“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Cklek.
Suara gagang pintu diputar memecah keheningan ruangan rawat itu. Semua yang berada di dalam, Hanan, Fatimah, Arman, dan Eyang Narti refleks menoleh bersamaan ke arah pintu.
Seorang pemuda berdiri di ambang pintu.
Wajahnya pucat, matanya sembab seperti orang yang baru saja menangis berjam-jam. Rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya tampak tidak teratur, seolah ia berlari terburu-buru ke tempat itu.
“Kakak…” gumamnya lirih. Suaranya bergetar.
Matanya langsung tertuju pada sosok Kayla yang terbaring di atas brankar, masih lemah dengan infus di tangannya.
Tatapan pemuda itu dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam. Langkahnya perlahan memasuki ruangan. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diseret oleh penyesalan yang menumpuk di dadanya.
Namun sebelum ia sempat mendekat lebih jauh, tiba tiba tangan keriput Eyang Narti yang dengan sigap menjewer telinga pemuda itu.
“Aduhhh eyanggg! Sakittt eyang! Ampunnnn!” teriaknya spontan, tubuhnya langsung membungkuk kesakitan.
Eyang Narti menatapnya dengan mata menyala.
“Bocah kurang ajar kamu ya!” seru wanita tua itu dengan suara gemetar oleh amarah. “Kamu lihat! Gara-gara kelakuan kamu, kakak kamu jadi korban!”
Pemuda itu meringis, memegang telinganya yang ditarik kuat.
“Iya eyang, ampun! Arfin minta maaf! Hiks hiks kakak maafin Arfin, ampunnn!” tangisnya pecah tanpa malu.
Suasana ruangan berubah tegang. Fatimah sampai menutup mulutnya, sementara Hanan hanya memperhatikan dengan wajah serius.
“Eyang…” suara Kayla terdengar lirih dari atas ranjang. “Lepasin Arfin.”
Nada suaranya lemah, tapi cukup membuat Eyang Narti berhenti. Dengan kesal, wanita tua itu akhirnya melepaskan jewerannya.
Arfin langsung mengusap telinganya yang merah, lalu tanpa ragu berlari mendekati brankar Kayla. Ia duduk di sisi ranjang dan langsung memeluk kakaknya erat-erat seperti anak kecil yang mencari perlindungan.
“Kakak… maafin aku ya,” isaknya pecah di bahu Kayla. “Gak seharusnya aku bawa bajingannn itu ke rumah kakak. Maafin aku hiks hiks hiks.”
Tubuh Kayla sedikit kaku. Ia menarik napas panjang. Dadanya terasa berat mendengar tangisan adiknya. Namun ia tidak menolak pelukan itu. Tangannya hanya diam di samping tubuhnya, seolah masih terlalu lelah untuk bereaksi.
“Otak kamu dimana sih Fin hah?” omel Eyang Narti lagi, suaranya masih dipenuhi emosi. “Selalu aja kamu itu buat ulah terus. Kamu itu sudah besar, Fin! BUkan bocah TK lagi!’’
Arfin menunduk, air matanya masih mengalir. “Maaf Eyang… Arfin itu dijebak. Arfin juga gak nyangka bakal kaya gini kejadiannya.”
Eyang mendengus kesal. “Dijebak? Kalau pergaulan kamu gak separah ini, gak bakal kamu dijebak!”
Kalimat itu membuat Arfin makin menunduk dalam.
“Iya eyang… Arfin ngaku salah,” katanya pelan. “Arfin gak akan ulangin lagi. Arfin janji.”
“Halah!” Eyang Narti mengibaskan tangannya. “Dulu kamu juga bilang gitu. Nyatanya apa? Kamu malah semakin parah to? Bahkan sampai mabuk!”
‘’Tapi Kali ini Arfin memang di jebak Eyang!’’ kata Arfin cepat menggelengkan kepala nya dengan nada suara yang terdengar putus asa.
“Kamu dijebak karena kamu kasih peluang!” potong Eyang lagi tegas.
Arfin menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
“Arfin gak enak, Eyang.Karena kata Mama dan Papa, dia orang penting. Arfin harus berteman sama dia,” jelasnya cepat. “Gak tahunya dia juga sengaja deketin Arfin karena suka sama Kakak. Bahkan sampai tega kasih Arfin obat tidur,’’
Ucapan itu membuat beberapa orang di ruangan itu saling pandang.
“Obat tidur?” Kayla mengerutkan dahi, mengulang kata itu pelan. Membuat Arfin langsung mengangguk cepat.
“Iya kak,” katanya dengan wajah penuh penyesalan. “Makanya pas kakak dalam bahaya, Arfin gak bisa bantu. Karena emang Arfin gak tahu… Arfin gak denger apa-apa.”
Suaranya semakin serak. Ia menunduk dalam, kedua tangannya mengepal di atas lututnya. Arfin lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
“Yang Arfin inget tuh… Arfin lagi di kafe,” katanya perlahan. “Terus kepala Arfin pusing banget.”
Semua orang kini benar-benar mendengarkan.
