ardiman?" bisik Gavin, mencondongkan wajahnya lebih dekat. "Total tagihan pelukan semalam sepuluh juta per jam. Kamu peluk saya dari jam tiga pagi. Jadi total utang kamu... lima puluh juta. Mau bayar pakai apa?"
trimakasih ya sudah buat cerita ini
ditunggu karya selanjutnya⚘️⚘️⚘️