Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman Pertama
Hari ketiga sejak Riki pertama kali datang ke Waroeng Mak Ina, dia kembali mengunjungi tempat itu tepat pukul sepuluh malam.
Kali ini dia datang dengan pakaian yang lebih rapi tapi tetap sederhana – kaos polos putih dan celana jeans yang tidak sobek seperti saat mereka pertama bertemu.
Rambutnya sudah diatur dengan rapi, dan dia membawa sebuah tas kecil yang berisi buku catatan yang dia gunakan untuk berpura-pura sebagai pekerja kantoran biasa.
Ketika memasuki warung, dia melihat Safa yang sedang membersihkan meja dengan gerakan cepat dan terampil.
Keringat sedikit menetes di dahinya karena malam itu agak panas dan lembab, tapi wajahnya tetap terpampang senyuman yang hangat setiap kali bertemu mata pelanggan. Riki merasa hati nya menjadi hangat hanya dengan melihatnya.
Tanpa disadari Safa, Riki memilih meja pojok yang sama seperti hari sebelumnya. Dia duduk dengan hati-hati dan menyusuri lembaran menu yang sudah sangat akrab baginya sekarang.
Meski sudah tahu apa yang akan dia pesan, dia tetap melihat daftar makanan dengan saksama seolah sedang mempertimbangkan pilihan dengan cermat.
"Sama-sama Pak, mau pesan apa ya? Kali ini mau coba yang lain atau tetap pesan ayam bakar seperti kemarin?" tanya Safa dengan suara ramah ketika dia datang mendekati meja Riki.
Wajahnya menunjukkan ekspresi akrab, seolah dia sudah mengenal pelanggan ini meskipun baru bertemu beberapa kali.
Riki terkejut karena Safa masih ingat pesanannya kemarin. Dia tersenyum lembut dan berpikir sebentar sebelum menjawab. "Aku mau coba yang lain kali ini. Kamu bilang kemarin ada sate padang yang enak kan? Bolehkah aku pesan itu?"
"Tentu saja Pak! Sate padang kami memang terkenal lho, bumbunya khas dan dagingnya empuk banget," ucap Safa dengan semangat yang menyala. "Tapi saya kasih tahu dulu ya Pak, bumbu kacangnya banyak dan agak lengket. Jangan sampai terkena baju ya!"
Riki mengangguk dengan senyuman. "Baiklah, aku akan berhati-hati. Terima kasih atas peringatannya."
Safa segera pergi ke arah dapur untuk menyampaikan pesanan, sementara Riki duduk diam-diam mengamati suasana warung yang mulai sepi.
Hanya ada beberapa pelanggan yang tersisa, sebagian besar adalah pekerja malam yang sedang menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Suara nyanyian kicauan cicak di tembok dan gemericik air dari keran yang sedikit bocor menjadi latar suara yang khas dari warung kecil itu.
Tak lama kemudian, Safa datang membawa piring besar berisi sate padang yang menggugah selera – sepuluh tusuk sate daging sapi yang sudah dibakar hingga kecoklatan, disajikan bersama lontong, acar mentimun, dan mangkuk besar berisi bumbu kacang yang kental dengan taburan bawang merah goreng di atasnya.
Dia meletakkan piring dengan hati-hati di atas meja dan memberikan sendok plastik serta tusuk gigi kecil untuk menyebut sate dari tusukannya.
"Silakan dinikmati ya Pak," ucap Safa sebelum kembali bekerja membersihkan meja lain.
Riki melihat makanan di depan matanya dengan rasa kagum. Meskipun dia sering makan sate padang di restoran mewah yang menghabiskan biaya ratusan ribu rupiah, tampilan sate padang yang disajikan di warung kecil ini terlihat jauh lebih menarik dan menggugah selera.
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil satu tusuk sate dan mencoba mencelupkannya ke dalam mangkuk bumbu kacang.
Namun karena tidak terbiasa dengan cara makan sate padang yang benar di warung biasa, dia terlalu dalam mencelupkannya.
Ketika mengangkat sate tersebut, bumbu kacang mulai menetes deras ke bajunya yang putih bersih, membentuk noda coklat kecoklatan yang cukup mencolok.
"Ah tidak!" teriak Riki dengan kaget, mencoba membersihkannya dengan tangan tapi malah membuat noda semakin menyebar ke seluruh bagian depan bajunya.
Suaranya cukup keras sehingga menarik perhatian Safa dan pelanggan yang tersisa di warung. Safa langsung berlari ke arahnya dengan wajah khawatir. "Pak apa kabarnya? Sudahkah saya bilang kalau bumbunya banyak dan mudah menetes ya Pak!" ucapnya sambil segera mengambil kain bersih dari belakang meja kasir.
"Aku minta maaf ya... aku memang tidak terlalu sering makan makanan seperti ini di tempat yang sederhana seperti ini," ucap Riki dengan malu, wajahnya mulai kemerahan karena merasa menjadi pusat perhatian. Beberapa pelanggan yang melihat kejadian itu sedikit tertawa dengan ramah, seolah sudah terbiasa melihat pelanggan baru yang mengalami hal yang sama.
Safa tertawa pelan sambil membantu membersihkan baju Riki dengan kain bersih yang sudah dibasahi sedikit air. "Gapapa Pak, jangan sungkan ya. Saya juga pernah mengalami hal yang sama waktu pertama kali belajar makan sate padang lho. Malah bumbunya sampai ke wajah dan membuat saya jadi seperti wajah rakun yang baru makan madu!"
Cerita Safa membuat Riki juga tertawa, rasa malu yang sebelumnya menyelimuti dirinya perlahan menghilang.
Mereka duduk bersama sebentar di tepi meja, Safa dengan sabar menjelaskan cara makan sate padang dengan benar – bagaimana harus mengambil sedikit bumbu saja menggunakan sendok dan menyebarkannya di atas lontong, bukan langsung mencelupkan sate ke dalam mangkuk bumbu seperti yang dilakukan Riki.
"Aku selalu makan sate padang di restoran yang ada pelayan yang membantu menyajikannya jadi tidak pernah tahu cara makan yang benar," ucap Riki dengan jujur setelah Safa selesai menjelaskan.
Safa sedikit heran tapi tidak terlalu menganggap penting. "Oh begitu ya Pak. Bisa jadi lah Pak, kalau sering makan di sini pasti akan terbiasa kok. Makan di warung seperti ini ada kesannya sendiri lho – lebih santai dan rasanya lebih nikmat karena bisa merasakan suasana yang asli."
Mereka mulai berbincang lebih lama setelah itu, sementara Safa membersihkan noda pada baju Riki dengan hati-hati menggunakan sedikit air dan sabun cuci piring yang dia ambil dari dapur.
Riki cerita tentang dirinya yang berpura-pura sebagai pekerja kantoran di sebuah perusahaan kecil, bahwa dia baru saja pindah ke kota ini dan masih belum terbiasa dengan kehidupan sehari-hari di sini.
"Saya kira Pak bukan orang yang biasa tinggal di kota ini ya," ucap Safa dengan penasaran sambil terus menggosok bagian baju yang terkena noda. "Rambutnya yang rapi, tangan yang tidak ada bekas kerja keras, dan cara bicaramu yang sedikit berbeda dengan orang lain di sini."
Riki sedikit terkejut dengan pengamatan yang tajam dari Safa tapi segera bisa berpikir cepat. "Aku memang bekerja sebagai karyawan administrasi di kantor yang cukup besar, jadi tidak terlalu banyak kerja keras fisik. Tapi aku sebenarnya suka dengan kehidupan yang sederhana seperti ini lho – makanan rasanya lebih enak daripada makanan mahal yang aku makan di restoran mewah tapi tidak pernah membuat aku merasa kenyang dari hati."
Kata-kata Riki terdengar sangat tulus sehingga membuat Safa merasa terkesan. Mereka mulai berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing – Safa cerita tentang bagaimana dia harus bekerja keras sejak usia muda untuk membantu orang tuanya yang memiliki usaha kecil yang sering mengalami kesulitan, bagaimana dia harus bersekolah dan bekerja secara bersamaan hingga akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat SMA.
Sementara itu, Riki juga cerita tentang kehidupannya yang dibuat-buat – bagaimana dia harus bangun pagi setiap hari untuk naik angkot menuju kantor, bagaimana dia sering mendapat tugas yang menyebalkan dari bosnya, dan bagaimana dia berharap bisa suatu hari nanti memiliki usaha sendiri yang bisa membantu orang lain seperti Safa.
Waktu berlalu dengan sangat cepat ketika mereka berbincang. Tanpa mereka sadari, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dan warung akan segera tutup. Bu Yanti, pemilik warung, datang mendekati mereka dengan senyuman ramah. "Safa, sudah cukup ya anak. Kamu bisa pulang sekarang, saya yang akan membersihkan sisanya. Pelanggan ini sudah bisa kami jaga kok."
Safa berdiri perlahan dengan rasa sedikit sungkan. "Maaf ya Bu, kami terlalu banyak berbincang sampai lupa waktu."
"Tidak apa-apa anak, kamu sudah bekerja keras hari ini. Pulang saja dan istirahat yang cukup ya," ujar Bu Yanti dengan penuh perhatian sebelum melihat ke arah Riki. "Terima kasih sudah datang ke warung kami Pak. Semoga besok bisa datang lagi ya."
Riki berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada Bu Yanti. "Tentu saja Bu, saya pasti akan datang lagi. Makanannya sangat enak dan pelayanannya juga sangat ramah."
Setelah membayar pesanannya, Riki menawarkan untuk mengantar Safa pulang karena malam sudah larut dan jalanan mungkin tidak terlalu aman untuk seorang wanita sendirian.
Safa sedikit ragu pada awalnya tapi akhirnya menyetujuinya setelah melihat bahwa Riki memang memiliki niat yang baik.
Saat mereka berjalan keluar dari warung bersama, angin malam yang sepoi-sepoi menyentuh wajah mereka.
Riki merasa hati nya menjadi lebih hangat dari sebelumnya – ini adalah pertama kalinya dia merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura sebagai sosok CEO yang selalu harus kuat dan tidak bisa membuat kesalahan.
Dengan Safa, dia bisa menjadi seorang pria biasa yang bisa membuat kesalahan, tertawa dengan lepas, dan merasa bahagia dengan hal-hal sederhana.
Namun di balik rasa bahagia itu, rasa bersalah mulai muncul perlahan di dalam hatinya. Bagaimana kalau Safa tahu siapa dia sebenarnya nantinya? Akankah dia masih menerima dirinya seperti sekarang? Ataukah dia akan merasa telah ditipu dan pergi meninggalkannya?
Riki menghela napas perlahan dan memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu untuk saat ini. Yang penting baginya sekarang adalah bisa menghabiskan waktu bersama Safa dan mengenalnya lebih jauh.
Semoga suatu hari nanti dia akan memiliki keberanian untuk memberitahu semua kebenaran pada Safa, dan harapannya adalah Safa akan bisa memahami alasan mengapa dia harus menyembunyikan identitasnya selama ini.
"Sampai jumpa lagi ya Pak," ucap Safa dengan senyuman ketika mereka sampai di jalan raya yang menjadi perpisahan mereka.
"Ya, sampai jumpa lagi. Jangan lupa ya, besok aku akan datang lagi dan kali ini pasti sudah bisa makan sate padang dengan benar!" ujar Riki dengan senyuman yang membuat Safa tertawa.
Setelah Safa pergi dengan langkah cepat menuju arah rumahnya, Riki tetap berdiri di tempatnya untuk waktu yang lama. Mata nya masih menatap arah tempat Safa menghilang, hati yang penuh dengan harapan dan sedikit kekhawatiran.