“Candra nawarin buat anter pulang,” lanjutnya. “Dia bilang biar dia aja yang nyetir. Karena Arfin takut kecelakaan juga, ya sudah Arfin iyain. Toh ini kan juga bukan Kali pertama. Arfin gak nyangka kalau Kali ini dia bakal senekat itu.’’
Arfin menutup matanya sejenak, mencoba mengingat. “Habis itu… Arfin gak inget apa-apa lagi, Kak.”
Suasana ruangan terasa semakin berat.
“Pas Arfin bangun…” suaranya mengecil. “Arfin udah di rumah sakit.”
Tangannya gemetar. “Dan Arfin baru tahu… kalau sesuatu terjadi sama kakak.”
Air mata kembali jatuh dari matanya.
“Kak… maafin Arfin,” ucapnya lagi dengan suara parau. “Arfin bener-bener gak tahu kalau bakal jadi begini.”
Kayla menatap adiknya lama. Wajah Arfin terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ekspresi santai atau senyum jahil yang biasa ia tunjukkan. Yang ada hanya rasa bersalah yang begitu besar.
Kayla menarik napas perlahan.
Dadanya masih terasa sesak. Semua yang terjadi sejak semalam seperti badai besar yang menghantam hidupnya tanpa henti.
Namun melihat Arfin menangis seperti itu… Hatinya yang sudah begitu lelah perlahan melunak.
“Fin…” suara Kayla terdengar pelan.
Arfin langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Matanya merah dan sembab.
“Iya kak?” jawabnya cepat, seolah takut tidak sempat mendengar suara kakaknya lagi.
Kayla menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan tangannya yang lemah bergerak… menyentuh kepala Arfin. Gerakan sederhana itu membuat Arfin langsung terdiam.
“Udah…” gumam Kayla lirih. “Kakak gak marah.”
Arfin membeku. Beberapa detik ia bahkan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Kak…?” suaranya gemetar. Kayla menatapnya dengan mata yang masih basah.
“Semua juga sudah berlalu. Kakak percaya sama kamu,”
Air mata Arfin kembali jatuh deras. Ia langsung memeluk tubuh kakaknya lagi, kali ini lebih hati-hati karena Kayla masih lemah.
“Makasih kak… makasih…” tangisnya pecah.
Namun tidak semua orang di ruangan itu langsung luluh. Eyang Narti yang sejak tadi berdiri di dekat ranjang masih terlihat menahan emosi. Wajahnya penuh campuran antara marah dan sedih.
“Nduk… kamu gampang banget maafin dia,” gumamnya dengan suara serak. “Padahal gara-gara dia kamu hampir kehilangan nyawa.”
Kayla menoleh pelan ke arah neneknya. “Eyang…”
Wanita tua itu menggeleng pelan, ‘’Dia itu sama kaya ibunya Nduk, ular. Eyang gak mau, kamu terlalu baik ke dia, nanti dia makin ngelunjak. Sekarang aja udah kaya gini, gimana nanti kedepannya.’’
‘’Ibu,” Arman yang berdiri di samping ibunya akhirnya ikut bersuara. Membuat Eyang Narti menoleh.
“Sudahlah bu,” kata Arman lembut. “Arfin juga sudah menyesal.”
Arfin langsung menunduk dalam-dalam.
“Iya OM, saya salah, Om…” gumamnya lirih.
Arman melangkah mendekat. Tangannya menepuk pelan bahu keponakannya.
“Kesalahan memang harus ditebus,” ucap Arman. “Tapi kalau orang sudah benar-benar menyesal, kita juga harus memberi kesempatan.”
Eyang Narti menghela napas panjang. Tatapannya kembali tertuju pada Arfin yang masih memegang tangan Kayla dengan penuh penyesalan.
“Dari kecil kamu ini selalu bikin eyang pusing,” gumamnya pelan.
Arfin menunduk semakin dalam. “Maaf eyang…”
Suara itu begitu tulus hingga membuat hati siapa pun yang mendengarnya ikut terasa berat.
Beberapa detik Eyang Narti hanya diam. Kemudian wanita tua itu akhirnya melangkah mendekat. Tangannya yang keriput pelan menepuk kepala Arfin. Membuat Arfin langsung mendongak kaget.
“Kalau kamu ulangi lagi…” kata Eyang dengan suara tegas meskipun masih bergetar, “eyang sendiri yang akan bertindak!’’
Arfin cepat-cepat mengangguk. “Iya eyang! Arfin janji gak bakal ulangin lagi!”
“Janji kamu itu sudah sering eyang dengar,” gerutu Eyang.
“Tapi kali ini bener eyang,” kata Arfin cepat. “Arfin kapok. Arfin sayang kok sama kakak, Arfin gak akan buat kakak bahaya lagi.’’
Eyang Narti menghela napas lagi. Kemarahan di wajahnya akhirnya perlahan memudar.
“Sudahlah…” gumamnya lelah. “Yang penting sekarang kakak kamu selamat.”
Arman tersenyum kecil melihat ibunya akhirnya luluh. Sementara di ranjang, Kayla hanya menatap mereka semua dengan perasaan campur aduk. Untuk pertama kalinya sejak kejadian semalam Ia merasa tidak benar-benar sendirian.
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj