Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Paling Sial
...Nurhalina...
...────୨ৎ────...
Dia hanya diam menatapku. Setidaknya aku sudah berusaha
Apa mungkin pria ini percaya padaku?
"Pancaa! Udah selesai belum?" panggil si Kakek dari luar, merusak keheningan yang sempat terjadi beberapa saat.
"I—Iya Mbah, sebentar!" sahut pemuda yang dipanggil Panca itu.
Pakaian ini cukup sesak di tubuhku, tampak kainnya sudah cukup usang dan rapuh, ada bercak darah di selendangnya. Aku sempat berpikir jangan-jangan sebentar lagi mereka akan membunuhku. Tapi mengingat apa yang dilakukan Panca tadi, aku jadi tak begitu yakin.
Panca membawa tanganku lembut untuk keluar dari rumah menemui si Kakek tua dan seorang pemuda lainnya yang sudah akrab berbincang-bincang.
"Jadi, bisa saya bawa sekarang, Mbah?"
"Iya silakan. Tapi ingat, jangan sekali-kali kalian berani melanggar aturan itu!" jelas si Mbah. "Ikuti saja semua yang kuperintahkan tadi."
"Siap, Mbah. Kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum."
Si Mbah hanya mengangguk sambil membalas salam, sedangkan Panca masih terlihat bingung melihat kedua tanganku diikat dengan kabel tip berukuran besar.
Kini aku dibawa oleh dua orang pemuda. Kami jalan menuruni bukit, tampak di depan sana sebuah mobil Avanza hitam sedang menunggu, begitu pun dengan si sopir yang terlihat asyik dengan sebatang rokoknya.
"Masuk!!" begitu bentak salah satu mereka.
Aku pun menaiki mobil itu di kursi belakang. Pria yang bicara dengan kakek tua tadi ada di sebelah kiri, dan satu pria lagi di sebelah kanan, tubuhnya cukup berisi dan otot-ototnya tampak mencuat dari balik kaosnya.
"Jalan!" kata pemuda di sebelah kiriku.
"Siap, Bos!" Dari suaranya aku jadi ingat, logat mereka sepertinya orang yang sama dengan yang menghabisiku malam itu.
Aku hanya diam, meski sekarang mataku tak lagi di bungkus kresek hitam, dan mulutku tak lagi disumpal selotif, tak ada gunanya berteriak. Bahkan mengatakan "Tolong" pun aku tak bisa.
"Aarrghhhh," pekikku ketika pemuda yang ada di sebelah kanan diam-diam menyentuh pinggulku.
"Diam!!" balas si Bos, merasa terganggu dengan teriakanku. Tapi pemuda di sebelah kananku tak berhenti menggodaku. Dia tetap mencolek-colek pinggul, perut, kadang menggelitikku dengan sengaja.
Aku paling tak bisa menahan geli, apalagi dengan sentuhan di bagian perut, tubuhku pasti akan seketika menggeliat.
Tidak berhenti di sana, pemuda kekar ini pantang menyerah. Dia mulai naik ke bagian atas, sepertinya dia memang sengaja melakukannya. Dia meremas dadaku bagian kanan.
"Aaarrghhhh, uuuurrgghhh," teriakku.
"Ih, bisa diem gak, sih!" ancam si Bos sebelum beranjak duduk di atasku dengan kedua tangan di leherku. Tapi dia tak berusaha mencekikku, dia hanya menyusuri telingaku yang membuatku merinding.
Aku tak bisa bergerak karena kedua kakiku berhasil didudukinya. Dia menyentuh bibirku dengan telunjuknya yang panjang.
"Ssssttttt," ucapnya
...Mmmmpppppphhhh Mmmmmpppphhh...
Dua kecupan mendarat di bibirku.
Aku berusaha keras menghindari bibirnya, tapi lelaki kekar di sebelah kananku memegangi kepalaku agar tak bergerak.
Mmmmpphhh .... Mmmphhhhhh ....Mmpphhhhh
Si bos berhasil melumat bibirku dengan sempurna, sedangkan pria bertubuh kekar di sebelah kananku juga turut melancarkan aksinya. Meneruskan sentuhan-sentuhannya di pinggang, perut, dada hingga leherku.
Tak disangka air dari kedua mataku mengalir deras, membasahi wajahku. Karena mereka mulai mengerjai kebaya yang kukenakan. Membuka sebagian kancingnya dan keempat tangan gempal itu mulai dengan kasar menjamahi dadaku.
Aku hanya menahan sakit, begitu kerasnya remasan mereka, sama seperti malam itu. Malam di mana semua kesialan ini terjadi kepadaku.