Niatnya mulia, ingin membantu perekonomian keluarga, meringankan beban suami dalam mencari nafkah.
Namum, Sriana tak menyangka jika kepergiannya mengais rezeki hingga ke negeri orang, meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil – bukan berbuah manis, melainkan dimanfaatkan sedemikian rupa.
Sriana merasa diperlakukan bak Sapi perah. Uang dikuras, fisik tak diperhatikan, keluhnya diabaikan, protesnya dicap sebagai istri pembangkang, diamnya dianggap wanita kekanakan.
Sampai suatu ketika, Sriana mendapati hal menyakitkan layaknya ditikam belati tepat di ulu hati, ternyata ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isyt : 34
Sebuah pesan di messenger menarik perhatiannya, tapi tidak dia buka. Cuma dibaca dalam hati satu baris kata lewat layar beranda, lalu dibiarkan saja.
Cie cie … setelah ratusan purnama, kembang desa akhirnya menunjukkan wujudnya. Wulan.
Uhuyy. Primadona SMU Danur Rejo – apa kabar Ana? – Hasna. Wanita yang sebelumnya diblokir oleh Sriana. Sekarang mereka kembali berteman di dunia maya.
Masih banyak lagi komentar dari para temannya. Sriana dikenal pribadi hangat, ringan tangan dalam hal membantu, aktif kegiatan di sekolahnya. Dia juga terkenal dengan julukan primadona SMU Danur Rejo. Parasnya cantik, senyumnya manis, sifatnya menyenangkan. Dulu, banyak yang menaruh hati kepadanya, tapi dia malah memutuskan menikah dengan Agung. Setelahnya menghilang dari media sosial, menjauhi para teman-temannya.
***
Beberapa hari kemudian.
“Kalian di rumah saja! Mirip gembel gitu ndak pantas mencoba mobil baru tante Triani.” Wiyah melarang kedua cucunya. Tidak diperbolehkan ikut mencoba mobil yang baru kemarin siang tiba di hunian Triani.
Ambar memandang nanar, tepat didepan matanya – sang ayah menggendong Eli, lalu mereka masuk ke dalam mobil baru berwarna putih.
Septian yang berdiri di teras tidak jauh dari sang adik, mengikis jarak, lalu merangkul pundak Ambar. “Kalau hatimu sakit, jangan dilihat. Ndak apa-apa nggak disayang sama dia, kan kita punya Bunda.”
Tangan kecil itu melingkari pinggang kakaknya. Terkadang, di waktu tertentu dia ingin sekali diperhatikan ayah kandungnya.
Namun seribu sayang, jangankan memeluk atau mengelus-elus kepalanya, menatap saja Agung enggan.
Bila dengan Eli, sang ayah begitu perhatian, bertutur lembut, sering membelikan jajan, bahkan bersedia dipanggil Papi. Namun dengannya, layaknya orang lain. Tanpa kelembutan, kehangatan, yang ada bentakan sesekali ringan main tangan menggunakan kekerasan.
Putra dan putrinya Sriana menatap belakang badan mobil sampai hilang dari pandangan.
“Semoga suatu hari nanti, kita juga bisa punya mobil bagus kayak gitu ya, Mas.”
"Doakan mas Tian jadi orang sukses ya, Dek. Biar nanti bisa membahagiakan kamu dan Bunda, terus beli mobil, bangun rumah bagus untuk kalian.” Dia elus sayang pucuk kepala adiknya yang terlihat masih murung.
“Aamiin.” Ambar mengangguk.
***
Kaca jendela mobil diturunkan hingga terbuka sempurna. Agung menyetir sambil mengenakan kaca mata hitam, disebelahnya duduk sang ayah yang berwajah pongah memangku Eli.
Laju mobil baru itu sangat lamban, seolah memang sengaja agar bisa ditangkap setiap pasang mata siapa saja yang duduk didalamnya.
Wiyah, Ita – sesekali tersenyum sombong pada warga yang menyapa, memuji sambil melihat secara terang-terangan mobil baru mereka.
Dwita sibuk selfie, berganti gaya dengan memperlihatkan jelas kalau sedang berada di mobil mewah, menurut versi mereka.
Triani bahkan melakukan live streaming, dia yang duduk di bangku tengah dekat jendela – mengarahkan kamera ke pematang sawah, lalu menyorot sun visor mobil masih terbungkus plastik.
Mobil masih berplat hitam putih bertuliskan warna merah itu berhenti di warung dekat pematang sawah.
Para penumpang keluar satu persatu, ingin menikmati es kelapa muda dan juga mie rebus.
Toro berdecak, matanya memandang lekat mobil mewah, termasuk dalam kategori mobil multiguna dengan desain gagah.
Uang pinjaman di bank sudah cair, langsung mereka pergi ke showroom mobil. Membeli satu unit seperti keinginan, dengan pembayaran cash.
Dua meja dijadikan satu, para anggota keluarga Agung duduk diatas kursi plastik, memesan menu yang mereka mau.
Mata Dwi terbelalak, dia sedang melihat media sosial sang kakak ipar. “Mbak Tri, si bodoh ini sepertinya habis liburan dimana? Kok fb nya ndak diprivat lagi?”
Dia merasa heran, sejak kapan Sriana memposting foto baru, dan juga membuka kunci laman media sosialnya.
Traini yang baru saja mengelap sendok menggunakan tisu, langsung meraih ponsel Dwita. “Sok banget gayanya, muka jelek kayak parutan kelapa kok ya pede foto dan up di medsos.”
Potret Sriana dia zoom, tapi hasilnya malah buram. Triani mengklik bagian suka, melihat siapa saja yang menyukai postingan sepupunya. Banyak nama-nama teman sekolah mereka, membuat dadanya terasa panas, darah berdesir.
Masih kurang puas, dibukanya laman media sosial Sriana menggunakan ponselnya, lalu beralih ke akun Eka. “Sri ini memang ngeyelan, sudah diomongin jangan deket-deket perempuan ndak jelas itu, malah liburan bareng sampai Macau.”
Agung mulai penasaran, dia ambil ponsel selingkuhannya, lalu berdecak saat tidak dapat melihat jelas wajah sang istri. “Udah jelek, malah sok misterius.”
"Kalau ke Macau apa ndak pakai Visa, mbak?” tanya Dwita, dia iri melihat busana yang dikenakan oleh Eka, terlihat kekinian.
“Nggak, cuma paspor saja,” tidak jauh dari Dwi, Triani kesal saat mendapati baju, rok, serta coat musim dingin, semua itu baru. Sriana belum pernah memakai saat mereka masih tinggal satu rumah.
“Mas ….” Rengeknya, menggesekkan kepala pada lengan atas Agung. “Istrimu ini loh, boros banget. Itu pakaian yang dia kenakan – satu juta lebih hargane.”
Agung membelai pucuk rambut Triani. “Nanti tak tegur dia, biar kirim uang terus bisa kamu belikan pakaian yang lebih bagus.”
Senyum Triani menghiasi bibir berlipstik nude. Dia memandang menggoda pada suami sepupunya sendiri.
Tidak ada yang menegur, semua orang seperti sudah memaklumi, malah ikutan tersenyum. Seakan-akan hal wajar, seolah Triani dan Agung adalah pasangan suami istri sah.
Pesanan mie goreng, es kelapa muda pun terhidang diatas meja, mulai dinikmati Agung dan anggota keluarga serta wanita tak halal baginya.
Disela-sela mengunyah, Dwita bertanya. "Mbak, terus gimana sama skincare nya Sri? Kan dirimu pulang, nanti dia bisa saja pakai yang baru tanpa campuran bahan racikan mu."
Triani terkekeh, binar mata licik. "Dua set produk kecantikan dia yang masih baru, sudah tak campur baking soda, sama lotion. Terus, bubuk daun teh kesukaan dia yang masih satu toples – aku bubuhi bubuk obat jerawat."
Mata Dwita langsung membesar menatap Tria yang duduk di hadapannya. "Keren kamu, Mbak. Totalitas banget. Kalau seperti itu, sampai berbulan-bulan bahkan satu tahunan. Dia terus buruk rupa, kehilangan kepercayaan diri – jadi ndak berani neko-neko."
Ita, Wiyah, sama-sama tersenyum, lalu memuji Triani. Mereka memang sengaja merusak kulit wajah dan tubuh Sriana. Bertujuan menjatuhkan rasa percaya diri, serta menekan mentalnya lebih dalam lagi.
Mereka makan sambil mengobrol ringan, melempar candaan, membahas tentang masa depan dengan melibatkan Sriana di dalamnya. Menjadikan wanita itu Sapi perah, agar tanpa berusaha mereka yang jadi kaya raya.
Namun keakraban, kehangatan itu terganggu saat ponsel Agung berdering.
"Ck ... mau ngapain wanita jelek, bau minyak jelantah ini menelepon?" walaupun muak, malas, tetap dia angkat.
"Hiks hiks hiks ... Mas, aku takut dipecat. Paspor ku digadaikan di rentenir sama Eka. Dia ndak bisa bayar _"
"Apa?! Ulangi Sri!"
.
.
Bersambung.
terimakasih kakak 💕💕 karya yg sll keren 👍👍👍
mau otw ke horor tp ragu krn takut
yg ada , celaka iya 😁