NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:295.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Cklek.

Suara gagang pintu diputar memecah keheningan ruangan rawat itu. Semua yang berada di dalam, Hanan, Fatimah, Arman, dan Eyang Narti refleks menoleh bersamaan ke arah pintu.

Seorang pemuda berdiri di ambang pintu.

Wajahnya pucat, matanya sembab seperti orang yang baru saja menangis berjam-jam. Rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya tampak tidak teratur, seolah ia berlari terburu-buru ke tempat itu.

“Kakak…” gumamnya lirih. Suaranya bergetar.

Matanya langsung tertuju pada sosok Kayla yang terbaring di atas brankar, masih lemah dengan infus di tangannya.

Tatapan pemuda itu dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam. Langkahnya perlahan memasuki ruangan. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diseret oleh penyesalan yang menumpuk di dadanya.

Namun sebelum ia sempat mendekat lebih jauh, tiba tiba tangan keriput Eyang Narti yang dengan sigap menjewer telinga pemuda itu.

“Aduhhh eyanggg! Sakittt eyang! Ampunnnn!” teriaknya spontan, tubuhnya langsung membungkuk kesakitan.

Eyang Narti menatapnya dengan mata menyala.

“Bocah kurang ajar kamu ya!” seru wanita tua itu dengan suara gemetar oleh amarah. “Kamu lihat! Gara-gara kelakuan kamu, kakak kamu jadi korban!”

Pemuda itu meringis, memegang telinganya yang ditarik kuat.

“Iya eyang, ampun! Arfin minta maaf! Hiks hiks kakak maafin Arfin, ampunnn!” tangisnya pecah tanpa malu.

Suasana ruangan berubah tegang. Fatimah sampai menutup mulutnya, sementara Hanan hanya memperhatikan dengan wajah serius.

“Eyang…” suara Kayla terdengar lirih dari atas ranjang. “Lepasin Arfin.”

Nada suaranya lemah, tapi cukup membuat Eyang Narti berhenti. Dengan kesal, wanita tua itu akhirnya melepaskan jewerannya.

Arfin langsung mengusap telinganya yang merah, lalu tanpa ragu berlari mendekati brankar Kayla. Ia duduk di sisi ranjang dan langsung memeluk kakaknya erat-erat seperti anak kecil yang mencari perlindungan.

“Kakak… maafin aku ya,” isaknya pecah di bahu Kayla. “Gak seharusnya aku bawa bajingannn itu ke rumah kakak. Maafin aku hiks hiks hiks.”

Tubuh Kayla sedikit kaku. Ia menarik napas panjang. Dadanya terasa berat mendengar tangisan adiknya. Namun ia tidak menolak pelukan itu. Tangannya hanya diam di samping tubuhnya, seolah masih terlalu lelah untuk bereaksi.

“Otak kamu dimana sih Fin hah?” omel Eyang Narti lagi, suaranya masih dipenuhi emosi. “Selalu aja kamu itu buat ulah terus. Kamu itu sudah besar, Fin! BUkan bocah TK lagi!’’

Arfin menunduk, air matanya masih mengalir. “Maaf Eyang… Arfin itu dijebak. Arfin juga gak nyangka bakal kaya gini kejadiannya.”

Eyang mendengus kesal. “Dijebak? Kalau pergaulan kamu gak separah ini, gak bakal kamu dijebak!”

Kalimat itu membuat Arfin makin menunduk dalam.

“Iya eyang… Arfin ngaku salah,” katanya pelan. “Arfin gak akan ulangin lagi. Arfin janji.”

“Halah!” Eyang Narti mengibaskan tangannya. “Dulu kamu juga bilang gitu. Nyatanya apa? Kamu malah semakin parah to? Bahkan sampai mabuk!”

‘’Tapi Kali ini Arfin memang di jebak Eyang!’’ kata Arfin cepat menggelengkan kepala nya dengan nada suara yang terdengar putus asa.

“Kamu dijebak karena kamu kasih peluang!” potong Eyang lagi tegas.

Arfin menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.

“Arfin gak enak, Eyang.Karena kata Mama dan Papa, dia orang penting. Arfin harus berteman sama dia,” jelasnya cepat. “Gak tahunya dia juga sengaja deketin Arfin karena suka sama Kakak. Bahkan sampai tega kasih Arfin obat tidur,’’

Ucapan itu membuat beberapa orang di ruangan itu saling pandang.

