EGO
1 Tahun 6 Bulan Yang Lalu....
Sebuah ballrooms hotel mewah sudah terlihat cantik dengan segala riasan berwarna gold dan silver. Terlihat begitu mewah dan elegan.
Malam ini adalah malam perayaan Anniversary pernikahan Jasper Nooren dan Gina Noreen yang ke 25 tahun. Para tamu telah berdatangan memenuhi ballroom hotel.
Jasper dan Gina sedang sibuk menyambut para tamu yang mendatangi mereka untuk berbincang juga mengucapkan selamat atas pernikahan mereka yang harmonis.
Pricilla menatap kedua orang tuanya dengan senyuman bangga dan lembut. Hatinya juga ikut mendoakan supaya keluarganya selalu bahagia, sehat, dan selalu bersama hingga kapan pun.
Pricilla selalu bermimpi dia akan memiliki pasangan yang seperti Jasper, ayahnya. Pria yang bertanggung jawab, disiplin, penyayang, tegas, humoris, dan begitu dekat dengan anak- anaknya. Dia juga ingin mengikuti jejak Gina, ibunya. Menjadi seorang wanita yang anggun, lemah lembut, penyabar, penyayang, tapi masih memiliki sisi tegas dalam dirinya. Pricilla juga ingin pernikahannya kelak bisa menjadi seperti pernikahan kedua orang tuanya, sebuah pernikahan yang tak hanya berlandaskan cinta, akan tetapi disertai oleh kesetiaan dan tanggung jawab.
"Ciye yang iri lihat Papa dan Mama."
Senyuman Pricilla luntur saat mendengar suara menyebalkan adiknya, Gavin Nooren. Pricilla merotasikan bola matanya malas ketika sang adik muncul dihadapannya.
"Dasar bocah, menyingkirlah." sahut Pricilla.
"Yak, aku sudah bukan bocah lagi sekarang! Usiaku sudah 17 tahun, bahkan tinggiku sudah melebihimu." seru Gavin tak terima dipanggil bocah.
"Bocah tetaplah bocah, bocah!" ujar Pricilla mengusak rambut Gavin yang rapi dan klimis.
"Aish Kak! Kebiasaanmu itu bisakah tak kau lakukan sekarang?! Astaga rambutku." ucap Gavin menjauhkan tangan Pricilla dari kepalanya.
"Ada apa ini? Bahkan disaat pesta pun kalian tetap saja bertengkar." sahut Jasper yang mendatangı kedua anaknya.
"Kakak tuh yang mulai duluan." adu Gavin.
Pricilla membulatkan matanya. "Apa?! Kau yang tiba-tiba muncul dihadapanku bocah astral!" bantah Pricilla.
"Hei, kau mengatai Gavin bocah astral itu artinya kau juga mengatai Papa sebagai Papa astral." seru Jasper.
"Memang." gumam Pricilla. Gavin dan Jasper langsung menatap nyalang pada Pricilla.
"Yak! Dasar bodoh, kalau Gavin dan Papa adalah makhluk astral, itu artinya kau juga adalah makhluk astral." ucap Jasper menyentil dahi anak gadisnya.
"Hahaha dasar kakak bodoh." ejek Gavin.
"Ma." rengek Pricilla karena diserang oleh dua pria itu.
Gina mengggelengkan kepalanya melihat tingkah suami dan anak - anaknya. "Sudahlah, kalian itu ya hobi sekali bertengkar." lerai Gina.
Keseharian Pricilla, Gavin, dan Jasper memanglah bertengkar yang akan berakhir dengan kekalahan Pricilla karena Gavin dan Jasper selalu bekerja sama untuk melawan Pricilla. Hingga Pricilla menjuluki adik dan ayahnya itu sebagai kembar beda 30 tahun. Sebab, selain wajah Gavin yang mewarisi wajah Jasper, sifat mereka pun tida ada bedanya. bahkan Gina mengatakan bahwa Gavin adalah cetak biru Jasper semasa remaja.
Sedangkan Pricilla, garis wajahnya mewarisi Gina. Jika Gavin 100% mewarisi sifat Jasper, maka Pricilla sifatnya 50% Gina dan 50% Jasper. Pricilla bisa menjadi wanita yang lemah lembut dan anggun, tapi dia juga bisa menjadi wanita yang cerdik dan licik.
"Paman Jasper, Bibi Gina." panggil seorang pria yang berjalan menghampiri mereka.
"huh?, Maxwell, terima kasih sudah datang." ucap Jasper menjabat tangan pria bernama Maxwell itu.
"Selamat atas hari jadi pernikahan kalian, Paman Bibi." ucap Maxwell.
"Terima kasih." balas Gina.
"Ngomong-ngomong kau sendirian? Dimana ayahmu? Aish, sombong sekali dia sekarang jarang menghubungiku." curhat Jasper menanyakan sahabat karibnya, Aron.
"Paman Aron tak mau berteman dengan Papa lagi, dia sudah lelah berteman dengan makhluk bersifat astral seperti Papa." celetuk Pricilla yang mulai bosan berdiri bersama keluarganya.
Gina langsung memelototkan matanya pada Pricilla, sedangkan Gavin dia terkekeh, sementara Jasper dia justru merasa tertantang oleh anak gadisnya.
"Astaga, mulut anak gadisku lupa aku sekolahkan." gumam Jasper.
"Kau senang sekali mengibarkan bendera perang pada Papa, kak." kekeh Gavin
Sementara itu Maxwelll hanya ikut tersenyum tipis melihat pertengkaran kecil keluarga didepannya. Tapi matanya tak bisa beralih dari Pricilla. Pandangan Maxwell seperti terkunci pada wajah anggun gadis itu.
Gavin yang menyadari tatapan Maxwell pada kakaknya, langsung menyenggol lengan Jasper.
"Pa, sepertinya daftar calon menantu Papa bertambah." bisik Gavin.
"Ekhem."
Maxwell gelagapan karena ketahuan tengah memandangi putri Nooren itu. "A-ah itu, Paman Jasper, Papa titip salam dan minta maaf tidak bisa datang. Mohon dimaklum di usia seperti itu, penyakit Papa mudah kumat"
"Aku mengerti, ya di usiaku dan Aron sekarang memang harus siap siaga karena penyakit mulai berdatangan. Dan aku rasa harus segera menikahkan putri sulungku sebelum umurku habis." ucap Jasper.
"Papa." pekik Pricilla dan Gavin berbarengan langsung memeluk Jasper. Mereka memang sedikit sensitif jika mengenai kesehatan Jasper, sebab Papa Nooren itu pernah mengalami serangan jantung ringan.
Acara berlanjut dengan pesta dansa, para tamu yang berpasangan ikut larut dalam alunan musik lembut sambil berdansa bersama pasangannya masing-masing. Tak terkecuali sang pemilik pesta. Keluarga kecil itu pun larut dalam musik lembut itu.
"Kau tak ingin segera menikah?" tanya Jasper. Kini Pricilla sedang berdansa dengan Jasper, sedangkan Gina bersama Gavin.
"Pa, usiaku baru 21 tahun, aku belum siap untuk menikah." jawab Pricilla.
"Kalau kekasih?" tanya Jasper lagi.
"Entah, aku belum terpikirkan tentang itu." jawab Pricilla.
"Bagaimana dengan Maxwell?"
Pricilla mengeryitkan keningnya. "Maksud Papa?"
"Dia pria yang berintegritas, cakap, terampil, disiplin, bijaksana, tampan, kaya, dan merupakan seorang CEO." ucap Jasper membuat Pricilla merotasikan bola matanya, mengerti dengan maksud sang Papa.
"To the point, Pa."
"Papa menjodohkanmu dengan Maxwell."
***
"Jadi kau sudah tahu?" tanya Pricilla pada pria disampingnya. Maxwelll.
"Hem. Dan kau bisa menolaknya jika kau tak mau." jawab Maxwell santai sambil memainkan gelas berisi wine ditangan kanannya, sedang tangan kirinya dia selipkan disaku celana.
"Tentu saja aku akan menolak, aku bahkan tak mengenalmu, bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang tidak aku kenali." sahut Pricilla.
"Baguslah." jawab Maxwell singkat seraya menyesap wine ditanganya.
"Kau sudah memiliki kekasih?" tanya Pricilla kemudian.
"I'm a free man who doesn't want to have anything to do with romance, let alone marriage." jawab Maxwell.
"And how about you?" tanya balik Maxwell.
"Not really, but I have someone I love."
"Who?"
"Kau seharusnya tak peduli, itu bukan urusanmu."
"Aku hanya bertanya."
Pricilla mengedikkan bahunya tak peduli. Sial, seharusnya malam ini dia sedang menikmati pesta bersama keluarganya, bukan malah berduaan di balkon hotel dengan pria yang baru dia kenal tadi.
Tak ada lagi perbincangan diantara keduanya, mereka sama - sama terdiam menatap pemandangan malam dengan ditemani semilir angin yang terasa seperti membekukan tulang.
Maxwell mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia menelan ludahnya beberapa kali ketika hasrat lelakinya mencuat. Dia menatap wine digelasnya tapi tak ada yang aneh, dia menengok ke samping dan menemukan Pricilla yang masih menyandar pada pembatas dan asyik dengan winenya.
Maxwell kembali menelan ludahnya melihat bahu Pricilla yang terbuka ketika rambut panjangnya tersingkap oleh angin, ikut menampakan belahan dadanya.
Maxwell mulai menggila, dia meneguk habis wine yang sisa setengah itu, lalu meletakan gelas kosongnya dimeja, dia butuh pelepasan. Didetik berikutnya dia mulai menyudutkan Pricilla.
Wajah Pricilla memerah dan panas seperti ikut merasakan apa yang Maxwell rasakan saat ini. Pricilla berjalan mundur tapi matanya tak lepas dari mata Maxwell, dia bahkan tak sadar ketika gelas winenya telah berpindah tangan bahkan habis diteguk oleh pria itu.
Pricilla tak bisa lagi menghindar ketika dia sampai dipojok pembatas.
"How about a one night stand as our farewell?" bisik Maxwell dengan suara seraknya seraya menyampirkan rambut Jeonghan ditelinganya, lalu membelai pipi gadis itu.
"You are crazy?"
"Shouldn't we celebrate the annulment of our matchmaking? With a hot night, I will give the best parting touch for you." sambung Maxwell sebelum mulai meraup bibir penuh nafsu
Pricilla merasa bahwa tubuhnya tak bisa menolak meskipun otaknya terus berontak. Pricilla bahkan menikmati ketika Maxwelll mulai meraba dan meremas. Tubuhnya tak bisa menolak, justru menginginkan sesuatu yang lebih dari sentuhan Maxwell.
Pricilla membalas lumatan pria itu seraya meremat rambut Maxwell sebagai pelampiasan tubuhnya yang menginginkan lebih.
Pricilla bahkan tak menolak ketika Maxwell mulai menggendongnya dan membawanya menuju kamar. Dia bahkan mendesah ketika Maxwell mulai menjamah tubuhnya. Pricilla kehilangan akalnya, dia tak peduli tentang apa yang akan dia lakukan sekarang, dia tak peduli jika dia kehilangan mahkotanya sekarang, karena Pricilla pun butuh pelepasan malam ini.
Kedua insan itu bergumul panas dalam ranjang hotel yang menjadi saksi Pricilla melepaskan dan memberikan keperawanannya kepada mantan calon suaminya.
***
"I'm pregnant."
Satu kalimat yang berhasil meruntuhkan seorang Jasper Nooren.
"Siapa pelakunya?" tanya Jasper dengan suara yang dingin. Dia merasakan kekecewaan pada putri kesayangannya. Tak boleh ada yang berani menyentuh putri kecilnya.
Pricilla menggeleng sambil terus menunduk, menahan tangisannya meskipun dia tak bisa. Meskipun kecewa, tapi Gina tak bisa membiarkan putrinya menangis sendirian. Gina memeluk Pricilla sambil menangis.
"Siapa, nak? Katakan!" lirih Gina dalam pelukannya tapi Pricilla lagi-lagi hanya bungkam.
"KATAKAN, KAK! SIAPA? BIAR AKU YANG MENGHAJAR DIA!"bentak Gavin yang ikut marah melihat kondisi kakaknya sekarang.
"Apa itu Maxwell?" tanya Jasper, Pricilla langsung mendongak dan menggelengkan kepalanya ribut.
"B-bukan, Pa."jawab Pricilla gugup, sungguh dia tak mau berhubungan dengan pria itu lagi, meskipun kenyataan dia sedang mengandung anak pria itu.
"Lalu siapa?!" bentak Jasper.
Pricilla kembali menunduk dan menggeleng dalam pelukan Gina. "A-aku tak tahu, aku sedang mabuk berat saat itu." bohong Pricilla, karena selain Maxwell tak ada pria lain yang menyentuhnya, dan setelah malam itu Pricilla tak pernah lagi menyentuh alkohol bahkan hingga mabuk
"Astaga, apa salahku sampai kau menjadi jalang seperti itu, heh?!" seru Jasper.
"Jasper Nooren! Jaga ucapanmu! Anakku wanita baik-baik" bantah Gina tak terima anaknya disebut Jalang.
"Lalu apa namanya, hah?! Lihat sekarang dia hamil bahkan dia tak tahu siapa yang menghamilinya." bentak Jasper.
"Katakan sayang, katakan siapa pelakunya." desak Gina menangkup wajah Pricilla, tapi Pricilla tetap pada pendiriannya.
Gadis itu tetap menggeleng, karena dia tak mau lagi berhubungan dengan Maxwell. Dia tak mau menikah karena sebuah keterpaksaan. Dan dia tahu jika dia mengaku, Jasper pasti akan langsung membawa dia dan Maxwell ke altar pernikahan dan dia tak mau itu.
"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan dengan anak itu?" tanya Jasper.
Pricilla mengelus perut ratanya, menyentuh jabang bayinya yang baru berusia 3 minggu. "A- aku akan merawat dan membesarkannya." jawab Pricilla yakin.
Jasper terkekeh. "Kau mau membuat malu keluargaku dengan membesarkan anak haram itu?"
"JANGAN SEBUT BAYIKU ANAK HARAM, PA!" bentak Pricilla.
Jasper memelotot. "Lalu harus ku sebut apa anak yang tumbuh diluar pernikahan bahkan tak tahu siapa ayahnya itu?" tanya Jasper dengan wajah mengejek.
"Papa tak perlu khawatir, aku akan membesarkan bayiku sendiri. Aku tak akan menyusahkan Papa, Mama, maupun Gavin." ucap Pricilla hendak pergi.
"Kau bahkan rela meninggalkan keluargamu hanya demi anak haram itu." ucap Jasper lagi.
"PA! JANGAN SEBUT BAYIKU ANAK HARAM! DIA BAYI SUCI, BAYIKU BAYI YANG SUCI! AKU! AKU YANG BERDOSA DISINI, JANGAN HAKIMI BAYIKU KARENA KESALAHANKU PA." Jerit Pricilla tak kuasa mendengar cacian untuk anaknya.
Pricilla menangis sejadi-jadinya, dia tak peduli jika dia yang dihina. Tapi dia tak sanggup dan tak rela jika bayinya yang di hina. Bayinya tak salah, bayinya bukan anak haram, bayinya adalah bayi yang suci. Pricilla tak mau anaknya menjadi korban atas kesalahannya, Pricilla yang berdosa, bukan anaknya.
Gina dan Gavin langsung memeluk Pricilla, sedangkan Jasper dia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dia melihat putri kecilnya kini telah beranjak dewasa, putri kecil yang selalu dia manja kini malah dirusak oleh pria yang bahkan dia tak tahu siapa. Jasper tak terima itu, dia marah, tapi dia tak kuasa untuk menyakiti putri kecilnya.
Jasper menghela nafasnya kemudia melangkah dan memeluk keluarga kecilnya.
"Maaf." lirih Jasper.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments