Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kriteria
"Udah lama nungguinnya ya?" tanya Elin, Adimas menggelengkan kepalanya.
"Baru sampai kok, kamu makin kurus, sayang." ucap Adimas. Elin tersenyum dan memeluk lengan Adimas manja.
"Makasih, aku memang sangat berusaha buat kurus." Elin tersenyum lembut, Adimas menghela napas kasar.
"Tapi, ini terlalu kurus, sayang." protes Adimas. Elin seketika berdiri dari duduknya, tak terima.
"Apa maksudmu, Yank?" Matanya tajam, Adimas menghela napas kasar.
"Duduklah, sebenarnya ada apa? Apa mau berangkat ke Prancis?" tanya lagi Adimas. Elin langsung tersenyum lebar.
"Wah, kamu kok tahu, sih?" Elin tersenyum lebar, matanya berbinar seolah seluruh dunia ada di genggamannya.
"Prancis itu impianku, Baby," ucapnya antusias. "Paris, runway, fashion week… semua model papan atas lahir dari sana. Siapa sih yang nggak mau berdiri di kota yang jadi pusat mode dunia?" Adimas menatap Elin beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya. Rahangnya mengeras.
"Aku pengin diakui bukan cuma sebagai model lokal," lanjut Elin, suaranya penuh keyakinan. "Aku mau nama aku dikenal. Aku mau berdiri sejajar sama mereka, bukan cuma jadi figuran di negeri sendiri."
"Itu jauh," ucap Adimas singkat, namun di balik kata singkat itu terpendam makna yang dalam. Elin terkekeh kecil, mengira Adimas bercanda.
"Justru karena jauh, itu menantang. Aku nggak mau hidup biasa-biasa aja, Yank. Ini kesempatan besar." Adimas menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja tanpa benar-benar melihatnya.
"Kamu yakin itu yang kamu mau?" tanyanya datar. Elin mengangguk cepat.
"Yakin. Banget. Ini tentang masa depanku."
Adimas terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, bukan karena Prancis, bukan juga karena karier Elin, tapi karena perasaan asing yang sejak tadi tak mau pergi.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Dan untuk pertama kalinya, Elin tak menangkap antusiasme di mata Adimas, hanya jarak yang perlahan tumbuh tanpa mereka sadari.
Adimas kembali mengingat foto-foto yang diberikan oleh David, dia menghela napas kasar. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat baginya mengungkapkan keinginan hatinya.
"Sayang, setelah aku pulang nanti, kita nikah ya?" ajak Elin. Adimas tak menjawab. Dia berdiri dari duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Dia berjalan ke arah kasir, membayar makanannya, dan pergi begitu saja. Meninggalkan Elin yang terpaku tanpa diberi jawaban, kehampaan yang sungguh terasa di antara keduanya.
Brak!
"Argh!" Adimas menjambak rambutnya sendiri setelah sampai di mobil. Dia kembali membuka ponselnya. Sembilan belas foto dan satu video tentang Elin, tentang surat perjanjian dalam jangka panjang, dan beberapa tangkapan layar dimana Elin menjelaskan secara gamblang bila dia tidak akan terikat komitmen dalam tali pernikahan selama dirinya mengikat kerja sama itu. Perjanjian jangka panjang tinggal di Perancis, hingga video Elin yang mengatakan bila Adimas pasti akan menunggunya, Alin begitu yakin. Sebenarnya Adimas apa bagi Elin selama ini? Mainan? Batu loncatan? Atau justru modal berjalannya saja?
Sakit hati kah? Entah. Adimas tidak merasakan yang benar-benar menghancurkan hatinya. Hanya saja, kesabaran dan kesetiaan yang dia berikan untuk Elin harus dipermainkan semacam itu, bagi seorang pria hal semacam itu jelas lebih menyakitkan dari sekedar pengkhianatan.
Adimas memang bukan pria yang baik, namun dia juga bukan pria yang bisa di injak wanita dengan mudah. Itu adalah prinsip keluarganya yang secara turun-temurun diturunkan dari darah leluhur mereka.
"Argh!" Adimas kembali memukul setir mobilnya, dadanya turun naik, lalu langsung meninggalkan basement itu.
Mobilnya bergerak tanpa arah hingga dia sampai di depan sebuah bar. Sudah lama Adimas tak meneguk minuman. Sejenak dia terdiam, namun kembali urung. Dia kembali melajukan mobilnya dan rasa sesalnya menguap bersama angin malam.
Dia teringat dengan sebuah bukit dekat perumahan Rani, bukit indah yang sunyi dengan akses yang mudah. Adimas terdiam saat memandangi lampu-lampu kota yang bagaikan kunang-kunang dari kejauhan.
Dia mengambil rokok dan menyalakan satu batang, menyesapnya, lalu menghembuskan napasnya kembali. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Adimas masih di sana. Dia bahkan sengaja duduk di pinggir jalan. Kesunyian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, langit malam yang gelap dan hawa dingin yang menusuk itu memberikan sensasi lain pada dirinya.
.
.
.
"Woy, balik-balik udah malam nih!" peringat Rani para pengunjungnya. Dia mengecek ruangan atas satu per satu hingga melihat Arya yang ketiduran dengan tugasnya yang menyala di layar komputer.
"Kak, bangun, udah malam ini." Rani menggoyangkan tubuh Arya hingga pria itu menggeliat.
