NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3:Yang katanya teman baikku

Syasya tidak menunggu lama untuk memperkenalkanku pada Hilya. Seolah kehadiran aku dalam hidup mereka adalah sebuah proyek baru yang harus segera divalidasi.

"Hilya, ini Hanie. Dia ikut gabung sama kita ya mulai sekarang?" Suara Syasya memecah keheningan di sudut belakang kelas saat kami sedang sibuk pergantian mata pelajaran. Buku-buku berserakan di atas meja, namun perhatianku sepenuhnya tertuju pada sosok yang berdiri di depanku.

Hilya menatapku dari atas ke bawah. Pandangannya tajam, tidak berkedip, seolah sedang memindai kode batang pada sehelai baju di pusat perbelanjaan—menilai 'harga' dan posisiku dalam hierarki kelompok mereka. Suasana seketika terasa dingin. Namun, itu hanya sesaat. Detik berikutnya, bibirnya mengukir senyuman yang cukup manis, namun tidak mencapai matanya.

Aku tidak bisa menampik kenyataan itu. Hilya memang cantik. Kecantikannya bukan jenis yang biasa; dia memiliki daya tarik yang membuat banyak laki-laki di sekolah ini rela antre hanya demi sapaan darinya. Dan sejak Hilya muncul, Syasya seolah terhipnotis. Setiap kali kami bersama, topik pembicaraan Syasya tidak pernah lepas dari memuji Hilya.

"Hilya baik banget ya, Hanie," "Hilya cantik banget hari ini," "Aku merasa beruntung banget bisa temenan sama Hilya." Pujian itu mengalir setiap menit seolah Syasya adalah penggemar nomor satu Hilya. Cemburu? Mungkin saja. Tapi lebih tepatnya, aku merasa terancam. Aku hanya takut sahabat dekatku akan hilang lagi, tertelan oleh pesona orang baru yang jauh lebih segalanya dibanding aku.

"Boleh saja. Semakin ramai, semakin bagus," jawab Hilya singkat. Ia segera mengalihkan pandangan ke ponselnya tanpa menunggu balasan dariku.

Awalnya, segalanya tampak normal. Kami pergi ke mana pun bertiga. Namun, realitanya tidak seindah foto di media sosial. Setiap kali berjalan di koridor, aku sering mendapati diriku menyelinap di belakang atau berjalan di pinggiran jalan yang sempit karena Syasya dan Hilya berjalan beriringan tanpa menyisakan ruang untukku di tengah. Mereka seolah memiliki medan magnet yang mendorongku keluar dari lingkaran tersebut.

"Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan," bisik hatiku setiap kali merasa terabaikan. Syasya pernah bilang dia tidak keberatan jika aku ikut mereka ke mana saja. Maka, aku pun menurut. Di kantin, di musala, bahkan ke kamar mandi pun kami selalu bertiga. Aku memaksa diriku untuk percaya bahwa aku telah menemukan 'keluarga' baru. Aku ingin menghapus memori tentang Amani, orang pertama yang menghancurkan kepercayaanku pada arti persahabatan.

Namun, semakin lama aku berada dalam radius mereka, semakin aku sadar ada sesuatu yang aneh. Hilya adalah tipe pemaksa yang halus. Apa pun yang keluar dari mulutnya adalah aturan yang harus dipatuhi. Syasya berperan sebagai pendukung setia. Apa pun yang Hilya katakan, Syasya akan mengangguk setuju dengan penuh semangat. Popularitas mereka membuat mereka merasa berkuasa.

Dan aku? Aku hanyalah pilihan terakhir. Di kelas, jika guru menyuruh mencari pasangan untuk tugas, aku akan ditinggalkan sendirian karena mereka berdua adalah pasangan tetap. Namun, jika tugas membutuhkan tiga orang, barulah mereka menarikku masuk. Bukan karena mereka menginginkanku, tapi karena mereka tidak ingin terpisah dan malas mencari anggota lain di kelas yang sudah memiliki 'koloni' sendiri. Di kelas ini, semua orang punya kelompok masing-masing—ada yang bertiga, berlima, bahkan berenam. Aku? Aku hanyalah pelengkap lubang yang kosong.

"Hanie, tolong pegangin tas kami sebentar. Aku sama Hilya mau beli minum di koperasi, malas bawa tas berat-berat begini," kata Syasya pada suatu sore yang terik. Dia meletakkan tas ranselnya yang berat ke pangkuanku tanpa menunggu jawaban. Hilya hanya berlalu pergi sambil merapikan rambutnya.

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, memangku dua tas besar yang menyesakkan napas. Aku merasa seperti benda mati yang tidak berharga.

Tiba-tiba, Arif lewat bersama teman-temannya. Dia berhenti tepat di depanku, menyeringai seolah melihat sesuatu yang paling lucu di dunia.

"Dulu sendirian, sekarang sudah naik pangkat jadi kuli ya? Kasihan banget kamu, sudah muka pas-pasan, dibully teman sendiri pula. Miris," ejek Arif sambil tertawa keras. Farhan dan Devian Azka yang berada di sebelahnya hanya menatapku dengan pandangan kosong, seolah keberadaanku tidak memberi makna apa pun.

Aku diam. Aku menundukkan kepala sedalam mungkin, mencoba menyembunyikan wajah yang mulai memanas. Aku tidak ingin melawan. Aku hanya menggenggam tali tas Syasya sekuat tenaga, menyalurkan segala rasa sakit hati dan amarah yang berdengung di telinga. Kata-kata Arif itu berbisa, tapi yang paling menyakitkan adalah saat aku sadar bahwa setiap kata yang diucapkannya adalah benar.

Setelah mereka pergi, aku mengeluarkan cermin kecil dari saku tas. Aku melihat pantulan mataku yang sudah mulai berkaca-kaca. Air mata itu menggenang, menunggu waktu untuk tumpah, namun aku menahannya dengan sisa kekuatan yang ada.

"Sabar Hanie. Setidaknya kamu punya teman walaupun tidak dianggap," bisikku pelan, mencoba membujuk sekeping hati yang sudah retak seribu.

Seandainya aku punya sahabat yang benar-benar menghargaiku... pasti menyenangkan sekali.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!