NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbincangan

Siang berganti menjadi malam

Mansion Marquess kembali terang, tetapi bukan karena cahaya lentera, melainkan karena cahaya rembulan yang menembus tirai-tirai kediaman. Lampu-lampu koridor menyala lebih redup. Langkah para pelayan terdengar teratur dan jauh lebih pelan dibandingkan siang tadi. Suasana terasa tenang, bukan damai. Lebih seperti rumah yang menahan napas.

Elenna berdiri lama di depan jendela kamarnya. Memandangi langit yang terlihat gelap, tidak ada rembulan. Hanya angin yang sesekali menggoyangkan dahan pohon di taman belakang, taman yang tadi siang dia lewati.

Tangannya menyentuh bekas luka di pipinya tanpa sadar. Makan siang tadi masih terasa seperti batu yang belum selesai ditelan, cukup menganggu pencernaannya. Kata “kesalahpahaman” terus berputar di kepalanya. Cara Lilith mengucapkannya. Cara Alberto membela. Cara Marquess memutuskan tanpa benar-benar bertanya.

Ia menghembuskan napas pelan. Tidak ada yang benar-benar peduli terhadap apa yang Ia rasakan.

Ketukan pelan terdengar di pintu. Elenna tidak langsung menjawab. Ketukan itu terdengar sekali lagi, lebih lembut.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan. Bukan pelayan yang terlihat, tetapi Kael yang berdiri di ambang pintu.

Ia tidak masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di sana, satu tangan masih menyentuh gagang pintu, seolah siap pergi jika kehadirannya tidak diinginkan.

Elenna penasaran sedikit. “Ada apa?”

Kael tidak langsung menjawab. Pandangannya menyapu ruangan sebentar, lalu berhenti pada Elenna.

“Aku tidak akan mengganggumu lama,” katanya akhirnya.

Suaranya tetap rendah, terdengar tenang.

Elenna berbalik menghadap jendela lagi. “Kau sudah melakukannya.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Namun, Kael tetap tidak kunjung pergi.

“Aku hanya ingin memastikan,” katanya pelan, “kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh malam ini.”

Elenna menoleh tajam. “Apa maksudmu?”

Ia tidak menjawab segera. Tatapannya tidak menuduh. Tidak juga lembut.

“Hukuman yang ditunda,” lanjutnya, “kadang lebih berat daripada hukuman yang langsung dijatuhkan.”

Angin di luar terdengar lebih jelas

"Elenna tersenyum tipis, tetapi terasa seperti dipaksakan “Kau datang hanya untuk mengatakan itu?”

“Tidak.” Jawaban itu singkat.

“Lalu?” Kael terdiam sejenak. Seolah memilih kata “ada yang tidak beres.” Sambungnya lagi

Ruangan terasa sedikit lebih sempit.

Elenna menatapnya lama. “Semua orang tahu itu.”

“Tidak,” katanya pelan. “Maksudku… bukan seperti yang mereka pikir.”

Itu bukan pembelaan. Tidak terdengar seperti simpati.

Hanya pernyataan.

Elenna memalingkan wajah. “Tidak ada gunanya.”

“Kau menyerah terlalu cepat.” Nada suaranya tidak terkesan menghakimi. Hanya datar.

Elenna tertawa kecil, pelan, hampir tidak terdengar. “Kau bahkan tidak tahu apa yang kuhadapi.”

“Aku tahu hanya dengan melihat." Jawaban itu membuatnya menoleh lagi.

Mata biru itu tidak berkilat marah. Tidak juga iba. Hanya… tajam, dan dingin, tetapi seakan mampu menembus kehidupan Elenna.

“Pelayan yang memanggilmu ke taman,” katanya, “aku melihatnya berbicara dengan seseorang sebelum itu.”

Napas Elenna tertahan.

“Lilith?” tanyanya tanpa sadar.

“Bukan, seorang pria.”

Jawaban itu membuat bahunya turun sedikit. Harapan yang bahkan belum sempat tumbuh sudah mengering.

“Kau tidak punya bukti,” katanya pelan.

“Belum.” Kata itu terasa menggantung.

Elenna berjalan melewatinya menuju meja kecil di sudut ruangan, lalu duduk perlahan. “Kenapa kau peduli?” Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahannya.

Kael tidak langsung menjawab.

“Aku tidak suka kebohongan yang terlalu rapi,” katanya akhirnya.

Itu bukan jawaban yang ia harapkan.

Ia tidak berkata, “Aku ingin membantumu.” Ia tidak berkata, “Aku percaya padamu.”

Hanya itu.

Elenna menunduk, menatap jemarinya sendiri. “Kau pikir ini permainan?”

“Tidak.”

“Bagiku bukan.”

“Aku tahu.”

Sunyi lagi.

Di luar, angin semakin kencang. Dahan pohon bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara kasar yang tidak nyaman.

“Kau tidak perlu melakukan apa pun,” kata Elenna akhirnya. “Jika kau ikut campur, kau hanya akan jadi sasaran berikutnya.”

Kael berjalan dua langkah mendekat, lalu berhenti. Tidak terlalu dekat.

“Aku sudah terbiasa,” katanya singkat.

Itu membuatnya terdiam.

Elenna menatapnya lebih lama kali ini. Ada sesuatu dalam caranya berdiri. Dalam caranya berbicara. Ia tidak seperti Louis yang bersinar. Tidak seperti Alberto yang bersikap hangat.

Kael terasa seperti bayangan, dan bayangan jarang takut pada gelap.

“Jika kau ingin bertahan di rumah ini,” lanjutnya, “jangan terlihat lemah.”

Elenna menegang. “Aku tidak lemah.”

“Justru orang yang mengatakan Ia tidak lemah adalah orang yang sebenarnya lemah" ulangnya pelan.

Kata-kata itu lebih berat dari yang terdengar, tetapi Ia cukup memahami maksudnya. Di rumah ini, kebenaran sajatidak cukup. Yang penting adalah apa yang terlihat.

Langkah kaki terdengar di lorong.

Kael mundur satu langkah.

Gerakannya kecil, nyaris tak terdengar, tetapi jarak yang tercipta di antara mereka terasa jauh lebih besar dari sekadar satu tapak kaki. Bayangan tubuhnya memanjang di lantai marmer yang dingin.

“Anggap saja kita tidak pernah berbicara malam ini,” katanya pelan.

Itu bukanlah suatu permintaan.

Bukan pula penawaran.

Itu keputusan.

Elenna menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ia tahu kalimat seperti itu bukan hanya sekadar untuk melindungi dirinya, melainkan untuk melindungi keduanya. Di rumah ini, percakapan bisa berubah menjadi senjata. Tatapan bisa menjadi tuduhan. Dan kebisuan… bisa menjadi bukti.

Ia mengangguk kecil “Aku juga tidak ingin gosip baru,” jawabnya lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, seperti takut dinding ikut mendengarkan.

Kael mengamatinya sesaat. Ada sesuatu yang terlihat di matanya, bukan belas kasih, bukan pula kehangatan. Lebih seperti penilaian yang belum selesai.

Ia berbalik menuju pintu.

Langkahnya mantap, terkontrol. Seolah malam ini hanyalah satu titik kecil dalam rencana panjang yang tak pernah ia jelaskan pada siapa pun.

Tangan Kael sudah menyentuh gagang pintu ketika ia berhenti.

Udara mencekam di sekitar mereka.

“Dan, Elenna.”

Namanya terdengar berbeda ketika keluar dari bibirnya. Tidak dingin, tapi juga tidak lembut.

Elenna mengangkat wajahnya. Ia menunggu Kael

Beberapa detik berlalu sebelum Kael melanjutkan.

“Jangan membenci orang yang salah.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tetapi menghantam lebih keras dari bentakan mana pun.

Elenna tidak langsung menjawab.

Bagaimana mungkin ia bisa?

Orang yang salah.

Siapa?

Lilith, dengan sikapnya yang terasa memuakkan?

Alberto, dengan sikapnya yang tidak bisa ditebak?

Marquess, dengan sikapnya yang lebih mementingkan citra keluarga daripada anaknya sendiri?

Atau…

Dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun?

“Dan jika aku tidak tahu siapa yang benar?” akhirnya ia bertanya, suaranya tipis namun tajam.

Kael terdiam sejenak.

“Kalau begitu,” katanya pelan tanpa menoleh, “belajarlah melihat siapa yang paling diuntungkan.”

Pintu tertutup perlahan setelah itu. Tidak ada dentuman.

Hanya bunyi klik lembut yang terdengar seperti akhir dari sesuatu, atau mungkin awal.

Elenna tetap duduk di sana. Tubuhnya tidak bergerak, tetapi pikirannya berputar tanpa henti. Kalimat terakhir itu menggantung di udara, menempel pada dinding, pada tirai, pada napasnya sendiri.

Jangan membenci orang yang salah.

Ia berdiri perlahan, kakinya masih sedikit berdenyut. Setiap langkah menuju jendela terasa berat, seperti berjalan melewati kenangan yang belum sembuh.

Di taman, cahaya lampu kecil menerangi tempat kejadian itu

Tanah sudah diratakan, rumput ditegakkan kembali, tidak ada noda, dan tidak ada jejak yang tersisa dari kejadian malam itu.

Darah tidak terlihat lagi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Rumah ini memang seperti itu. Menelan tragedi, lalu memoles wajahnya dengan senyum bangsawan.

Elenna memeluk dirinya sendiri. Dingin malam menyusup melalui kaca, atau mungkin itu hanya dingin dari dalam dadanya. Hukuman belum dijatuhkan.

Kebenaran belum diungkap. Semua orang masih berjalan dengan kepala tegak, berbicara tentang etika dan kehormatan, seakan tidak ada yang tercoreng.

Namun, untuk pertama kalinya sejak kejadian itu… Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan harapan.

Harapan terlalu rapuh untuk rumah seperti ini. Bukan pula keberanian.Ia belum cukup kuat untuk itu.

Hanya sebuah kesadaran kecil, bahwa ada orang lain yang juga meragukan permukaan yang terlalu bersih ini.

Ia tidak sepenuhnya sendirian dalam kecurigaannya.

Celah kecil.

Sangat kecil.

Tapi di rumah yang dibangun dari kebohongan teratur dan reputasi yang dijaga mati-matian… celah sekecil apa pun bisa menjadi awal dari retakan besar. Dan retakan, jika dibiarkan, akan selalu mencari jalan untuk membelah segalanya.

1
kinaraa
mau gimana pun Marquess tetap salah sebagai ayah
Ran
huh, ada ya orang tua kek gitu
kinaraa: banyak si ortu yang begitu
total 1 replies
Ran
keren banget Thor alurnyaa🤭
kinaraa
semoga elena ga dapet penderitaan lgi setelah ini fhor
VanGenZ: Author pun berharap begitu
total 1 replies
kinaraa
malah orang asing yang lebih inget sama ultah elena
kinaraa
parah Alberto , padahal di awal keliatan baik dan peduli ma slena
kinaraa
rupanya tuan pengawal misterius adalah putra mahkota yang menyamar
kinaraa
sedih banget elena.
bahkan keluarga sendiri ga inget ultahnha
VanGenZ: Sering terjadi di dunia nyata ya...
total 1 replies
Ran
/Panic//Panic/
Ran
kutarik kata2 ku, ayah ga punya nurani jir
Ran
Marquess ternyata masih punya akal untuk berpikir
Ran
kapan elena bisa ngebales mereka semua Thor? masa dia gada perlawanan terus
VanGenZ: Belum saatnya, memang cerita author tipe perkembangannya slow burn, karna agak sedikit mengarah ke mental juga
total 1 replies
Ran
semangat thor
Ran
fitnah yang kejam..
Ran
kael ternyata masih peduli sama elenna dikala semua tidak memperdulikannya
Ran
kasian banget elena thor
Ran
Alberto sok dingin, nanti juga pasti nyesel
Ran
Thor bagian nama keknya ad typo
VanGenZ: Wah, terima kasih ya atas koreksinya, akan author perbaiki segera
total 1 replies
Ran
heh tiap hari keknya ada aja rencana busuknyaa
Ran
giliran sama putra mahkota malah ciut lu pada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!