NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHUJANAN ?

Rico pamit pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, laki-laki itu melirik lampu kamar Deya yang masih menyala. Entah apa yang dikerjakan oleh gadis itu hingga semalam ini.

Saat Rico bersiap untuk pulang, tanpa sengaja maniknya menatap ke arah jendela kamar Deya yang saat itu terbuka. Ia melihat Deya yang berdiri menatap langit malam dengan tatapan kosong. Melihat hal itu membuat Rico berpikir untuk mengusilinya.

“Ngapain di luar ? Mau liat aku pulang ?” Pesan singkat Rico menuju pada ponsel Deya.

Deya menyadari ponsel nya berdering yang menandakan pesan masuk, seketika mengambil dan mengeceknya. Namun ekspresi masam ditampilkan oleh gadis itu.

“Dih suka-suka ku.” Balasnya dan menatap Rico yang juga menatap nya.

“Masuk.” Ucapnya tanpa suara sambil mendongak ke arah Deya.

Melihat Rico yang sepertinya sedang memerintahnya, tentu Deya tidak terima. “Apa sih nyuruh-nyuruh.” Mengirim pesan singkat pada Rico.

Melihat notif tersebut, membuat Rico seketika melakukan panggilan suara dengan gadis yang masih menatap jengkel padanya.

“Masuk De. Ini udah malam.” Ucap Rico tanpa basa basi setelah panggilan tersambung.

“Ih, kamu siapa emangnya ? Perintah-perintah aku gitu ?” Jengah Deya.

“Ini sudah malam, besok kamu kerja lagi.” Peringat Rico.

“Iya, terus ?”

“Aku hitung sampai tiga yah. Kalau kamu nggak masuk. Aku.”

“Aku apa ?” Tantang Deya dengan mata melotot ke arah Rico di bawah sana.

“Ku nikahi kamu besok juga.” Asal Rico.

“Gila.” Deya langsung memutuskan sambungan telponnya, dan berbalik arah menuju kamar tanpa melihat Rico.

Rico tersenyum puas melihat Deya semakin jengkel padanya. “Ngeyel sih.” Ucapnya dan meninggalkan rumah gadis yang tengah di dekati itu.

Samsu yang melihat Rico masih enggan beranjak dari depan rumahnya dan menengok ke arah kamar sang putri. Dengan cepat ia bisa menebak bahwa Deya sedang berada di balkon kamarnya. Lebih-lebih saat dia mendengar percakapan singkat mereka.

Samsu hanya bisa mengangguk sambil tersenyum lebar, dan menuju kamar tidurnya untuk beristirahat.

****

Jarak rumah keduanya cukup berjauhan, sehingga Rico harus menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke rumahnya. Jalanan sudah mulai sepi, membuat Rico dengan leluasa menambah laju kecepatan motornya. Namun tanpa disadari sebuah motor yang tidak ber nomor polisi tengah mengikuti nya dari belakang.

Sengaja Rico mempermainkan kecepatannya, saat ia pelan motor itu juga ikut pelan, namun saat ia menancap gas lagi, motor itupun kembali menancap gas.

Rico melirik pemotor yang masih mengikutinya melalui spion, ia sama sekali tidak mengenalinya. Awalnya dia mengira hanya satu orang ternyata ada orang dibelakang pengemudi. Rico semakin penasaran, namun jalanan yang dilaluinya semakin sepi, pemotor itu juga semakin mendekatkan diri padanya. Dengan mantap ia sengaja memelankan laju motornya, agar yang mengikutinya itu sejajar dengannya. Ia mulai setenang mungkin dan sesuai yang diprediksi pemotor itu mendekat. Mereka mengamati Rico dari atas hingga bawah.

“Mas mau pulang kemana ? Kenapa malam-malam sendiri ?” Tanya salah satu dari mereka.

