NovelToon NovelToon
Cygnus

Cygnus

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Romansa-Percintaan bebas / Sci-Fi
Popularitas:205k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ariya

Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.

Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....

Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀

Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰

~ Happy reading ^_^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Salahku

Aku tak dapat berpikir. Air mata mengalir begitu saja. Suara Auris yang penuh isakan di seberang telefon membuat hatiku semakin tersayat. Aku tak mampu berucap apa-apa. Dalam hati dan pikiranku, aku menyalahkan diriku sendiri.

Aku segera turun dan keluar, menggunakan kacamata hitam dan masker untuk menutupi wajah sembabku. Sheryl terdengar memanggilku tapi aku tak menghiraukannya. Aku segera keluar dari gedung dan berlari menuju taksi yang sudah menunggu di pinggir jalan. Dari luar dapat ku lihat siluet Auris yang sedang menangis tersedu-sedu.

Aku membuka pintu taksi, meminta pak sopir segera berangkat menuju rumah sakit. Mata Auris sudah memerah dan bengkak. Aku menaruh kepala Auris di pundakku dan memeluknya. Ku usap pundak Auris yang bergetar.

***

Sekitar 15 menit kami sudah sampai di rumah sakit. Aku berlari menuju resepsionis dan bertanya mengenai pasien yang memiliki ciri-ciri seperti Ray. Petugas memberitahuku bahwa pasien yang memiliki ciri-ciri seperti itu sedang di bawa ke UGD.

Aku segera menggeret Auris menuju UGD. Kecelakaan yang dialami Ray cukup parah. Darah mengucur dari kepalanya, seluruh tubuhnya juga keluar darah yang banyak. Aku hanya bisa berdo'a semoga Ray dapat selamat. Aku takut, cemas, dan khawatir jika terjadi sesuatu yang lebih buruk padanya.

Aku mengintip di balik pintu untuk mengetahui keadaan Ray. Auris masih menangis sambil memelukku. Tak lama kemudian orang tua Ray sampai. Ibunya menangis layaknya seorang ibu yang takut kehilangan putranya. Ayah Ray juga terlihat cemas, dia mengelus pundak istrinya. Sesekali beliau juga mengusap air mata yang menetes. Tak ada yang bisa kami lakukan untuk saat ini, kami hanya bisa berdo'a dan mengendalikan diri agar tidak melakukan hal konyol. Kami berempat duduk dengan penuh kecemasan.

Pintu UGD terbuka, tidak hanya dokter yang keluar tapi seluruh petugas bahkan Ray juga dibawa keluar. Kami segera berdiri. Dokter mengatakan, Ray akan dibawa ke ICU untuk penanganan lebih lanjut. Tidak hanya kepala, kaki, tangan, dan tubuhnya tapi organ dalamnya juga mengalami kerusakan. Tangisan semakin pecah tak terbendung.

Ray harus segera dioperasi, dokter meminta orang tua Ray untuk mengurus administrasi dan dokumen untuk operasi Ray. Ayah Ray segera pergi untuk mengurus hal tersebut. Ibu Ray, Auris dan aku, kami pergi mengikuti Ray yang segera dipindahkan.

Tak kusangka, kecelakaan yang dialami Ray sangat parah. Membuatku semakin menyalahkan diriku sendiri. Dia kecelakaan karena membantuku. Seandainya dia tidak membantuku, dia tidak akan mengalami semua ini. Seandainya dia ikut menghilang bersama Felix, dia tidak akan terlibat dalam kekacauan ini. Tak hanya hatiku, mataku juga mulai sakit karena terus menangis. Tapi rasa sakitku tidak dapat dibandingkan dengan Auris maupun Ibu Ray, mereka lebih sakit pastinya.

Ponselku berdering. Aku berdiri dan pergi ke tempat yang cukup sepi. Tidak ada nama yang muncul, hanya ada nomor kosongan. Nomor tak dikenal.

Aku menjawab telfon itu tapi aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku diam saja.

"Bagaimana hadiah dariku kali ini? Cukup mengejutkan bukan?" ucap orang yang ada diseberang telefon.

"Kamu yang melakukannya? Kamu yang mencelakai Ray?!" ucapku menekan emosi.

"Untuk membuat orang menderita, salah satunya dengan cara menyentuh orang yang ada di sekitarnya. Semakin berharga, semakin menyenangkan, hahahah," orang itu tertawa layaknya tokoh antagonis.

Orang itu menutup telfonnya begitu saja. Sekarang aku tak mampu berdiri lagi. Kemalangan yang dialami Ray memang karena diriku. Sekarang 100% karena aku. Aku menangis meraung-raung di lorong yang sepi. Aku tak mampu berdiri, tak mampu berpikir, tak mampu menahan ledakan kesedihan.

Di luar masih banyak orang yang mengejarku. Di sini ada orang yang tak mampu untuk ku lihat. Aku tak mampu mendongakkan kepalaku di depan mereka, siapa lagi jika bukan Auris dan Ray sekeluarga.

Aku meringkuk, menumpahkan semua air mata, mengeluarkan jeritan pilu. Kesedihan karena ditinggal Felix, kesedihan karena kondisi Ray, kesedihan melihat Auris menderita. Semua itu sudah tak dapat ku tahan lagi. Ku tumpahkan di lorong rumah sakit yang sepi.

