Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
"Edric!"
Edric terkejut saat Chelsea memanggil, rupanya Chelsea sudah pulang. Padahal selama hampir 3 minggu ini Chelsea tidak lagi menyambut kepulangan Edric, jangankan menyambut saat Edric pulang saja Chelsea tidak ada dirumah.
"Sayang kau sudah pulang?"
Dengan senyuman manis yang sangat Edric rindukan itu, Chelsea menghampiri Edric dan memeluknya manja bak seekor kucing. Chelsea memeluk Edric erat sambil mendusel dan menghirup dalam aroma tubuh sang suami.
Edric meskipun terkejut, tapi dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia balas memeluk Chelsea dan menciumi puncak kepalanya.
"Aku sangat merindukanmu sungguh."
"Aku juga." jawab Chelsea manja.
Mereka berpelukan seperti sepasang kekasih yang baru bertemu setelah bertahun-tahun berpisah.
"Cepat mandi, kita jalan-jalan." ucap Chelsea setelah melepaskan pelukannya, padahal Edric masih ingin memeluk sang istri.
"Tapi sayang, ini sudah malam. Kita cuddling saja, hem? Aku sangat merindukanmu." ucap Edric langsung mendapat penolakan dari Chelsea.
"Tidak, ayo cepat mandi dan bersiap." wanita itu mendorong sang suami memasuki kamar dan mendorongnya menuju kamar mandi.
"Sayang, nanti saja." rengek Edric seperti kucing tak mau dimandikan.
"Mandi, Niel. Cepat." suruh Chelsea.
"Mandikan." Edric menaikturunkan alisnya nakal. Hei, ini adalah untuk pertama kalinya Chelsea bermanja lagi padanya setelah sekian minggu istrinya bersikap dingin padanya.
Chelsea merotasikan bola matanya, jika mood nya sedang buruk mungkin Chelsea akan mencakar wajah kuda itu. Tapi sayangnya Chelsea sedang dalam mode manja dan jinak sekarang, sehingga pada akhirnya dia memandikan kuda liarnya itu. Tak hanya memandikan sih, tapi ada kegiatan plus plusnya. Edric memang pandai memanfaatkan keadaan.
"Aku padahal sudah mandi dan bersiap tadi." omel Chelsea melilitkan handuk dibawah ketiaknya, sementara Edric dia sedang sangat bahagia sekarang.
Tentu saja, Edric menggunakan kesempatan itu untuk mencurahkan kerinduannya pada sang istri, meskipun hanya sebentar tapi setidaknya itu mampu membuat suasana hati Edric menjadi jauh lebih baik. Sedangkan Chelsea, dia mencebik kesal karena harus mandi dua kali.
Setelah acara mandi dan berpakaian yang diselingi oleh kejahilan Edric, akhirnya kedua pasangan itu bisa melangkahkan kakinya keluar dari Penthouse mereka.
Karena suasana hati Chelsea sedang baik, jadi dia mengampuni kelakuan Edric tadi. Kini Chelsea sedang memeluk manja lengan sang suami sambil berjalan menyusuri taman disamping tempat tinggal mereka.
Edric tak protes, dia mengikuti dan menuruti apa saja yang istrinya itu mau. Walaupun sebenarnya Edric sangat ingin mengurung sang istri dalam kukungannya diranjang panas mereka setelah sekian lama. Dasar otak ranjang.
"Sayang, kenapa tiba-tiba mengajakku jalan-jalan? Bukankah ini terlalu dingin? Lebih baik menghangatkan diri diranjang saja, hem."
Edric langsung mendapatkan cubitan sayang dari sang istri.
"Otakmu itu astaga, tak puaskah tadi kau mengurungku di kamar mandi?!"
"Tidak akan ada puasnya untuk menyentuhmu, kitten." Edric mencubit gemas hidung Chelsea.
"Ish, aku kan hanya ingin berkencan denganmu. Kalau diingat-ingat, kita bahkan belum pernah berkencan seperti ini. Kita menikah karena kau yang tiba-tiba melamarku, padahal aku tak begitu mengenalmu, setelah menikah pun kau terlalu sibuk bekerja." curhat Chelsea.
Edric menatap istrinya dengan perasaan bersalah, Edric si gila kerja bahkan jarang sekali menemani istrinya. Mereka hanya bertemu saat malam hari atau saat Edric sedang libur saja. Kesibukan keduanya membuat mereka jarang memiliki waktu, bahkan mereka belum sempat berbulan madu.
"Maaf."
Chelsea mendongak. "Eii, kenapa kau tiba-tiba meminta maaf? Sudah sudah, jangan jadi melow, aku mengajakmu kesini untuk bersenang-senang." ujar Chelsea mengibaskan tangannya diudara.
"Ayo, malam ini aku milikmu."
"Tunggu! Malam ini? Lalu kemarin dan besok ka-"
Edric segera menyumpal bibir sang istri dengan bibirnya, sebelum Chelsea kembali berpikiran buruk.
"Selamanya aku milikmu, kapan pun dan dimana pun, Edric Dexter adalah milik Chelsea Dexter."
Pipi Chelsea memerah, dia yang awalnya ingin marah justru malah tersipu malu. Aish, jiwa kucingnya telah kembali.
Edric menggeram gemas, apakah Chelsea memiliki dua kepribadian? Padahal kemarin-kemarin Chelsea seperti Singa kelaparan yang sensitif dan sekarang dia justru seperti kucing rumahan yang sangat manja.
