Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Arlan berdiri terpaku selama beberapa detik, napasnya memburu dengan wajah yang kian memerah akibat malu dan amarah yang bergejolak. Kata-kata Hana - permintaan cerai yang diucapkan dengan begitu dingin - terasa seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada cengkeraman Adrian pada tangannya.
Ia melihat bagaimana Adrian menarik Hana ke balik punggungnya, sebuah gestur protektif yang seharusnya menjadi haknya sebagai suami.
"Kau akan menyesali ini, Hana! Jangan harap kau bisa kembali ke rumahku setelah ini!" teriak Arlan putus asa. Ia memutar tubuhnya, masuk ke dalam mobil SUV putihnya, dan memacu mesin dengan suara menderu yang memekakkan telinga sebelum melesat pergi meninggalkan area gedung.
Hana menghela napas panjang, pundaknya yang tadi tegang perlahan meluruh. Ia merasa lemas, namun ada secercah kelegaan yang luar biasa. Adrian berbalik, menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kemarahan yang tertahan, namun juga empati yang mendalam.
"Mari masuk. Kau tidak perlu berdiri di sini menjadi tontonan," ucap Adrian lembut.
Ia menuntun Hana masuk melalui pintu lobi utama. Suasana seketika menjadi hening saat mereka lewat. Bisikan-bisikan halus dan tatapan penuh selidik dari para staf dan karyawan tak terelakkan.
Mereka baru saja menyaksikan drama rumah tangga Sekretaris Utama sang CEO di halaman depan. Namun, Adrian memberikan tatapan tajam yang membuat siapa pun yang berani menatap Hana langsung menundukkan kepala.
Begitu sampai di lantai eksekutif, Adrian tidak membawa Hana ke meja kerjanya. Ia justru membukakan pintu ruang pribadinya yang luas dan kedap suara.
"Duduklah di sofa itu, Hana. Tenangkan dirimu," perintah Adrian. Ia berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan dan menuangkan segelas air mineral. "Minum ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu di sini."
Hana menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih, Adrian. Dan... maaf. Karena aku, di kantormu jadi kacau pagi ini."
"Bukan kau yang membuat kekacauan, tapi dia," sahut Adrian tegas. Ia mengambil ponsel di sakunya dan menekan sebuah nomor. "Fiki, ke ruanganku sekarang. Dan siapkan semua materi rapat pagi ini. Pastikan tim legal juga bersiaga."
Setelah memastikan Hana mulai tenang dan fokus kembali, Adrian memberikan waktu bagi wanita itu untuk menyendiri sejenak di sofa besar tersebut.
Ia sendiri melangkah menuju meja kerjanya yang masif, di mana Fiki, asisten pribadinya yang cekatan, sudah masuk membawa laptop dan tumpukan berkas.
Fiki duduk di hadapan Adrian, namun matanya sempat melirik ke arah Hana yang duduk di ujung ruangan. Sebagai orang kepercayaan Adrian, Fiki tahu banyak hal, tapi apa yang dilihatnya di lobi tadi adalah sesuatu yang baru.
"Materi rapat sudah siap. Sinkronisasi dengan klien London dilakukan melalui video conference jam sepuluh tepat," lapor Fiki sambil membuka layar laptopnya.
Adrian tidak langsung memeriksa laporan itu. Ia bersedekap, menatap Fiki dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Fiki, tunda pembicaraan rapat sebentar. Aku ingin kau melakukan sesuatu yang mendesak."
Fiki menghentikan jemarinya di atas keyboard. "Apa itu, Yan?"
"Siapkan tiga atau empat orang dari tim keamanan pribadi. Aku ingin mereka mengawasi Hana dari jarak yang aman. Mulai dari dia keluar gedung ini, hingga dia sampai di apartemennya. Aku ingin pengawasan dua puluh empat jam," ucap Adrian tanpa ragu.
Gerakan Fiki terhenti sepenuhnya. Ia menatap bos sekaligus sahabatnya itu dengan dahi berkerut, lalu melirik kembali ke arah Hana yang tampak sedang melamun menatap keluar jendela kaca besar. Fiki berdehem, mencoba menurunkan nada suaranya agar tidak terdengar sampai ke sofa.
"Maaf, Adrian... bukannya gue lancang, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Fiki dengan nada protes yang halus.
Adrian menyipitkan mata. "Berlebihan?"
"Hana... dia masih berstatus istri orang lain, Rian. Pria tadi adalah suaminya yang sah," Fiki melanjutkan dengan suara rendah namun berani. "Menempatkan bodyguard untuk mengawasi istri orang lain secara sepihak bisa menimbulkan masalah hukum dan rumor yang lebih buruk bagi reputasi lu dan Gavriel Corp. Bagaimana jika suami itu menuntut kita atas dasar intervensi rumah tangga atau penguntitan?"