"Ran, jam berapa?" Suara serak Arya terdengar, tubuh Arya menggeliat.
"Jam sebelas malam, udah waktu pulang." ucap Rani sambil berlalu pergi dan mengecek ruangan lain.
Pada akhirnya semua pengunjung sudah keluar, dan Rani juga bisa pulang dengan nyaman menggunakan motornya. Dia melaju dengan kecepatan sedang, menikmati hawa dingin yang menusuk-nusuk sweternya.
Mata Rani sejenak melihat pemandangan tak biasa. Rani kenal mobil itu dan dia juga kenal pria yang tengah menikmati lampu malam di pinggir jalan itu.
"Mas Adimas!" teriak Rani menghentikan sepeda motornya dan membuka helmnya.
"Ran?" Adimas menatap arloji di pergelangan tangannya dan ternyata dia sudah lebih dari satu jam di sana.
"Ngapain di sini, Mas? Mau nyulik calon istri di tempat sepi ya? Hehehe…" cengir Rani. Adimas mengacak rambut Rani.
"Wah, tuduhan itu, Ran." ucap Adimas terkekeh, namun suaranya terdengar berat.
"Beneran juga nggak papa, Mas. Diculik kayak aktor China nyulik calon istrinya, langsung dibanting ke ranjang. Beh…" Rani cengar-cengir membayangkan film yang sering dia tonton.
"Masih kecil, otaknya sudah tumbuh ke arah yang salah aja." ucap Adimas. Rani mengangkat bahunya.
"Ya kali Mas Adimas mau nyulik calon istri, hahah. Nggak diculik aja aku mah pasrah aja sih, Mas." ungkap lagi Rani dengan cengengesannya.
"Pasrah banget ya?" ucap Adimas memandang wajah Rani yang terhalang malam, namun justru hal itu memperlihatkan kecantikan Rani yang membuat Adimas kembali diam.
"Pasrah aja, apalagi kalau cowoknya mirip aktor China kayak Mas Adimas." tawa Rani. Adimas menggeleng pelan.
"Obsesinya hanya pada aktor China ya? Apa hanya itu kriteria lelakimu, Ran?" tanya Adimas. Ran tampak berpikir sejenak.
"Jawabannya mau yang bener apa bener banget nih?" tanya Rani balik, dia balik menatap Adimas.
Adimas menyandarkan tubuhnya pada mobil dan menatap mata itu dengan lekat. Ada perasaan nyaman yang sulit diungkapkan Adimas di sana. Perasaan yang tidak asing, namun juga perasaan yang indah.
"Apa bedanya?" tanya Adimas. Rani terkesima dengan mata Adimas sejenak. Mata cokelat terang itu, dan wajah yang nampak banyak kesah itu.
"Bedanya," Rani mengangkat satu jarinya, lalu tersenyum jahil, "kalau jawab yang bener itu versi sopan. Kalau jawab yang bener banget… ya versi kejujuran brutal, Mas." Adimas terkekeh kecil.
"Jawab yang bener banget aja." Rani menarik napas sebentar, lalu mulai menghitung dengan jari-jarinya sendiri.
"Pertama, harus saleh. Minimal salatnya nggak bolong, tahu mana halal mana haram, dan kalau lagi marah nggak lupa istigfar."
"Kedua," jarinya naik lagi, "baik, hati tidak sombong dan pandai menabung."
"Ketiga, bertanggung jawab. Kalau bilang iya, ya ditepati. Kalau janji, nggak pakai ngilang kayak Wi-Fi gratis."
"Keempat, dewasa. Bisa diajak ngobrol, bukan cuma diajak senang-senang aja."
"Kelima," Rani menyeringai, "sayang keluarga, tapi nggak diatur keluarganya." Rani menghela napas kasar. Kebanyakan orang kaya hidupnya selalu diatur keluarga, Rani tidak suka hal semacam itu.
"Keenam, pekerja keras. Nggak harus kaya raya, tapi nggak malas dan tahu arah hidup."
"Ketujuh, ganteng," Rani berhenti sejenak, lalu tertawa, "ya ini mah standar estetika ya, Mas. Mata juga perlu dimanjakan, masa iya aku harus pura-pura buta, sih."
"Dan yang paling penting," suara Rani sedikit melembut, "bisa bikin aku ngerasa aman. Bukan cuma dijagain, tapi dihargai." Rani menurunkan tangannya, lalu menatap Adimas sambil nyengir lebar.
"Kayaknya itu dulu deh. Kalau ditambahin terus nanti malah kayak checklist calon suami nasional." Adimas terdiam. Terlalu lama untuk sekadar mendengar candaan.
"Berat ya kriterianya?" tanyanya akhirnya. Rani mengangkat bahu santai.
"Enggak kok. Itu bukan standar tinggi, Mas. Itu standar sehat." Dan entah kenapa, di bawah lampu kota yang temaram itu, Adimas merasa sebagian kriteria yang Rani sebutkan… seperti sedang menatap dirinya sendiri. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar. Meski untuk nomor satu, Adimas sendiri masih belajar.
"Ran, seandainya di masa depan kamu punya pacar, dan pacar kamu lebih mementingkan pekerjaan, apa yang akan kamu lakukan?" tanya lagi Adimas. Rani nampak termenung. Kini matanya memandang lurus ke arah langit malam yang tanpa batas itu.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang