NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di dalam klinik yang tegang itu, Christian tidak memberikan celah sedikit pun bagi Akhsan untuk bernapas.

Ia terus menekan dengan tuntutan hukum yang berat, membuat Akhsan yang baru saja diguncang suara rekaman misterius menjadi semakin tersudut.

"Kecelakaan? Anda menyebut tindakan sengaja staf Anda sebagai kecelakaan?!"

Christian mendengus sinis. "Model saya bukan hanya investor, dia adalah aset berharga. Saya bisa menuntut Anda karena kelalaian ini!"

Akhsan yang tampak pucat akhirnya angkat bicara dengan suara yang dipaksakan tegas.

"Saya akan bertanggung jawab. Saya akan membayar ganti rugi sebesar lima miliar rupiah atas insiden ini dan saya akan menindak tegas pelakunya."

Aruna melirik dari balik pundak Christian, matanya berkilat puas.

Lima miliar adalah jumlah yang kecil bagi keluarga Adrian, namun merupakan pukulan telak bagi arus kas Hermawan Group yang sedang goyah.

"Tunjukkan tindakan tegasmu itu sekarang, Tuan Akhsan," tantang Christian dingin.

Akhsan segera keluar dari klinik dan memerintahkan asistennya untuk mengumpulkan seluruh karyawan di lobi utama dalam waktu lima menit.

Suasana kantor menjadi sangat mencekam. Tak lama kemudian, Akhsan berdiri di podium lobi dengan wajah yang sekeras batu.

Di depannya, ratusan karyawan berdiri kaku, termasuk Sisil yang masih dengan wajah memar dan sembab.

"Mulai detik ini, Sisil bukan lagi bagian dari Hermawan Group. Saya memecatnya secara tidak hormat karena tindakan kriminal dan tidak profesional yang membahayakan tamu penting perusahaan!"

Suara bisik-bisik langsung riuh. Sisil seolah disambar petir. Ia berlari ke depan, mencoba meraih kaki Akhsan.

"Mas! Tidak, Mas! Tolong jangan lakukan ini! Aku melakukannya karena aku mencintaimu! Aku tidak mau wanita itu mendekatimu!" teriak Sisil histeris sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Cinta tidak membenarkan kegilaanmu, Sil! Pergi dari sini sebelum keamanan menyeretmu keluar!" bentak Akhsan tanpa belas kasihan.

Ia memberikan isyarat kepada petugas keamanan untuk menarik Sisil menjauh.

Aruna yang berdiri di lantai atas, memperhatikan pemandangan itu dari balik pagar balkon bersama Christian.

Ia tersenyum melihat Sisil yang dulu sangat angkuh kini diseret keluar seperti sampah di depan semua orang yang dulu menghormatinya.

Setelah drama pemecatan itu, Aruna mendekati Akhsan yang tampak sangat lelah dan terguncang.

"Tuan Akhsan, saya merasa tidak aman di kantor ini sekarang. Sesuai perjanjian, antarkan saya kembali ke hotel mewah saya sekarang. Saya butuh istirahat dan pengobatan lebih lanjut," ucap Aruna dengan nada manja yang dibuat-buat namun memerintah.

Akhsan hanya mengangguk patuh. Ia menyetir mobilnya sendiri, mengantarkan Aruna menuju salah satu hotel termewah di pusat Jakarta.

Christian mengikuti dari belakang dengan mobil lain, memastikan semuanya tetap dalam pantauannya.

Sesampainya di Presidential Suite hotel, Christian memberikan kode anggukan kecil kepada Aruna sebelum ia menghilang masuk ke kamar lain yang terhubung dengan pintu rahasia.

Ia akan bersembunyi di sana, memantau setiap pergerakan Akhsan melalui kamera tersembunyi.

Aruna masuk ke dalam kamar yang megah itu, diikuti oleh Akhsan yang membawakan tasnya.

Aruna melepaskan blazer putihnya, menampakkan bahunya yang jenjang, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur yang luas.

"Tuan Akhsan, pintunya tolong dikunci. Saya tidak mau ada 'Sisil' lain yang mengganggu ketenangan saya di sini," ucap Aruna pelan sambil menatap Akhsan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Akhsan menelan salivanya. Ia berjalan menuju pintu dan memutar kunci, tidak menyadari bahwa di balik tembok itu, Christian sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan tangan mengepal.

Suasana di dalam Presidential Suite itu terasa begitu menyesakkan bagi Akhsan.

Wangi aromaterapi mewah bercampur dengan aroma parfum Aruna yang memabukkan memenuhi ruangan.

Aruna duduk di tepi ranjang, sementara Akhsan berdiri dengan canggung sambil memegang salep yang baru saja diambil dari kotak obat.

"Duduklah di sini, Tuan Akhsan," perintah Aruna lembut namun tegas, sambil menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.

Akhsan menurut. Tangannya yang biasanya stabil saat menandatangani kontrak jutaan dolar, kini bergetar hebat saat menyentuh kulit tangan Aruna yang lembut untuk mengoleskan salep.

"Apakah Anda mencintai wanita yang ada di foto itu?" tanya Aruna tiba-tiba.

Suaranya terdengar sangat tenang, namun menusuk langsung ke jantung Akhsan.

"Siapa nama wanita itu, Tuan Akhsan?"

Akhsan terhenti. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap mata di balik renda hitam itu.

"Namanya, Zahra," bisik Akhsan dengan suara serak.

"Dan ya, saya sangat mencintainya. Tapi saya terlambat menyadarinya."

Aruna tersenyum sinis di balik topengnya.

'Terlambat menyadari atau terlambat menyesal?' batinnya pedas.

Tiba-tiba, Aruna bergerak maju. Ia menarik kerah kemeja Akhsan, memaksa pria itu mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.

Akhsan bisa merasakan embusan napas Aruna di kulitnya.

Aruna mendekatkan bibirnya ke bibir Akhsan, seolah-olah hendak memberikan sebuah ciuman yang selama ini Akhsan dambakan dari bayang-bayang Zahra.

Akhsan memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang, ia merasa seperti sedang ditarik kembali ke masa lalu. Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, Aruna tiba-tiba menarik diri dan mendorong bahu Akhsan dengan gerakan cepat.

"Tapi Anda tidak pantas mendapatkan ciuman dari wanita mana pun setelah apa yang terjadi pada Zahra, bukan?"

Aruna berdiri dengan anggun, merapikan gaunnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Akhsan terpaku, napasnya tersengal, merasa dipermainkan sekaligus dihina.

"Sekarang, berhentilah melamun," ucap Aruna dengan nada memerintah kembali.

"Sesuai kesepakatan, saya ingin mandi sekarang. Siapkan susu sapi murni ke dalam bathtub itu. Pastikan suhunya tepat 38 derajat. Saya tidak suka menunggu lama."

Akhsan menelan salivanya, ia berdiri dengan sisa-sisa harga dirinya yang terkoyak.

Ia berjalan menuju kamar mandi mewah di dalam kamar tersebut, mulai menyiapkan ritual mandi susu yang diminta Aruna.

Di balik pintu rahasia, Christian yang menyaksikan semuanya melalui layar monitor mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Ia bangga pada kekuatan istrinya, namun melihat Akhsan yang begitu dekat dengan Aruna tetap membakar api cemburu di hatinya.

Aruna menatap punggung Akhsan yang sedang sibuk di kamar mandi.

"Ini baru permulaan, Akhsan. Aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya diinginkan lalu dibuang ke tempat sampah, persis seperti yang kau lakukan padaku dulu," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Uap hangat memenuhi ruangan kamar mandi mewah yang berlapis marmer itu.

Akhsan berdiri mematung di samping bathtub yang kini telah penuh dengan cairan putih susu sapi murni, sesuai dengan permintaan Aruna.

Napasnya terasa berat, dadanya sesak oleh campuran antara rasa bersalah pada masa lalu dan gairah yang tak tertahankan pada sosok di depannya.

Aruna berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menarik simpul tali jubah mandi sutranya.

Jubah itu merosot jatuh ke lantai, menanggalkan perlindungannya di hadapan pria yang dulu menghancurkannya.

"Tuan Akhsan, kemarilah," suara Aruna terdengar sangat rendah, serak, dan penuh magnet.

"Temani aku."

Akhsan seolah kehilangan fungsi otaknya. Langkah kakinya bergerak secara otomatis mendekat.

Matanya menatap punggung Aruna yang kini terekspos.

Di sana, meski sudah melalui operasi plastik tercanggih di Korea, masih tersisa guratan halus. bekas luka yang samar—yang mengingatkan Akhsan pada malam kebakaran itu.

"Anda sangat cantik," bisik Akhsan dengan suara yang pecah.

Ia berlutut di tepi bathtub saat Aruna mulai melangkah masuk ke dalam cairan susu yang hangat.

Aruna bersandar pada tepian bak mandi, membiarkan rambut hitamnya tergerai basah.

Ia meraih tangan Akhsan yang gemetar dan meletakkannya di atas bahunya yang licin karena susu.

"Apakah kecantikanku ini membuatmu melupakan istrimu yang sudah mati itu, Akhsan?" tanya Aruna sambil menatap tajam ke mata pria itu. "Atau mungkin... kamu melihat bayangannya padaku?"

Akhsan tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap Aruna dengan tatapan lapar sekaligus hancur.

Ia merasa seperti sedang diseret ke dalam lubang hitam yang dalam, namun ia tidak ingin menyelamatkan diri. Ia ingin tenggelam di sana.

"Zahra..." gumam Akhsan tanpa sadar.

Aruna tersenyum dingin. Di balik senyum itu, ia merasa sangat puas melihat betapa rapuhnya pria yang dulu dianggapnya sebagai Tuhan dalam hidupnya.

Ia tahu, di kamar sebelah, Christian sedang mengawasi setiap detik adegan ini.

Christian tahu ini adalah bagian dari rencana, namun Aruna juga tahu suaminya sedang menahan amarah yang luar biasa.

"Jangan sebut nama wanita mati itu saat sedang bersamaku," bisik Aruna sambil menarik kerah kemeja Akhsan yang kini ikut basah terkena air susu.

"Sekarang, ambil handuk itu. Keringkan bahuku. Aku ingin kau melayani setiap keinginanku hari ini, jika kau masih ingin perusahanmu selamat."

Akhsan menuruti perintah itu dengan patuh, seperti seorang budak yang sedang melayani ratunya.

Ia tidak sadar bahwa setiap sentuhan yang ia berikan adalah paku yang semakin dalam menancap pada peti mati kejayaannya

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!