Rahang Adrian mengeras. "Pria tadi tidak memperlakukannya sebagai istri, Fiki. Dia memperlakukannya sebagai barang miliknya yang bisa diseret sesuka hati. Kau lihat sendiri bekas kemerahan di lengan Hana tadi? Itu kekerasan fisik."
"Gue paham, Adrian. Gue pun tidak setuju dengan tindakan pria itu," sahut Fiki tenang. "Tapi sebagai asisten lu, gue harus mengingatkan posisi kita secara profesional. Menjaga keselamatan karyawan adalah satu hal, tapi mencampuri urusan domestik mereka dengan pengawalan pribadi selama dua puluh empat jam... itu sudah masuk ke area yang sangat personal. Orang-orang akan mulai bicara bahwa lu memiliki hubungan khusus dengan sekretaris lu sendiri."
Adrian terdiam sejenak. Kata-kata Fiki ada benarnya, namun bayangan cengkeraman kasar Arlan pada kulit halus Hana membuat darahnya mendidih kembali.
Ia telah melihat banyak hal di dunia bisnis, tapi penindasan terhadap wanita yang memiliki potensi sebesar Hana adalah sesuatu yang tidak bisa ia toleransi.
"Gue nggak peduli apa yang orang katakan, Fiki," ujar Adrian dingin. "Hana adalah aset penting bagi perusahaan ini. Dia adalah tangan kananku. Jika dia terganggu secara mental atau fisik oleh pria arogan itu, maka Gavriel Corp yang akan rugi. Kau lakukan saja apa yang gue perintahkan. Pastikan mereka terlatih dan tidak terlihat mencolok. Hana tidak boleh merasa dibuntuti, tapi dia harus aman."
Fiki menghela napas panjang, menyadari bahwa jika Adrian sudah mengeluarkan perintah dengan nada seperti itu, tidak ada ruang untuk negosiasi lagi. "Baiklah, Gue akan mengaturnya segera. Gue akan memilih orang-orang dari divisi keamanan internal yang paling cakap dalam pengawasan diskret."
"Bagus. Pastikan laporannya masuk ke ponselku setiap dua jam," tambah Adrian.
Hana yang sejak tadi terdiam, perlahan berdiri dari sofa. Ia merapikan blazer abu-abunya dan berjalan menghampiri meja Adrian. Wajahnya sudah jauh lebih tegar daripada sepuluh menit yang lalu.
"Rapatnya akan dimulai dalam lima belas menit, kan? Aku sudah siap," ucap Hana dengan nada profesional yang mantap.
Adrian menatapnya, seolah sedang menilai apakah Hana benar-benar sudah siap atau hanya berpura-pura kuat. "Kau yakin? Jika kau butuh waktu untuk pulang dan beristirahat, aku bisa meminta Fiki menanganinya."
Hana menggeleng kecil, sebuah senyum tipis - senyum yang mengandung harga diri yang tinggi - muncul di bibirnya. "Aku datang ke sini untuk bekerja, Adrian. Bukan untuk menjadi beban karena drama pribadiku. Arlan mungkin bisa menyakiti tubuhku, tapi dia tidak akan pernah bisa menghentikan langkahku lagi."
Adrian mengangguk, merasa bangga sekaligus lega. "Baiklah. Fiki, berikan berkas analisis pasar untuk Hana. Kita tunjukkan pada dunia luar, bahwa Hana Ayunindya adalah alasan mengapa perusahaan ini akan melompat jauh ke depan."
Fiki menyerahkan map biru kepada Hana. "Ini, Nona Hana. Maaf jika saya sempat ragu, tapi saya senang melihat Anda sudah kembali tenang."
Hana menerima map itu dengan anggun. "Terima kasih, Fiki. Mari kita mulai."
Mereka bertiga melangkah keluar dari ruangan menuju ruang rapat besar. Hana berjalan di antara Adrian dan Fiki, kepalanya tegak, langkahnya mantap.
Ia tahu banyak mata yang masih memperhatikannya, tapi kali ini ia tidak peduli. Ia bukan lagi tawanan di rumah Mahendra. Ia adalah bagian dari pusat kekuatan di Gavriel Corp.
Namun, di balik ketenangan itu, Hana tidak tahu bahwa di tempat lain, Arlan yang sedang dalam puncak kemarahan, mulai merencanakan sesuatu yang jauh lebih licik untuk mendapatkan Hana kembali, atau menghancurkannya jika ia tidak bisa memilikinya.
...----------------...
Next Episode....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.