NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Mimpi

Aruna sudah meninggalkan Klinik, dia hanya pamitan kepada Tabib Jung. Waktu masih sekitar pukul 1 siang, jadi dia menuju pasar untuk membeli bahan-bahan dapur.

Cukup ramai, Aruna mendengar para pedagang dan pembeli sedang membicarakan Yui yang keracunan, tapi cerita mereka lebih condong ke Tabib sakti yang sangat cantik.

"Aku melihatnya, Tabib sakti itu ternyata seorang gadis.."

"Waahh,, benarkah?"

"Ya, katanya dia sangat cantik. Bahkan kecantikan no 1 Kota Nuwu tidak ada apa-apanya."

Aruna penasaran dengan kecantikan no 1. Apakah kecantikan di kota ini memiliki urutan? Dia tidak ingin ambil pusing, dan terus berjalan. Tidak ada yang bisa melihat wajahnya, karena saat ini dia menggunakannya jubah biru yang bertudung

Setelah membeli semua yang dia butuhkan Aruna terus berjalan, sampai dia melihat sebuah lapak yang sangat sepi, seorang Ibu dan Anaknya sedang memanggil pembeli.

"Roti kukus,,,, masih hangat,, isi daging dan kacang,, ayoo ayoo!"

"Roti,, rotiiii..."

"berapa harganya?" tanya Aruna.

Bibi itu beranjak lalu menjawab dengan semangat, wajahnya penuh senyum bahagia, akhirnya ada pembeli juga. "Nona isi daging tiga koin, isi kacang dua koin tembaga!"

Mendengar kata 'kacang' Wajah Aruna menggelap. Tapi bibi itu tidak melihatnya. "Beli semuanya, Bibi tolong bungkus di kertas minyak yang besar!"

"Oh baik-baik.. Eh apa tadi, semuanya?" Dia bertanya, takut salah dengar.

"Ya, Bibi bisa bungkus sekarang. Aku sedang buru-buru!"

Dengan semangat Bibi itu membungkus rotinya dengan kertas minyak yang hanya muat lima roti. Hari ini, pertama kalinya dia membawa roti dengan jumlah yang banyak. Itu juga karena terpaksa, dia butuh uang lebih untuk Anak sulungnya berobat. Anak bungsunya juga ikut membantu, ada keraguan dalam hatinya, jangan sampai Aruna hanya bermain-main saja, apalagi roti ini sangat banyak.

"Nona isi daging 110 dan isi kacang ada 100" ucap sedikit gugup.

Aruna mengangguk lalu bertanya, "Jadi, semua totalnya berapa?"

Bibi itu baru mau menghitung, tapi Anaknya lebih cepat darinya. "530 koin tembaga." ucapanya tanpa ragu, dia memang memiliki otak yang sedikit cerdas dalam perhitungan.

Sang Ibu merasa malu, karena Anaknya terlalu terburu-buru. "Nona, maafkan Anak saya, dia terlalu bersemangat.!"

Sang Anak diam, dia tau sifat Ibunya yang selalu mengalah dan merendah. Katanya 'Orang miskin tak perlu mencolok'. Tapi dia tertegun mendengar ucapan Aruna.

"Jangan minta maaf, Anak Bibi tidak bersalah. Dia memiliki otak yang cerdas, kelak dia akan menjadi pembisnis yang sukses" Ucap Aruna dengan yakin sambil meletakkan uangnya di atas meja.

Sang Anak kembali beraksi dengan cepat. Hanya perlu beberapa detik saja "Koinya pas." katanya dengan semangat, ternyata Aruna benar-benar membeli semuanya.

Aruna hanya mengangguk, lalu pergi setelah rotinya tersusun dengan baik di keranjangnya. Kali ini dia langsung menuju gerbang kota, dia sudah pergi terlalu lama.

Tiba di pintu gerbang Aruna melihat Tabib Gu dan Ji Yong sedang berdebat dengan penjaga. Saat dirinya mendekat, Tabib Gu langsung menoleh dan bernafas lega. Dia memberi tahu Aruna, jika dirinya dan Ji Yong hendak masuk Kota untuk mencarinya, tapi para penjaga tidak memberi Izin, maka terjadilah perdebatan kecil.

Aruna segera meminta maaf, keributan terjadi kerena dirinya. Dia berandai, jika saja ada alat komunikasi pasti sangat berguna.

Melihat Aruna balik dengan keadaan selamat dan tanpa luka sedikitpun, membuat semua orang bernafas lega, warga Desa Suning sudah menganggapnya sebagai saudara..Aruna sangat berperan penting dalam hidup mereka, padahal mereka baru beberapa hari saling kenal.

"Syukurlah kamu baik-baik saja." Nenek Suyu mengenggam tangan Aruna dan mengajaknya untuk duduk. Dan memberi secangkir air minum.

"Ya, jika setengah jam lagi kamu tidak balik, Kakek akan meminta Ozian untuk mencarimu dengan cara memanjat tembok"

Aruna tersenyum penuh haru, mereka benar-benar peduli. Sekali lagi dia meminta maaf, dan menceritakan apa yang terjadi di dalam kota, sampai dirinya terlambat pulang.

Mendengar cerita Aruna, badan mereka bergetar karena takut. Rumput Pelangi adalah racun pembasmi tikus, mereka juga tau, karena sering menggunakan racun itu untuk membunuh tikus di sawah. Hanya butuh beberapa tetes saja, tikus-tikus kaku tak bernyawa.

"Pantesan kamu lama, ternyata kamu menyelamatkan nyawa orang lagi!" Ujar Tabib Gu dengan rasa bangga. Aruna sekarang adalah Cucunya, cucunya, ingat ya CUCUNYA. Tadi di gerbang dia sudah mendengar sedikit berita itu, ternyata 'Tabib Sakti' yang mereka maksud adalah Aruna.

"Ya, karena itu. Mungkin kita juga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Masih ada urusan yang belum selesai!" Ucap Aruna.

"Tidak masalah, kita bisa lanjutkan setelah urusanmu selesai. Menyelamatkan seseorang adalah hal yang mulia!" Kata Ayah Lin, dia pernah berada diposisi keluarga Yui, hampir kehilangan Anak.

"Ya, Jangan pikirkan lagi. Kita bisa berjalan dengan santai, tidak perlu terburu-buru!" Kakek Ji juga menimpali.

Aruna mengangguk, memang tak perlu buru-buru. Dia kemudian teringat dengan roti yang dia beli, "Ji Yong, coba kamu lihat isi keranjang itu!"

Ji Yong menurunkan keranjang yang di bawa Aruna tadi. Dia segera membukanya, matanya berbinar melihat roti yang sangat banyak, dia sudah mencium aromanya sejak tadi, tapi dia tidak berani untuk bertanya.

"Bagikan sekarang! Mumpung masih hangat, satu orang dapat satu yaa..!"

Anak-anak kecil berseru, mereka sangat suka makan. Tanpa disuruh lagi semuanya berbaris untuk mengantri, sebelum pergi mereka tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Aruna.

Orang tua yang melihat anak-anak tertawa bahagia juga ikut senang. Semua berkat Aruna, dalam hati mereka sudah tertanam, jika Aruna adalah penyelamat yang kirim Dewa untuk mereka.

"Jadi Nak, bagaimana caramu menyelamatkan gadis itu? Apakah kamu membuat penawarnya?" tanya Tabib Gu, mereka duduk melingkar sambil makan roti.

"Tidak, membuat penawarnya membutuhkan waktu yang lama, sedangkan gadis itu nyawanya tinggal hitungan menit saja!"

Semua menghela nafas, gadis itu beruntung karena bertemu dengan Aruna, jika tidak mungkin Kota Nuwu berduka, dan pintu gerbang kembali di tutup.

Aruna terawa pelan melihat wajah orang-orang yang penasaran, terutama Kakek Gu. "Hanya perlu Akupuntur saja!"

"Ohh Akupuntur.. Eh,, APA?" Kakek Gu langsung beranjak saking syoknya, Akupuntur adalah cara pengobatan yang sudah sangat langka, bahkan sudah hampir hilang. Tapi Aruna yang dari masa depan bisa melakukannya.

"Kekek ada apa?"

"Sampai ditujuan, kamu harus mengajariku Akupuntur." Tabib Gu mengatakan keinginannya secara langsung, dia tidak malu harus berguru dengan orang lebih mudah darinya.

Aruna juga ikut beranjak, dia berpura-pura serius lalu berkata. "Kakek, kamu tenang saja! Cucumu ini sangat berbakti."

"Bagus,, bagus,, hahaha!" tawa Tabib Gu pecah saking senangnya.

Semua tertawa bahagia melihat keduanya saling bercanda. Mereka melanjutkan obrolan tentang apa yang harus mereka lakukan setelah sampai ditujuan. Sekitar jam lima sore, mereka bersiap untuk masak makan malam.

Aruna yang ingin turun tangan dihentikan oleh Nenek Suyu. "Nak, kamu Istirahat saja! Kamu pasti kelelahan." ucapnya sambil menuntun Aruna ke dalam tenda.

Aruna hanya menurut, dia memang sedikit lelah dan mengantuk. Dia masuk dan pura-pura berbaring, setelah Nenek Suyu keluar dia masuk ke Ruangnya. Dia tak perlu khawatir, karena Nenek Suyu sudah memberi peringatan agar tidak ada orang masuk tenda.

Di dalam Ruangnya, Aruna tersenyum bahagia, kabut putih makin menjauh, dan barang-barang yang ada di Supermarketnya makin banyak yang bisa diakses. Aruna bertekad, sebelum masuk Ibu kota, semuanya harus bisa diakses.

Dia masuk kamar untuk tidur, waktu di ruangnya berbeda di dunia nyata. satu jam di luar, di dalam satu bulan. Aruna bisa tidur dengan puas.

Aruna bermimpi, melihat banyak orang yang sedang melawan Zombie, dia ingin ikut membantu tapi kakinya tidak bisa digerakan. Seolah-olah dirinya diminta untuk menjadi penonton saja.

Cahaya putih melintas, dan Aruna sudah di tempat yang berbeda. Sebuah rumah yang masih berdiri dengan kokoh, rumah itu dia jadikan sebagai basecamp. Orang maupun Zombie tidak bisa masuk, karena Aruna mengunci pintu dan jendela menggunakan kekuatan mentalnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari radio, itu peringatan dari pemerintah. Agar semua orang tidak berkeliaran di luar, karena prediksi akan hujan lebat lagi. Hujan hitam yang mengandung kekuatan bagi para Zombie, tapi sangat berbahaya bagi manusia.

Tapi saat penyiar itu mengatakan tanggal dan bulan saat ini, membuat Aruna terkejut. Hari itu adalah hari di mana dirinya masuk hutan, dan dia tidak tau lagi apa yang terjadi.

Duar...

Duaarrrrr....

Duaarrrrr.......

Suara guntur dan petir saling beradu suara, cuaca di luar sangat gelap, padahal masih siang hari.

Duarrrrrr......

Duaarrrrr....

Kilatan petir yang bercahaya sampai menerangi bumi yang gelap. Para Zombie sudah menunggu hujan dengan semangat. Tapi saat hujan turun, para Zombie itu menggeram kesakitan, setiap tetes hujan yang mengenai tubuh mereka langsung meleleh..

Aarrgghh.....

Kreeesss....

Arrrrggghhh..

Para Zombie ingin berlari untuk berlindung dari hujan, tapi sudah terlambat. Hujan sangat lebat, tubuh mereka melebur saat itu juga.

Aruna yang melihat kejadian itu dibuat syok, dia tidak tau apa yang terjadi, mungkin kah efek hujan sudah naik level? Atau hujan itu menjadi pembasmi para Zombie?

******

Setelah makan malam bersama, Aruna berbincang dengan para gadis lainnya, dia hanya paling dekat dengan Rhui dan Chen. Yang lainnya terlihat malu-malu dan sungkan.

Tiba-tiba terdengar suara kereta kuda yang mendekat dari pintu gerbang, dan berhenti di dekat tenda mereka.

Kepala Desa segara beranjak dan berjalan mendekat. Sebelum dia bertanya kepada seorang pengawal yang duduk di atas kuda, seseorang lebih dulu keluar dari kereta.

Orang itu menatap Kepala Desa dengan raut wajah penuh hormat, tak disangka ada seorang Tabib sakti yang bersembunyi di sebuah Desa kecil. "Tuan, maaf jika kedatangan saya malam-malam mengganggu waktu Anda."

Melihat orang di depannya begitu ramah, Kepala Desa menghela nafas lega, dia sempat berpikir orang-orang ini pasti berifat Arogan, karena menggunakan kereta mewah.

"Oh tidak,, tidak.. Kalau boleh tau, Tuan datang malam begini ada keperluan apa?" tanyanya kembali bepikir negatif.

"Sebelumnya, perkenalkan saya dari keluarga Yu. Saya datang mencari Nona Aruna, Tabib Sakti yang sudah menyelamatkan Anak saya!" ujarnya, ternyata orang itu Ayah Yui.

Kepala Desa tertegun, dia ingin bertanya lebih tapi takutnya Tuan Yu tersinggung dan malah menyulitkan mereka, apalagi keluarga Yu, adalah Bangsawan kelas dua.

"Saya hanya ingin mengucapkan Terima Kasih kepada Nona Aruna. Tadi saya belum sempat melakukannya!" jelasnya, melihat wajah Kepala Desa dipenuhi rasa cemas.

Barulah Dia tersenyum, "Oh, mari Tuan ikut saya!" katanya dengan canggung.

Keduanya berjalan di depan tenda di mana para gadis berkumpul. Tuan Yu meminta pengawal dan pelayannya untuk tidak ikut, takutnya kehadiran mereka membuat para warga takut.

Tak sulit untuk mengenali Aruna, wajahnya yang cantik paling menonjol. Dia baru memperhatikannya, karena siang tadi dia terlalu khawatir dengan keselamatan Anaknya sampai tidak menyadarinya. Bahkan Aruna terlihat seumuran dengan Anaknya, alangkah baiknya jika mereka berteman, tapi sayang sekali Aruna harus ke Ibu Kota.

Melihat para gadis berkumpul dan bercanda tanpa adanya perseteruan, membuatnya kagum, pertemanan yang benar-benar tulus.

"Nak, ada seseorang yang datang mencarimu!" ujar Kepala Desa.

Para gadis yang mendengarnya langsung beranjak, lalu pergi setelah berpamitan. Mereka tau diri, ini urusan orang penting.

"Oh Tuan Yu, Anda terlalu buang-buang waktu sampai harus datang ke sini. Apa terjadi sesuatu?" tanya Aruna setelah semuanya duduk di dalam tenda, hanya ada mereka bertiga.

"Tidak buang-buang waktu. Memang seharusnya saya datang menemui Nona Aruna. Tadi siang saya belum sempat mengucapakan terima kasih kepada Nona Aruna. Jadi saya datang ke sini secara pribadi, dan mewakili keluarga besar Yu!" jelasnya sambil sedikit menunduk.

"Nona Aruna, sekali lagi terima kasih!" ulangnya.

"Ya, itu sudah tugas saya sebagai Tabib. Tidak mungkin saya melihatnya begitu saja," kata Aruna.

Tuan Yu mengagguk puas, kemudian dia mengambil amplop di dalam saku bagian dalam, lalu meletakkan di depan Aruna. "Nona, saya datang membawa hadiah sebagai ucapan terimakasih, dan ini adalah bayaran pengobatan Yui."

Aruna hanya meliriknya sekilas, orang kaya memang berbeda. "Tuan Yu, jujur saja, saya ini orang miskin jadi saya menerima hadiah dan bayaran ini" ucap Aruna dengan lugas. Dia tidak naif, memang dia membutuhkan uang.

Tuan Yu makin kagum melihat Aruna berbicara apa adanya. Tapi dia sedikit tidak percaya, dengan ilmu pengobatan yang sangat tinggi itu bukanlah hal mudah yang bisa diraih, bukan hanya tekad, tapi untuk belajar pengobatan itu juga butuh uang. Dan saat ini ilmu Aruna sudah melambung tinggi, dengan keahliannya, dia pasti sudah mengobati banyak orang. ---- Pasti sudah banyak uang.

Tuan Yu tertawa pelan "Nona Aruna juga ternyata sangat suka merendah. Hmm,, nona silahkan dilihat, apakah jumlahnya kurang? Kalau masih kurang katakan saja, kami keluarga Yu, pasti akan berusaha."

Aruna kembali iri dengan Yui, semua keluarganya menyayanginya, bahkan untuk pengobatan saja, mereka semua bersedia untuk mengeluarkan uang.

Aruna membuka amplop tipis itu, dia juga penasaran berapa isinya. Melihat 2 lembar uang, dia tertegun. Aruna sudah pernah punya uang banyak, tapi di zaman ini uang sebanyak itu bisa digunakan selama beberapa tahun.

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!