Yan Chen yang unik, memiliki roh Wajan dan di putuskan tunangan, tapi siapa yang menyangka ia bukan pemuda biasa.
dari wajah lucu dan sering bersikap bodoh, mencuri perhatian, memiliki rasa yang besar di dalamnya.
dengan itu, satu persatu perubahan mengejutkan semua orang dan pandangan tentangnya semakin baik dan lebih baik.
saya berharap bisa konsisten menulisnya.
selamat membaca, jangan lupa Like, komentar dan favoritnya, supaya penulis tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keanehan
Wan Zhu tidak menjawab dan alisnya berkerut menatap ke langit, bertanya-tanya bagaimana Yan Chen bisa melakukannya.
Ia kemudian mengingat bagaimana Yan Chen mengayunkan pedangnya dan seberapa besar energi yang digunakannya. Seharusnya dengan tenaga seperti itu dan gerakannya tidak akan mempengaruhi gerak pedang itu. Mungkinkah gerakan Pedang itu berasal dari pedang Yan Chen sendiri?
Namun, mengingat pedang itu habis terbakar di luar angkasa, jelas pedang itu tidak berharga dan siapa yang mau membuang pusaka yang dapat terbang sejauh itu dan dengan kecepatan yang sangat besar? Orang-orang jelas ingin pedang itu untuk pertarungan demi menyelamatkan hidup.
Mengingat bagaimana Yan Chen saat ini, meskipun ia memiliki identitas yang istimewa, orang-orang tidak akan mau repot-repot membuang Pedang seperti itu, jika mungkin ia memilikinya banyak.
Wan Zhu menatap Yan Chen. “Bagaimana kau melakukannya? Apa kau curang?”
“Anda menuduh saya, bukankah anda seorang yang telah menapaki dunia kultivasi selama puluhan tahun dan telah mencapai alam suci? Jika aku melakukan kecurangan, anda pasti mengetahuinya. Mungkinkah... pengalaman anda jauh berkurang karena berdiam di Sekte ini?”
Wan Zhu merenung kemudian mengangkat wajahnya. “Bagaimana orang-orang curang dengan terhormat mengakui kecurangannya?”
“Anda telah kalah. Karena anda menolak kekalahan, anda menuduh saya berbuat curang. Bagaimana bisa anda mencoreng reputasi anda hanya karena kemenangan kecil yang saya peroleh?” Nada Yan Chen tidak enak dan sedikit di tekan.
Wan Zhu menatapnya kemudian ia tiba-tiba teringat dengan ekspresi wajah Yan Chen kemudian menghela nafas. “Kau hanya perlu mengatakan bagaimana kau melakukannya, dan semuanya akan sangat jelas.”
“Jika aku mengatakannya, maka kesepakatan kita akan batal. Ketua, apa anda ingin menarik kata-kata anda?”
Ketua mengingat dan sedikit terkejut. Matanya di penuhi kekesalan. “Lalu, bagaimana kau akan menjelaskan kemenanganmu? Kau hanya orang yang berada di alam dasar puncak. Pengetahuan, pengalaman dan tingkat kultivasimu masih sangat awal, bagaimana mungkin kau bisa melempar pedang terbang sejauh itu dan melebihi kemampuanku?”
“Anda harus mencari tahunya sendiri. Sekarang, anda telah kalah dan anda harus mengikuti kesepakatan kita sebelumnya.”
Yan Chen memberi hormat kemudian pamit masuk ke gubuknya.
Wan Zhu kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Menatap Lu Yan kemudian bertanya, “Nona, kau pasti mengetahui tentang pedang itu bukan?”
Lu Yan tidak segera menjawab, tapi mengangkat wajahnya menatap langit. “Aku teringat sesuatu. Guruku bilang, alam memiliki energi yang besar dan energi itu dapat digunakan untuk bertarung. Jika kita mampu melakukannya, kekuatan kita akan bertambah dua kali lipat. Melihat Yan Chen melakukannya, pasti ada kekuatan alam yang membantunya. Ini hanya pendapatku. Kebenarannya, belum dapat di pastikan. Yan Chen memiliki banyak hal yang dapat membantu kita. Aku tidak tahu seberapa besar pengetahuan yang dimilikinya.”
Lu Yan memberi hormat. “Aku pamit.”
Dengan begitu Lu Yan berjalan mendekati sungai, melempar kail kemudian duduk dengan tenang. Wan Zhu memperhatikannya sambil berpikir kemudian ia mengangkat wajahnya sekali lagi menatap langit. Menghela nafas. “Sepertinya kau benar. Tidak masalah jika aku melindunginya, aku akan melakukan semampu yang aku bisa.”
Wan Zhu mengangkat kakinya dan dengan cepat melesat ke atas. Suara gaunnya berkelepah dan ia menghilang ke dalam kabut.
