NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Tamu Tak Diundang di Pesta Pertunangan

​Jakarta tidak pernah melihat kemewahan seperti ini sebelumnya. Hotel The Mahendra Star disulap menjadi istana bunga kristal. Ribuan mawar putih yang didatangkan langsung dari Belanda menghiasi setiap sudut aula. Lampu gantung Chandelier raksasa memantulkan cahaya pada deretan pengusaha kelas atas, pejabat, dan selebritas yang hadir untuk menyaksikan "Pernikahan Abad Ini"—meskipun secara teknis, ini baru pesta pertunangan.

​Di dalam kamar rias pengantin, Clarissa menatap pantulannya di cermin. Ia mengenakan gaun ballgown berwarna sampanye dengan potongan sweetheart yang memperlihatkan leher jenjangnya. Kalung berlian pemberian Devan melingkar di lehernya, berkilauan seperti bintang.

​"Kau tampak sangat cantik, Nona. Tuan Devan pasti akan pingsan melihatmu," puji asisten riasnya dengan tulus.

​Clarissa tersenyum tipis. "Dia tidak boleh pingsan. Dia harus sadar sepenuhnya saat menandatangani dokumen pengalihan aset Wijaya kembali kepadaku nanti malam."

​Clarissa tetaplah Clarissa. Di balik balutan gaun romantis, otaknya tetap bekerja seperti mesin bisnis. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa berdebar yang tak bisa ia sangkal. Ia akan bertunangan dengan pria yang dulu ia benci, pria yang ternyata mencintainya melampaui batas logika.

​Tok, tok.

​Pintu terbuka, dan Devan masuk dengan tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Rambutnya ditata sedikit berantakan namun elegan. Begitu melihat Clarissa, langkah pria itu terhenti. Matanya yang tajam membelalak, seolah sedang melihat dewi yang turun dari langit.

​"Kenapa diam? Apa aku terlihat aneh?" goda Clarissa, mencoba menutupi kegugupannya.

​Devan mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Clarissa. "Aneh? Tidak. Kau terlihat seperti alasan kenapa aku akan membakar dunia jika ada pria lain yang berani menatapmu lebih dari tiga detik malam ini."

​"Posesifmu kumat lagi," Clarissa tertawa, namun ia membiarkan Devan mencium keningnya lama.

​"Ayo, Ratu. Dunia sudah menunggu untuk menyembahmu," bisik Devan sambil menyodorkan lengannya.

​Lampu aula meredup saat pasangan itu melangkah masuk. Suara tepuk tangan membahana. Clarissa berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura kekuasaan yang tak tertandingi. Namun, saat mereka mencapai podium utama, suasana tiba-tiba berubah.

​Seorang wanita dengan gaun merah menyala berdiri di tengah jalan, menghalangi langkah mereka. Wanita itu cantik, dengan kecantikan klasik Eropa dan mata hijau yang tajam. Ia tidak mengenakan atribut tamu; ia membawa sebuah koper kecil dan sebuah amplop hitam.

​"Berhenti!" suara wanita itu menggema, memotong alunan musik orkestra.

​Devan membeku. Pegangannya pada tangan Clarissa mengencang secara refleks. "Elena? Apa yang kau lakukan di sini?"

​Wanita bernama Elena itu melangkah maju, menatap Devan dengan tatapan penuh luka yang dibuat-buat, lalu beralih ke Clarissa dengan senyum meremehkan. "Tuan Mahendra, kau benar-benar ingin bertunangan dengan 'wadah' ini? Kau tidak memberitahunya tentang janji yang kita buat di Milan lima tahun lalu?"

​Gisikan mulai terdengar di antara para tamu. Kamera media mulai membidik secara liar.

​Clarissa melepaskan gandengan tangannya dari Devan. Ia berdiri tegak, menatap Elena dengan tatapan sedingin es. "Janji apa yang kau maksud, Nona berbaju merah? Dan siapa kau berani menginterupsi pestaku?"

​Elena tertawa sinis. "Namaku Elena Grey. Ya, aku adalah putri dari Keluarga Grey yang kau hancurkan di Austria, Clarissa. Tapi aku di sini bukan untuk balas dendam fisik. Aku di sini untuk memberitahumu kebenaran."

​Elena melemparkan amplop hitam itu ke lantai, tepat di depan kaki Clarissa. "Devan tidak mendekatimu lima tahun lalu karena cinta. Dia mendekatimu karena dia tahu jiwamu adalah satu-satunya yang bisa membuka enkripsi 'Project Eternal Rose' milik ayahmu. Dan aku? Aku adalah tunangan aslinya sebelum dia terobsesi menjadikanku sebagai cadangan jika jiwamu gagal dipindahkan!"

​Clarissa menoleh ke arah Devan. Wajah Devan tampak pucat, sebuah ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan.

​"Devan... apa yang dia katakan benar?" tanya Clarissa, suaranya tetap tenang namun mengandung ancaman.

​"Clarissa, itu masa lalu. Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu—"

​"Menyelamatkanku atau menjadikanku aset perusahaanmu?!" potong Clarissa tajam.

​Elena maju lagi, suaranya merendah namun tajam. "Tahukah kau, Clarissa? Devan sudah menyiapkan tubuh lain di Milan jika raga Lestari menolak jiwamu. Dia memperlakukanmu seperti kode komputer yang harus dipindahkan dari satu perangkat ke perangkat lain. Dia tidak mencintaimu, dia mencintai 'kekuatan' yang ada di dalam ingatanmu!"

​"DIAM!" teriak Devan. Ia memberi kode pada pengawalnya. "Bawa wanita ini keluar!"

​"Tunggu!" Clarissa mengangkat tangannya, memberi tanda pada pengawal untuk berhenti. Ia berjalan mendekati Elena, lalu mengambil amplop hitam itu. Di dalamnya terdapat foto-foto Devan dan Elena di masa lalu, serta dokumen laboratorium yang menunjukkan nama Clarissa sebagai 'Subjek Utama'.

​Suasana aula menjadi sangat tegang. Para tamu menahan napas. Ini adalah skandal terbesar yang pernah ada.

​Clarissa menatap dokumen itu, lalu ia menoleh ke arah Devan. Semua orang menyangka Clarissa akan menangis atau menampar Devan. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.

​Clarissa tertawa. Tawa yang renyah namun sangat mengintimidasi.

​"Hanya ini?" Clarissa melempar dokumen itu ke wajah Elena. "Hanya ini kartu as yang kau bawa jauh-jauh dari Eropa, Elena?"

​Elena tertegun. "Apa maksudmu? Dia memanipulasimu!"

​Clarissa melangkah maju, menekan dadanya ke arah Elena dengan aura dominan. "Dengar ya, Nona Grey. Aku adalah Clarissa Wijaya. Aku sudah tahu Devan adalah iblis licik sejak hari pertama kami bertemu. Aku tahu dia punya rencana tersembunyi, dan aku tahu dia terobsesi dengan proyek ayahku."

​Clarissa berbalik, menatap Devan yang masih terpaku. "Tapi ada satu hal yang tidak kau tahu, Elena. Devan Mahendra mungkin memulai ini sebagai bisnis, tapi dia mengakhirinya dengan menyerahkan seluruh hidupnya padaku di puncak Alpen. Dia hampir mati untukku. Dan bagi seorang pebisnis sepertiku... itu adalah investasi cinta paling mahal yang pernah kuterima."

​Clarissa kembali ke samping Devan, meraih tangannya dan mengaitkan jari-jari mereka erat-erat.

​"Jadi, Elena, terima kasih atas informasinya. Tapi kau terlambat. Iblis ini sudah menjadi milikku, dan jika dia memang menggunakanku... maka aku akan memastikannya membayar dengan menjadi budak cintaku selamanya," Clarissa tersenyum licik ke arah Devan. "Benarkan, Tuan Mahendra?"

​Devan tampak tertegun, lalu senyum bangga perlahan muncul di bibirnya. Ia menarik Clarissa dan menciumnya di depan seluruh kamera media, sebuah ciuman yang membungkam semua fitnah.

​"Pengawal, usir Nona Elena," perintah Devan dengan suara mantap. "Dan pastikan dia tidak mendapatkan tiket pulang ke Eropa. Biarkan dia melihat dari pinggir jalan bagaimana aku dan Clarissa membangun kekaisaran ini bersama."

​Elena berteriak histeris saat diseret keluar. Pesta kembali dilanjutkan dengan musik yang lebih meriah, namun Clarissa berbisik di telinga Devan saat mereka berdansa.

​"Jangan senang dulu, Iblis. Setelah pesta ini selesai, kau harus menjelaskan tentang 'tubuh cadangan' itu di kamar. Jika penjelasanmu tidak memuaskan... jangan harap kau bisa tidur di ranjang bersamaku selama satu tahun."

​Devan tertawa kecil, memeluk pinggang Clarissa lebih erat. "Aku terima tantangannya, Ratu."

​Namun, di sudut ruangan, seorang pria dengan pakaian pelayan menatap mereka dengan benci. Ia meraba sebuah alat di telinganya.

​"Fase Elena gagal. Aktifkan rencana sabotase gas saraf sekarang."

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!