Seharusnya di bulan Juni, Arum tidak menampakkan dirinya demi mendapatkan kebahagiaan bersama seseorang yang di yakini bisa mengubah segala hidupnya menjadi lebih baik lagi. Nyatanya, sebelah sayapnya patah. Bukan lagi karena hujan yang terus mengguyurnya.
Sungguh, ia begitu tinggi untuk terbang, begitu jauh untuk menyentuhnya. Dan, begitu rapuh untuk memilikinya...
Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEPAS KENDALI
Hujan kembali turun, kali ini lebih deras, seolah langit ikut meratapi kepergian yang tak sempat diucapkan dengan kata-kata. Arum melangkah tanpa tujuan, kakinya menyusuri jalan basah yang berkilau oleh pantulan lampu jalan yang mulai menyala terang di malam hari. Setiap tetes hujan yang menghantam wajahnya bercampur dengan air mata, dan tak lagi bisa dibedakan mana yang berasal dari langit, mana yang lahir dari luka di dadanya.
Kamu gak usah khawatir, ya. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada bersama kamu.
Napasnya tersengal, dadanya naik turun menahan sesak yang tak kunjung reda. Nama Langit dengan pernyataannya yang selalu menenangkan dirinya itu berputar-putar di kepalanya, hadir dalam setiap denyut nadi, setiap kenangan yang kini terasa seperti siksaan. Janji itu... seolah kini, tak lagi berarti!
Tangannya mengepal, lalu melemah, seolah seluruh kekuatan yang pernah ia punya ikut terkubur bersama kepergian pria itu.
Langkahnya tertatih, bahunya terguncang oleh isak yang akhirnya pecah. Suaranya tenggelam oleh derasnya hujan, jeritannya terkurung di balik kerongkongan yang perih. Arum terus berjalan, menembus dingin yang menggigit, menyesapi perih kehilangan yang telah menjadi satu-satunya bagian dari hidupnya yang berharga.
Arum masih melangkah di bawah rintik hujan yang jatuh malas, membasahi rambut dan bahunya yang terkulai. Malam kian menebal, lampu-lampu jalan tampak buram di balik tirai air, seolah dunia sengaja mengaburkan arah untuknya. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya, seakan aspal dingin itu menarik kakinya agar berhenti.
Tiba-tiba, perutnya melilit. Rasa nyeri itu datang mendadak, menusuk dan membuat tubuhnya menegang. Arum terhenti, satu tangannya refleks menekan perut, sementara napasnya tersengal. Kepalanya berkunang, pandangan berputar, cahaya lampu jalan menari-nari tak beraturan di matanya. Dunia terasa oleng, suara hujan kian jauh, seperti ditelan kehampaan.
Ia mencoba melangkah lagi, namun lututnya melemah.
Beeeep!
Bunyi klakson mobil memekakkan telinga, memecah malam yang basah. Cahaya lampu depan menyilaukan, menelan sosok Arum yang limbung di tengah jalan, tepat saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tergeletak di tengah jalan, tepat saat mobil sedang putih itu berhenti di depannya.
"Aish!" Dengus si pengendara mobil kesal, meski hatinya panik dan gelisah.
Seorang pria, usianya sekitar akhir dua puluhan. Wajahnya tampak lelah, rahangnya menegang, dan sedikit lingkar gelap di bawah matanya seolah menjadi saksi hari-hari panjang yang baru saja ia lalui. Kemeja yang dikenakannya sedikit kusut, dasinya sudah dilonggarkan, napasnya tertahan sejenak seakan tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari aktivitas yang lumayan melelahkan.
Ia lalu menoleh ke jok belakang mobil, meraih sebuah payung hitam, lalu membuka pintu dan turun. Hujan langsung menyambutnya, membasahi ujung sepatu dan celana panjangnya. Tanpa ragu, ia membuka payung itu dan melangkah cepat.
Saat itu juga, sorot matanya tertumbuk langsung pada Arum yang masih tak sadarkan diri di bawah hujan dan cahaya lampu jalan yang temaram.
Ia kemudian berjongkok di hadapan Arum, payung yang dikenakannya, seketika menangkup Arum dari hujan. Napasnya sedikit terengah saat satu tangannya terulur, menggoyangkan tubuh Arum yang beku. "Heh, bangun!" Sahutnya.
Arum masih belum merespons. Tubuhnya terkulai lemah, kepala sedikit terjatuh ke samping, napasnya tipis nyaris tak terdengar. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar entah karena dingin atau menahan rasa sakit yang tak sempat terucap.
"Aduuuh... gimana, ini!" Gumamnya sambil menengok ke kiri dan kanan jalanan. Sepi.
Tanpa pikir panjang, tangannya bergerak lebih sigap. Ia menopang lengan Arum ke sisi bahunya, merasakan betapa ringan dan rapuh tubuh itu saat disandarkan padanya. Arum tak melawan, kepalanya terkulai, langkahnya terseret nyaris tak berpijak. Pria itu menahan napas, menyesuaikan langkah agar tubuh Arum tak kembali terjatuh di atas aspal basah.
Pandangannya gelisah menoleh ke sekitar, malam tampak lengang, hanya hujan yang setia menemani. Dengan payung yang kini tak lagi berguna, ia membiarkannya terlipat dan jatuh ke samping, fokusnya hanya satu—membawa Arum menjauh dari jalan.
Ketika berhasil menuju mobil, ia membuka pintunya dengan tergesa, membantu Arum duduk di kursi depan, lalu memiringkan tubuhnya agar lebih bersandar. Tangannya sedikit gemetar saat ia menutup pintu. Lalu, ia segera berlari ke sisi kemudi.
Saat mesin mobil kembali menyala, lampu depannya langsung kembali menembus gelap dan hujan dan mulai membawa Arum pergi, meninggalkan jalan sepi yang masih basah oleh rintik hujan dan kesedihan.
****