Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3:Yang katanya teman baikku
Syasya tidak menunggu lama untuk meninggalkanku dan berpaling pada Syasya.Kini kehadiran ku dalam hidup mereka seolah pengganggu yang ingin merusak hubungan persahabatan yang baru mereka jalani.Ditinggalkan,dibiarkan dan hanya digunakan saat butuh.Itu yang jelas kualami sekarang.Dan mereka bahkan tak mepedulikan saat bercanda dan tertawa berdua.
Hilya ,lihat Hanie dia sepertinya ingin gabung. Suara Syasya memecah keheningan di sudut belakang kelas saat sedang sibuk pergantian mata pelajaran. Buku-buku berserakan di atas meja, namun perhatianku sepenuhnya tertuju pada sosok yang berdiri di depanku.
Hilya menatapku dari atas ke bawah.tatapan yang sangat jauh dari kehangatan.Sangat sinis.Dan kelihatan sekali tidak menginginkan kehadiranku disitu.Pandangannya tajam, tidak berkedip, tatapan yang terlihat jelas meremehkan tampangku yang hanya siswi biasa.Suasana seketika terasa dingin.
Namun, itu hanya sesaat. Detik berikutnya, bibirnya mengukir senyuman yang cukup manis, namun tidak mencapai matanya.Tapi cukup untuk membuat Syasya menganggap dia menerimaku.
Aku tidak bisa menampik kenyataan itu. Hilya memang cantik. Kecantikannya bukan jenis yang biasa; dia memiliki daya tarik yang membuat banyak laki-laki di sekolah ini rela antri hanya demi sapaan darinya. Dan sejak Hilya muncul, Syasya seolah terhipnotis. Setiap kali kami bersama, topik pembicaraan Syasya tidak pernah lepas dari memuji Hilya.
"Hilya baik banget ya, Hanie,"
"Hilya cantik banget hari ini,"
"Aku merasa beruntung banget bisa temenan sama Hilya."
Pujian itu mengalir setiap menit seolah Syasya adalah penggemar nomor satu Hilya. Cemburu? Mungkin saja. Tapi lebih tepatnya, aku merasa terancam. Aku hanya takut sahabat dekatku akan hilang lagi, tertelan oleh pesona orang baru yang jauh lebih segalanya dibanding aku.
"Boleh saja. Semakin ramai, semakin bagus," jawab Hilya singkat. Ia segera mengalihkan pandangan ke ponselnya tanpa menunggu balasan dariku.
Awalnya, segalanya tampak normal. Kami pergi ke mana pun bertiga. Namun, realitanya iyu tidak lama. Setiap kali berjalan di koridor, aku sering mendapati diriku menyelinap di belakang atau berjalan di pinggiran jalan yang sempit karena Syasya dan Hilya berjalan beriringan tanpa menyisakan ruang untukku di tengah. Mereka seolah sengaja mendorongku keluar.
"Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan," bisik hatiku setiap kali merasa terabaikan. Syasya pernah bilang dia tidak keberatan jika aku ikut mereka ke mana saja. Maka, aku pun menurut. Di kantin, di musola, bahkan ke kamar mandi pun kami selalu bertiga. Aku memaksa diriku untuk percaya bahwa aku telah menemukan 'keluarga' baru. Aku ingin menghapus memori tentang Amani, orang pertama yang menghancurkan kepercayaanku tentang persahabatan.
Namun, semakin lama aku dengan mereka, semakin aku sadar ada sesuatu yang aneh. Hilya adalah tipe perempuan yang egois. Apa pun yang keluar dari mulutnya harus dipatuhi. Syasya berperan sebagai pendukung setia. Apa pun yang Hilya katakan, Syasya akan mengangguk setuju dengan penuh semangat. Popularitas mereka membuat mereka merasa berkuasa.Dan mengabaikanku yang biasa saja.
Dan aku? Aku hanyalah pilihan terakhir. Di kelas, jika guru menyuruh mencari pasangan untuk tugas, aku akan ditinggalkan sendirian karena mereka berdua adalah pasangan tetap. Namun, jika tugas membutuhkan tiga orang, barulah mereka menarikku masuk. Bukan karena mereka menginginkanku, tapi karena mereka tidak ingin terpisah dan malas mencari anggota lain di kelas yang sudah memiliki 'koloni' sendiri. Di kelas ini, semua orang punya kelompok masing-masing,ada yang bertiga, berlima, bahkan berenam. Aku? Aku hanyalah pelengkap ruang yang kosong.
"Hanie, tolong pegangin tas kami sebentar. Aku sama Hilya mau beli minum di koperasi, malas bawa tas.Pegangin dulu aja " kata Syasya padaku. Dia meletakkan tas ranselnya yang berat ke pangkuanku tanpa menunggu jawaban. Hilya hanya berlalu pergi sambil merapikan rambutnya.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, memangku dua tas besar yang menyesakkan napas. Aku merasa seperti benda mati yang tidak berharga.
Tiba-tiba, Arif lewat bersama teman-temannya. Dia berhenti tepat di depanku, menyeringai seolah melihat sesuatu yang paling lucu di dunia.
"Eh ada si buruk rupa!Dulu sendirian, lepas punya temen malah jadi kuli ? Kasian banget, sudah muka pas-pasan, dibully teman sendiri pula. Miris,lagipula cewek burik kayak lo itu enggak pantas punya teman sebaik Syasya dan secantik Hillya!" kata Arif sambil tertawa keras. Farhan dan Devian Azka yang berada di sebelahnya hanya menatapku dengan pandangan kosong, seolah keberadaanku tidak memberi makna apa pun.
Aku diam. Aku menundukkan kepala sedalam mungkin, mencoba menyembunyikan mataku yang berkaca menahan air mata. Aku tidak ingin melawan. Aku hanya menggenggam tali tas Syasya sekuat tenaga, menyalurkan segala rasa sakit hati dan amarah yang berdengung di telinga. Kata-kata Arif itu berbisa, tapi yang paling menyakitkan adalah saat aku sadar bahwa setiap kata yang diucapkannya adalah benar.
Setelah mereka pergi, aku mengeluarkan cermin kecil dari saku tas. Aku melihat pantulan mataku yang sudah mulai berkaca-kaca. Air mata itu menggenang, menunggu waktu untuk tumpah, namun aku menahannya dengan sisa kekuatan yang ada.
"Sabar Hanie. Setidaknya kamu punya teman walaupun tidak dianggap," bisikku pelan, mencoba membujuk sekeping hati yang sudah retak seribu.
Seandainya aku punya sahabat yang benar-benar menghargaiku... pasti menyenangkan sekali.