Rico hanya diam beberapa saat sambil mengamati keduanya, takut-takut mereka membawa senjata untuk melukainya. “Ia abis dari rumah teman. Didepan itu ada perumahan. Saya dikompleks perumahan itu. Kenapa ? Mas berdua mau mampir ?” Rico bertanya sembari menawari mereka.

Semakin lama, jarak perumahan Rico semakin dekat. Di depan perumahan tersebut ada dua orang security yang berjaga malam.

“Ayo mas, kalau mau mampir ke rumah.” Rico menawarinya kembali dan melirik dengan ekor matanya.

“Ng,,ng,,nggak mas. Tadi kami hanya bertanya kok. Mas sendiri soalnya. Kan ini sudah malam, makanya kami temani.” Jelas mereka dan bersiap untuk meninggalkan Rico tepat di depan perumahannya.

“Heleeeh, segitu aja nyalinya.” Gerutu Rico dan berhenti di depan pos security.

“Itu siapa mas Rico ?” Sapa salah satu petugas kemanan malam itu.

“Kurang tau pak. Tapi saya di ikuti dari tadi. Giliran di tawari untuk mampir ke rumah malah nggk mau.” Jelasnya.

“Hati-hati mas, takutnya itu orang yang mau jahat sama mas Rico.” Peringat petugas tersebut.

“Tapi saya nggak ada musuh atau selisih paham sama orang pak.”

“Iya kita nggak tau mas. Hati orang nggak ada yang tau.”

Rico hanya mengangguk pelan, dan melajukan motornya ke area perumahan sesaat setelah portal terbuka.

***

Rico memarkirkan motornya di carport, suasana rumah sudah sepi. Terlihat dari beberapa lampu yang sudah dimatikan. Dengan senandung kecil Rico melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

Belum sempat mengetuk, pintu itu sudah lebih dulu terbuka. Dari ambang pintu memperlihatkan sang ibu dengan tatapan mengintimidasi.

“Dari mana kamu ?” Tanya Ani langsung tanpa memberi jalan untuk Rico masuk.

“Dari rumah Deya bu.”

Sang ibu mendengus kecil “ngapain ? bukannya kamu sudah mendengar penolakannya langsung tempo hari ?”

“Abang masih mau usahakan bu. Sebelum dia waras dan mengusai emosinya. Abang akan tetap berusaha.” Jelasnya dan berjalan meninggalkan ruang tamu yang sepi itu.

“Abaaang.” Intonasi sang ibu naik satu oktaf.

“Buuu, ini sudah malam. Malu di dengar tetangga.” Lerai Han yang baru keluar dari kamarnya. “Lain kali, jangan pulang selarut ini lagi ya bang.” Pesan Han yang melihat Rico tengah meneguk air putih di kursi meja makan.

Ia tak menjawab sang ayah, namun ia mengangkat jempol tanda persetujuan.

“Sudah makan ? Tanya sang ibu yang sigap mengambil lauk dari lemari pendingin. “Ibu panaskan lauknya ya.” Tawarnya kembali.

“Nggak usah bu, abang sudah makan tadi di rumah Deya.” Jelasnya. “Ke kamar dulu ya bu, udah ngantuk ini.” Ucapnya kembali dan mencium kepala sang ibu singkat dan berjalan menuju kamar sembari mengecek ponsel pintarnya.

Tanpa di duga, Deya mengirimnya pesan sekitar lima belas menit yang lalu. Itu berarti saat ia masih berkendara.

“Kamu nggak kehujanan ?” Pesan singkat itu mampu membuat Rico tersenyum sempurna.

Laki-laki itu tak sabar untuk membalasnya, jemarinya segera menari di atas layar yang bercahaya itu.

“Nggak.” Balasnya singkat, padahal dalam hatinya ingin sekali membalas sepanjang mungkin.

Lama ditunggu balasan chat dari Deya, dan dia melirik jam yang bertengger di tembok kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas empat puluh lima menit.

“Sudah tidur pasti ini.” Lirihnya dan beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Siapa sangka, selama ia berada di kamar mandi sebuah notif pesan masuk ke ponselnya. Ternyata malam itu Deya masih belum tidur, dia masih sibuk dengan setumpuk kertas yang sedang di urutkan berdasarkan nomornya.

“Hmm, oke. Disi hujan deras.”

Setelah dari kamar mandi Rico segera mengecek ponselnya, dan senangnya bukan main. Pesannya dibalas dan itu menandakan bahwa Deya belum tidur, juga ia ingin percaya diri dulu bahwa Deya mulai perhatian padanya.

“Kenapa belum tidur ?” Rico kembali membalas pesan itu.

Tidak butuh waktu lama, pesannya kini kembali terbalaskan. “Lagi ada kerjaan.”

Rico sudah tak lagi membalasnya, namun dengan segera dia menekan ikon telepon. Ia sangat berharap Deya akan mengangkat teleponnya seperti beberapa saat lalu.

Rico menunggu cukup lama untuk panggilan dengan Deya. “Hmm, kenapa ?” Tanya suara diseberang telepon itu.

Rico tersenyum lebar dan mengacak rambutnya sendiri untuk mengekspresikan rasa gembiranya.

“Aku yang seharusnya bertanya kenapa. Kan kamu yang mengirim pesan lebih dulu.” Suaranya diusahakan setenang mungkin.

Dari Seberang telepon, Deya gelapan sendiri. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu masih disitu kan De ?”

“Eeeh, iya. Masih. Iya kan kamu dari rumah ku. Kalau kamu kena hujan dan sakit kan, nanti dikira gara-gara dari rumahku.”

Damn, Rico terlalu senang lebih dulu. Padahal Deya hanya memastikan bahwa dia tidak kehujanan saja.

“Ooo, nggak kok. Aku nggak kehujanan.”

“Hmm, oke. Aku tutup yah teleponnya. Aku masih ada kerjaan.”

“Berarti kalau nggak lagi ada kerjaan, nggak di tutup ya teleponnya ?” Tanya Rico yang terkesan usil.

“Nggak, aku tetap akan matiin teleponnya. Assalamualaikum. Bye.”

“Eh eh, main tutup tutup aja. Aku temenin kamu sampai selesai kerjaan mu.” Tawar Rico dengan harap-harap cemas. Laki-laki itu berharap agar Deya mengiyakan tawarannya.

“Nggak mau.”

“Aku temani.” Ucap Rico tegas seperti tak ingin dibantah.

“Terserah.” Lirih Deya singkat.

Beberapa saat mereka diam, namun ponsel keduanya masih sama-sama berada di telinga kirinya masing-masing.

“De.” Panggil Rico yang mendengar keheningan dari Seberang.

“Hm.”

“Besok, ayo makan. Mau nggak ?”

“Nggak mau. Aku banyak kerjaan.”

“Kalau pulang ?”

“Nggak mau juga, aku mau makan dirumah.”

“Ya udah, besk pulang aku jemput kamu dan makan malam dirumah mu kayak tadi lagi. Gimana ?”

“Nggak mau.”

“Terus kamu maunya apa ?”

“Nggak mau apa-apa.”

Terdengar helaan nafas panjang dari Rico. “Ya sud..”

“Besok liat, kalau besok biasanya lagi banyak-banyaknya kerjaan.”

Seperti mendapat angin segar, Rico langsung tersenyum. “Yang dekat-dekat kantor mu aja nggak apa-apa De.”

“Hm, kabari saja aku besok. Kalau aku nggak berubah pikiran kita pergi makan. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih ku, kamu sudah mau temani aku."

“Tiap malam pun aku temani De.”

“Terserah kamu. Aku tutup dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam. Mimpi indah ya De.”

Setelah sambungan telepon berakhir, Rico senang bukan kepalang. Rasanya ia ingin sekali memangkas sang malam agar matahari segera menunjukkan sinarnya.

“De, semoga kamu nggak berubah pikiran ya.” Gumamnya dan mematikan lampu kamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!