Cukup lama aku menangis dan termenung sampai ponselku kembali berdering. Sekarang Kian yang menelfonku.

"Halo, Ky. Kamu di mana?" suara Kian terdengar sangat mengkhawatirkan diriku.

Aku tersenyum getir, "rumah sakit," jawabku parau.

"Rumah sakit?" Kian semakin khawatir.

"Huhuhu...hiks...hikss," aku menangis kembali.

"Rumah sakit yang mana? Aku akan segera ke sana," suara Kian penuh kecemasan.

"Toronto.. hiks.. General Hospital.. hiks.. " aku menahan isak tangis.

"Ok. Aku ke sana sekarang."

Kian langsung menutup telfonnya tanpa basa-basi. Saat ini dia pasti sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku kembali termenung. Pandanganku kosong, pikiranku kosong, jiwaku kosong. Hampa, semua terasa hampa.

Seandainya saat ini ada Felix di sisiku, mungkin aku tidak sehampa ini. Tapi memikirkan hal seperti itu membuatku semakin sakit. Betapa menyedihkannya diriku saat ini, masih saja mengharapkan dia yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkanku sendiri dalam kekacauan.

***

Kian berlari ke sana ke mari mencariku. Dia menghela nafas lega saat melihat diriku yang meringkuk di lorong sendirian. Nafasnya berat, sepertinya dia mengeluarkan seluruh tenaganya hanya untuk menemukanku.

Kian langsung menarikku dalam pelukannya. Aku seperti mayat hidup yang hanya bisa bernafas. Pandanganku kosong, tubuhku juga tidak merespon Kian. Kian mengusap kepala dan pundakku. Dia mendekapku sangat erat. Dapat ku rasakan, dia sangat menyayangi adik yang tak tau diuntung ini.

"Ray..." suaraku parau.

"Semua ini karena diriku. Ray kecelakaan karena aku, hiks. Bagaimana jika Ray tidak selamat? Hiks... Bagaimana jika dia tak dapat ditolong? Semua ini karena aku. Semua ini karena aku.. Huhuhu... Hiks..," aku meracau tak karuan.

"Sssttt... Sssttt, bukan salahmu. Bukan salah Kyra." Kian mendekapku lebih erat.

Aku menangis kembali di pelukan Kian.

"Bagaimana jika Ray tidak sadar? Huhu.. Hiks. Bagaimana jika Ray tak selamat? Huhu... Hiks. Semua ini karena aku. Semua salahku. Huhu.. Hiks.." Aku menggenggam lengan Kian sangat erat.

Kian masih saja mendekapku dan mencoba menenangkan diriku meski aku mencengkeram dan memukulinya. Ketakutanku semakin bertambah ketika aku sadar semua orang yang ada di sekitarku sedang dalam bahaya. Saat ini, Ray sudah mengalaminya. Bisa saja, besok ada korban lagi. Peneror itu sudah menargetkan semua orang yang ada di sekitarku. Orang yang membantuku, melindungi diriku, dan berharga.

Aku mendorong tubuh Kian dengan kuat. Kian terdorong dan melepas pelukanku.

"Ada apa, Ky?" tanya Kian cemas.

"Pergi! Jangan mendekat! Pergi!" ucapku. Seluruh tubuhku bergetar. Kian menatapku tak mengerti.

"Pergi! Ku bilang pergi! Jangan berada di dekatku!" aku meracau. Aku dorong tubuh Kian untuk menjauh dariku. Kian semakin menatapku penuh dengan kesedihan, kecemasan, kekhawatiran dan iba.

Aku mendorong Kian dan memukulinya. Kian tidak menjauh, justru menarikku kembali dalam pelukannya dan mendekap ku erat.

"Ssstt... Ssst." Kian mengusap pundakku.

"Per...gi... Uhuk.. Hiks.. Hiks.. Ku..bilang.. Pergi... Hiks," aku memukul dada Kian. Kian menahan rasa sakit di dada dan di hatinya dengan mendekapku erat.

1
Leya channel
udah mampir ya thor..
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
❖ƬʜᴇLeͥadͣeͫrᴳᵒᵈ
Hallo
✈전Arynn: aamiin tysm 😍🥰🥰
total 5 replies
ANAA K
Semangat yah thor🙏🏿 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿
ANAA K
Semangat selalu yah thor
ANAA K
Semangat upnya thor.. aku mendukungmu. Jangan lupa mampir kembali yah thor.👍🏾
ANAA K
Mantap thor. Membuatku penasaran
ANAA K
Waah keren thor
ANAA K
Semangat thor
R_armylove ❤❤❤❤
like ❤❤❤❤
R_armylove ❤❤❤❤
selalu mampir kesini
R_armylove ❤❤❤❤
jejak
R_armylove ❤❤❤❤
3 like mendarat.. plus rate bintang 5
R_armylove ❤❤❤❤
aku mampir lagi
Lidia Tikla
belum up up ya??
R_armylove ❤❤❤❤
aku mampir lagi ❤️
R_armylove ❤❤❤❤
balik lagi aku ka...
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Nissa sakhi.
semangat kak.
Aerik_chan
Lanjut kak...ceritanya seru...

Boleh intip "Pengantin Pengganti"
R_armylove ❤❤❤❤
semangat selalu
R_armylove ❤❤❤❤
Hay...kau balik lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!