Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Doa di Balik Tabir Florence
Udara pegunungan Alpen yang membekukan perlahan berganti dengan aroma zaitun dan tanah kering saat mereka melintasi perbatasan Italia melalui jalur tikus di Valle d'Aosta. Mobil van tua yang mereka gunakan—sebuah kendaraan penyamaran yang terlihat seperti mobil pengangkut anggur—terguncang hebat melewati jalanan berbatu menuju perbukitan Tuscany.
Di dalam van yang remang-remang, Aruna duduk memangku Bumi yang tertidur lelap akibat kelelahan. Di seberangnya, Dante bersandar pada tumpukan karpet tua. Wajah pria itu kini tidak lagi pucat; ia tampak abu-abu. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya meski suhu di luar cukup dingin. Luka tembak di perutnya, yang dipaksa bergerak selama pelarian di Swiss, kini mengeluarkan aroma yang tidak sedap—tanda infeksi yang mulai menyebar.
"Dante, kau harus minum antibiotik ini," bisik Aruna sambil menyodorkan botol kecil yang diberikan Enzo.
Dante membuka matanya perlahan, sorotnya yang biasa tajam kini tampak berkabut. Ia menolak botol itu dengan gerakan tangan yang lemah. "Simpan untuk... untuk keadaan darurat. Aku hanya butuh istirahat sebentar, Aruna."
"Jangan keras kepala!" Aruna mendekat, meletakkan tangannya di dahi Dante. Panasnya terasa seperti membakar kulitnya. "Kau tidak bisa melindungiku jika kau mati karena sepsis di tengah jalan. Minum."
Dante akhirnya menyerah, menelan pil itu dengan susah payah. Ia menatap Aruna, melihat ketegasan di mata wanita itu. "Kau sudah berubah... kau sudah siap menjadi janda untuk kedua kalinya?"
Aruna tertegun mendengar candaan pahit itu. Ia menarik tangannya kembali. "Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum kita menyelesaikan ini. Kau berhutang padaku, Dante. Kau berhutang untuk tetap hidup sampai aku bisa memastikan Bumi memiliki masa depan yang aman."
Tujuan mereka adalah Monastero di Santa Maria, sebuah biara terpencil yang bertengger di tebing curam di luar Florence. Di sana, di balik tembok-tembok kuno yang tertutup tanaman merambat, tinggal seorang wanita bernama Beatrice Thorne. Secara resmi, Beatrice dinyatakan meninggal sepuluh tahun lalu dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar. Namun, catatan rahasia di dalam dokumen Icarus menyebutkan bahwa ia "disimpan" di sini oleh Julian dengan identitas palsu sebagai suster yang bisu.
Enzo menghentikan mobil di bawah bayang-bayang pohon cemara besar, beberapa ratus meter dari gerbang biara.
"Nyonya, Tuan," Enzo berbisik melalui interkom kecil. "Kami sudah memantau area. Julian tampaknya belum sampai di sini, tapi ada frekuensi radio asing yang memantau wilayah Florence. Kita punya waktu terbatas sebelum mereka melacak pergerakan van ini."
Aruna menatap Dante. "Kau tetap di sini bersama Enzo dan Bumi. Biar aku yang masuk."
"Tidak aman," Dante mencoba bangkit, namun ia meringis kesakitan dan kembali terduduk.
"Di tempat suci seperti ini, seorang wanita berpakaian sederhana tidak akan memicu kecurigaan. Tapi seorang pria bersenjata dengan luka tembak akan membuat mereka memanggil polisi dalam sekejap," Aruna memakai syal panjang untuk menutupi rambutnya dan menyembunyikan pistol kecil di balik mantelnya. "Percayalah padaku kali ini, Dante."
Dante menatap Aruna lama, lalu ia mengeluarkan sebuah lencana kecil dari sakunya—sebuah simbol kuno keluarga Valerius yang hanya diketahui oleh kalangan elit Eropa lama. "Jika kau bertemu dengannya... tunjukkan ini. Beatrice mengenal ayahku. Ini akan membuatnya tahu bahwa kau datang sebagai sekutu, bukan musuh."
Aruna melangkah menuju gerbang biara. Suasana di sana sangat sunyi, hanya terdengar suara lonceng gereja yang berdentang di kejauhan dan kicauan burung. Ia diterima oleh seorang suster tua yang ramah namun hemat bicara. Aruna menggunakan alasan bahwa ia ingin memberikan sumbangan atas nama mendiang suaminya.
Setelah melewati beberapa lorong batu yang dingin dan taman dalam yang dipenuhi mawar putih, Aruna akhirnya melihatnya. Seorang wanita paruh baya sedang duduk di sebuah kursi kayu, menatap lembah Florence dengan tatapan hampa. Ia mengenakan pakaian suster hitam, namun ada keanggunan yang tidak bisa disembunyikan dalam postur tubuhnya.
"Suster Beatrice?" panggil Aruna pelan.
Wanita itu menoleh. Matanya yang biru jernih—warna yang sama dengan mata Julian Thorne—menatap Aruna dengan waspada. Ia tidak bicara, sesuai dengan perannya sebagai suster bisu.
Aruna mendekat dan meletakkan lencana Valerius di atas meja kecil di samping wanita itu.
Beatrice tersentak. Tangannya yang kurus gemetar saat menyentuh lencana itu. Ia menatap Aruna dengan pandangan bertanya-tanya.
"Namaku Aruna Kirana," bisik Aruna. "Aku membawa pesan dari masa lalu yang coba dibakar oleh suamimu, Julian. Aku butuh bantuanmu, Beatrice. Bukan untukku, tapi untuk menghentikan kegilaan yang dia mulai dengan Proyek Icarus."
Beatrice menarik napas panjang. Ia melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada suster lain yang mengawasi. Kemudian, ia bicara dengan suara yang serak karena jarang digunakan. "Julian... dia tidak pernah berhenti, bukan? Dia selalu ingin menjadi Tuhan di atas tumpukan uang."
"Dia sudah menghancurkan keluargaku. Dia membunuh saudariku. Dan sekarang, dia memburu anakku," Aruna berlutut di depan Beatrice. "Kau memegang kunci terakhir, Beatrice. Dokumen Icarus menyebutkan tentang 'Wasiat Pengampunan'. Apa itu?"
Beatrice memejamkan matanya, air mata mengalir di pipinya yang mulai berkeriput. "Julian tidak membangun kekayaannya dari nol. Dia mencuri aset-aset dari yayasan kemanusiaan yang aku kelola. Wasiat Pengampunan adalah bukti otentik yang ditandatangani oleh para menteri di lima negara, yang membuktikan bahwa seluruh aset Julian adalah hasil dari penipuan negara berskala global. Aku menyembunyikannya di dalam altar gereja ini, di bawah patung Bunda Maria."
"Kenapa kau tidak pernah menggunakannya?" tanya Aruna.
"Karena aku takut," jawab Beatrice jujur. "Dia mengancam akan membunuh anak-anak di panti asuhan yang aku sayangi jika aku bicara. Tapi sekarang... jika dia sudah mulai membunuh keluargamu, artinya ketakutanku tidak lagi berguna."
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah luar biara. Jeritan para suster mulai menggema.
"Mereka di sini," desis Aruna. Ia segera mencabut pistolnya. "Ikut aku, Beatrice! Kita harus mengambil dokumen itu sekarang!"
Aruna dan Beatrice berlari menuju kapel utama biara. Di belakang mereka, tim taktis Julian Thorne yang mengenakan seragam hitam tanpa lencana mulai mendobrak masuk. Aruna melepaskan tembakan ke arah dua pria yang mencoba menghalangi jalan mereka di koridor, membuat mereka mundur.
Di dalam kapel, Aruna membantu Beatrice menggeser sebuah ubin batu di bawah patung marmer Bunda Maria. Di sana, terdapat sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.
"Ambil ini, Aruna! Lari!" teriak Beatrice.
"Kau harus ikut denganku!"
"Tidak. Aku sudah mati sepuluh tahun lalu, anakku. Biarkan aku tetap di sini. Jika mereka menemukanku, mereka akan berhenti mengejarmu sejenak. Aku akan menjadi pengalih perhatian."
"Beatrice, tidak!"
"LARI!" teriak Beatrice dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Aruna memeluk kotak itu dan berlari menuju pintu belakang kapel tepat saat ledakan menghancurkan pintu depan. Ia melihat Beatrice berdiri dengan tenang di depan altar, tangannya terlipat dalam doa, saat para tentara masuk.
Aruna melompat keluar jendela kapel, meluncur menuruni bukit berbatu menuju titik di mana van mereka diparkir. Ia melihat Dante sudah berada di luar mobil, bersandar pada pintu dengan senapan serbu di tangannya, meski ia hampir tidak bisa berdiri tegak.
"DAPAT?!" teriak Dante di tengah kebisingan tembakan.
"DAPAT! PERGI SEKARANG!" Aruna melompat masuk ke dalam van yang sedang bergerak.
Enzo menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan biara yang kini mulai diselimuti asap hitam. Di dalam van, Aruna membuka kotak besi itu. Di dalamnya terdapat sebuah berkas tebal dan sebuah kunci kriptografi kuno.
Namun, saat ia menoleh ke arah Dante, pria itu sudah terkulai lemas di kursi. Darah merembes deras dari perutnya, membasahi lantai mobil.
"Dante! Bangun!" Aruna memegang wajah Dante. "Jangan sekarang! Kita sudah memiliki kuncinya! Kau tidak boleh pergi sekarang!"
Bumi terbangun dan mulai menangis, melihat ibunya yang bersimbah darah mencoba menyelamatkan pria yang ia panggil Paman Robot.
Bab 29 berakhir dengan van mereka yang melesat menuju perbatasan Italia-Prancis, sementara Julian Thorne berdiri di kapel biara, menatap istrinya yang kini menolak untuk bicara sepatah kata pun. Julian tahu dia telah kehilangan dokumennya, tapi dia melihat bercak darah di lantai yang menuju ke luar.
"Ikuti jejak darah itu," perintah Julian dingin. "Bawa kepala Dante Valerius kepadaku, dan bawa Aruna dalam keadaan hidup. Aku ingin dia melihat dunia yang dia cintai runtuh sebelum dia mati."
Aruna menatap jalanan yang menjauh di belakang mereka, memegang tangan Dante yang dingin, menyadari bahwa kemenangan kecil ini mungkin baru saja menelan biaya yang paling mahal: nyawa pria yang ia cintai.