Lu Yan sedikit mengangkat wajahnya menatapnya kemudian kembali menatap air yang mengalir.
*******
Pada malam harinya, Yan Chen keluar. Mendekati Lu Yan, gadis itu sedang bersila dan energi peri berputar-putar di tubuhnya.
Energi itu semakin lama semakin bertambah cepat. Tidak lama lagi, ia akan menerobos dari awal menuju tahap dasar menengah.
Aliran sungai jauh lebih cepat dan kabut di langit jauh lebih tipis, sehingga memperlihatkan kumpulan bintang-bintang yang bercahaya terang.
Berdiri di pinggir sungai dan mengangkat wajahnya, perlahan-lahan satu bulu putih halus melayang-layang jatuh ke dasar sungai.
Burung merpati terbang pelan dan menurun. Di matanya ada kehormatan yang tinggi.
Ia menjaga tubuhnya terbang di depan Yan Chen seolah-olah bertanya mengapa ia memanggilnya datang.
Yan Chen mengangkat gulungan kertas yang dibawanya kemudian mengikatkannya di kaki burung itu. Memperhatikannya sebentar kemudian berkata, “Pergilah.”
Dengan begitu, burung itu terbang ke langit.
Pada saat Yan Chen mengikat kertas itu, Lu Yan membuka matanya dan ia menyaksikan Yan Chen melakukannya, serta Burungnya terbang ke langit.
Ia sedikit terkejut tapi tidak berkata apa-apa selama itu. Berdiri kemudian bertanya, “Yan Chen, bagaimana kau bisa melakukannya?”
“Apa yang tidak bisa aku lakukan? Burung itu sangat indah dan pasti mengantarkan suratku dengan aman.”
“Dia milikku dan pasti akan melakukan tugasnya dengan baik. Biasanya dia akan mengikuti perintahku.”
“Seperti katamu sebelumnya, kita adalah satu, jadi burung itu juga miliku. Milikmu adalah milikku dan milikku adalah milikmu.”
Lu Yan membencinya, tapi ia tidak punya kata-kata untuk di keluarkan dan hanya bisa menahan kesal.
******
Pagi harinya ujian akhirnya di mulai kembali. Ini adalah ujian tahap kedua akhir, dan hanya ada dua pertarungan yang akan diadakan.
Yan Chen, Tang Mei dan peserta yang lainnya sudah bersiap-siap untuk ujian ini.
Para ketua juga sudah tiba. Wan Zhu memperhatikan Yan Chen dan menghela nafas. “Anak ini, pasti akan sangat menarik.”
Tidak lama penguji berjalan ke arena. Ia mengangkat Rubik putih ke udara yang di mana setiap kotak-kotak rubik itu memiliki satu huruf.
Rubik itu melayang dan membesar hingga ukuran tiga puluh meter. Kotak-kotak di dalamnya bergerak-gerak dan tidak lama memperlihatkan sebuah nama, Yan Chen.
Yan Chen masih santai di sana. Ia sekarang sendirian, Lu Yan sedang fokus dengan kultivasinya. Gadis itu sangat berambisi untuk menerobos, jadi Yan Chen tidak punya pilihan untuk melarangnya.
Tersenyum kemudian melompat ke arena. Mengeluarkan Wajannya dan membantingnya ke arena, menimbulkan suara bergema dan nyaring.
Kemudian rubik kembali berputar-putar dan memperlihatkan sebuah nama lagi, Xiao Chen.
Dengan begitu seorang laki-laki melesat ke arena. Namun, ia memiliki wajah yang pucat dan matanya merah.
Yan Chen merasakan keanehan di dalamnya, tapi ia tidak tahu apa itu.
Rambut Xiao Chen berantakan dan menutupi sebagian dahinya. Ia kurus dan tinggi.
Ketika penguji memberi aba-aba, Xiao Chen mengeluarkan pedangnya dan meraung ke depan dengan kecepatan tinggi. Mengayunkan pedangnya dengan berbagai arah seperti seseorang yang membabi buta.
Yan Chen terkejut dengan serangan seperti itu, namun ia masih dapat mengendalikan serangannya.
Tidak lama, setelah beberapa tangkisan, ia menendang dada Pemuda itu hingga membuatnya melesat mundur dan terjatuh.
Pemuda itu perlahan-lahan bangun. Matanya menjadi lebih merah. Ia meraung dan kembali melesat ke depan. Menyerang kembali dan terjatuh kembali, bangun kembali, meraung dan melesat.
Ia terus melakukan itu dan seperti tidak mengalami kesakitan apa pun, meskipun tubuhnya dipenuhi darah dari lukanya sendiri.
Yan Chen merasakan keanehan pada pemuda ini, namun ia harus mengalahkannya terlebih dahulu.
Sementara itu, di dalam kerumunan orang-orang yang menonton, seorang tersenyum tipis melihat pertarungan yang terjadi.