“Obat tidur?” Kayla mengerutkan dahi, mengulang kata itu pelan. Membuat Arfin langsung mengangguk cepat.

“Iya kak,” katanya dengan wajah penuh penyesalan. “Makanya pas kakak dalam bahaya, Arfin gak bisa bantu. Karena emang Arfin gak tahu… Arfin gak denger apa-apa.”

Suaranya semakin serak. Ia menunduk dalam, kedua tangannya mengepal di atas lututnya. Arfin lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.

“Yang Arfin inget tuh… Arfin lagi di kafe,” katanya perlahan. “Terus kepala Arfin pusing banget.”

Semua orang kini benar-benar mendengarkan.

“Candra nawarin buat anter pulang,” lanjutnya. “Dia bilang biar dia aja yang nyetir. Karena Arfin takut kecelakaan juga, ya sudah Arfin iyain. Toh ini kan juga bukan Kali pertama. Arfin gak nyangka kalau Kali ini dia bakal senekat itu.’’

Arfin menutup matanya sejenak, mencoba mengingat. “Habis itu… Arfin gak inget apa-apa lagi, Kak.”

Suasana ruangan terasa semakin berat.

“Pas Arfin bangun…” suaranya mengecil. “Arfin udah di rumah sakit.”

Tangannya gemetar. “Dan Arfin baru tahu… kalau sesuatu terjadi sama kakak.”

Air mata kembali jatuh dari matanya.

“Kak… maafin Arfin,” ucapnya lagi dengan suara parau. “Arfin bener-bener gak tahu kalau bakal jadi begini.”

Kayla menatap adiknya lama. Wajah Arfin terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ekspresi santai atau senyum jahil yang biasa ia tunjukkan. Yang ada hanya rasa bersalah yang begitu besar.

Kayla menarik napas perlahan.

Dadanya masih terasa sesak. Semua yang terjadi sejak semalam seperti badai besar yang menghantam hidupnya tanpa henti.

Namun melihat Arfin menangis seperti itu… Hatinya yang sudah begitu lelah perlahan melunak.

“Fin…” suara Kayla terdengar pelan.

Arfin langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Matanya merah dan sembab.

“Iya kak?” jawabnya cepat, seolah takut tidak sempat mendengar suara kakaknya lagi.

Kayla menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan tangannya yang lemah bergerak… menyentuh kepala Arfin. Gerakan sederhana itu membuat Arfin langsung terdiam.

“Udah…” gumam Kayla lirih. “Kakak gak marah.”

Arfin membeku. Beberapa detik ia bahkan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kak…?” suaranya gemetar. Kayla menatapnya dengan mata yang masih basah.

“Semua juga sudah berlalu. Kakak percaya sama kamu,”

Air mata Arfin kembali jatuh deras. Ia langsung memeluk tubuh kakaknya lagi, kali ini lebih hati-hati karena Kayla masih lemah.

“Makasih kak… makasih…” tangisnya pecah.

Namun tidak semua orang di ruangan itu langsung luluh. Eyang Narti yang sejak tadi berdiri di dekat ranjang masih terlihat menahan emosi. Wajahnya penuh campuran antara marah dan sedih.

“Nduk… kamu gampang banget maafin dia,” gumamnya dengan suara serak. “Padahal gara-gara dia kamu hampir kehilangan nyawa.”

Kayla menoleh pelan ke arah neneknya. “Eyang…”

Wanita tua itu menggeleng pelan, ‘’Dia itu sama kaya ibunya Nduk, ular. Eyang gak mau, kamu terlalu baik ke dia, nanti dia makin ngelunjak. Sekarang aja udah kaya gini, gimana nanti kedepannya.’’

‘’Ibu,” Arman yang berdiri di samping ibunya akhirnya ikut bersuara. Membuat Eyang Narti menoleh.

“Sudahlah bu,” kata Arman lembut. “Arfin juga sudah menyesal.”

Arfin langsung menunduk dalam-dalam.

“Iya OM, saya salah, Om…” gumamnya lirih.

Arman melangkah mendekat. Tangannya menepuk pelan bahu keponakannya.

“Kesalahan memang harus ditebus,” ucap Arman. “Tapi kalau orang sudah benar-benar menyesal, kita juga harus memberi kesempatan.”

Eyang Narti menghela napas panjang. Tatapannya kembali tertuju pada Arfin yang masih memegang tangan Kayla dengan penuh penyesalan.

“Dari kecil kamu ini selalu bikin eyang pusing,” gumamnya pelan.

Arfin menunduk semakin dalam. “Maaf eyang…”

Suara itu begitu tulus hingga membuat hati siapa pun yang mendengarnya ikut terasa berat.

Beberapa detik Eyang Narti hanya diam. Kemudian wanita tua itu akhirnya melangkah mendekat. Tangannya yang keriput pelan menepuk kepala Arfin. Membuat Arfin langsung mendongak kaget.

“Kalau kamu ulangi lagi…” kata Eyang dengan suara tegas meskipun masih bergetar, “eyang sendiri yang akan bertindak!’’

Arfin cepat-cepat mengangguk. “Iya eyang! Arfin janji gak bakal ulangin lagi!”

“Janji kamu itu sudah sering eyang dengar,” gerutu Eyang.

“Tapi kali ini bener eyang,” kata Arfin cepat. “Arfin kapok. Arfin sayang kok sama kakak, Arfin gak akan buat kakak bahaya lagi.’’

Eyang Narti menghela napas lagi. Kemarahan di wajahnya akhirnya perlahan memudar.

“Sudahlah…” gumamnya lelah. “Yang penting sekarang kakak kamu selamat.”

Arman tersenyum kecil melihat ibunya akhirnya luluh. Sementara di ranjang, Kayla hanya menatap mereka semua dengan perasaan campur aduk. Untuk pertama kalinya sejak kejadian semalam Ia merasa tidak benar-benar sendirian.

1
Tri Hastuti
wiihh... arash udh punya temen cewek, dkasih bunga lagi 🤣🤣
diah nursanti
mungkin nanti jadi jodoh arash 😅jangan ada kenapa2 ya mom sama arash yg pergi tanpa pamit,
🍎billaacha90🍎
ih mommy🤭🤭 Anaknya Ustadz Hanan tak boleh diremehkan ini🤣🤣
🍎billaacha90🍎
Wah Arash punya teman beneran lagi, cewek lagi🤭
🍎billaacha90🍎
Tidurlah yang nyenyak Fatimah jangan pikirin suamimu yang tak pernah menghargai mu. biarkan dia pusing dan menerima karma yang dia ciptakan sendiri
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Marfuah
semoga ada yang nolongin
Ainal Fitri
nah gt donk fatim kamu perlu tempat untuk menenangkan hati dan pikiran mu dan tempat itu adalah Abah dan umi mu tentunya yg akan selalu support kamu untuk lebih tegar kuat dlm mnghadapi ap pun 😍
Eka ELissa
jodoh Fatin yg asli ini bukan Arifin tapi bia...bian klie Yo.... entahlah hy emak yg tau....
🍎billaacha90🍎
Kasihan Fatimah memendam sakit selama ini, dan keberadaan nya kayak tak dihargai, sebagai perempuan pasti sakit lah hatinya, siap siap menyesal di serunduk om kamu Arfin
🍎billaacha90🍎
Mungkin ustadz Zaki ya🤭🤭
🍎billaacha90🍎
Arash umur berapa ya ini kak author
Eka ELissa
aku lngsung deg gtu...
ksian kmu fatim...😭😭😭😭
Halimah
Fatimah k surabaya naik mobil????? knp ga naik pesawat aja
depoll_poll aje 😉😉😉
bagus fatim kamu memang harus tenangin dirimu sebelum kamu tau keberengsekannya Arifin selama setahun pernikahan kalian...
Rahmi Miraie
hati"dijalan fatim kmu berhak buat bahagia,kalau dgn menjauh dr arfin itu membuatmu bahagia lakukanlah
hmmm arash kecil"udah bisa bikin aunty mikir ya,,bia siapa ya🤭
Ita rahmawati
arfiiiiiinnnn 🙄
kata² mu dulu seblm mengkhitbah fatim yg bilang ingin berproses bersama lah BLA BLA BLA kyk singkong rebus enak diawal Doang akhirnya bikin seret 😏
Syti Sarah
udh biarkn saja arfin.biarkn dulu dia merasa khilngan kamu fatim
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
Y dh ia Fatim,,mending pulang ke pondok aja,,,buat nenangin diri,,
biarkan aja si Arfin,,,tinggal aja😁😁😁
Eva Karmita
pergilah Fatim kamu memang butuh waktu ketenangan sendiri tidak perlu memikirkan si Arfin biarkan saja dia berada di dunianya dan kamu perlu memikirkan kewarasan drimu... semoga selamat sampai tujuan Fatim Arash
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!