Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Malam itu, aula besar The Plaza Hotel disulap menjadi sebuah taman musim dingin yang megah. Cahaya lampu kristal memantul pada lantai marmer, menciptakan suasana yang begitu elegan dan berkelas. Ini adalah acara tahunan Keluarga Richard, sebuah pesta amal yang menjadi magnet bagi seluruh kaum elit New York.
Adrian Richard berdiri dengan gagah mengenakan setelan tuksedo hitam, sementara di sampingnya, Briana tampak luar biasa anggun dalam balutan gaun panjang berwarna nude dengan detail payet yang rumit. Mereka adalah definisi pasangan sempurna yang berhasil melewati badai dan kini memetik buah dari kesabaran mereka.
Namun, pusat perhatian malam itu tentu saja adalah Alana Richard. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru safir dengan hijab senada yang dihiasi bros berlian kecil. Alana melangkah dengan anggun, menyapa para tamu dengan senyum ramah yang menutupi segala kegelisahan di hatinya. Di balik hijabnya yang tinggi, ia telah memastikan bahwa riasan high-coverage menutupi sepenuhnya bekas kemerahan yang masih tersisa di lehernya akibat kejadian di hotel beberapa hari lalu.
Pintu besar aula terbuka, dan gumaman para tamu seketika mereda sejenak. Azkara melangkah masuk.
Malam ini, ia melepaskan citra berandalnya. Tidak ada jaket kulit atau kaos hitam. Azkara mengenakan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap yang dijahit sempurna, membungkus tubuh atletisnya dengan sangat maskulin. Rambutnya disisir rapi ke belakang, hanya menyisakan sedikit tato yang mengintip di balik kerah kemejanya yang kaku. Ia tampak seperti seorang kaisar muda yang baru saja kembali dari medan perang, dingin, tampan, dan sangat mengintimidasi.
Mata Azkara menyapu ruangan, dan dalam hitungan detik, ia menemukan Alana.
Alana sempat mematung saat melihat Azkara berjalan ke arah keluarganya. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut jika pria ini akan berbuat gila lagi di depan ayahnya. Namun, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Azkara sebuah ketenangan yang penuh dengan kerendahan hati.
Azkara berhenti tepat di hadapan Adrian Richard. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, sebuah gerakan yang sangat jarang dilakukan oleh seorang Azkara.
"Tuan Richard, Nyonya Richard," suara Azkara berat dan sopan.
"Terima kasih telah mengundang saya. Saya Azkara, mewakili keluarga dan perusahaan otomotif saya sendiri."
Adrian Richard menatap Azkara dengan tatapan menilai yang tajam. Sebagai seorang ayah dan pengusaha sukses, Adrian memiliki insting yang kuat. Ia merasa ada aura yang berbeda dari pria ini. "Azkara. Aku sudah mendengar banyak tentang inovasi mesinmu. Senang kau bisa hadir," jawab Adrian sambil menjabat tangan Azkara dengan kuat.
Briana tersenyum lembut, namun matanya yang jeli menangkap keraguan di wajah Alana yang berdiri di belakang mereka. "Dan ini putri kami, Alana," ucap Briana memperkenalkan.
Azkara menatap Alana. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Azkara menatap mata Alana dengan intensitas yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua, sebuah tatapan yang berisi ribuan permintaan maaf dan janji untuk tidak lagi menyakiti.
"Senang bertemu kembali dengan Anda, Nona Alana," ucap Azkara pelan. Ia tidak mencoba menyentuh tangan Alana, ia hanya mengangguk kecil, sangat menjaga jarak seolah Alana adalah kristal yang sangat rapuh.
Saat Adrian dan Briana beralih menyapa tamu lain, Azkara tetap berdiri di dekat Alana. Suasana di antara mereka sangat canggung. Musik chamber yang mengalun lembut di latar belakang tidak mampu mencairkan ketegangan yang ada.
"Kau terlihat... sangat cantik malam ini," bisik Azkara, suaranya nyaris tenggelam dalam kebisingan pesta. "Dan aku senang kau bisa menutupi... apa yang kulakukan."
Alana menoleh sedikit, memegang gelas minumannya dengan erat. "Aku datang ke sini untuk keluargaku, Azkara. Bukan untuk menunjukkan luka."
"Aku tahu," sahut Azkara cepat. "Aku datang ke sini hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Aku tidak bisa tidur memikirkan bagaimana kau harus menghadapi pesta ini dengan beban yang kuberikan."
Alana menatap Azkara, mencoba mencari sisa-sisa keangkuhan pria itu, namun ia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah Azkara yang tulus dan tampak sangat tersiksa oleh rasa bersalah. "Aku baik-baik saja. Tapi ayahku mulai memperhatikanmu. Berhati-hatilah."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku