NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api yang Mulai Menari

Arka berusia satu setengah tahun. Tubuhnya kini hampir sepuluh meter panjangnya, sayapnya lebar dua belas meter saat terbentang penuh, dan sisik merahnya sudah berkilau seperti matahari terbenam yang membeku menjadi permata. Ia sudah bisa terbang jauh—melayang di atas awan Merapi, sayapnya mengiris kabut seperti pisau api. Tapi kekuatannya masih liar; setiap kali ia marah atau senang berlebihan, lava di kawah mulai bergolak, seolah gunung itu sendiri merespons emosinya.

Sari, kini berusia hampir dua puluh tahun, tetap muda karena darah Phoenix—wajahnya tidak berubah, rambut hitam merahnya masih panjang, matanya hijau zamrud masih menyimpan bara kecil yang tidak pernah padam. Tapi matanya kini sering memandang Arka dengan tatapan yang lebih lembut, lebih dalam—tatapan yang bukan lagi hanya ibu kepada anak, tapi sesuatu yang mulai berubah.

Mereka sudah tidak lagi tinggal di dataran tinggi sederhana. Arka membangun sarang baru di puncak bukit tertinggi yang menghadap kawah utama Merapi—sarang dari batu vulkanik yang ia bentuk sendiri dengan api dan cakarnya, dindingnya tinggi dan melengkung seperti benteng api alami. Di tengah sarang, ada lubang besar yang terhubung langsung ke lava mengalir di bawah—tempat Arka tidur, tubuhnya tenggelam separuh di lava hangat seperti manusia tidur di air panas.

Sari tidur di sisi sarang yang lebih tinggi, di atas batu datar yang ia lapisi dengan kain tahan api dan daun kering. Setiap malam, ia duduk di tepi lubang lava, memandang Arka yang tenggelam separuh tubuh di lava merah menyala. Cahaya lava memantul di wajah Sari, membuat matanya berkilau seperti permata hijau yang terbakar.

Malam itu, Arka tidak bisa tidur. Ia muncul dari lava, tubuhnya basah oleh cairan panas yang langsung mengering di udara. Ia merangkak ke sisi Sari, kepala besarnya bersandar di pangkuannya—gerakan yang masih ia lakukan meski tubuhnya sudah terlalu besar.

“Kau tidak tidur?” tanya Sari pelan, tangannya mengusap sisik di belakang telinga Arka—tempat yang selalu membuat Arka mendengkur puas seperti kucing raksasa.

Arka menggeleng. “Aku… mikir.”

Sari tersenyum kecil. “Mikirin apa?”

Arka diam lama. Lava di bawah tubuhnya berdenyut pelan, seolah ikut mendengar.

“Aku mikir… kenapa aku lahir. Kenapa aku berbeda. Kenapa klan takut padaku. Dan… kenapa setiap kali aku lihat kau… dadaku terasa aneh.”

Sari berhenti mengusap sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat—bukan karena api Phoenix, tapi karena sesuatu yang lebih manusiawi.

“Aneh bagaimana?” tanyanya pelan.

Arka mengangkat kepala, matanya merah lava menatap Sari dengan intensitas yang baru. “Seperti… ada api di dalam yang bukan api naga. Api yang ingin dekat denganmu. Api yang ingin… melindungimu bukan hanya sebagai anak, tapi sebagai… sesuatu yang lebih.”

Sari menunduk. Ia merasakan hal yang sama—sudah lama. Setiap kali Arka melindunginya, setiap kali ia melihat mata lava itu penuh kepercayaan dan kasih sayang, ada bagian dari dirinya yang mulai bergetar. Bukan lagi rasa ibu kepada anak, tapi rasa yang lebih dalam, lebih rumit.

“Kau sudah besar sekarang,” kata Sari pelan. “Dan aku… aku bukan lagi hanya ibumu. Aku… aku juga wanita yang melihatmu tumbuh menjadi raja.”

Arka diam. Lalu ia menggeser tubuhnya lebih dekat—hati-hati, takut api-nya melukai Sari. Kepalanya bersandar di bahu Sari, moncongnya hampir menyentuh pipi Sari.

“Aku takut,” bisik Arka. “Aku takut kalau perasaan ini salah. Aku takut kalau api-ku membahayakanmu lebih dari sebelumnya.”

Sari mengangkat tangan, menyentuh sisik di pipi Arka. Panas itu menyengat, tapi ia tidak menarik tangan. “Api kita sama. Kalau kau membahayakan aku… aku juga membahayakanmu. Tapi itu tidak membuat kita berhenti saling lindungi. Itu membuat kita lebih kuat.”

Arka menatap Sari lama. Lalu, perlahan—sangat perlahan—tubuhnya mulai berubah. Sisiknya menyusut, sayapnya melipat masuk, tubuh besarnya menyusut menjadi bentuk manusia. Kulitnya tetap merah keemasan seperti bara, rambutnya hitam panjang dengan semburat merah, matanya masih merah lava tapi lebih lembut. Tubuhnya sekarang seperti pemuda berusia delapan belas tahun—tinggi, berotot, tapi masih ada jejak kepolosan di wajahnya.

Ia berlutut di depan Sari, tangan manusia itu gemetar saat menyentuh pipi Sari.

“Ini… bentuk yang aku lihat di mimpi,” katanya pelan. “Bentuk yang bisa dekat denganmu tanpa takut membakarmu.”

Sari menatapnya—benar-benar menatap. Untuk pertama kali, ia melihat Arka bukan sebagai naga kecil yang ia lindungi, tapi sebagai pria yang tumbuh di sisinya, yang mencintainya dengan cara yang sama seperti ia mulai mencintainya.

Sari mengangkat tangan, menyentuh wajah Arka. Kulitnya panas, tapi tidak membakar. Ia mendekat pelan—bibirnya menyentuh bibir Arka dengan lembut, ragu, tapi penuh rasa.

Ciuman itu singkat—hanya sentuhan. Tapi api di dada mereka berdua meledak pelan—bukan api yang menghancurkan, tapi api yang menyatu, menciptakan cahaya emas tipis yang melingkupi mereka berdua seperti pelukan dari dalam.

Mereka berpisah pelan. Arka menatap Sari dengan mata yang berkaca-kaca—air mata lava kecil jatuh dari sudut matanya, mengeras menjadi permata merah di batu.

“Aku… aku mencintaimu,” katanya, suara manusia itu masih serak tapi penuh emosi. “Bukan sebagai anak mencintai ibu. Tapi sebagai… laki-laki mencintai wanita.”

Sari tersenyum, air mata emas mengalir di pipinya. “Aku juga mencintaimu, Arka. Dan aku tidak takut lagi. Karena aku tahu… api kita tidak akan saling membakar. Kita akan saling menerangi.”

Arka memeluk Sari erat—pelukan manusia yang hangat, penuh rasa. Tubuhnya masih panas, tapi Sari tidak mundur. Ia memeluk balik, kepalanya bersandar di dada Arka, mendengar detak jantung naga yang kini berirama dengan detak jantungnya sendiri.

Mereka duduk begitu lama—di bawah langit malam Merapi, dikelilingi lava yang berdenyut pelan seperti menyanyikan lagu pengantar tidur.

Tapi di kejauhan, dari balik kabut gunung, mata Raden Surya mengintai.

Ia melihat cahaya emas tipis yang melingkupi Sari dan Arka—cahaya yang tidak seharusnya ada.

“Hubungan terlarang,” gumamnya. “Ini lebih buruk dari yang kita kira. Naga api dan Phoenix… kalau mereka bersatu, keseimbangan empat raja akan runtuh sepenuhnya.”

Ia berbalik, menghilang ke kegelapan.

Dan di dalam dadanya, bayang hitam kecil itu tersenyum—senyum yang penuh rencana.

Api baru sudah mulai menari.

Tapi bayang lama belum benar-benar pergi.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!