NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-Detik Penentuan

Setelah memantapkan hati untuk memilih jurusan Ilmu Komunikasi, Sekar Arum sepenuhnya memfokuskan diri pada persiapan ujian masuk UNS. Waktu yang tersisa semakin menipis, membuatnya harus belajar lebih giat dan efisien.

Setiap hari, ia menyusun jadwal belajar yang ketat, membagi waktu untuk mempelajari semua mata pelajaran yang diujikan. Ia membaca buku-buku tebal, mengerjakan latihan-latihan soal, dan berdiskusi dengan teman-teman yang juga akan mengikuti ujian masuk UNS. Sesekali, Lintang mampir ke rumah Sekar, membawa cemilan dan memberikan semangat.

Namun, semakin dekat dengan hari ujian, semakin pula Sekar Arum merasa tegang dan cemas. Ia takut tidak mampu mengerjakan soal-soal dengan baik dan gagal meraih impiannya untuk kuliah di UNS.

Di malam hari, saat semua orang sudah tertidur, Sekar Arum masih terjaga, berkutat dengan buku-buku dan catatan-catatan. Ia berusaha keras untuk mengingat semua materi yang telah ia pelajari, tetapi semakin ia berusaha, semakin pula ia merasa otaknya penuh dan bingung.

Kecemasan itu membuatnya sulit tidur. Ia terombang-ambing di antara harapan dan ketakutan. Ia berharap dapat lulus ujian dan meraih cita-citanya, tetapi ia juga takut gagal dan mengecewakan orang tuanya.

Di pagi hari, saat hari ujian tiba, Sekar Arum bangun dengan perasaan campur aduk. Ia merasa lelah karena kurang tidur, tetapi ia juga merasa bersemangat untuk menghadapi tantangan ini.

Sebelum berangkat ke tempat ujian, Sekar Arum berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal-soal ujian. Ia juga meminta restu dari Bapak dan Ibunya.

"Nak, Bapak dan Ibu selalu mendukungmu. Kami yakin kamu pasti bisa melakukan yang terbaik," kata Ibu, memeluk Sekar Arum dengan erat.

"Jangan terlalu tegang, Nak. Kerjakan soal-soal dengan tenang dan percaya diri. Yang terpenting, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin," kata Bapak, menepuk pundak Sekar Arum dengan lembut.

Sekar Arum tersenyum lega. Ia merasa tenang dan termotivasi dengan dukungan dari orang tuanya.

Pagi itu, setelah sarapan, Bapak mengantar Sekar Arum ke terminal Eromoko. Sekar Arum akan berangkat ke Solo naik bus ke terminal Wonogiri, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Solo. Bapak berpesan agar Sekar Arum hati-hati di jalan dan tidak mudah percaya pada orang asing.

Sesampainya di terminal Wonogiri, Sekar berpamitan pada Bapak dan segera mencari bus jurusan Solo. Terminal pagi itu ramai sekali, dipenuhi orang-orang yang hendak bepergian. Sekar sedikit bingung, tapi ia memberanikan diri bertanya pada petugas terminal.

Setelah menunggu sekitar setengah jam, bus jurusan Solo akhirnya datang. Sekar segera naik dan mencari tempat duduk dekat jendela. Ia menatap ke luar jendela, menyaksikan pemandangan desa yang perlahan menghilang digantikan dengan pemandangan kota yang ramai.

Perjalanan ke Solo terasa cukup lama. Bus penuh sesak dengan penumpang, dan jalanan pun macet di beberapa titik. Sekar berusaha untuk tetap tenang dan fokus, mengingat-ingat materi pelajaran yang sudah ia pelajari.

Sesampainya di Solo, Sekar turun di terminal Tirtonadi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia lalu berjalan keluar terminal dan mencari taksi untuk menuju ke lokasi ujian.

Sesampainya di tempat ujian, Sekar Arum melihat banyak calon mahasiswa lain yang juga akan mengikuti ujian. Ia merasa semakin gugup dan tidak percaya diri. Ia melihat beberapa siswa yang tampak pintar dan percaya diri, membuatnya merasa minder dan kecil.

Namun, Sekar Arum berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Ia mengingat semua kerja keras dan pengorbanan yang telah ia lakukan. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia mampu menghadapi ujian ini.

Saat ujian dimulai, Sekar Arum menarik napas dalam-dalam dan mulai mengerjakan soal-soal dengan tenang.

Ia membaca setiap soal dengan cermat dan berusaha mengingat semua materi yang telah ia pelajari. Soal-soal ujian ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Beberapa soal membuatnya berpikir keras dan hampir menyerah.

Namun, Sekar Arum tidak mau menyerah begitu saja. Ia mengingat pesan Bapak untuk mengerjakan soal dengan tenang dan percaya diri. Ia menarik napas dalam-dalam dan kembali fokus pada soal-soal di depannya.

Setelah berjuang selama berjam-jam, akhirnya Sekar Arum berhasil menyelesaikan semua soal ujian. Ia merasa lega dan puas, meskipun ia tidak yakin apakah semua jawabannya benar. Ia menyerahkan lembar jawaban kepada pengawas ujian dan keluar dari ruang ujian dengan perasaan campur aduk.

Ia berjalan keluar gedung dan mencari tempat duduk untuk beristirahat. Ia merasa sangat lelah dan lapar. Ia membeli sebungkus nasi pecel di warung dekat lokasi ujian dan makan dengan lahap.

Sambil makan, Sekar Arum mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hasil ujian. Ia tahu bahwa ia telah melakukan yang terbaik, dan sekarang ia hanya bisa berdoa dan menunggu pengumuman.

Ia memutuskan untuk menghubungi Bapak dan memberitahukan bahwa ujian telah selesai. Bapak merasa lega mendengar kabar itu dan berpesan agar Sekar segera pulang ke Wonogiri.

Setelah selesai makan, Sekar Arum pergi ke terminal Tirtonadi dan mencari bus jurusan Wonogiri. Ia mendapatkan tempat duduk dan segera naik ke dalam bus. Ia menatap ke luar jendela, menyaksikan pemandangan kota Solo yang ramai.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari perjalanan berangkat. Sekar Arum merasa sangat lelah dan mengantuk. Ia memejamkan matanya dan tertidur pulas.

Ia terbangun ketika bus memasuki terminal Wonogiri. Ia turun dari bus dan segera mencari angkutan umum untuk pulang ke desanya.

Sesampainya di rumah, Sekar Arum disambut dengan hangat oleh Bapak dan Ibu. Mereka bertanya tentang ujian dan memberikan semangat kepada Sekar Arum.

"Bagaimana ujiannya, Nak? Lancar?" tanya Ibu dengan nada penuh harap.

"Lumayan, Bu. Soal-soalnya sulit, tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab Sekar Arum dengan senyum tipis.

"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang istirahat saja dulu," kata Bapak sambil menepuk pundak Sekar Arum.

Sekar Arum merasa lega bisa kembali ke rumah dan beristirahat. Ia mandi, makan, dan kemudian tidur siang dengan nyenyak.

Hari-hari berikutnya dilewati Sekar Arum dengan perasaan cemas dan tidak sabar. Ia terus menerus memikirkan hasil ujian dan berharap agar ia bisa lulus dan kuliah di UNS.

Ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dengan membantu Ibu di rumah dan bermain dengan teman-temannya. Namun, pikiran tentang hasil ujian tetap saja menghantuinya.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Pengumuman hasil ujian masuk UNS akan diumumkan sore hari. Sekar Arum merasa sangat gugup dan tidak bisa tenang.

Ia duduk di depan komputer dan menunggu dengan cemas. Jantungnya berdebar kencang saat ia membuka website UNS dan mencari namanya di daftar peserta yang lulus.

Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai mencari namanya. Matanya menyusuri daftar nama satu per satu.

Dan kemudian... Ia melihat namanya!

Sekar Arum terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia membaca namanya sekali lagi untuk memastikan.

Ya, itu benar-benar namanya! Sekar Arum dinyatakan lulus ujian masuk UNS dan diterima di jurusan Ilmu Komunikasi!

Air mata bahagia mengalir di pipinya. Ia berteriak kegirangan dan segera memberitahukan kabar baik ini kepada Bapak dan Ibu.

"Aku lulus, Bu! Aku lulus!" teriak Sekar Arum sambil memeluk Ibunya.

"Alhamdulillah! Ibu bangga sekali padamu, Nak!" kata Ibu sambil membalas pelukan Sekar Arum.

Bapak pun ikut senang mendengar kabar baik ini. Ia tersenyum lebar dan memeluk Sekar Arum dengan erat.

"Selamat ya, Nak! Bapak bangga padamu!" kata Bapak.

Sekar Arum merasa sangat bahagia dan bersyukur. Ia telah berhasil meraih impiannya untuk kuliah di UNS.

Namun, ia juga menyadari bahwa perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia harus belajar dengan giat dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa sukses di perkuliahan.

Malam itu, keluarga Sekar Arum merayakan kelulusannya dengan makan malam bersama. Mereka bersyukur atas berkat yang telah diberikan dan berdoa agar Sekar Arum selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam studinya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!