"Jangan menunjukkan kegemasanmu itu disini, aku tidak rela berbagi yang pria lain." Edric menutup kepala Chelsea dengan Coatnya saat dia melihat beberapa pria menatap sang istri.
"Edric aku tak bisa melihat!" Chelsea mencoba berontak, tapi justru Edric malah semakin menenggelakamkan tubuh mungil Chelsea ke dalam coat besarnya. Dia memeluk tubuh istrinya posesif, seperti kucing yang berusaha melindungi ikannya dari kucing garong lainnya.
"Rambutku!" Chelsea berontak, berakhirlah Edric melepaskannya.
"Ish, lihat rambutku berantakan!" omel Chelsea menghentakkan kakinya sambil merapikan rambut panjangnya.
Perbuatan Chelsea itu justru semakin membuat Edric menggeram gemas, dan ingin kembali memeluk tubuh sang istri gemas.
"Es Krim!" Seru Chelsea semangat setelah merapikan ranbutnya.
Chelsea menarik tangan Edric menuju gerai es krim. Namun, satu yang tak Edric sadari. Chelsea memasukan sesuatu ke dalam es krim Edric saat pria itu sedang membayar.
"Ini punyamu." Chelsea memberikan es krim yang telah dia modifikasi itu kepada Edric, setelah Edric menerimanya Chelsea melangkah mendahului pria itu sambil menjilati es krimnya.
"Kenapa punyaku ada sendoknya?”
Chelsea mengedikkan bahunya dan tetap asyik pada eskrim ditangannya.
"Sayang, kenapa dalam es krimku ada testpacknya?"Edric mengernyit bingung dan polos membolak balikan benda putih itu ditangannya.
Sementara Chelsea dia menahan gemas-gemas kesal dengan kepolosan sang suami. sungguh diluar ekspektasi.
"Aish kenapa penjual itu jorok sekali memasukan testpack ke dalam es krimku, aku harus membuat komplain ini." dumel Edric membuat Chelsea semakin kesal.
"Edric!" Chelsea menghentakkan kakinya kesal, sepolos itu kah suaminya?
"Apa sayang?”
"Testpack itu!" Chelsea menunjuk pada testpack ditangan Edric.
"Kenapa?"
"Kau pikir memangnya siapa yang berani memasukan testpack ke dalam es krim suaminya selain istrinya." ujar Chelsea mencoba menjelaskan secara tidak langsung. Apakah Edric mengerti? Oh tentu tidak semudah itu.
"Maksudmu es krimku tertukar dengan milik suami orang lain?" Chelsea sungguh ingin mencakar wajah tampan itu.
"Masa bodoh." Chelsea dengan kekesalannya meninggalkan Edric yang masih kebingungan sendirian sambil menghentakkan kakinya.
Sungguh suaminya itu polos atau bodoh sih? Padahal dari video di sosmed yang Chelsea lihat, kejutan itu berhasil. Tapi kenapa justru malah gagal pada Edric.
"Sayang, tunggu." Edric mengejar sang istri. "Kenapa kau meninggalkan aku? Aku akan minta return es krimnya padahal."
Chelsea mendengus melihat Edric yang tampak bodoh dengan es krim dan testpack ditangannya.
"Ini milikku, Edric Sayang. Testpack ini milik istrimu Chelsea Dexter. Aku yang memasukan testpack itu ke dalam es krimmu untuk memberikanmu kejutan." Chelsea menjelaskannya secara perlahan meskipun sebenarnya dia meneriaki wajah sok polos suaminya itu.
"Milikmu? Testpack ini milikmu? Hasilnya positif, itu artinya kau hamil? Ohh." Edric mengatakan itu dengan polos membuat Chelsea semakin kesal.
"Tunggu! Hamil? Kau hamil?! Sungguh kau hamil?!" Edric melemparkan es krim itu sembarang lalu menguncang bahu Chelsea.
"iiyaa, berhenti mengguncang bahuku!"
Edric tersenyum senang lalu memeluk sang istri. "Astaga, thank god, thank honey."
Pria itu menciumi setiap inci wajah Chelsea.
"Sudah berapa lama usianya? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" Edric turun menciumi perut Chelsea.
"6 minggu, sebenarnya aku sudah memeriksanya dari 1 minggu yang lalu tapı aku terlalu malas untuk memberitahumu." jawab Chelsea.
"Dan mual serta demammu kemarin itu adalah gejala kehamilan simpatik. Aku tak tahu kalau aku aku hamil, mungkin kalau kau tidak morning sickness seperti kemarin aku tak akan memeriksakannya pada dokter kandungan." sambung Chelsea.
"Lalu hasil testpack 3 minggu yang lalu itu? Saat kau tiba-tiba marah padaku?”
Chelsea merunduk malu saat mengingat perbuatannya. "Aku salah, itu testpack bekas sebelumnya dan aku malah menggunakan yang itu, jadi yaa hasilnya negatif."
"Haish, entah kenapa aku tak bisa marah padamu. Terimakasih, terima kasih banyak sayang." Edric memeluk erat Chelsea meluapkan rasa senangnya.
Selain karena Chelsea yang kembali pada sikap kucingnya, tapi juga dia mendapat kabar akan segera memiliki Dexter Junior yang kini sedang bertumbuh dirahim sang istri.